[Buku] Twinwar - Dwipatra

Judul: Twinwar
Penulis: Dwipatra
Editor: Miranda Malonka
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Desember 2017
Tebal buku: 296 halaman
ISBN: 9786020376790
Harga: Rp69.000 (via gramedia.com, sebelum diskon)

Dinobatkan sebagai juara 1 dalam kompetisi Gramedia Writing Project (GWP) Batch 3, novel teenlit ini bukan sekadar punya cerita ringan, tetapi berisi pesan moral yang secara khusus ditujukan untuk remaja. Mungkin salah satu pertimbangan itu yang membuat tim Gramedia meloloskan novel debut dari Dwipatra sebagai pemenang.

Bermula dari ingkar janji, Gara dan Hisa yang kembar identik tidak pernah akur sejak mereka masuk SMA sampai menjelang Ujian Nasional (UN). Keduanya tidak berhenti saling balas mengerjai. Puncak perseteruan mereka meledak ketika Hisa memeras Gara untuk bertukar peran saat ada ulangan matematika, dengan foto Gara yang sedang pacaran. Gara terpaksa menyetujui mengingat aturan ketat mamanya yang melarang mereka pacaran sebelum masuk perguruan tinggi. Namun, kesepakatan itu tidak berjalan semestinya hingga menimbulkan masalah baru yang lebih besar. Apakah Gara dan Hisa akan akur kembali?

Sebagai novel teenlit, Twinwar dipenuhi aneka peristiwa yang umum dialami remaja SMA seperti persoalan pacaran, perbedaan pendapat remaja dengan orang tua, kegiatan pendidikan di sekolah, persaingan eksistensi di sekolah antara senior-junior, dan percampuran egois-gengsi di kalangan remaja. Semua itu membuat kisah Gara dan Hisa lebih berwarna dan lebih seru sehingga pemicu untuk menyelesaikan sampai akhir cerita.

Si kembar sebagai tokoh utama digambarkan memiliki karakter yang bertentangan. Mahisa Aryaji (Hisa) bersifat cuek, urakan, usil, dan tidak begitu cerdas. Kebalikan dari Hisa, Hanggara Setiaji (Gara) lebih penurut, pendiam, rajin, dan pintar. Selain si kembar, beberapa karakter lain juga menghidupkan cerita. Ada Dinar (pacar Gara), Ollie (calon pacar Hisa), Johan dan Danu (teman Hisa), Miss Galuh (guru privat Ollie), Ali Akbari (?), Fasial (rival Hisa), Pak Syam (guru olah raga Hisa), dan orang tua Gara-Hisa.

Untuk mengimbangi cerita yang berlatar SMA, Dwipatra berhasil meracik diksi yang sederhana, mudah dan lancar dinikmati, dan penulis tepat sekali menabur candaan atau umpatan di beberapa bagian.

Melalui perseteruan Gara dan Hisa, kita akan diingatkan pentingnya rukun sesama saudara. Perselisihan tidak akan pernah memuaskan, justru membuat jiwa dan raga lelah dan tidak tenang. Perselisihan itu akan berangsur-angsur hilang jika kita mau jujur. Nilai kejujuran ini dibahas secara vokal beberapa kali oleh Dwipatra.

Sedikit catatan, ada pernyataan kontroversial di buku ini tepatnya halaman 188 yang akan memicu kesalahpahaman mengartikan. “Zaman Mama dulu, hamil di luar nikah adalah aib yang sangat besar.” Bukan zaman dulu saja, hari ini pun kasus hamil di luar nikah tetap jadi aib sangat besar. Kesimpulannya, si mama menyatakan jika hari ini (saat ia berbicara), kasus tersebut sudah jadi aib biasa. Kalimat membandingkan itu yang bisa menjadi akar perbedaan pendapat.

Berkat keseruan cerita yang membawa ingatan SMA dulu seperti mengajak bernostalgia, Twinwar pantas diganjar nilai 4/5.

Catatan:
  • Cowok yang nggak berani ngakuin rasa sukanya ke orang lain, itu namanya pengecut. (Hal. 175)
  • Kalau kita selalu melihat sisi baik dari sesuatu, kita akan merasakan bahagianya. (Hal. 247)

[Buku] Heart Reset - Trissella

Judul: Heart Reset
Penulis: Trissella
Penyunting: Puspa Sari Ayu Yudha
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Maret 2017
Tebal buku: 192 halaman
ISBN: 9786020338817
Harga: Rp 50.000 (via bukabuku.com, sebelum diskon)

Bukan, ini bukan tentang siapa yang dicintai lebih lama dan siapa yang bersamanya lebih lama. Ini tentang siapa yang berani mengambil risiko untuk mempertahankan perasaannya, apa pun yang terjadi. Tentang seberapa kuat dia menahan keegoisan agar yang lain bisa bahagia meski tak bersamanya. (Hal. 184-185)

Novel Heart Reset menceritakan tentang seorang gadis SMA bernama Anaya yang diam-diam menyukai teman sejak kecilnya, Dipta. Perasaannya tak terbalas sebab Dipta menyukai Airin yang justru berpacaran dengan Billy. Anaya menjadi saksi kegalauan Dipta yang patah hati yang justru membuatnya lebih sakit hati lagi. Di lain waktu, muncul Abi, cowok yang sejak dulu menyukai Anaya. Apakah Anaya akan tetap memilih Dipta atau justru memilih Abi?

Novel ini berhasil membuat saya sesak nafas. Kisah asmaranya kental, bahkan kadar getirnya membuat saya mengelus dada. Secara garis besar novel Heart Reset mengangkat konflik cinta bertepuk sebelah tangan. Ada banyak faktor penyebabnya: seseorang itu menyukai orang lain, seseorang itu terjebak di area friendzone, seseorang itu gengsi untuk berterus terang.

Penyebab tadi tidak pernah terungkap dan membuat kisah Dipta, Ayana. Dan Abi bertambah seru. Bagian paling menohok dada saya, ketika Dipta melepas Anaya untuk sekolah di luar negeri. Pada bagian ini sangat dramatis, merasa sangat kehilangan setelah dia pergi. Juga ketika Anaya bertekad menyerah atas perasaannya kepada Dipta.

“Gue mau ngelupain dia, tapi rasanya sakit. Gue mau nyerah, tapi nggak mau sakit kayak gini,” racau Anaya. (Hal. 105)

Menurut saya, penulis sukses menyajikan kisah teenlit yang dramatisnya pas. Interaksi antar tokoh tidak dibuat berlebihan. Dan saya menangkap sisi kedewasaan pada tokoh-tokohnya meski usia mereka masih usia SMA.

Diksi yang dipakai pun enak dibaca karena kesederhanaan, keringkasan, dan keefisiensian kalimat dalam menarasikan suatu kondisi atau peristiwa. Saya tidak mendapati kalimat yang bertele-tele. Untung buat saya, tidak ribet mamahami jalan cerita yang mengusung alur maju ini.

Jujur, saya tidak menyukai kovernya. Gambarnya terlalu kaku, pemilihan jenis hurupnya terlalu tegas, padahal saya merasakan cerita yang hangat di dalamnya. Dibutuhkan ilustrasi yang lebih lembut mengingat sudut pandang yang dipakai dominan dari seorang gadis (Anaya), isi cerita berupa kisah cinta yang miris, dan ada babak bahagia setelah perjalanan panjang mengeja hati.

Saya pun punya catatan ketidaklogisan satu bagian cerita di halaman 25. 110 detik lampu merah itu terbilang lama, namun disana diceritakan dengan pengucapan satu kalimat, 110 detik itu selesai. Bila saya keliru tentang ini, silakan dikoreksi.

Berbicara tokoh utama, di novel ini kita akan dipertemukan dengan tokoh Anaya, Dipta, dan Abi. Anaya adalah gadis yang sabar memendam perasaan dan rasa sakit di hati, tulus, dan feminim. Dipta tampil jadi sosok pemuda baik-baik, pengecut karena tidak berani mengungkapkan isi hati dan pikirannya, dan egois. Sedangkan Abi sosok yang urakan, berandal, dewasa, perhatian, dan bertanggung jawab. Kekurangan pada penokohan dalam novel ini terletak pada sedikitnya penulis menarasikan ciri-ciri fisik setiap tokoh. Sampai cerita selesai, saya masih bingung menggambarkan sketsa muka-muka mereka.

Selain ketiga tokoh tadi, ada Airin dan Billy yang porsi diceritakannya sedikit, ada teman-teman tongkrongan Abi: Rio dan Dika, dan ada Editha (sepupu Dipta).

Dari novel ini, pembaca akan mendapatkan pelajaran untuk selalu bisa jujur. Apa pun hasil dari tindakan jujur itu yang kemudian harus dihadapi. Percayalah, setiap masalah selalu ada jalan keluarnya. Bukan justru bersikap takut sebelum berperang. Karena sikap begini malah menambah rumit masalah.

Saya menyukai novel ini dan saya belajar kedewasaan dan kebesaran hati dari tokoh Abi. Saya memberi nilai 4/5 untuk novel ini.

Catatan:
  • Persahabatan lawan jenis, salah satunya pasti menyimpan perasaan lebih. Kalau beruntung, perasaannya berbalas (Hal. 36)
  • Lelaki sejati akan menempati janji apa pun yang terjadi (hal. 58)
  • Tiap pertemuan pasti berakhir pada perpisahan (Hal. 77)

[Buku] Carisa dan Kiana - Nisa Rahmah

Judul: Carisa dan Kiana
Penulis: Nisa Rahmah
Editor: M. Adityo Haryadi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, April 2017
Tebal buku: 208 halaman
ISBN: 9786020339573
Harga: Rp 55.000 (via bukabuku.com, sebelum diskon)

Novel Carisa dan Kiana ini merupakan karya debut penulis Nisa Rahmah. Saya mengenal Mbak Nisa sebagai blogger buku yang ulasan bukunya sering wara-wiri di twitter. Kabar Mbak Nisa berhasil masuk penerbit untuk karyanya yang pernah ia publikasi di web Gramedia Writing Project (GWP), menarik perhatian saya karena penasaran dengan kemampuannya meramu cerita.

Novel Carisa dan Kiana ini bercerita tentang takdir dua siswi SMA Pelita Bangsa yang karena banyak hal harus bertentangan namun satu alasan mereka pun harus berdamai. Carisa dan Kiana juga dua pribadi yang bertolak belakang. Drama-drama sekolah membuat perseteruan mereka meruncing. Lalu, satu rahasia besar terbongkar. Rahasia yang membuat Carisa dan Kiana tidak bisa menolak takdir, dan memaksa mereka untuk belajar menerima satu sama lain. Apakah rahasia besar itu? Berhasilkah Carisa dan Kiana berdamai?

Ketakutan pertama saya membaca lini teenlit ini adalah takut menemukan drama, cerita, dan dialog yang lebay. Sebab, imajinasi saya sudah menolak hal demikian karena kesadaran kehidupan sebenarnya tidak se-drama itu. Namun, begitu memulai baca saya langsung bersyukur penulis tidak menghadirkan ketakutan saya tadi. Bahasa yang digunakan formal dan sederhana. Sehingga penguasaan saya pada cerita di dalamnya sangat lancar.

Latar sekolah yang dipilih penulis juga berimbang antara ilmu pengetahuan sekolah dengan ceritanya. Penulis tidak membuat novel ini penuh data-data pelajaran, melainkan disajikan dalam alur secara apik tanpa mengesankan sedang menggurui. Sehingga saya boleh mengatakan kalau novel Carisa dan Kiana ini memiliki kekuatan di sisi cerita.

Konflik utama novel ini adalah perseteruan antara Carisa dan Kiana. Sepanjang alur konflik tersebut, penulis membuat subkonflik lainnya yang menguatkan konflik utama dari segi karakter figuran, latar belakang konflik utama, dan proses klimaks konflik. Contohnya, latar belakang Stella, hubungan Rico dan Stella, perasaan Kiana kepada Rama, dan masih banyak subkonflik lainnya. Dan semua itu menjadikan diagram alur novel ini naik turun dan mencapai titik akhir yang cukup menggembirakan. Ditambah penulis menempatkan titik-titik penasaran di tempat yang tepat. Efeknya, saya tidak sabar menyelesaikan kelanjutan kisah Carisa dan Kiana ini sampai akhir buku.

Karakter utama yang muncul di novel ini adalah Carisa dan Kiana. Carisa itu gadis yang aktif, berani, cerdas. Saya menduga sedikit banyak karakter Carisa dipengaruhi keadaan keluarganya yang broken home. Sedangkan Kiana merupakan sosok anggun, pendiam, pintar, dan pemalu. Lalu karakter lain yang muncul adalah Rahman Ramadhan, Rico, Stella, Bang Aldo, dan beberapa lagi, termasuk Mamanya Carisa, Papanya Kiana, dan Zio (adik Kiana).

Kover bukunya menarik. Gambar dua gadis, yang satu membaca buku, yang satunya lagi memetik gitar, memberikan gambaran jelas kedua tokoh utama yang berbeda karakter. Juga pemilihan warna yang condong ke warna lembut, cocok sekali dengan sasaran pembaca remaja.

Novel Carisa dan Kiana membawa cerita yang bisa membuat pembaca dewasa bernostalgia ke masa SMA. Dimana pada waktu itu disibukkan dengan kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan pensi, kesibukan menjalankan organisasi, dan euforia pemilihan ketua OSIS. Dan berbobot lagi ketika pesan moral dalam novel ini diurai. Mengajarkan untuk memaafkan, santun terhadap orang tua, keharusan giat belajar, memilih teman yang baik, bertanggung jawab terhadap keputusan yang dipilih, dan masih banyak nilai-nilai kebaikan lainnya.

Sedikit catatan dari saya adalah paragraf di halaman 9 yang menerangkan Kelompok Ilmiah Remaja, sedikit mengagetkan karena menurut saya tidak terkait dengan paragraf sebelumnya. Saya sempat membaca ulang bagian tersebut untuk tahu maksud dari paragraf itu. Selain itu, detail pertunjukkan musikalisasi puisi, menurut saya terlalu panjang mendetailkan. Saya mengerti maksudnya agar pembaca merasakan betul suasananya, tetapi mengikuti alur cerita yang terbilang cepat pada bagian sebelumnya, membuat saya mau tak mau melewatkan bagian tersebut ke cerita berikutnya.

Terlepas dari catatan saya tadi, saya menyukai berkenalan dengan karya Mbak Nisa ini dan saya pun berani memberikan nilai 4/5 untuk novel Carisa dan Kiana ini.

Catatan:
  • Penerimaan terhadap takdir yang rumit adalah langkah kecil untuk berdamai dengan diri sendiri. (Hal. 96)
  • Orang yang berpikir bunuh diri itu sama aja dengan pengecut. Menganggap kehidupan setelah kematian seolah nggak ada. (Hal. 134)
  • Seorang anak belajar apa pun dalam kehidupannya, sebenarnya orangtua sedang belajar bagaimana cara menjadi orangtua yang baik. (Hal. 185)

[Buku] What I Talk About When I Talk About Running - Haruki Murakami




Judul: What I Talk About When I Talk About Running
Penulis: Haruki Murakami
Penerjemah: Ellnovianty Nine Sjarif & A. Fitriyanti
Penyunting: A. Fitriyanti
Penerbit: Penerbit Bentang / PT Bentang Pustaka
Cetakan: Pertama, April 2016
Tebal buku: vi + 198 halaman
ISBN: 9786022910862
Harga: Rp 49.000 (via mizanstore.com, sebelum diskon)

“Apakah hal yang kamu lakukan baik atau tidak, keren atau tidak keren sama sekali, pada akhirnya yang memiliki arti bukanlah sesuatu yang bisa dilihat, tetapi yang bisa dirasakan oleh hatimu. Agar mengerti sebuah nilai, kadang-kadang kamu harus melakukan sesuatu yang buang-buang waktu. Namun, bahkan suatu tindakan yang kelihatannya sia-sia, tidak selamanya berakhir demikian.” (Hal. 189)

Ada rasa janggal setelah membaca buku Haruki Murakami ini. Sebab memoar ini berisi pandangan penulis terhadap sesuatu. Di buku ini penulis mengungkapkan buah pikirannya terhadap hobinya: berlari. Sebagai memoar, saya meloncati proses dalam mengenal penulis. Biasanya, orang akan membaca novel-novel karya Haruki Murakami, setelah itu ia akan membaca memoarnya. Karena memoar lebih mengetengahkan lebih banyak sisi pribadi si penulis. Justru yang saya lakukan mengenal penulisnya dahulu, mungkin baru membaca novel-novelnya. Ini kesan yang saya simpulkan dan tentu saja akan berbeda dengan kalian.

Memoar What I Talk About When I Talk About Running berkisah pengalaman Murakami di dunia lari dan dunia kepenulisan. Dia menceritakan banyak pengalaman mengikuti lomba lari dan pikiran-pikirannya terhadap kegiatan berlari. Contohnya, pikirannya tentang ketidakinginannya bangun pagi dan berlari. Siapa pun pasti pernah menemukan perasaan ini setelah melakukan kegiatan dalam kurun waktu tidak sebentar. Murakami penasaran apakah pikiran tersebut muncul juga pada pelari profesional. (Hal. 55)

Pada bagian lain, Murakami juga menceritakan pengalaman ia berlari maraton di Yunani untuk artikel majalah (Hal. 65-76). Ada opsi untuk membuat foto setelah Murakami berlari beberapa jarak dan urusan selesai. Tetapi, Murakami memilih berlari menyelesaikan jarak lintasan maraton sejauh 42.195 km. Diceritakan terperinci bagaimana suhu panas pada saat itu, kondisi jalan yang ramai dan kerap ditemukan bangkai anjing dan kucing, dan perasaan campur aduk ketika Murakami berada di titik sangat lelah (marah, kesal, merutuk).

Namun, cerita pengalaman lari Murakami kemudian dikaitkan pada pengalaman ia sebagai penulis. Saya terkesan pada bagaimana awal mula ia memutuskan untuk menulis novel. Niat yang muncul saat ia menonton baseball dan kemudian ia lanjutkan dengan pengorbanan besar, menutup usaha bar yang pada saat itu dalam kondisi sangat baik. Usia Murakami pada saat itu di ujung 20-an.

Selain pengalaman awal mula menjadi penulis, Murakami berbagi cara-cara menjadi penulis yang baik menurut versinya. Sebab Murakami sadar sekali dirinya bukan penulis yang memiliki bakat alami luar biasa.

“Sebaliknya jika kamu bisa berfokus secara efektif, kamu akan dapat mengimbangi bakat yang tak menentu atau bahkan yang jumlahnya sedikit.” (Hal. 87-88)

“Jika konsentrasi hanyalah proses menahan napas, daya tahan merupakan seni mengeluarkan napas dengan tenang dan pelan-pelan sekaligus mengisi udara ke dalam paru-paru.” (Hal. 88)

“Keseluruhan proses menulis- duduk di depan meja, memfokuskan pikiran seperti sinar laser, membangun imajinasi dari kekosongan, mengarang cerita, memilih kata yang tepat satu demi satu, mempertahankan seluruh alur tetap berada pada jalur - membutuhkan energi yang jauh lebih banyak, untuk jangka waktu yang lama, dari yang dibayangkan orang kebanyakan.” (Hal. 90)

Sebuah pengalaman berharga karena setelah membaca memoar Murakami ini, saya seperti sudah belajar langsung kepadanya untuk urusan menulis. Ada banyak bagian dari buku yang menginspirasi saya untuk menekuni dunia menulis. Dan saya pun berharap kalian akan menemukan pengalaman yang sama setelah membaca buku ini.

Akhirnya, saya memberi nilai 4/5 untuk buku yang menginspirasi sekaligus meyakinkan saya kembali untuk fokus di dunia menulis.

Catatan:
  • Aku selalu berhenti pada saat aku merasa bisa menulis lebih banyak. Dengan begitu, penulisan selanjutnya secara mengejutkan menjadi lebih lancar. (Hal. 6)
  • Setelah berlari rasanya apa pun yang menjadi inti tubuh ini seperti diperas keluar sehingga terlahir perasaan ringan, dan apa pun yang terjadi, terjadilah. (Hal 9)
  • Apakah hasil tulisan sesuai atau tidak dengan standar yang ditetapkan oleh diri sendiri akan menjadi hal yang lebih penting daripada segalanya dan itu adalah sesuatu yang tidak mudah dijadikan alasan. (Hal. 13)
  • Hal terpenting adalah bagaimana melampaui diri sendiri yang kemarin. (Hal. 14)
  • Aku belajar bahwa tidak mungkin manusia hidup sendiri - sesuatu yang sudah sewajarnya. (Hal. 20)
  • Manusia memiliki nilai di dalam diri mereka dan cara hidup masing-masing, begitu juga aku. (Hal. 24)
  • Kepedihan ataupun sakit hati merupakan hal yang diperlukan dalam hidup. (Hal. 24)
  • Perkara sakit hati adalah harga yang harus dibayar seseorang untuk dapat menjadi mandiri di dunia ini. (Hal. 25)
  • Bagaimana membagi waktu dan tenaga kita untuk melakukan hal-hal sesuai urutan prioritas. Jika tidak bisa menetapkan sistem semacam itu pada suatu masa dalam hidup, kamu akan kurang terfokus dan hidupmu jadi tidak seimbang. (Hal. 45-46)
  • Seberapa pun besarnya niat seseorang, seberapa pun bencinya dia pada kekalahan, jika hal itu merupakan sesuatu yang tidak benar-benar disukai, dia tidak akan bisa bertahan lama meneruskannya. (Hal. 53)
  • Namun, manusia punya kecocokan dan ketidakcocokan masing-masing. (Hal. 54)
  • Dinding pemisah antara kepercayaan diri yang sehat dan harga diri yang berlebihan memang cukup tipis. (Hal. 63)
  • Saat semakin tua, kamu akan belajar untuk bahagia dengan apa yang kamu miliki. Itulah salah satu dari sedikit hal baik dengan menjadi tua. (Hal. 97)
  • Jika sesuatu berarti untuk dilakukan, memberikan semua yang terbaik - atau bahkan melebihi yang terbaik darimu - juga berarti. (Hal. 109)
  • Sekali melanggar peraturan yang kuputuskan sendiri, aku akan melanggar lebih banyak lagi. (Hal. 124)
  • Mungkin yang bisa kita lakukan hanyalah menerimanya, tanpa terlalu banyak tahu apa yang sebenarnya terjadi. (Hal. 134)

[Buku] Pencuri Dan Anjing-Anjing - Naguib Mahfouz


Judul: Pencuri dan Anjing-Anjing
Penulis: Naguib Mahfouz
Penerjemah: An. Ismanto
Editor: Tia Setiadi
Penerbit: Basabasi
Cetakan: September 2017
Tebal: 180 hlm.
ISBN: 9786026651136
Harga: Rp 60.000 (via belbuk.com, sebelum diskon)

Novel Pencuri dan Anjing-Anjing ini bercerita tentang Said Mahran yang baru saja keluar dari penjara setelah empat tahun mendekam. Ia dipenjara lantaran pekerjaannya sebagai pencuri. Tetapi yang membuatnya merutuk adalah pengkhianatan yang dilakukan Ilish Sidra (temannya), Nabawiyya (mantan istri), dan Rauf Ilwan (temannya) yang merupakan orang terdekatnya. Dan tujuan utama yang hendak dicapai Said setelah keluar dari penjara adalah membalas dendam kepada mereka semua. Apakah Said berhasil melakukannya?

Kesan yang muncul setelah selesai membaca novel ini adalah novel yang kelam dan penuh renungan. Melalui tokoh utamanya, Said, pembaca disuguhkan alur cerita tentang tidak baiknya punya niat balas dendam. Karakter Said yang diliputi amarah dendam, dan bukannya menyesal terus menjadi sosok yang lebih baik, membuat saya kesal juga selama megikuti jalan ceritanya. Penulis sangat pintar mengantarkan pesan yang ingin disampaikan dengan memakai tokoh yang posisinya bersalah. Dan pesan itu tersampaikan dengan baik.

Selain tokoh Said si pembalas dendam, penulis pun menghadirkan sosok soleh, Syekh Ali al-Junaydi. Ia merupakan guru pada sebuah majelis, tempat dulu ayah Said pernah ikut bergabung. Dari kebijaksanaan beliaulah, pikiran yang bertentangan dengan karakter Said bisa dilihat dan dirasakan.

Untuk gaya bercerita dari terjemahannya, novel ini punya kalimat yang kesastraan. Saya tidak paham apakah ini merupakan gaya bercerita penulis asal Timur Tengah. Tetapi, saya mengakui butuh ketelitian dalam memahami maksud kalimatnya. Sedangkan untuk alurnya, penulis mengusung alur maju dan alur mundur. Di dalam juga akan ditemukan dua jenis huruf dalam cetakan. Tulisan dengan huruf yang miring (Italic) menunjukkan bagian pikiran Said secara langsung. Sedangkan tulisan biasa (normal) menunjukkan narasi dengan Sudut Pandang Ketiga.

Karakter utama di novel ini adalah Said Mahran, yang pendendam, ceroboh, tidak sabaran, dan terlalu percaya diri. Ia benar-benar dibutakan niat balas dendam sehingga cara-cara yang ia lakukan membuatnya semakin dicari polisi. Orang-orang yang ingin dihancurkannya makin aman, dirinya sendiri yang makin terperosok. Syekh Ali al-Junaydi, guru majelis yang bijaksana dan sederhana. Ia kerap menuturkan kalimat-kalimat yang filosofis bermuatan nilai kebaikan. Nur, sosok perempuan malang yang menyukai Said sejak mereka muda dan tetap mau menolongnya setelah semua rencana Said mulai kacau. Sosok yang terus mendampa kehidupan damai dan tentram namun semua itu tidak berpihak kepadanya.

Karakter lainnya seperti Ilish Sidra, Nabawiyya, dan Rauf Ilwan, diceritakan sedikit. Karakter mereka diterangkan secara narasi lewat bagian pikiran Said. Tetapi sangat cukup untuk menuturkan konflik yang dialami Said.

Pesan paling vokal di novel ini adalah larangan keras membalas dendam. Tindakan benar menanggapi kesalahan orang lain adalah dengan memaafkan. Balas dendam justru hanya akan menghadirkan kemalangan lainnya.

Saya pun memberi nilai 3/5. Novel yang berbobot untuk dijadikan bahan merenung. Tapi, tetap saja novel ini bukan buku yang punya cerita mengesankan untuk saya.

Catatan:
  • Yang sudah terjadi biarlah terjadi, hal semacam itu terjadi setiap hari. Derita bisa menimpa, dan persahabatan lama pun bisa putus. Tetapi hanya tindakan hina yang bisa menghinakan manusia. (hal.18)
  • Apakah kau tak merasa malu meminta disenangi dari Tuhan sementara kau tidak senang dengan-Nya? (hal.31-32)
  • Terpikir olehnya bahwa kebiasaan merupakan akar kemalasan, kelesuan, dan kematian, bahwa kebiasaan menjadi penyebab semua penderitaan, pengkhianatan, kelancangan, dan kesia-siaan seluruh usaha dalam hidupnya. (hal.32)
  • Tetapi kenapa kita mengutuk kecemasan dan rasa takut kita? Pada akhirnya, bukankah dua hal itu tak membuat kita kesulitan memikirkan masa depan? (hal.65)
  • Tragedi susungguhnya adalah bahwa musuh kita sekaligus teman kita. (hal.66)
  • Sebenarnya, agar bisa tetap hidup, kita tak boleh takut pada apa pun. (hal.114)
  • Kalau cinta memang akan menimbulkan masalah, lebih baik menyisih saja. (hal.131)
  • Kesabaran itu suci dan melaluinyalah segala sesuatu diberkati. (hal.164)

[Buku] Melangkah ke Seberang - Karina Nurherbyanti Herbowo




Judul: Melangkah ke Seberang
Penulis: Karina Nurherbyanti Herbowo
Editor: Afrianty P. Pardede & Andiyani Lo
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Cetakan: September 2017
Tebal: vi + 194 hlm.
ISBN: 9786020445564
Harga: Rp 54.800 (via gramedia.com, sebelum diskon)

Novel Melangkah ke Seberang ini bercerita tentang pengalaman Arya berkunjung ke Indonesia. Ia datang ke Banten bersama sepupunya, Cody. Tujuannya untuk liburan, sekaligus mengenal kerabat yang memang belum pernah Arya kenal. Pasalnya, Arya sudah sejak lahir tinggal di Amerika.

Di Indonesia, Arya bertemu Fatma, anak dari seorang Gubernur. Perkenalan ini membawa pengaruh dalam menilai seseorang, sekaligus membuka pandangan baru baginya. Pengalaman apa saja yang dialami Arya di Indonesia?

Novel Melangkah ke Seberang bisa dikatakan novel yang mengenalkan kembali pembaca pada negara Indonesia. Melalui sudut pandang Karina, pembaca akan disuguhkan sajian politik, agama, kemanusiaan, dan nilai lokal daerah Banten.

Sedari awal, penulis sudah menyuguhkan satu ironi mengenai arti Indonesia bagi warganya. Arya yang keturunan darah Indonesia tidak paham tentang Indonesia dan tidak bisa berbahasa Indonesia. Lain hal dengan sepupunya yang blasteran, Cody justru lebih mengenal Indonesia dan bisa berbahasa Indonesia. Ironi ini efek dari pikiran orang tua Arya yang menganggap pentingnya Arya memahami Amerika daripada Indonesa, untuk bersaing hidup. Sebab orang tua Arya sudah memilih untuk tinggal di Amerika. Tetapi nilai positif orang tua Arya adalah mereka tetap mementingkan pendidikan agama Islam meski mereka hidup di Amerika. Sehingga Arya tumbuh dengan pemahaman agama yang baik, diukur dari tidak pernahnya ia meninggalkan salat.

Menurut saya, konflik utama novel ini bukan terletak pada Arya. Saya melihat konflik paling seru terletak pada kehidupan Ratu Fatma Alifya, yang anak dari seorang Gubernur Banten. Ia merasa kehilangan kehangatan keluarga akibat jabatan yang diemban Papa dan Kakak pertamanya. Ia merasa kehidupannya selalu dinilai dari latar belakang keluarga. Ia juga merasa jadi korban popularitas jabatan tersebut. Penulis membahas konflik itu dengan sangat baik. Pembaca diberikan gambaran bagaimana politik itu kejam. Papa Fatma sebagai orang yang jujur terkena fitnah perihal pembangunan bandara oleh mitra kerjanya. Dan kasus ini berimbas kepada Fatma sebagai anak. Ia bahkan sampai diusir oleh orang tua murid ketika menjadi relawan guru di sekolah SMP tempat ia pernah belajar hanya karena fitnah yang pada saat itu belum muncul kebenarannya.

Konflik menarik lainnya, Arya mesti memutuskan untuk memilih Brie (pacarnya yang di Amerika) atau Fatma (gadis yang baru ditemuinya di Indonesia). Proses memutuskan ini yang menarik. Sebab Arya sebagai tokoh utama harus bisa bijaksana. Dan penulis mengakhiri konflik ini dengan adil dan elegan.

Gaya bahasa yang digunakan penulis cukup baik. Meski pada beberapa bagian terasa janggal (saya lupa menandai bagian mana yang saya maksud). Tetapi, secara keseluruhan novel ini sangat bisa dinikmati. Melalui plot yang mengusung plot maju dan plot mundur, seluruh bagian cerita saling melengkapi. Walau di awal pembaca akan diberikan banyak tanda tanya, penulis membayar tuntas jawabannya secara bertahap. Berada di akhir buku, cerita berakhir tuntas dan manis.

Tokoh utama di novel ini adalah Ratu Fatma Alifya dan Arya Soeraadiningrat. Keduanya berusia dua puluh tahunan. Ratu Fatma Alifya condong berkarakter ceria, periang, dan berpikir positif. Gonjang-ganjing keluarganya akibat hawa politik masih ditanggapi Fatma dengan santai. Bahkan ketika ia diusir oleh orang tua murid dari sekolah SMP tempat ia membantu mengajar, Fatma tidak bersedih hati. Dalam hitungan waktu ia kembali menjadi Fatma yang periang. Sedangkan Arya Soeraadiningrat memiliki kedewasaan. Bisa jadi karakter ini hasil didik orang tuanya yang mengarahkannya jadi pribadi pekerja keras dan mandiri. Ia juga tipe pria yang bijak dalam memutuskan sesuatu. Dan yang utama, ia pria yang taat beragama. Ketaatan ini membawa pengaruh baik di sisi karakter lainnya sebab ketaatan dalam beragama berarti menerapkan nilai-nilai baik di agama.

Selain mereka, masih ada Cody Hudleston (sepupu Arya), Brie Ann (pacar Arya), Naira (sepupu Arya), Ibu Santi (pengasuh Fatma), Tubagus Ali Samudra (Kakek Fatma), Jhendra (Papa Fatma), dan ada beberapa lainnya lagi.

Memperhatikan kover novelnya, saya merasa terkecoh. Dari judulnya saja, saya kira novel ini akan diisi cerita petualangan mengeksplorasi wisata alam secara detail. Terlebih di kover ada dua sosok pria muda yang berkostum petualang. Namun, eksplorasi wisata alam di novel ini sangat minim. Saya sedikit kecewa. Terlepas dari isi cerita, pemandangan kovernya memikat. Akhir-akhir ini saya memang sedang menggandrungi foto-foto atau gambar yang menampilkan pemandangan alam. Sehingga rasa kecewa tadi cukup terhibur dengan foto kovernya.

Nilai novel Melangkah ke Seberang yang paling melekat di benak saya adalah betapa pentingnya menjadi diri sendiri yang dikokohkan dengan ilmu agama. Saya merasa diingatkan jika selama ini saya tidak memahami nilai-nilai agama yang saya anut. Padahal, pemahaman terhadap agama akan membawa banyak kebaikan.

Saya dengan senang hati memberikan nilai 4/5. Saya sangat menyukai ceritanya hingga saya harus membaca novel ini sampai dua kali.

[Buku] Bidadari-Bidadari Surga, Tere Liye


Judul : Bidadari-Bidadari Surga
Penulis : Tere Liye
Desain cover : Eja-creative14
Penerbit : Penerbit Republika
Terbit : Februari 2017, cetakan XXV
Tebal buku : viii + 363 halaman
ISBN : 9789791102261
Harga: Rp47.500 (sebelum diskon, via bukurepublika.id)

Ini kali kedua aku membaca buku Bidadari-Bidadari Surga. Seperti keyakinanku, membaca kali berikutnya sebuah buku akan ditemukan hal baru. Dan rasa yang dulu ketika membaca, masih aku temukan pada proses membaca kemarin.

Bidadari-Bidadari Surga mengisahkan satu keluarga di Lembah Lahambay. Terdiri dari Mamak (ibu), Laisa, Dalimunte, Wibisana, Ikanuri, dan Yashinta. Keluarga sederhana setelah ditinggal mati Babak (ayah) dan mengharuskan anggota keluarga yang ada untuk berjuang melanjutkan hidup.

Dalam ungkapan sederhana, keluarga Kak Lais bagai bermetamorfosis. Dari sederhana menjadi istimewa. Perubahan itu disajikan Tere Liye dengan apik. Secara perlahan pembaca dibawa hanyut oleh peristiwa-peristiwa penting yang menjadi sebab istimewa.

Salah satu nilai paling besar yang aku temukan di buku ini adalah arti pengorbanan. Kak Lais memutuskan berhenti sekolah agar adik-adiknya bisa melanjutkan sekolah. Kondisi ekonomi saat itu tidak memungkinkan untuk membiayai semuanya. Pengorbanan itu semakin berarti karena Kak Lais tidak lepas tangan begitu saja. Ia pun galak memastikan adik-adiknya amanah masuk sekolah dan belajar dengan baik. Dan proses itu tidak mudah sebab Wibisana dan Ikanuri kerap membolos tanpa sepengetahuan Kak Lais.

Melalui buku ini juga aku melihat potret arti kerja keras. Ada ungkapan yang mengatakan ‘hasil tidak pernah mengkhianati usaha’ dan semakin jelas maksudnya setelah membaca habis kisah Kak Lais. Ada satu bagian yang mengisahkan usaha Kak Lais menanam strawberry di ladang. Mendobrak kebiasaan umum. Banyak sekali yang meragukan niatan Kak Lais berkebun strawberry. Dan penulis memang tidak membuat cerita Kak Lais dengan kesuksesan yang mujur. Usaha itu harus terbentur kegagalan. Semua tanaman strawberry layu dan mati. Seperti bertaruh, setelah itu Kak Lais lebih berani dan mencoba kembali. Yang harus diingat, usaha keras apa pun harus dibarengi ilmu. Bisa saja usaha keras berakhir kebuntungan bukan keberuntungan karena tidak memakai ilmu.

Sebenarnya masih banyak sekali nilai-nilai kebaikan yang dimunculkan penulis melalui cerita keluarga Kak Lais. Dan cara penulis menyampaikan nilai-nilai itu tidak seperti menggurui. Justru sangat mengena dengan cara yang sederhana karena disampaikan melalui gambaran kejadian sehari-hari. Pembaca jadi lebih mudah mengiyakan apa yang menjadi tujuan penulis.

Sebenarnya yang membuatku mengatakan ‘hal baru’ di awal adalah tentang jumlah SMS yang dikirimkan Mamak. Ada lima nomor tujuan; Dalimunte, Wibisana, Ikanuri, dan Yashinta. Lalu yang terakhir adalah orang yang sebenarnya menjadi sudut pandang novel ini dan dia bukan orang yang ikut menjadi saksi metamorfosis keluarga Kak Lais. Aku lupa fakta tentang dia ini. Mungkin pada waktu membaca buku ini dahulu, aku terlalu hanyut dengan jalan cerita sehingga mengabaikan bagian itu.

Dan terakhir, buku Bidadari-Bidadari Surga ini aku rekomendasikan untuk dibaca oleh anak-anak. Sangat sah jika orang dewasa membacanya pula. Tetapi seperti yang diungkapkan pada salah satu bagian buku ini, bercerita bisa menjadi salah satu cara untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak-anak. Dan buku ini punya potensi besar untuk melakukannya.


[Buku] Gie Dan Surat-Surat Yang Tersembunyi, Tim Buku TEMPO


Judul : Gie Dan Surat-Surat Yang Tersembunyi
Penulis : Tim Buku TEMPO
Penyunting : Amarzan Loebis, Anton Aprianto, Bagja Hidayat, Redaksi KPG
Tim produski : Djunaedi, Eko Punto Prambudi, Fitra Moerat Sitompul, Rudi Asrori, Tri Watno Widodo
Perancang sampul & tataletak : Landi A. Handwiko
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Terbit : Desember 2016
Tebal buku : x + 107 halaman
ISBN : 9786024242329
Harga : Rp50.000 (sebelum diskon, via gramedia.com)

Sesuatu yang baru ketika aku memilih bacaan buku biografi yang terkait sejarah. Sebelumnya aku belum pernah membaca jenis buku seperti itu. Pilihan pun jatuh ke sosok Soe Hok Gie. Kerap dipanggil Gie. Awal mula aku mengenal nama Gie dari sebuah film Gie yang pemerannya Nicolas Saputra. Tidak ada bayangan siapa itu Gie ketika menonton filmnya.

Buku Gie Dan Surat-Surat Yang Tersembunyi memberikan aku penggalan-penggalan lain terhadap sosok Gie. Pemuda yang lahir pada tanggal 17 Desember 1942 ini merupakan tokoh terkenal pada peristiwa gerakan mahasiswa 1966. Peristiwa gerakan mahasiswa 1966 itu sendiri adalah masa transisi dari Orde Lama jadi Orde baru.

Melalui sudut pandang Gie, pembaca diperkenalkan dengan situasi negara pada saat itu. Gie merupakan mahasiswa yang suka sekali mengkritik lingkungan bahkan negara. Presiden pada masa itu pun tidak terlewat dari kritikannya.

Lewat buku ini pula, aku baru tahu jika kebiasaan buruk petinggi-petinggi negara yang korupsi sudah muncul sejak masa Presiden Sukarno. Dan PR besar untuk menghapus korupsi di jajaran petinggi negara hingga saat ini belum membuahkan hasil. Atau apakah memang tidak akan pernah berhasil menghapus korupsi dari negara indonesia?

Gie meninggal ketika dirinya sedang mendaki Gunung Semeru pada tanggal 16 Desember 1969. Bagian yang menceritakan kronologis kematian Gie dan salah satu kawannya lumayan membuat saya merasa sedih. Dari awal buku kita sebagai pembaca memang didekatkan dengan sosok Gie. Dari mulai kebiasaan, jalan pikirian, idealisme, hingga sisi Gie lainnya yang belum pernah diungkap. Ketika sampai pada bagian Gie meninggal, aku merasa perjuangannya belum selesai tetapi takdir memaksanya untuk selesai, dan itu getir.

Dengan mengenal Gie pula, aku merasa sosok mahasiswa seperti dia akan jarang dijumpai pada masa sekarang. Mahasiswa yang peduli kepada rakyat dan mau menyentuh bidang negara untuk melakukan perubahan. Sebagian besar mahasiswa saat ini sudah terbuai dengan kondisi nyaman dan aman tanpa perlu berpikir bagaimana membangun negara yang bersih.

Tidak banyak yang bisa saya ungkap untuk menceritakan buku ini. Bingung harus melihat dan mengupas dari sisi mana. Yang pasti, buku Gie Dan Surat-Surat Yang Tersembunyi akan memberikan pengetahuan sejarah baru utamanya pada tahun 1966.



[Wishful Wednesday] 24 Jam Bersama Gaspar, Sabda Armandio


Judul : 24 Jam Bersama Gaspar
Penulis : Sabda Armandio
Penerbit : Penerbit Mojok
Terbit : April 2017
Harga : Rp58.000 (sebelum diskon, via mojokstore.com)

Tiga lelaki, tiga perempuan, dan satu motor berencana merampok toko emas. Semua karena sebuah kotak hitam.

*******

Terlalu singkat sinopsis di atas. Dan karena sinopsis yang terdiri dua kalimat tersebut membuat saya penasaran. Ini sebuah novel yang diterbitkan Penerbit Mojok, yang setahu saya selalu menerbitkan buku dengan kualitas bagus. 

Selain itu, novel ini juga menyandang label Pemenang Unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016. Prestasi yang tidak bisa diremehkan untuk cerita di dalamnya.


[ Untuk kamu yang mau bikin artikel serupa, cek blog PerpusKecil saja ]

[Buku] Kuda Terbang Maria Pinto, Linda Christanty


Judul : Kuda Terbang Maria Pinto
Penulis : Linda Christanty
Penyunting : Cep Subhan KM
Pemeriksa aksara : Solikhin
Penata sampul & isi : Azka Maula
Penerbit : EA Books
Terbit : Februari 2017
Tebal buku : x + 156 halaman
ISBN : 9786021318492
Harga buku : Rp67.000 (sebelum diskon, via stanbuku.com)

Buku Kuda Terbang Maria Pinto adalah buku kumpulan cerita pendek. Berisi dua belas cerita pendek dengan ragam tema. Kesemuanya memikat dengan gaya bahasa yang renyah dan sederhana. 

Aku sebenarnya bukan yang suka buku kumpulan cerita pendek. Pengecualian untuk buku ini. Seperti keunggulan yang aku sebutkan di awal; gaya bahasa yang renyah dan sederhana, buku ini pun punya rasa cerita yang segar. Aku terkesima oleh tema yang diangkat penulis dan eksekusi cerita yang apik dipilih. Mengikuti judul-judul yang disajikan tidak membuatku kebosanan atau merasa ada ketidakutuhan pada ceritanya.

Ketidakutuhan yang aku maksud berupa kebiasaan dalam menyajikan cerita pendek yang memuat bagian-bagian cerita terbatas. Berbeda dengan novel yang punya kelengkapan cerita. Perbedaan di kumpulan cerita buku ini adalah pembaca sudah dibuat lena dengan gaya bercerita dan akhirnya memilih menikmati cerita tanpa pusing berpikir kenapa dan bagaimana atas ceritanya.

Tidak ada yang begitu mengganjal selama mencerna alur cerita. Kalau pun ada bagian yang terlalu fantasi, diabaikan dahulu dan keputusan itu tidak membuat cerita jadi cacat.

Dari kedua belas cerita pendek, aku pilih cerita paling menarik versi aku. Pertama adalah Makan Malam. Kisah seorang anak perempuan dan Ibunya yang hidup berdua. Kesibukan membuat keduanya menjadikan makan malam sebagai waktu ketika keduanya bisa bersinggungan. Selain waktu malam malam, rasanya keduanya susah bertemu. Percakapan suatu hari dengan sang ibu menyinggung sosok ayah. 

Bagi si anak sosok ayah adalah impian. Ia memang tidak pernah tahu siapa ayahnya. Ada lelaki dewasa yang pernah ia lihat di rumah tetapi itu adalah 'pekerjaan' ibunya. Pekerjaan seperti apakah yang kumaksud? Silakan baca sendiri bagian itu.

Kata ibunya, ayahnya akan datang ke rumah. Benar saja, ayahnya datang. Mereka makan malam bertiga seperti keluarga utuh. Tetapi malam itu juga si ayah kembali pergi. Si ayah datang ke rumah itu untuk minta maaf kepada si anak dan si ibu. Sebab di kota lain si ayah sudah punya kehidupan yang lain.

Penulis mengangkat korban pria yang meninggalkan keluarga. Apalagi jika sampai si pria memulai kehidupan di tempat lain. Salah satu harus dipilih. Memilih keduanya bukan solusi yang pas. Dan kegetiran hidup sebagai korban berusaha dikenalkan penulis.

Cerita kedua adalah Balada Hari Hujan. Mengetengahkan kisah seorang waria yang menjalin asmara dengan pria paruh baya. Si waria sepertinya merasa tertipu oleh si pria paruh baya atas kisah hidupnya yang mematikan istrinya dalam penjelasannya. Ia patah hati. Tapi menyadari pria tetaplah pria. Cerita ini membuka pembaca pada bentuk roman yang berbeda. Dan aku ingatkan, jangan menghakimi apa pun ceritanya. Cukup dinikmati saja.

Selain kedua belas cerita pendek, di akhir buku terdapat esai atau resensi yang dibuat oleh Cep Subhan KM atas buku ini, selaku dirinya sebagai editor juga.

Cerita dalam buku Kuda Terbang Maria Pinto memiliki latar yang beragam. Ada keluarga, perang, asmara, seks, keabnormalan, dan banyak sisi lainnya yang panjang jika dikategorikan secara mendetail. Dan bukan pekerjaanku sebab aku masih menempatkan diri sebagai pembaca bukan penganalisis.

Buku ini penting dibaca. Aku sarankan sebagai referensi jika kalian ingin belajar membuat cerita pendek. Pelajari gaya bercerita dan cara menyajikan cerita pada Linda Christanty. Kelak kalian pun akan punya karya cerita pendek yang memikat seperti cerita-cerita di buku ini.


[Buku] Vegetarian, Han Kang


Judul : Vegetarian
Penulis : Han Kang
Penerjemah : Dwita Rizkia
Penyunting : Anton Kurnia
Pemeriksa aksara : Aniesah Hasan Syihab
Penata isi : Aniza Pujiati
Perancang sampul : Wirastuti – TEKOBUKU
Penerbit : Penerbit Baca
Terbit : Februari 2017, cetakan pertama
Tebal buku: 224 halaman
ISBN : 9786026486073
Harga : Rp65.000 (sebelum diskon, via bacabaca.co)

Aku penasaran dengan hubungan waktu yang dihabiskan untuk membaca buku dengan kualitas buku sesuai prestasinya. Soalnya, untuk buku Vegetarian karya Han Kang ini, yang mendapatkan penghargaan Man Booker International Prize, aku membutuhkan lebih banyak waktu menyelesaikan membacanya dibandingkan dengan buku lain.

Vegetarian ini mengungkap fenomena psikologis kegilaan. Perempuan bernama Young Hye mendadak memutuskan tidak makan daging setelah bermimpi. Mimpi yang dialami Young Hye sangat detail dan buatku itu menjijikan. Namun, dari mimpi yang menjijikan itu sulit untuk diterima oleh akalku, mampu merubah kebiasaan seseorang secara drastis. Bahkan Young Hye menolak ajakan suaminya untuk bersetubuh dengan alasan badan suaminya berbau daging.

Perubahan yang dialami Young Hye mempengaruhi psikologis Young Hye sendiri, psikologis suaminya, psikologis kakak iparnya, dan psikologis kakak perempuannya. Seperti bola salju yang menggelinding, dari satu putaran kecil berubah menjadi tambah besar. Masalah kecil yang dialami Young Hye memengaruhi secara luas hubungan orang-orang di sekitarnya.

Vegetarian sendiri dibagi menjadi tiga bab. Bab pertama adalah Vegetarian. Bab yang menceritakan awal mula Young Hye jadi Vegetarian dengan menggunakan sudut pandang suaminya. Bab ini pun jadi perkenalan pembaca dengan anggota keluarga lain Young Hye seperti suaminya, kakak perempuannya, ibunya, ayahnya, adik dan istrinya, dan kakak iparnya.

Suatu hari di perkumpulan keluarga yang diadakan di rumah baru kakak perempuan Young Hye terjadi drama keluarga yang menakjubkan. Young Hye dipaksa makan daging oleh ayahnya. Ia tidak menggubris. Ayahnya yang pemarah akhirnya menampar Young Hye dan mencoba menjejalkan paksa daging ke mulut Young Hye. Young Hye justru menghindar dan meraih pisau lalu mengiris pergelangan tangannya. Ini merupakan awal pemicu konflik berikutnya.

Yang membuatku penasaran justru sifat tertutup dan pendiamnya Young Hye ini ternyata sudah tampak sejak ia remaja. Sepanjang buku ini saya tidak mendapati satu peristiwa yang menunjukkan kalau Young Hye pernah ceria dan periang. Sehingga perubahan kebiasaan Young Hye yang bertambah pendiam dan tertutup tidak membuatku kaget.

Pada bab ini pula pembaca disuguhkan kegilaan Young Hye yang semakin tidak masuk akal. Selain menolak makan daging dan bersetubuh, Young Hye pun kerap bertelanjang dada di bawah sinar matahari. Alasan yang ia ucapkan ketika pertanyaan mengapa ditujukan padanya; gerah.

Bab kedua adalah Tanda Lahir Kebiruan. Bab yang memasukkan unsur cerita erotis dengan menggunakan sudut pandang Kakak Ipar. Kegilaan Young Hye menulari kejiwaan Kakak Iparnya yang berprofesi sebagai seniman film. Sejak peristiwa Young Hye mengiris pergelangan tangannya, kakak ipar mulai terobsesi dengan tanda lahir kebiruan yang ada di sebelah kiri atas bokong Young Hye. Dan puncak kegilaan kakak iparnya memunculkan kegilaan istrinya. Dan cerita masuk ke bab ketiga; Pohon Kembang Api.

Hubungan kakak ipar dan istrinya hancur. Kim in Hye; kakak perempuan Young Hye, melanjutkan hidup dengan anak laki-lakinya yang saat itu berusia enam tahun. Young Hye dirawat di rumah sakit di pegunungan. Ada kejadian Young Hye kabur dari rumah sakit dan ditemukan di dalam hutan yang gelap sedang berdiri kaku seolah dirinya pohon.

Perubahan lainnya atas kegilaan Young Hye, ia mengaku dirinya adalah pohon. Sering akhirnya Young Hye berdiri terbalik. Ia merasa dari tangannya akan muncul akar yang mencuat ke tanah. Dan ia juga merasakan akan tumbuh bunga di selangkangannya.

Di bab ini akan dikupas secara total siapa kakak perempuan Young Hye. Sebagai anak pertama Kim Hye menanggung beban hidup yang tidak sedikit. Rasa lelah itu ia sembunyikan hingga bertumpuk dan puncaknya berupa kehancuran keluarga. Ada sisi perenungan tentang kebahagian di bab ini dan lumayan mengusik pribadiku. Menjadi pribadi yang apa adanya dan berada di lingkungan keluarga yang kondusif, bisa menjadi terapi kebahagiaan untuk jangka panjang. Dan jangan biarkan masalah kecil ditunda diselesaikan sehingga pada akhirnya jadi masalah besar.

Setelah membaca sampai akhir buku, kesanku tidak jauh dari rasa depresi, stres, lelah, kesedihan, dan kehilangan harapan. Vegetarian bukan buku tentang bagaimana menjadi vegetarian yang berhasil. Melainkan buku drama yang khusus menggali sisi gelap manusia. Dan aku mengaku sepertinya tidak akan membaca ulang buku ini. Selain butuh konsentrasi mencerna alur cerita dan narasinya, suasana buku ini yang mencekam dan gelap bisa memberikan efek yang tidak bagus untuk mood. Tapi, buat kalian yang suka membaca buku, rasanya sayang sekali kalau tidak mencicipi buku yang berprestasi ini.


[Wishful Wednesday] Fathers And Sons, Ivan Turgenev


Judul : Fathers And Sons
Penulis : Ivan Turgenev
Penerbit : Immortal Publisher
Terbit : 2017
ISBN : 9786021142882
Harga : Rp69.000 (sebelum diskon, via penerbitshiramedia.com)

Setelah menyelesaikan kuliah di Universitas St. Petersburg, Arkady Kirsanov pulang ke rumah orang tuanya, Nikolai Petrovich Kirsanov, tuan tanah penggemar sastra dan musik dan pemuja kindahan alam serta putra seorang aristokrat dan jenderal. Arkady pulang bersama teman sekaligus mentornya, Evgeny Bazarov.

Di rumah Nikolai Petrovich Kirsanov itu tinggal pula kakaknya, Pavel Petrovich Kirsanov. Pavel Petrovich, mengikuti jejak sang ayah, behasil meniti karir yang cemerlang di dunia militer. Di rumah orang tua Arkady itu Bazarov terlibat perdebatan seru dengan Pavel Petrovich. Bazarov, sang manusia nihilis itu, menampik seni dan tradisi keningratan yang dijunjung tinggi oleh Nikolai Petrovich dan Pavel Petrovich. Dia tidak tertarik pula kepada musik, sastra, dan keindahan alam. Bahkan dia menolak keberadaan cinta.

Namun ketika dia dan Arkady berkunjung ke kota dan berkenalan dengan janda kaya Anna Sergeevna Odintsova, keduanya pun jatuh cinta.

*******

Menurut informasi, novel Fathers And Sons ini pertama kali terbit pada tahun 1860 dalam bahasa Rusia dengan judul Ottsy i deti. Saya mengetahui novel ini dari akun instagram bukubosque. Dan setelah membaca sinopsis di atas, saya merasa sangat tertarik untuk membaca bukunya. 

Sebenarnya sedang masa pre-order, tapi berhubung jatah beli buku bulan ini sudah saya belanjakan, jadi sementara waktu buku ini masuk wishlist dulu.

Saya rasanya mulai menyukai membaca buku-buku yang rada (sedikit) berat. Baik dari tema maupun kisahnya. Buku ini pun bisa dikatakan buku klasik dan tentu saja akan terasa rada berat pas dibaca. Saya yakin kalau sampai kesampaian membaca buku ini, akan dibutuhkan beberapa waktu lebih panjang dari masa ketika saya membaca buku yang populer saat ini. 


[Buat kamu yang mau membuat artikel serupa ini, cek ke blog PerpusKecil aja ya!]

[Buku] Ya Allah, Aku Rindu Ibu, Irfa Hudaya


Judul : Ya Allah, Aku Rindu Ibu
Penulis : Irfa Hudaya
Penyunting : Bitbit Pakarisa
Rancang visual sampul & isi : N. Anjala
Penerbit : Kana Books
Terbit : Desember 2016, cetakan pertama
Tebal buku : xiv + 254 halaman
ISBN : 9786026044013
Harga : Rp54.000 (sebelum diskon, via bukabuku.com)

Sebelumnya saya ingin berterima kasih kepada blog Kilas Buku yang sudah memilih saya sebagai pemenang di giveaway #YaAllahAkuRinduIbu. Dan buku ini merupakan hadiah indah buat saya.

Buku Ya Allah, Aku Rindu Ibu karya Irfa Hudaya merupakan memoar penulisnya yang ia persembahkan untuk sang ibu. Di dalamnya diceritakan perjalanan hidup Kak Irfa sejak ia kecil hingga ia dewasa. Kehidupan penulis tidak pernah lepas dari sosok Ibu. Sehingga sepanjang membaca buku ini, kita akan diperkenalkan kepada sosok Ibu Khundariyati Dahlan.

Keluarga Kak Irfa terdiri dari Ibuk, Ayah, Kak Irfa, Dik Nisa dan Dik Rahma. Semuanya mempunyai porsi kisah yang pas untuk menyokong cerita Kak Irfa dan Ibu. Terlepas dari kisah tentang Ibu, saya justru melihat buku ini dari sudut pandang yang berbeda. Saya melihat dari sisi sebagai anak pertama dan kakak.

Saya melihat kehidupan Kak Irfa sebagai anak pertama dan perempuan pula, Kak Irfa pasti mengalami banyak jatuh bangun. Banyak hal pahit yang sejatinya ia kecap, banyak pengorbanan yang ia tunaikan, hanya demi keluarga. Tanggung jawabnya besar menjadi anak pertama.

Saya bukan anak pertama. Saya justru anak laki-laki pertama di keluarga. Meski begitu, beban saya sama besarnya dengan anak pertama. Sebab, semua akan bergantung pada saya. Ketika Bapak atau Ibu sakit, saya yang harus memutuskan bagaimana mengurus beliau. Ketika Adik sakit pun saya harus berdiri paling depan untuk memutuskan perawatannya. Dan kadang saya pun mengeluh kenapa saya tidak punya kakak laki-laki yang bisa membantu saya.

Ketika Kak Irfa menceritakan mengenai ayahnya yang berpulang, di situ saya meresapi mental Kak Irfa yang harus kuat dan tegar di depan Ibuk dan adik-adiknya. Saya paham betul jika Kak Irfa pun ingin menangis dan dipeluk. Tapi, kondisi mengharuskan ia mendahulukan yang lain. Saya menangis membaca bagian ini. Saya langsung memikirkan kejadian serupa andai menimpa saya. Saya masih belum kuat membayangkannya. Saya hanya bisa bergumam, ‘Ya Allah, berikan kesempatan hidup yang panjang untuk Bapak dan Ibuku.”

Bagian lainnya yang menarik adalah kehidupan keluarga Kak Irfa setelah sang ayah berpulang. Sosok pria satu-satunya di keluarga sudah tiada. Empat perempuan yang kemudian melanjutkan hidup dengan sederhana. Kepergian sang ayah mampu mendewasakan anak-anaknya.

Buku ini tidak melulu berisi kisah yang menguras air mata. Beberapa bagian bahkan menarik disimak seperti ketika Kak Irfa dikenalkan ke beberapa pria. Lumayan lucu. Dan saya suka sekali dengan kedekatan Kak Irfa dan Kak Fathur sebelum menjadi pasangan suami istri. Sebelum menikah saja mereka sudah romantis yang bertanggung jawab.

Bahasa buku memoar ini sederhana. Terasa sangat personal ketika Kak Irfa dan Ibunya bercakap-cakap dalam bahasa daerah. Saya mencoba membaca dengan benar namun tetap saja kaku. Dan buat saya catatan kaki yang merupakan terjemahan kalimat dalam bahasa daerah itu sangat membantu.

Jadi, kenalilah Ibumu. Hitung-hitungan kasih sayang yang ia berikan tidak akan pernah impas dengan apa-apa yang kita berikan. Dan jangan pernah mengatakan kita ingin membalas kasih sayangnya, melainkan kita ingin membahagiakannya.

[Unboxing] #4 Hadiah Giveaway #ParaPencariGA - Podjokringin


Judul : Kuda Terbang Maria Pinto
Penulis : Linda Christanty
Penyunting : Cep Subhan KM
Pemeriksa aksara : Solikhin
Penata sampul & isi : Azka Maula
Penerbit : EA Books
Terbit : Februari 2017
Tebal buku : x + 156 halaman
ISBN : 9786021318492

Sore ini (7/4/17) saya mendapatkan paket. Ini merupakan hadiah dari giveaway #ParaPencariGA yang diadakan blog podjokringin. Sekilas mengenai giveaway-nya, peserta diharuskan menulis cerita pribadi mengenai pengalaman mendapatkan pekerjaan atau lulus diterima di kampus.

Saya menulis artikel mengenai pengalaman saya bisa bergabung dengan RS Sumber Kasih. Rumah sakit swasta di Cirebon yang sudah menjadi rumah kedua saya. Lebih lengkapnya bisa dibaca di sini; #ParaPencariGA: Celoteh Tes Kerja.

Sesuai pengumuman pemenang di blog podjokringin, saya diberikan hadiah berupa buku Kuda Terbang Maria Pinto karya Linda Christanty. Sebelumnya saya tidak tahu buku Kuda Terbang Maria Pinto ini tentang apa. Dan setelah buku di tangan, saya tahu kalau buku ini berisi kumpulan cerita pendek.  Wah, bakal jadi pengalaman berikutnya melahap bacaan kumcer.


Terakhir, saya mau mengucapkan terima kasih kepada podjokringin yang sudah memilih saya sebagai salah satu pemenang di giveaway #ParaPencariGA. Dan saya tentu saja masih menantikan giveaway berikutnya.

[Buku] The Life-Changing Magic of Tidying Up, Marie Kondo


Judul : The Life-Changing Magic of Tidying Up
Penulis : Marie Kondo
Penerjemah : Reni Indardini
Penyunting : Ika Yuliana Kurniasih
Perancang sampul : Wirastuti
Penerbit : Penerbit Bentang
Terbit : November 2016, cetakan ketiga
Tebal buku : xviii + 206 halaman
ISBN : 9786022912446
Harga : Rp54.000 (sebelum diskon, via bentangpustaka.com)

Saya merasa sangat bersyukur akhirnya bisa membeli buku ini. Sudah lama sekali saya ingin membaca metode KonMari. Awal saya tahu buku ini dan metode KonMari dari blog www.livingloving.net. Blog yang mengulas banyak hal kreatif dari lingkungan di sekitar kita.

Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up membahas tentang seni beres-beres atau berbenah. Sebagai orang yang suka berantakan di kos, buku ini jelas membantu sekali. Ada beberapa hal dalam berbenah yang ditekankan Marie Kondo agar proses berbenah berhasil. Pertama, berbenah sampai tuntas. Prinsip ini mencegah siapa pun kembali kepada kebiasaan berantakan. Jika ada yang mengatakan berbenah secara berkelanjutan, itu justru akan menambah lama proses berbenah dan kebiasaan berantakan tidak bisa dihindari.

Lalu, yang kedua, membuang sampai tuntas. Semua benda yang hendak disingkirkan, dikumpulkan dalam satu ruangan. Misalnya ingin memilih baju. Keluarkan semua baju di lantai dan jangan sampai ada yang tertinggal. Pilah baju tersebut dengan prinsip apakah baju tersebut mendatangkan kebahagiaan. Jika masih ragu, silakan dilanjutkan pada hal selanjutnya.

Ketiga, berbenah sesuai urutan. Ketika ingin berbenah, di buku ini diberikan urutan yang pas dan terbukti berhasil. Baju – Buku – Kertas- Komono (pernak-pernik). Ada kriteria bagi masing-masing ketika memutuskan untuk menyimpannya. Tetapi prinsip utamanya tetap saja soal mendatangkan atau tidak kebahagiaan bagi si pemilik.

Yang keempat, menyimpan secara apik. Menurut Marie, banyak kliennya yang mengeluhkan tidak punya cukup tempat untuk memuat barang-barang sehingga barang-barang mereka bertebaran dimana-mana. Kunci utama mengatasi permasalahan ini terletak pada cara menyimpan. Penulis mengajari cara melipat baju, cara menyimpan pernak-pernik dan masih banyak cara menyimpan benda lainnya.

Sambil membaca buku ini, saya coba mempraktikkan metode KonMari di kos dan area meja kantor. Dan saya merasakan perubahan besar. Saya membuang beberapa baju dan memutuskan untuk menyimpan dalam jumlah tidak banyak. Saya juga membuang pernak-pernik yang biasa saya simpan dengan alasan akan digunakan kelak. Sampai saya membuangnya, pernak-pernik itu tidak pernah saya gunakan. Efek paling terasa adalah dengan jumlah barang yang sesuai kebutuhan membuat saya tidak perlu ekstra tenaga untuk berbenah setiap hari. Cukup meletakkan kembali barang yang saya pakai di tempat yang tepat. Sehingga waktu untuk melakukan hal lain lebih leluasa.

Oya, sebagai pembaca buku yang punya beberapa koleksi buku, saya pun memilah. Hasilnya memang tidak banyak buku yang saya buang. Saya hanya membuang buku yang memang sudah tidak layak simpan. Masih ada beberapa buku yang menurut saya perlu dialihkan. Semoga ke depannya saya bisa membagikan buat yang lain.

Saya kira kalian pun perlu membaca buku ini karena buku ini bukan sekedar bercerita soal berbenah. Proses berbenah itu sendiri berdampak besar bagi kepribadian dan pola pikir. Ada semacam akibat baik yang kemudian timbul ketika kita sudah melakukan metode KonMari. Percaya, kalian pun akan merasakan perbedaan jika mau mencoba metode KonMari ini. Selamat mencoba.


[Wishful Wednesday] Merepih (Breakable), Tammara Webber


Judul : Merepih (Breakable)
Penulis : Tammara Webber
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Maret 2017
Tebal : 432 halaman
ISBN : 9786020338293
Harga : Rp97.000 (sebelum diskon, via gramedia.com)

"Hidup Landon Lucas Maxfield sempurna. Ia memiliki keluarga bahagia, teman-teman, dan masa depan yang cerah, sampai tragedi menghancurkan segalanya dalam semalam. Landon kehilangan ibunya dan diabaikan ayahnya yang larut dalam kesedihan, dibiarkan menanggung rasa bersalah dan mimpi buruknya sendirian. Landon pun mulai menarik diri dan tidak peduli. Perlahan ia menjelma menjadi remaja bermasalah, seperti cap yang selama ini dilekatkan padanya. 

Sebuah perkelahian yang nyaris membuatnya berakhir di penjara menjadi titik balik hidupnya. Berkat Dr. Heller, ia mendapat kesempatan untuk memulai kembali, untuk menjadi “Lucas”. Ketika Lucas bertemu Jacqueline Wallace dan menyelamatkan gadis itu dari peristiwa nyaris serupa dengan yang dialami ibunya, ia seolah memperoleh cara untuk menebus rasa bersalah dari masa lalu. Meski mencintai gadis itu berarti menelusuri kembali mimpi buruknya, setelah sekian lama Lucas bisa berharap. Dan mungkin ia akhirnya bisa pulih."

*******

Minggu ini saya memilih buku Merepih karena sinopsisnya yang menarik. Saya menangkap jika Merepih mengangkat tentang kesempatan kedua. Sekaligus proses menyembuhkan diri dari masa lalu/trauma. 

Genre-nya mungkin sicklit. Menceritakan tokoh yang sakit baik fisik maupun psikologis. Dan Lucas di buku ini sepertinya punya psikologis yang tidak beres. Saya penasaran Tammara Webber akan mengeksekusi cerita Lucas ini seperti apa. Semoga segera punya bukunya.


[ Untuk kamu yang ingin membuat artikel serupa, silakan cek blognya PerpusKecil ]

[Wishful Wednesday] Caraval, Stephanie Garber


Judul : Caraval
Penulis : Stephanie Garber
Penerbit : Noura Books Publishing
Terbit : Maret 2017
Tebal buku : 436 halaman
ISBN : 9786023852734
Harga : Rp79.000 (sebelum diskon, via mizanstore.com)


Selamat datang, selamat datang di Caraval!

Tella kabur dari rumah , muak dengan kekejaman sang ayah. Scarlett, sang kakak, berusaha mengejar dengan pertolongan dari seorang pemuda asing, Julian.

Di dalam, kalian akan temukan lebih banyak keajaiban daripada yang bisa disaksikan orang lain seumur hidup mereka.

Tella menghilang.

Dunia kami dibangun dari khayalan.
Jadi, walaupun kami ingin kalian terhanyut, berhati-hatilah jangan sampai terseret arus terlalu jauh.

Scarlett kehabisan waktu dan dunia gelap Caraval memerangkapnya. Satu per satu orang di sekitarnya mati dan nyawa Scarlett ikut terancam.

Mimpi-mimpi yang menjadi nyata memang indah, tetapi itu juga bisa menjadi mimpi buruk jika kalian tidak terjaga.

Kini, Scarlett tidak yakin lagi mana yang nyata dan mana yang tidak. Caraval sama sekali tidak seperti yang pernah dia bayangkan.

Dan, ingatlah, ini semua hanya permainan.

*******
Saya tidak menemukan informasi apa pun. Sebelumnya saya mengira Stephanie Garber ini memiliki karya lainnya. Tapi, begitu saya cek goodreads, penulis ini hanya punya karya buku ini dan akan hadir series kedua dari Caraval.

Yang menarik dari buku tentu saja ceritanya yang horor. Tella menghilang, Scarlet mencoba menyelamatkan. Tapi justru berdampak pada banyak kematian. Misteri inilah yang membuat saya memasukkan Caraval pada list wish minggu ini.

Kover bukunya juga keren. Noura Books Publishing tidak membuat kover baru, melainkan menggunakan kover aslinya. Dominan hitam, sangat mengesankan kalau buku ini punya cerita tentang kegelapan.


[ Buat kamu yang mau membuat artikel Wishful Wednesday, cek aturannya di blog PerpusKecil ya! ]

[Artikel] #ParaPencariGA: Celoteh Tes Kerja


Dalam urusan ikut serta #ParaPencariGA, saya bersedia berceloteh mengenai bagian hidup saya. Cerita tentang bagaimana saya bisa bekerja di RS Sumber Kasih, salah satu rumah sakit swasta di Cirebon.

Saya sudah bekerja di RS Sumber Kasih selama 6 tahun 2 bulan 28 hari (per tanggal 28 Maret 2017). RS Sumber Kasih merupakan tempat kerja pertama saya. Betah ya? 

Lulus SMA, saya tidak langsung kuliah. Faktor ekonomi yang menghambat. Satu tahunan saya bekerja di Jakarta Utara bersama Paman, kemudian setelah uang gaji terkumpul, saya pulang mendaftar di salah satu kampus. Saya kuliah mengambil jurusan Akuntansi Komputer.

Pada semester 3, kampus mulai menyalurkan mahasiswanya untuk bekerja. Beberapa teman saya sudah diminta membuat curriculum vitae (CV) yang akan dilimpahkan ke RS Sumber Kasih, kemudian yang terpilih akan dites.Pada gelombang pertama, nama saya tidak tercantum. Ada rasa iri sebab teman dekat saya yang satu desa sudah terpilih. Gelombang pertama berlalu dan saya pun tidak mendengar hasilnya seperti apa. Lalu, tidak lama kemudian Staf Bagian Kemahasiswaan memanggil saya. Beliau meminta saya untuk membuat CV yang akan disalurkan ke RS Sumber Kasih gelombang kedua. Pada gelombang pertama tidak ada yang lolos.


Tes tulis dilaksanakan di kampus. Ada sekitar 20 mahasiswa yang terdaftar. Sorenya, saya menerima telepon dari HRD RS Sumber Kasih jika saya masuk tahapan berikutnya, tes wawancara. Rasa bahagia membuncah. Ini pertama kalinya saya melewati proses pencarian kerja.

Di hari yang terjadwal, saya datang ke rumah sakit. Ini pun dengan petunjuk banyak teman, secara saya tidak hafal jalan dan saya datang menggunakan angkutan umum. Wawancara dilakukan bersama manajer keuangan (Bpk. Febriyan Lukito) dan HRD (Ibu Vonny). Pertanyaan yang muncul adalah penegasan jawaban tertulis yang sudah saya bubuhkan di waktu tes tulis. Selain itu, Bpk. Febri juga menguji wawasan akuntansi saya dengan menggunakan pertanyaan simulasi.

Pada bagian tes wawancara ini, saya perlu ungkapkan beberapa hal: Jadilah calon karyawan yang cerdas namun tidak sombong. Berimprovisasilah dalam menjawab. Jangan tunjukkan ketidaktahuan kamu dengan bahasa tubuh malu. 

Sorenya saya kembali ditelepon jika saya lolos tes wawancara. Saya perlu melakukan tes terakhir, tes kesehatan. Tes ini dilakukan besoknya di rumah sakit. Hasilnya saya sehat. Hari itu juga saya dan HRD membicarakan kontrak. Saya lolos dan tercatat sebagai karyawan baru di RS Sumber Kasih. Di kontrak saya mulai masuk tanggal 1 Desember 2009. Tetapi saya sudah masuk bekerja sebelum tanggal ini sebagai bentuk adaptasi. 

Sebenarnya, siapa pun bisa belajar cara berhasil tes kerja dari buku atau internet. Dan saya kira hal pentingnya dari bekerja bukan pada saat tes itu. Melainkan setelah masuk kerja. Saya pernah mau menangis menghadapi manajer keuangan yang selalu mengembalikan dokumen yang saya buat. Rasanya saya salah melulu dan saya merasa kok saya bodoh banget. Tetapi itu hanya diawal. Saya datang ke kantor paling awal dan pulang lebih sore. Saya mempelajari banyak hal dengan lebih giat. 

Selama di RS Sumber Kasih saya sudah mengalami pergantian posisi beberapa kali. Awal diterima saya ditempatkan di bagian Account Payable (AP). Tugasnya kontra bon, rekonsiliasi Hutang, rekonsiliasi Bank, dan cek nominal dokumen pembayaran. Lalu, saya dipindah ke bagian General Ledger (GL). Tugasnya mengontrol tampilan akun di buku besar. Ini berhubungan dengan laporan keuangan. Saya juga cek pemilihan akun pada dokumen pembayaran. Dan posisi saya terakhir sampai sekarang adalah Pajak. Tugasnya mengurusi pajak rumah sakit dan aset.

Ada satu poin penting yang perlu saya sampaikan. Ijazah itu perlu. Kalian butuh menjadi D3 atau S1. Ini akan memudahkan kalian mendapatkan pekerjaan di tempat lain. Saya sendiri mengalami drop out dari kampus. Sehingga sampai saya menulis posting-an ini, saya tercatat lulusan SMA. Pekerjaan saya jadi lebih berat. Saya harus bisa bersaing dengan karyawan baru.

Mungkin itu saja celoteh saya mengenai bagaimana saya bisa diterima bekerja di RS Sumber Kasih. Semoga cerita di atas memberikan gambaran tes bekerja untuk kalian.