Mantan! Kangen!

Setahun lalu kita bersitegang. Hebat. Saya yang salah, banyak. Kamu yang mengalah, sering. Tapi sore itu puncak dari segalanya. Kamu meninggalkan saya.

Saya berusaha mencari kamu. Seperti orang yang kesetanan. Cuma satu niatku, memperbaiki yang rusak. Mengembalikan yang dibuang.

Kamu tetap di sisi itu. Sisi memilih berakhir. Saya merosot ke jurang paling dalam bersama tangis yang enggan ditampakkan. 

Berapa kali saya jahat mengintip facebook-mu. Dan berujung pada teriakan tidak jelas, campur amarah dan sedih yang bias untuk dijelaskan. Pernah juga saya menangis di depan sahabat, memohon penguatan untuk nasib asmara yang kamu hancurkan.

Setu Patok, tempat yang sering kita kunjungi. Sekadar ngobrol receh, tentang kamu, juga tentang saya.

Menjelang setahun kemarin, saya kembali berdiri di depan kamu. Sengaja saya bulatkan tekad, demi mengucap kalimat, "Saya minta maaf." Dan kamu tidak bereaksi. Antara kaget atau benci. Saya menemui kamu tidak lebih dari tiga menit. Namun segitu lebih dari cukup menenangkan badai di jiwa akibat rasa menyesal, rasa kangen, sekaligus rasa kecewa.

Kamu... Saya kangen. Bolehkan? 

Saya tidak akan mengganggu kamu bersama masa depan yang tengah kamu rancang. Bukan dengan saya. Tapi saya baik-baik saja. Kamu berhak bahagia. Kamu berhak melupakan saya. Dan jangan kangen ke saya.

[Cirebon, 16 Oktober 2018]

Anjing! Ketipu Lagu Dia

Ada gak ya yang di ponselnya gak ada satu lagu pun?

Kalo udah jawab, lanjutkan baca sepenggal kisah Agus di bawah ini:

Agus tidak bisa menikmati film yang tengah diputar, film Munafik 2. Menakutkan? Kagak, maksudnya kagak tau. Pikirannya kusut. Sekaligus mempertanyakan kedudukannya di hati Nunung, sang kekasih.


Begitu pesan WA yang diterimanya ketika jadwal film udah lewat lima belas menit, dan Agus sudah terlanjur gusar menunggu kekasihnya tampak.

Anjing!!!

Beberapa hari lalu, Nunung juga apatis sama Dio. Jadwal malam Minggu di rumah Nunung jadi momen anjing banget gara-gara Nunung lebih perhatian sama Dio.

"Kamu manis banget, Yo. Suka, suka, suka kamu," ucap Nunung memanjakan Dio sambil tangannya mengucek-ucek rambutnya.

Yang pacarnya tuh siapa sebenarnya, saya apa Dio? Pengen banget Agus teriak begitu di kuping Nunung

Nah, kondisi kegusaran Agus akhirnya dibikin lagu. Liriknya:

Ternyata.....Dio itu Anjing!

Surprise banget! Yes! Anjing pisanlah. Saya ketipu sama lagu yang dibawakan Fahri ini. Dengan musik folk jaz yang romantis nan syahdu, dicampur lirik yang nunjukin cemburu, saya kira si cewek (pacar) selingkuh terang-terangan. 

Kemudian kata 'Anjing' yang nunjuk dia si pihak ketiga, seolah bentuk kemarahan si cowok yang gak terima ceweknya diembat. Namun setelah seluruh lirik dibaca, wait, wait, tunggu, jadi beneran dia-nya itu memang anjing beneran.

"Edan!"

Ini lagu ceritanya si cowok cemburu sama anjing karena si cewek lebih perhatian ke makhluk guk-guk itu.

Kan kampret!!!

Tapi, saya sarankan kalian dengar lagunya langsung di YouTube. Aseeek dan emmmmm... Cihuy lah.


Buat saya musik itu bagian dari kehidupan. Bisa jadi pengiring suasana sehari-hari yang setiap waktu bisa berubah. Hari Senin bisa nge-pop banget, hari Selasa bisa religian, hari Rabu bisa nge-reggae, dan seterusnya.

Nah, kalo kalian suka musik aliran apa?

Erin Moriarty, Bogoh Lah Aing Ka Maneh!

Lupa pisan tepatnya kapan saya nonton film India yang judulnya 3 Idiots. Saya nonton film itu sampe berulang-ulang. Dramanya ngena banget, bisa bikin terharu biru sekaligus terpingkal-pingkal.

Dasar cengeng!

"Edan!"

Kalo sekarang ditanya bagian mana film yang bikin mengharu biru, saya bakal ngejawab, "Lupa euy! Udah lama soalnya?"

Nah, baru-baru ini saya habis nonton film India lagi. Nggak ada yang mengharu biru, nggak ada yang lucu sekali, tapi filmnya seru banget. Judulnya: The Extraordinary Journey of The Fakir.

Rilis: 30 Mei 2018 Durasi: 92 Menit
Film ini mengisahkan tentang Ajatashatru 'Aja' Lavash Patel (Dhanus) yang pergi ke Paris untuk mencari ayahnya, setelah ibunya meninggal. Perjalanan ini seru sebab Aja yang bernasib miskin sejak kecil pergi ke sana hanya bermodal paspor, uang palsu, dan nekat. Setibanya di Paris, dia datang ke toko furnitur dan bertemu Marie (Erin Moriarty), yang kemudian jadi bumbu roman di film ini.

Perjalanan Aja ke Paris tidak mulus, dia harus keluar-masuk negara. Kata 'Journey' di judulnya mungkin merujuk ke bagian ini kali. Setelah tiba di Paris, ia terbawa ke London. Setelah dideportasi dari sana, Aja ditahan di Barcelona. Pas bisa lolos dari negara itu, dia masuk ke negara Libya. Urusan di Libya kelar, Aja memilih balik kampung ke India dan menjadi guru.

Oke, di sini saya mau cerita poin-poin seru yang ada di filmnya :
Aja ini pinter banget ngomong dan bercerita. Makanya pas dia cerita ke Marie soal India, ucapannya bikin Marie serasa tengah berada di sana.

Aja kecil pernah dipenjara. Saat bosan dan menyesal karena terkurung, Aja menerima ceritaan dari Guru Deva yang menerangkan aktifitas di luar sel melalui lubang kecil di dinding. Saat Aja ketemu lagi Guru Deva setelah keluar dari penjara, dia tidak menyangka jika Guru Deva ternyata buta. Kebutaan ternyata tidak membatasi imajinasi si Guru.

Film ini seolah mau ngomong kalau mulutmu yang pandai bercerita bisa membuat nasibmu berubah. Bahkan cerita perjalanan Aja saja, entah benar atau bohong. Di akhir film pertanyaan itu hanya dijawab, "Untuk yang penting-pentingnya saja."

Waktu di Barcelona, berkat jasa Nelly Marnay (Berenice Bejo), Aja punya uang sekoper. Namun apes menimpa pas dia turun dari balon udara di atas kapal, uangnya disita. Di Libya ia kembali bertemu Wiraj (Barkhad Abdi), pengungsi sewaktu terbawa ke London. Berkat jasa Wiraj, uang itu kembali. Yang seharusnya digunakan untuk memulai hidup, Aja justru membagikan demi mewujudkan mimpi para pengungsi. Pelajaran 'Berbagi' yang benar-benar menyentuh.

Urusan asmara Aja dan Marie juga pelik tapi seru. Janji keduanya ketemu di sekitar Menara Eiffel, batal, lantaran Aja yang harus terbawa ke London. Marie akhirnya ketemu pria baru. Gimana ya nasib Aja? Kalo saya udah tau. Buat kalian yang mau tau, buruan nonton bae lah filmnya!

Pokoknya kalian harus nonton film ini. Pesan moralnya banyak, berguna buat bikin kita jadi orang baik dan bikin kita belajar soal makna di balik hidup 'miskin'.

Survive dan nerimo merupakan paket yang bikin kita bersyukur kalo bicara soal miskin-kaya. Film ini nyoba untuk memberikan pandangan itu melalui perjalanan tokoh Aja.

Erin, Erin, kau cantik amat. Gimana kamu tanggung jawab ke saya nya?
Dan begitu filmnya selesai, yang terbayang cuma sosok Erin Moriarty yang kalem, anggun, manis, dan cantik. Bogohlah pokok na mah.

Usut punya usut, ternyata film ini dibuat berdasarkan novel yang terbit Agustus 2015

Maju Tak Gentar! Ngeblog di Ponsel

Saya lupa udah berapa lama ngeblog gak pake laptop. Beberapa postingan terbaru itu dibikinnya di ponsel, kemudian diedit dan dipublikasikan di blogger lewat komputer kantor. Rada keteteran sih, cuma untuk sekarang ini belum memprioritaskan buat beli laptop dulu. Soalnya masih banyak pos yang harus didahulukan.

Pokoknya komputer kantor sangat ngebantu buat eksekusi postingan :)


Aslinya sulit banget mengimprovisasi tulisan pas ngedraft di ponsel. Layar yang terbatas dan tuts yang kecil bikin ngerjain artikel butuh niat yang gede banget. Kadang gemes banget pas lagi ngetiknya. Buat ngehapus kalimat yang salah atau paragraf yang kurang menarik saja mesti sabar karena ngehapusnya huruf demi huruf.

Oya, tulisan ini dibuat semata-mata untuk jadi pengingat kalau saya pernah mengatakan, "Saya baik-baik aja", kalau-kalau di masa depan saya mengeluh gara-gara mesti ngeblog via ponsel. Tapi tetep sih berdoa semoga segera kebeli laptop barunya, hehehe.


 Kondisi:
 1. Saya pakai ponsel Evercoss type M53 (layar 5.34 Inch, kamera belakang 8MP)
 2. Saya menggunakan aplikasi Blogger untuk ngedraft artikel.

Biarpun saya pakai ponsel, semoga kegiatan ngeblog saya nggak terganggu. Walau kenyataannya udah kerasa banget ada penurunan ngeposting artikel. Bahkan banyak artikel setengah jadi yang dihapus gara-gara alasan, "Ribet ah ngeditnya. Mending bikin baru lagi."

Nah lho, sampe segitunya.

Meski kondisinya begitu, ini malah menantang saya untuk aktif ngeblog lagi. Ibarat masak air, udah matang banget, meluap-luap bergulak. Tentu saja sisi penyajian artikel bakal jadi PR besar dengan keadaan yang terbatas begini. Improvisasi dan kreatifnya harus pelan-pelan dan gak boleh nyerah uji coba sampe bisa dan terbiasa.

[Buku] Friendzone: Lempar Kode, Sembunyi Hati, Alnira


Judul: Friendzone: Lempar Kode, Sembunyi Hati
Penulis: Alnira
Penyunting: Tim Editor Fiksi
Desain sampul: Aqsho Zulhida
Penerbit: Grasindo
Terbit: April 2018
Tebal buku: 310 halaman
ISBN: 9786024528423
Nilai: 4/5

Ini kali pertama saya membaca karya dari seorang Alnira yang menurut data profilnya sudah menerbitkan delapan judul novel, termasuk yang ini. Penulis baru (atau bukan baru-baru banget) yang produktif sekali ternyata.

Lagi, saya membaca novel roman yang tema utamanya friendzone. Permasalahan temanya seputar kebimbangan merubah status teman ke pacar. Tokoh utamanya Dira dan Ransi. Mereka bagian dari sekumpulan pertemanan sejak SMA: Angga, Maya, Wisnu, Okta. Dira sadar kalau dia suka Ransi yang suka ngasih kode romantis. Sayangnya si Ransi nggak pernah terus terang dan hanya main kode-kodean. Pernah Dira iseng menegaskan maksud Ransi, eh malah dikatain kegeeran. Berikutnya dia malas bahas kepastian. Dan si Ransi masih nggak berubah. Dalam permasalahan roman ini Dira yang lebih banyak makan hati.

Subkonflik lainnya, Maya suka Angga, tapi Angga jadiannya sama Okta. Wisnu suka Maya, Mayanya pacaran sama yang lain. Subkonflik yang cukup ampuh mempermanis konflik utamanya biar nggak jadi membosankan. Eh, tapi membaca konflik utamanya aja nggak bakal bosan. Jaminan. Malah seru.

Berikut catatan yang saya bikin setelah membaca tuntas bukunya: 
  1. Saya ngiri sama pertemanan mereka yang solid. Walau setelah mereka beranjak dewasa, mereka masih menyempatkan diri berkabar dan berkumpul untuk update keadaan terbaru. Ah, pokoknya beda banget sama saya dan sahabat-sahabat SMA yang kemudian sibuk dengan dunia masing-masing.
  2. Saya mendapatkan pelajaran penting tentang cara memperhatikan perempuan hingga apa saja yang mesti dipersiapkan untuk menghalalkannya. Dewasa banget pesan moralnya.
  3. Banyak prinsip hidup dari masing-masing tokoh yang bisa dipetik. Cukup untuk menjadi pengingat dalam hal kebaikan.

Pengen banyak berkomentar tapi mendadak kaku. Jadi, saya sudahi saja dulu. Semoga saya punya kesempatan membaca buku karya Alnira lainnya.

[Buku] Perkara Bulu Mata, Nina Addison


Judul: Perkara Bulu Mata
Penulis: Nina Addison
Editor: Harriska Adiati & Neinilam Gita
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: September 2018
Tebal buku: 296 halaman
ISBN: 9786020611907 / 9786020611914

Cerita di novel Perkara Bulu Mata terbilang segar, itu reaksi pertama saya setelah selesai membaca tuntas. Padahal judulnya ini jadi persoalan di awal membaca, nggak ada menarik-menariknya sama sekali. Dan saya juga sempat mandeg membacanya. Begitu kesempatan kedua datang, saya keukeuh melanjutkan sampai tamat.

Novel Perkara Bulu Mata menceritakan empat anak manusia yang bersahabat sejak mereka di SMA: Vira, Jojo, Albert, dan Lilian. Usia dewasa yang melemparkan mereka pada dunianya masing-masing lantas nggak merenggangkan persahabatan yang terjalin. Hanya saja tidak ada jaminan kalau perempuan dan laki-laki sahabatan, bakal awet sahabatan tanpa ada cinta-cintaan. Ternyata waktu SMA Lilian sempat naksir Albert yang berujung penolakan. Beruntungnya persahabatan mereka tidak jadi tumbal. Dan akhir-akhir ini Vira yang mulai merasakan suka sama Jojo sejak mereka curhat tentang kandasnya hubungan dia dengan Tom, dan nggak sengaja Vira memperhatikan bulu mata Jojo. Terdengar aneh memang, ada ya orang jatuh cinta sebabnya lihat bulu mata.


Cerita utama kemudian bergulir urusan tarik ulur hubungan Vira dan Jojo. Awalnya Vira suka Jojo, Jojo malah nggak suka. Begitu Jojo suka Vira, Vira sedang berproses ikhlas dengan perasaannya yang dirasa sepihak. Bagian ini menggemaskan sekali. Belum lagi bagian-bagian seru ketika Vira dan Jojo merasa cemburu untuk satu sama lain gara-gara muncul pihak lain: Bella dan JC.

Kalau mau tau perjalanan asmara mereka, mending baca aja novelnya langsung!

Tema novel ini roman friendzone. Dan nggak tau kenapa nggak pernah bosan baca novel roman begini. Terutama bagian tarik ulur hubungan yang nggak jelasnya itu. Saya simpulkan Nina berhasil membawa pembaca ke konflik seru Vira-Jojo hingga bikin saya gemas, kesal, menggerutu, sekaligus tertawa.

Gaya bercerita renyah karena diksi yang digunakan to the point, nggak pakai bahasa yang terlalu baku, apalagi yang sastra banget. Yang mengganggu buat saya justru penggunaan bahasa inggris di kalimat yang panjang. Pokoknya ini urusan personal banget, soalnya saya nggak pinter menerjemahkan kalimat bahasa inggris.

Karakter keempat tokoh sangat hidup dan terkesan nyata. Kedewasaan mereka juga kerasa, nggak terjebak dengan ala remaja-remaja alay. Tercermin dari keputusan dan pola pikir yang dibentuk ada unsur bijaknya. Soalnya ada beberapa novel yang pakai tokoh dewasa tapi si tokoh disajikan remaja banget. Kan ganggu sekali. Sorotan cerita di novel ini memang kepada Vira-Jojo, namun keberadaan Albert dan Lilian sangat berarti sebagai penopang cerita. Permasalahan mereka ibarat jeda untuk masalah Vira-Jojo sehingga cerita tidak monoton membahas inti cerita Vira-Jojo.

Ada empat catatan yang merangkum mengenai novel Perkara Bulu Mata ini:

  1. Persahabatan yang disajikan Nina lewat keempat tokoh utamanya terbilang seru dan manis. Geng temen yang dewasa dan manusiawi.
  2. Kisah percintaan yang ada di novel ini tergolong kompleks, akibat ragu milih sahabatan apa pacaran. Ah, ketakutan nyata yang dihadapi orang-orang di club ‘sahabatan lawan jenis’ selalu soal nanti bakal gimana kalau berubah status. Bakal baik-baik saja atau justru berantakan. Dan pikiran ini yang menjadi dalih, “Mending dipendem aja deh!”
  3. Nilai kemanusiaan yang mendewasakan pembaca lewat wejangannya yang nggak menggurui. Ditambah momen untuk menyampaikannya yang nggak kayak ceramah di mimbar atau menegur secara brutal, membuat novel ini nggak kehilangan rasanya jadi novel religi atau buku self-improvement. Aura novel metropop-nya tetap terjaga.
  4. Jalan-jalan ke Praha yang seru karena subkonflik yang dipilih penulis membuat adegannya tetap menarik diikuti. Nggak hanya bicara tentang nama jalan, sejarah, atau monumen khas kota Praha, namun lebih ke fungsi latar yang menyokong alur dalam menyampaikan pesan novel dengan tanpa melepaskan informasi kotanya.

Akhirnya, saya merekomendasikan novel ini untuk dibaca kalian. Terus saya penasaran dengan novel karya Nina lainnya: Morning Brew (2011) dan Kismet (2015).