[Buku] Bakat Menggonggong, Dea Anugrah


Judul : Bakat Menggonggong
Penulis : Dea Anugrah
Desain sampul & isi : Damar N. Sosodoro
Ilustrasi : Teguh Purnomo
Penerbit : Buku Mojok
Terbit : September 2016, cetakan pertama
Tebal buku : vii + 113 halaman
ISBN : 9786021318386
Harga : Rp35.000 (sebelum diskon, via mojokstore.com

Ketika saya memutuskan membeli buku kumpulan cerita pendek ini, hanya untuk memperkaya bacaan. Sebenarnya sudah berkali-kali saya berkomentar pada ulasan buku kumcer di blog lain kalau saya belum suka buku jenis ini. Alasan yang saya gunakan untuk memperkaya bacaan merupakan pemaksaan diri dalam urusan membaca. Toh, akhirnya saya selalu gagal menuntaskan membaca buku ini.

Entah ini kali keberapa saya membaca ulang buku ini. Pernah membaca ulasan buku ini di salah satu website, dan dikatakan jika buku ini bagus serta mendapatkan pujian. Benar, membaca satu buku akan mendapatkan penilaian yang beragam dari pembaca lainnya. Termasuk ketika membaca buku Bakat Menggonggong.

Saya menyatakan membaca buku kumcer akan melahirkan pemahaman yang berbeda antara pembaca yang satu dengan yang lain. Saya juga perlu menekankan pada ulasan saya kali ini adalah murni pendapat pribadi atas pemahaman yang bisa saya terima setelah membaca semua ceritanya.

Ada 14 judul cerita pendek yang dirangkum dalam Bakat Menggonggong. Judul buku ini tidak diambil dari salah satu cerita di dalamnya. Padahal biasanya judul buku kumcer diambil dari salah satu cerita di dalamnya. Bakat Menggonggong mungkin mengartikan bakat si penulis dalam menuliskan cerita yang menurut saya aneh dan mengundang untuk dipikir, dengan catatan kamu mau berpikir. Menggonggong, kata yang biasanya disematkan pada suara anjing, dipilih sebab penulis mungkin menganggapnya cerita ini hasil dari pikirannya yang menyalak tanpa pernah mau disusun secara terstruktur. Rasa aneh itu yang kemudian menonjol pada karyanya. Lalu, bolehkan cerita-cerita itu dibaca saja tanpa dipikirkan seperti angin yang berlalu?

Kemurkaan Si Pemuda E seperti curhat penulis yang diundang sebagai pembicara tapi tidak dijamu dengan baik. Isu itu datang dengan dasar senioritas. Penulis masih belum bisa dianggap senior. Sehingga kadang perlakukan panitia kerap berbeda dengan penulis yang namanya sudah jaminan bukunya laris (hal. 6-7). Lumrah saja, jika apa yang saya tafsirkan benar untuk cerita ini, Dea Anugrah mengungkapkan kekesalannya dalam cerita. Menulis pun bisa jadi ajang curhat para penulis.

Seperti pada Kemurkaan Si Pemuda E, pada cerita Kisah Afonso pun saya melihatnya ada unsur curhat. Dimana si Aku mengalami situasi harus menulis sesuai pesanan orang lain. Riset dilakukan namun ia masih bingung harus menulis apa sebab ada hal yang tidak sejalan dengan pikirannya (hal. 16). Dari hasil riset yang tak masuk akal, hingga penulisan hasilnya yang terbatasi dengan keinginan si klien.

Ada cerita yang judulnya sama. Yang berbeda hanya bagiannya saja; Kisah Sedih kontemporer (IV), Kisah Sedih kontemporer (XII), dan Kisah Sedih kontemporer (XXIV). Bagian yang tidak berurutan. Dugaan saja, mungkin cerita itu diambil dari kumpulan karya penulis dan dipilih sesuai kriteria penulis. Ketiga cerita memiliki keterkaitan, tentang Loko dan Rik. Saya menduga mereka bersahabat dan cerita dituturkan melalui sudut pandang mereka secara bergiliran. Dan ketiga cerita itu memiliki rasa sedih dan getir. Pada bagian IV mengulas tentang percakapan orang tua Loko yang membicarakan pembagian harta dan hak asuh. Ceritanya sederhana tentang hal sederhana yang disederhanakan tapi menjadi rumit. Pusing pokoknya!

Bagian XII memiliki cerita yang lebih panjang dari bagian sebelumnya. Bahkan ceritanya dibagi jadi dua bagian antara Loko dan Rik. Bagian pertama mengisahkan Rik yang entah ada kejadian apa setelah ia menerima undangan pacarnya yang akan menikah dengan pria bule Australia. Padahal selama ini Rik selalu berusaha agar ia dan Lani, pacarnya, untuk berjodoh. Bagian kedua yang tentang Loko pun memiliki kesamaan dengan bagian pertama, ketidakberhasilan membangun hubungan dengan pacarnya. Kedua bagian tadi menonjolkan kegagalan pria dengan pacar-pacarnya. Padahal di benak Rik atau Loko ada keinginan untuk hubungan mereka mempunyai masa yang lama.

Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu adalah cerita yang memaparkan manfaat cerita. Si Aku ditugaskan mewawancara seorang seniman yang menghindari manusia. Kegigihan si Aku yang waktu itu mampir ke rumah si seniman tapi tidak dibukakan pintu, berhasil. Ketika Aku bertemu dengan seniman tadi, meluncurlah cerita-cerita tentang banyak hal. Inilah fungsi cerita, mampu mendekatkan dua orang seperti teman lama.

Untuk cerita Penembak Jitu, penulis membawa tema balas dendam. Ceritanya si Aku memata-matai gerombolan di rawa dengan memegang senapan. Ia sadar kalau ia yang sendiri akan kalah dengan gerombolan itu. Tapi demi membalas dendam kematian anak dan keluarganya, ia maju melawan. Sekarang di kepala siapa pun peluru terakhirnya bersaran, hasilnya sama saja. Ia akan mati seperti anak perempuannya mati dan seluruh keluarganya mati dan ruhnya akan keluar dari tubuhnya seperti air meluap dari saku (hal. 42).

Sedikit geli ketika membaca cerita Masalah Rumah Tangga. Nur Azis adalah penulis naskah film dan ia geram, kesal, marah, lantaran naskahnya tidak ada yang mau dipakai untuk film. Sebagai istri, Linda memahami sesuai kesimpulannya jika suaminya sedang mengalami masalah psikologis. Dengan niat ingin memotivasi, Linda memberikan buku-buku motivasi yang baru dibelinya. Namun di akhir cerita dikatakan, permasalahan Nur Azis bukan soal naskahnya, melainkan ada permasalah lain yang lumayan lucu jika dipikirkan. Pembaca diingatkan untuk mengatakan terus terang tentang permasalahan. Jangan menggalaukan masalah dan menunjukkannya dengan masalah yang lain. Orang lain kadang tidak paham maksudnya apa. Dan dengan berterus terang, orang lain akan membantu tepat pada masalahnya.

Setelah membaca buku Bakat Menggonggong dan ketika saya menuliskan ulasan ini, saya menyadari jika buku kumcer sebenarnya menyajikan cerita dengan rasa yang beragam. Ada satu kenikmatan dan kesegaran ketika saya mengingat-ingat kembali cerita pada setiap judulnya. Tantangannya pada saat membaca cerita itu sendiri. Sebab maksud yang disampaikan penulis cerita pendek susah diterima secara langsung dan benar-benar harus dipahami ceritanya. Itu pun belum tentu pemahaman pembaca akan sama dengan maksud si penulis.

Selain pengalaman membaca, saya juga menemukan satu kebiasaan pembaca buku, yang sama pernah ditunjukkan pada buku Rumah Kertas. Pemuda E pada cerita Kemurkaan Pemuda E memiliki kebiasaan menuliskan catatan pada buku yang dibacanya, tepatnya di area marjin, dengan kode-kode yang hanya dipahami olehnya. Saya sendiri tidak meniru cara demikian. Saya lebih suka menuliskan catatan saya di post it, lalu menempelkannya di halaman yang memang ada sesuatunya. Nah, kamu boleh tuh memilih mau meniru yang dilakukan Pemuda E atau saya, sebab cara demikian membantu sekali ketika meresensi. Catatan itu bisa jadi bahan resensimu.

  • Komitmen adalah ciri laki-laki sungguhan (hal. 50)
  • Cerita punya kekuatan untuk memantapkan keyakinan (hal. 61)


[Buku] Rumah Kertas, Carlos Maria Dominguez


Judul : Rumah Kertas
Penulis : Carlos Maria Dominguez
Penerjemah : Ronny Agustinus
Ilustrasi : Melia P. Khoo
Penerbit : Marjin Kiri Publisher
Terbit : Oktober 2016, cetakan kedua
Tebal buku : vi + 76 halaman
ISBN : 9789791260626
Harga : Rp29.700 (via marjinkiri.com

Tahun 1998, dosen Universitas Cambridge bernama Bluma Lennon tertabrak mobil ketika dirinya sedang membaca buku lawas Poems karya Emily Dickinson. ‘Aku’ sebagai kolega Bluma menggantikan mengajar mata kuliahnya. Pada suatu pagi datang paket buku dengan perangko Uruguay yang ditujukan ke Bluma. Aneh, buku terjemahan Spanyol karya Joseph Conrad memiliki kerak semen Portland. Karena Bluma sudah meninggal, Aku berencana mengembalikan buku itu ke si pengirim sekalian megabarkan soal ajal Bluma. Berdasarkan kalimat persembahan yang tertulis di halaman depan buku, Aku pun mencari identitas si pengirim dan didapatilah pengirim tersebut yang bernama Carlos Brauer.

Aku kemudian terbang ke Uruguay untuk mencari jejak Carlos dari informasi Jorge Dinarli dan Agustin Delgado. Dua orang ini terbilang mengenal siapa sosok Carlos. Perjalanan ini mengupas misteri buku Joseph Conrad yang berkerak semen dan kisah hidup salah satu bibliofil, Carlos Brauer.

Judul buku Rumah Kertas merujuk pada kegilaan bibliofil yang menjadikan buku-buku koleksinya menjadi rumah. Ada alasan kenapa Carlos sampai melakukan hal itu, dan cuek pada pandangan orang tentang yang dilakukannya. Saya menyebutnya sebagai kegilaan sebab tidak pernah terlintas pikiran tersebut, bahkan akan terlintas pun tidak.

Buku tipis ini, tidak lebih dari 100 halaman, membuka banyak dimensi dunia manusia-manusia yang mengagungkan buku. Manusia pecinta buku terbagi menjadi dua golongan (hal.17), sesuai penjelasan Jorge Dinarli. Pertama, kolektor buku. Golongan ini pengumpul buku yang nekad tanpa mengindahkan seberapa banyak uang yang harus dikorbankan mendapatkannya. Kadang buku-buku tersebut hanya dipegang dan dilihat tanpa tahu kapan akan terbaca kemudian masuk jajaran di rak. Golongan kedua adalah kutu buku. Mereka yang rakus membaca dan memutuskan untuk membangun perpustakaan pribadi yang isinya buku yang kelar dibacanya.

Selain itu, kita akan memperoleh satu pernyataan yang kontoversial. Pernyataan Profesor Robert Laurel pada pidato kematian Bluma yang menyatakan, “Bluma membaktikan hidupnya pada sastra, tanpa pernah membayangkan bahwa sastralah yang akan merenggutnya dari dunia ini.” (hal. 2) Pernyataan ini yang membuat saya pun berpikir sejenak. Mungkin maksud profesor, sastra menjadi salah satu sebab atas kematian itu. Bluma memang sedang membaca buku dan itu mengalihkan fokus dirinya pada lingkungan sekitar sehingga kecelakaan itu tak terhindarkan. Kalau seandainya Bluma tidak membaca, kecelakaan itu mungkin bisa dihindari. Sehingga wajar jika kematiannya ketika diberitakan media akan berbunyi sesuai pernyataan profesor. Dan dicontohkan pula beberapa kejadian kecelakan atau nasib naas yang sebabnya keberadaan buku.

Dimensi lain yang diceritakan mengenai kelakukan para pecinta buku jika berkunjung ke perpustakaan temannya. Bukan rahasia, mereka menggunakan trik memperlama membuat teh di dapur, untuk memberikan waktu yang cukup bagi tamu mengagumi koleksi buku yang terpajang di rak. Saya menangkap makna kelakuan itu untuk menyuguhkan kepuasan. Kepuasan si penerima tamu adalah binar mata kagum yang dipancarkan tamu setelah menelusuri jejeran koleksi bukunya. Sementara kepuasan lainnya dirasakan si tamu yang mencoba membanding-bandingkan koleksinya dengan koleksi tuan rumah. Keuntungan yang didapat, jika ada buku yang tidak dipunya kemudian si tuan rumah punya, mereka bisa saling pinjam-meminjam.

Perlu diketahui ada perbedaan antara orang yang satu dengan yang lain dalam proses membaca buku. Delgado lebih suka membaca buku dengan membawa catatan. Ia akan mencatat apa pun pendapatnya di kertas catatan itu. Berbeda dengan Delgado, Carlos lebih suka menuliskan pikirannya di buku tersebut pada area marjin. Perbedaan ini menjadi ragam kebiasaan pecinta buku. Dan masing-masing memiliki penilaian terhadap kebiasaan itu. “Saya menyebutnya tak peka, dan dia menyebut saya sok suci, meski jelas tak satu pun dari kami tersinggung gara-gara ini.” (hal. 32).

Buku ini mengulas kehidupan Carlos Braurer dan mengesankan Carlos menjadi tokoh utama. Tetapi, cerita berjalan berkat perjalanan si Aku yang mencari sosok Carlos. Saya tidak paham posisi Carlos ini pada akhirnya sebagai apa, sebagai tokoh utama lainnya atau tokoh figuran. Dan jika Aku menjadi tokoh utama, kondisinya si Aku ini kalah oleh dominasi Carlos. Entah hal seperti ini penyebutannya bagaimana. Mohon dimaklum pengetahuan saya mengenai penilaian sastra masih minim.

Pada buku ini juga memiliki banyak informasi buku yang saya tidak tahu. Kebanyakan buku klasik Amerika Latin. Saya mencoba satu kali mencari buku Irish Fairy and Folk Tales, dan hasilnya bingung buku yang dimaksud adalah buku yang mana. Sebab hasil pencarian berujung di salah satu toko buku online internasioanl yang menampakkan buku-buku serupa. Dan membayangkan kalau saya menurutkan proses membaca Delgado, membaca buku dengan disertai membaca buku rujukan lainnya (hal.27), bahkan bisa menyeret hingga dua puluh buku rujukan, saya akan menyerah di awal. Proses ini ibarat memahami buku dengan memahami dari akar hingga pucuknya.

Dan saya perlu mengakui pengaruh buku ini kepada saya tidak sehebat yang saya sangkakan ketika membaca ulasan blogger dan pembaca yang lain. Jalan ceritanya jelas, pencarian sosok Carlos. Saya menikmati perjalanan itu, tetapi belum memberikan kesan berarti sebab jalan ceritanya berkutat pada pencarian tanpa menghadapi banyak hal. Bagi saya ada kesan jalan ceritanya datar. Kecuali kisah Carlos yang hingga mengalami kegilaan dengan menjadikan buku-buku koleksinya menjadi bahan membangun rumah, cukup seru disimak. Itu pun akan saya apresiasi lebih seandainya Carlos yang bercerita, bukan si Aku yang mendapatkan kisah Carlos dari orang lain. Ini mengenai selera saya, yang berharap mengenal Carlos secara langsung.

Dan menurut saya diksi terjemahan buku ini rada sulit buat saya nikmati. Kalimatnya memiliki struktur yang sedikit kaku sehingga kadang saya harus benar-benar pas memenggal kalimat ketika membaca agar maknanya tepat. Proses membaca buku yang tipis ini akhirnya memerlukan waktu yang sama dengan novel yang jumlah halamannya lebih dari 200 halaman.

Nilai yang kemudian saya dapatkan setelah membaca buku Rumah Kertas adalah kewaspadaan diri menghadapi pesona buku. Biar pun buku adalah sumber pengetahuan, kegilaan pada buku justru menenggelamkan. Saya menyukai kegiatan membaca buku tapi saya tidak mau buku mengendalikan kehidupan saya dari segi apa pun. Misalnya, menyulap kosan saya yang kecil menjadi penuh dengan buku-buku, seperti yang dilakukan Carlos pada rumahnya.

Saya juga menjaga diri dari menyukai buku secara berlebihan. Saya tidak ingin memunculkan rasa galau gara-gara kecintaan terhadap benda. Buku bisa saja rusak, buku bisa saja hilang, dan kejadian itu tidak boleh menjadi gelisah bagi saya akibat rasa memiliki yang melewati batas. Buku ini mengingatkan kita untuk memiliki batas yang jelas rasa kepemilikan.


[Wishful Wednesday] Aftertaste, Sefryana Khairil


Judul : Aftertaste
Penulis : Sefryana Khairil
Penerbit : GagasMedia
Terbit : Februari 2017
ISBN : 9789797808815
Harga : Rp78.000 (sebelum diskon, via gagasmedia.net)

Narend

Buatku, memberikan kesempatan kedua hampir tak mungkin. Untuk apa membuka kemungkinan bagi kekecewaan yang lain? Hati yang benar-benar patah tak perlu berulang-ulang, bukan? Namun, kali ini rasanya berbeda. Hanya saja, aku bahkan tak lagi percaya cinta dan kisah romansa itu nyata.


Farra
Aku tak pernah merencanakan menjatuhkan hati kepadanya. Tidak juga pada sikapnya yang sedingin es itu. Setiap saat bersamanya membuatku selalu bertanya-tanya juga berangan-angan tentang cinta. Lalu, tiba-tiba ketakutan akan harapan kosong melandaku, lagi dan lagi. Sudah kucoba untuk menepikan segala rasa. Namun, terkadang, hati dan keinginan tak selalu sejalan.

Aftertaste mengisahkan dua orang chef yang saling jatuh cinta, tetapi tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Masa lalu membuat mereka enggan membiarkan hati berbicara, meskipun mereka tahu tak akan sanggup untuk saling melepaskan.


*******

Dulu, sebelum blog ini lahir saya sangat suka sekali dengan buku-buku terbitan GagasMedia. Karena cerita pada buku-bukunya sangat manis. Namun, fase sebagai pembaca, ada kalanya membaca yang manis-manis menjadi tidak semanis biasanya. Saya pun istirahat.

Dan saya tahu GagasMedia mulai meredup. Tidak segarang dulu dalam menerbitkan karya-karya baru. Apakah ini ada kaitannya dengan keluarnya salah satu penulis hebat yang dulu pernah bergabung?

Akhirnya, saya merasa rindu membaca buku-buku manis setelah mampir beberapa saat di website GagasMedia. Ada beberapa judul baru dari penulis yang sudah kenamaan seperti Orizuka, Mahir Pradana dan Robin Wijaya. Tetapi pilihan saya pada wishful wednesday kali ini jatuh kepada penulis Sefryana Khairil dengan karya terbarunya Aftertaste.

Aftertaste ini mengisahkan dua chef yang jatuh hati tapi tidak berani menyatakan. Kisah roman bakal ditemui sangat kental pada buku ini. Dan bukan itu alasan besar saya melirik novelnya. Satu pertanyaan yang membuat saya sangat ingin membaca buku ini, dunia masak yang dibawakan penulis akan seberapa hebat. Selalu dan menjadi tantangan bagi penulis yang mengangkat tema masakan dalam ceritanya adalah membangunkan indera perasa pembaca melalui narasi tentang masakan. Ini yang ingin saya uji coba. Berhasilkah Sefryana Khairil membawa masakan sebagai tema yang tepat?


[  Kalau kamu mau membuat artikel wishful wednesday juga, intip aturannya di blog PerpusKecil ya!  ]

[Giveaway] Seruni, Almas Sufeeya


Saatnya Giveaway!!!

Halo! Sudah baca resensi saya untuk buku Seruni karya Almas Sufeeya? Kalo belum silakan mampir ke link berikut ini ya!


Kesempatan kali ini, saya kerja sama dengan Penerbit Republika untuk membagikan 1 buah novel Seruni. Dan semoga kamu yang jadi pemenang.

Berikut ini aturan mainnya :

  • Punya alamat kirim di Indonesia
  • Follow twitter @bukurepublika - @adindilla. Lalu share informasi giveaway ini dengan mencantumkan hashtag #Seruni
  • Follow juga blog saya via Google Friend Connect (GFC) yang ada di sidebar.
  • Tulis di komentar postingan ini dengan format: nama, akun twitter kamu, link share
  • Giveaway ini berlangsung dari tanggal 20 - 23 Maret 2017. Pengumuman di tanggal 24 Maret 2017.
  • Hadiahnya berupa 1 novel Seruni yang akan dikirimkan oleh saya.
Jangan ragu lagi, ayo ikutan giveaway ini dan berkenalan dengan Seruni.



[ UPDATE PEMENANG ]

Sekarang tanggal 24 Maret 2017, bukan? Wah, sudah waktunya saya mengumumkan pemenang giveaway #Seruni yang saya gelar sejak tanggal 20 -23 Maret 2017.

Sebelum ke situ, saya mau mengucapkan terima kasih kepada Penerbit Republika dan penulis buku Seruni, Almas Sufeeya, untuk kesempatan yang diberikan kepada saya menjadi host giveaway. Dan saya minta maaf selama penyelenggaraan masih banyak kekurangan.

Terima kasih pula untuk 41 peserta yang sudah ikut serta dan membagikan informasi giveaway #Seruni di twitter. Sayang sekali, saya hanya punya 1 eksemplar novel Seruni yang dibagikan. Untuk yang belum beruntung di blog saya, silakan untuk mencoba di dua blog host setelah ini. Lihat banner ya!


Dan ini dia pemenangnya!!!

Jeng!


Jeng!


Jeng!


Selamat untuk kamu yang menang. Saya tunggu data diri kamu via DM twitter atau via email hapudincreative(at)gmail(dot)com dengan format nama, alamat kirim, dan nomor ponsel. Data diri ditunggu sampai tanggal 27 Maret 2017.

Sampai jumpa di giveaway selanjutnya!

[Buku] Seruni, Almas Sufeeya


Judul : Seruni
Penulis : Almas Sufeeya
Editor : Triana Rahmawati
Kover : Resoluzy
Penerbit : Penerbit Republika
Terbit : Februari 2017
Tebal : vi + 239 halaman
ISBN : 9786020822396
Harga : Rp55.000 (sebelum diskon, via bukurepublika.id)




Seruni datang ke Indonesia setelah tujuh tahun tinggal di Jepang. Tujuannya kembali ke Indonesia untuk menemukan seseorang dan untuk mengungkapkan misteri di masa lalu.

Di awal-awal  tiba di Indonesia, Seruni bertemu dengan orang-orang baik seperti Ana dan Rifat. Keduanya adalah pemilik resto Ramsu yang mempekerjakan Seruni jadi koki dan memberikan kamar di resto untuk ditinggali. Ia merasa terbantu sekali oleh bantuan mereka.

Seruni mendapatkan kejutan luar biasa ketika Ana memperkenalkan kakaknya, Kak Aster. Kerinduan itu membuncah dan diikuti ketidaksiapan mental, membuat Seruni nelangsa.

Misteri apakah yang terjadi di masa lalu? Dan berhasilkah Seruni menemukan seseorang itu?





Buku Seruni mempunyai ide cerita yang baru bagi saya. Tentang anak-anak yang menjadi korban perceraian orang tua. Karakter utama yang muncul hampir bersentuhan dengan isu  orang tua yang bercerai. Hasilnya, mereka menjadi orang-orang dewasa yang dibayangi oleh efek perceraian tersebut.

Ada yang menjadi pendendam, ada yang membenci orang tuanya atas perceraian itu, ada yang menjadi pemberontak, dan karakter di buku Seruni ini tidak ada yang memandang perceraian sebagai hal positif. Pesan besarnya, jangan gampang bercerai.

Bermula dari perceraian, konflik lainnya muncul. Dominan buku ini mengungkap permasalah keluarga. Seruni bermasalah dengan keputusannya di masa lalu dan membuat jurang dengan orang yang ia sayangi. Kak Aster menjadi pribadi murung dan memutuskan berhenti bicara sebagai bentuk penyesalan seorang kakak. Ana terbelit masalah antara keluarga papa tirinya dan mamanya. Taro menjadi pribadi yang terobsesi membalaskan luka pada orang yang melukai papanya hingga ia meninggal.

Sehingga buku Seruni ini bisa dikatakan buku bertema keluarga. Walaupun bukan keluarga harmonis, melainkan keluarga broken home.

Buku ini juga membawa kisah klise tentang jahatnya ibu tiri. Bukan jahat seperti menyiksa secara fisik, tetapi melalui verbal dan sikap yang pilih kasih.

Unsur Jepang melekat pada novel ini. Kita bisa melihat pada sampulnya yang berwarna kuning biru dan ada sosok perempuan berbusana kimono. Kita juga akan dibawa pada setting resto Ramsu pada awal buku. Resto dengan desain interior khas Jepang dan memiliki koleksi manga.

Utamanya tentang manga, saya berharap akan ada kelanjutan kisah yang berkaitan dengan manga. Tapi, sampai halaman terakhir, manga yang ada di resto tidak diceritakan kembali. Manga menjadi tempelan semata di buku ini.

Ritme cerita dibangun teratur. Bukan karena tema cerita yang kelam, kemudian kita disajikan cerita yang sedih-sedih melulu. Penulis membuat bertahap. Karena kesedihan itu muncul ketika misteri masa lalu diungkap dengan perlahan. Sehingga kamu akan menemukan beberapa bagian cerita berupa kilas balik.

Selingan yang menyenangkan ketika cerita menyentuh sisi roman. Bukan yang begitu kentara bisa dirasakan, tetapi manisnya cukup bisa dirasakan. Seruni kan punya masalah berat terkait keluarga dan masa lalu. Sedangkan Rifat sosok yang dewasa dan bukan orang yang spontan mengungkapkan apa yang dirasakannya. Kalian bisa tebak sendiri seberapa alot bagi keduanya untuk mengakui perasaan.

Sepanjang saya membaca Seruni ditemukan beberapa typo. Tidak banyak dan tidak mengganggu, tapi bisa dijadikan catatan untuk editor sebagai perbaikan. Misal di halaman 26 tulisan bahwa jadi bahwc. Dan di halaman 98 tulisan kembarnya jadi kembanya.

Satu tempat ikon yang membuat saya penasaran adalah Mesjid Camii, yang tidak jauh dari Stasiun Yoyogiuehara. Menurut informasi bukunya, menara mesjid ini memiliki gaya arsitektur Turki.


Akhirnya, setelah membaca buku Seruni, saya diingatkan untuk melihat keluarga sebagai tempat pulang. Seberat apa pun permasalahan, keluarga adalah orang terdekat yang akan berdiri di samping kita. Dan untuk buku Seruni ini saya memberikan rating 3/5.


  • Di dunia ini, tidak ada yang bisa menerka apa yang akan terjadi atau apa yang akan menjadi akhir, selain Tuhan. Yang pasti, semua manusia pasti akan menemui akhirnya (hal. 66)
  • Kadang, kamu harus mengikhlaskan apa yang tidak bisa kamu cegah (hal. 86)
  • Ada obat paling mujarab dan penawar untuk segala macam kesedihan (hal. 162)
  • Bukankah keluarga seharusnya berkumpul dan saling menjaga? (hal. 223)
  • Setiap orang punya masa lalu yang baik dan buruk, berkesan dan menyakitkan.Nggak ada manusia yang sempurna. (hal. 229)
  • Segelap apa pun hidup yang pernah dijalani, kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik selalu ada (hal. 232)
[ Jangan lupa ikutan giveaway #Seruni ya di postingan selanjutnya! ]


[Artikel] Update Buku-Buku Tere Liye


Begitu saya melihat tweet dari akun twitter @tereliye_quote yang memaparkan update buku-buku dari Tere Liye, saya tertarik membuat postingan serupa di blog ini. Sebagai pengingat saja pada buku beliau. Saya memang menyukai cerita-cerita yang beliau karang. Selain menghibur, buku Tere Liye sarat dengan pembelajaran. Kisah yang disusunnya sederhana tapi sukses dikemas apik. Membaca buku-buku beliau tidak akan membosankan (menurut saya).

Saya sudah membaca 9 buku Tere Liye: Tentang Kamu, Hujan, Pulang, Rindu, Berjuta Rasanya, Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Bidadari-Bidadari Surga, Hafalan Shalat Delisa. Dan yang masih menjadi buku favorit dan pernah saya baca berulang-ulang adalah buku Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.

Dan ada sedikit bocoran nih! Tahun 2017, rencananya Tere Liye akan menerbitkan 3 buku baru.

  • #aboutfriend
  • Bintang (serial Bumi #4)
  • Yang Telah Lama Pergi



Daftar Buku Tere Liye :

1. Tentang Kamu

2. Matahari (serial Bumi #3)

3. Hujan

4. Pulang

5. Bulan (serial Bumi #2)

6. #aboutlove

7. Rindu

8. Dikatakan atau Tidak Dikatakan Itu Tetap Cinta

9. Bumi (serial Bumi #1)

10. Amelia (serial Anak-Anak Mamak #1)

11. Negeri di Ujung Tanduk

12. Sepotong Hati yang Baru

13. Negeri Para Bedebah

14. Berjuta Rasanya

15. Kau, Aku & Sepucuk Angpao Merah

16. Sunset & Rosie

17. Ayahku (bukan Pembohong)

18. Eliana (serial Anak-Anak Mamak #4)

19. Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

20. Pukat (serial Anak-Anak Mamak #3)

21. Burlian (serial Anak-Anak Mamak #2)

22. Rembulan Tenggelam di Wajahmu

23. Bidadari-Bidadari Surga

24. Moga Bunda Disayang Allah

25. Kisah Sang Penandai

26. Hafalan Shalat Delisa

26 buku di atas sesuai yang diurai akun twitter @tereliye_quote. Ada 1 buku yang menurut saya tidak masuk list di atas, dan dari informasi goodreads buku tersebut juga karya Tere Liye.

The Gogons: James & the Incredible Incident


Nah, dari 26 buku Tere Liye di atas, buku mana saja yang pernah kamu baca?