[Buku] Seruni, Almas Sufeeya


Judul : Seruni
Penulis : Almas Sufeeya
Editor : Triana Rahmawati
Kover : Resoluzy
Penerbit : Penerbit Republika
Terbit : Februari 2017
Tebal : vi + 239 halaman
ISBN : 9786020822396
Harga : Rp55.000 (sebelum diskon, via bukurepublika.id)




Seruni datang ke Indonesia setelah tujuh tahun tinggal di Jepang. Tujuannya kembali ke Indonesia untuk menemukan seseorang dan untuk mengungkapkan misteri di masa lalu.

Di awal-awal  tiba di Indonesia, Seruni bertemu dengan orang-orang baik seperti Ana dan Rifat. Keduanya adalah pemilik resto Ramsu yang mempekerjakan Seruni jadi koki dan memberikan kamar di resto untuk ditinggali. Ia merasa terbantu sekali oleh bantuan mereka.

Seruni mendapatkan kejutan luar biasa ketika Ana memperkenalkan kakaknya, Kak Aster. Kerinduan itu membuncah dan diikuti ketidaksiapan mental, membuat Seruni nelangsa.

Misteri apakah yang terjadi di masa lalu? Dan berhasilkah Seruni menemukan seseorang itu?





Buku Seruni mempunyai ide cerita yang baru bagi saya. Tentang anak-anak yang menjadi korban perceraian orang tua. Karakter utama yang muncul hampir bersentuhan dengan isu  orang tua yang bercerai. Hasilnya, mereka menjadi orang-orang dewasa yang dibayangi oleh efek perceraian tersebut.

Ada yang menjadi pendendam, ada yang membenci orang tuanya atas perceraian itu, ada yang menjadi pemberontak, dan karakter di buku Seruni ini tidak ada yang memandang perceraian sebagai hal positif. Pesan besarnya, jangan gampang bercerai.

Bermula dari perceraian, konflik lainnya muncul. Dominan buku ini mengungkap permasalah keluarga. Seruni bermasalah dengan keputusannya di masa lalu dan membuat jurang dengan orang yang ia sayangi. Kak Aster menjadi pribadi murung dan memutuskan berhenti bicara sebagai bentuk penyesalan seorang kakak. Ana terbelit masalah antara keluarga papa tirinya dan mamanya. Taro menjadi pribadi yang terobsesi membalaskan luka pada orang yang melukai papanya hingga ia meninggal.

Sehingga buku Seruni ini bisa dikatakan buku bertema keluarga. Walaupun bukan keluarga harmonis, melainkan keluarga broken home.

Buku ini juga membawa kisah klise tentang jahatnya ibu tiri. Bukan jahat seperti menyiksa secara fisik, tetapi melalui verbal dan sikap yang pilih kasih.

Unsur Jepang melekat pada novel ini. Kita bisa melihat pada sampulnya yang berwarna kuning biru dan ada sosok perempuan berbusana kimono. Kita juga akan dibawa pada setting resto Ramsu pada awal buku. Resto dengan desain interior khas Jepang dan memiliki koleksi manga.

Utamanya tentang manga, saya berharap akan ada kelanjutan kisah yang berkaitan dengan manga. Tapi, sampai halaman terakhir, manga yang ada di resto tidak diceritakan kembali. Manga menjadi tempelan semata di buku ini.

Ritme cerita dibangun teratur. Bukan karena tema cerita yang kelam, kemudian kita disajikan cerita yang sedih-sedih melulu. Penulis membuat bertahap. Karena kesedihan itu muncul ketika misteri masa lalu diungkap dengan perlahan. Sehingga kamu akan menemukan beberapa bagian cerita berupa kilas balik.

Selingan yang menyenangkan ketika cerita menyentuh sisi roman. Bukan yang begitu kentara bisa dirasakan, tetapi manisnya cukup bisa dirasakan. Seruni kan punya masalah berat terkait keluarga dan masa lalu. Sedangkan Rifat sosok yang dewasa dan bukan orang yang spontan mengungkapkan apa yang dirasakannya. Kalian bisa tebak sendiri seberapa alot bagi keduanya untuk mengakui perasaan.

Sepanjang saya membaca Seruni ditemukan beberapa typo. Tidak banyak dan tidak mengganggu, tapi bisa dijadikan catatan untuk editor sebagai perbaikan. Misal di halaman 26 tulisan bahwa jadi bahwc. Dan di halaman 98 tulisan kembarnya jadi kembanya.

Satu tempat ikon yang membuat saya penasaran adalah Mesjid Camii, yang tidak jauh dari Stasiun Yoyogiuehara. Menurut informasi bukunya, menara mesjid ini memiliki gaya arsitektur Turki.


Akhirnya, setelah membaca buku Seruni, saya diingatkan untuk melihat keluarga sebagai tempat pulang. Seberat apa pun permasalahan, keluarga adalah orang terdekat yang akan berdiri di samping kita. Dan untuk buku Seruni ini saya memberikan rating 3/5.


  • Di dunia ini, tidak ada yang bisa menerka apa yang akan terjadi atau apa yang akan menjadi akhir, selain Tuhan. Yang pasti, semua manusia pasti akan menemui akhirnya (hal. 66)
  • Kadang, kamu harus mengikhlaskan apa yang tidak bisa kamu cegah (hal. 86)
  • Ada obat paling mujarab dan penawar untuk segala macam kesedihan (hal. 162)
  • Bukankah keluarga seharusnya berkumpul dan saling menjaga? (hal. 223)
  • Setiap orang punya masa lalu yang baik dan buruk, berkesan dan menyakitkan.Nggak ada manusia yang sempurna. (hal. 229)
  • Segelap apa pun hidup yang pernah dijalani, kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik selalu ada (hal. 232)
[ Jangan lupa ikutan giveaway #Seruni ya di postingan selanjutnya! ]


3 comments:

  1. Quote di halaman 223 dan halaman 232 sangat menggmbarkan banget yah, kalau ceritanya bakalan ngebuat pembaca baper abis, apa lagi yang di bahas soal keluar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Mengena. Apalagi kalo baca novelnya. :(

      Delete