[Buku] Twinwar - Dwipatra

Judul: Twinwar
Penulis: Dwipatra
Editor: Miranda Malonka
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Desember 2017
Tebal buku: 296 halaman
ISBN: 9786020376790
Harga: Rp69.000 (via gramedia.com, sebelum diskon)

Dinobatkan sebagai juara 1 dalam kompetisi Gramedia Writing Project (GWP) Batch 3, novel teenlit ini bukan sekadar punya cerita ringan, tetapi berisi pesan moral yang secara khusus ditujukan untuk remaja. Mungkin salah satu pertimbangan itu yang membuat tim Gramedia meloloskan novel debut dari Dwipatra sebagai pemenang.

Bermula dari ingkar janji, Gara dan Hisa yang kembar identik tidak pernah akur sejak mereka masuk SMA sampai menjelang Ujian Nasional (UN). Keduanya tidak berhenti saling balas mengerjai. Puncak perseteruan mereka meledak ketika Hisa memeras Gara untuk bertukar peran saat ada ulangan matematika, dengan foto Gara yang sedang pacaran. Gara terpaksa menyetujui mengingat aturan ketat mamanya yang melarang mereka pacaran sebelum masuk perguruan tinggi. Namun, kesepakatan itu tidak berjalan semestinya hingga menimbulkan masalah baru yang lebih besar. Apakah Gara dan Hisa akan akur kembali?

Sebagai novel teenlit, Twinwar dipenuhi aneka peristiwa yang umum dialami remaja SMA seperti persoalan pacaran, perbedaan pendapat remaja dengan orang tua, kegiatan pendidikan di sekolah, persaingan eksistensi di sekolah antara senior-junior, dan percampuran egois-gengsi di kalangan remaja. Semua itu membuat kisah Gara dan Hisa lebih berwarna dan lebih seru sehingga pemicu untuk menyelesaikan sampai akhir cerita.

Si kembar sebagai tokoh utama digambarkan memiliki karakter yang bertentangan. Mahisa Aryaji (Hisa) bersifat cuek, urakan, usil, dan tidak begitu cerdas. Kebalikan dari Hisa, Hanggara Setiaji (Gara) lebih penurut, pendiam, rajin, dan pintar. Selain si kembar, beberapa karakter lain juga menghidupkan cerita. Ada Dinar (pacar Gara), Ollie (calon pacar Hisa), Johan dan Danu (teman Hisa), Miss Galuh (guru privat Ollie), Ali Akbari (?), Fasial (rival Hisa), Pak Syam (guru olah raga Hisa), dan orang tua Gara-Hisa.

Untuk mengimbangi cerita yang berlatar SMA, Dwipatra berhasil meracik diksi yang sederhana, mudah dan lancar dinikmati, dan penulis tepat sekali menabur candaan atau umpatan di beberapa bagian.

Melalui perseteruan Gara dan Hisa, kita akan diingatkan pentingnya rukun sesama saudara. Perselisihan tidak akan pernah memuaskan, justru membuat jiwa dan raga lelah dan tidak tenang. Perselisihan itu akan berangsur-angsur hilang jika kita mau jujur. Nilai kejujuran ini dibahas secara vokal beberapa kali oleh Dwipatra.

Sedikit catatan, ada pernyataan kontroversial di buku ini tepatnya halaman 188 yang akan memicu kesalahpahaman mengartikan. “Zaman Mama dulu, hamil di luar nikah adalah aib yang sangat besar.” Bukan zaman dulu saja, hari ini pun kasus hamil di luar nikah tetap jadi aib sangat besar. Kesimpulannya, si mama menyatakan jika hari ini (saat ia berbicara), kasus tersebut sudah jadi aib biasa. Kalimat membandingkan itu yang bisa menjadi akar perbedaan pendapat.

Berkat keseruan cerita yang membawa ingatan SMA dulu seperti mengajak bernostalgia, Twinwar pantas diganjar nilai 4/5.

Catatan:
  • Cowok yang nggak berani ngakuin rasa sukanya ke orang lain, itu namanya pengecut. (Hal. 175)
  • Kalau kita selalu melihat sisi baik dari sesuatu, kita akan merasakan bahagianya. (Hal. 247)

[Buku] Heart Reset - Trissella

Judul: Heart Reset
Penulis: Trissella
Penyunting: Puspa Sari Ayu Yudha
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Maret 2017
Tebal buku: 192 halaman
ISBN: 9786020338817
Harga: Rp 50.000 (via bukabuku.com, sebelum diskon)

Bukan, ini bukan tentang siapa yang dicintai lebih lama dan siapa yang bersamanya lebih lama. Ini tentang siapa yang berani mengambil risiko untuk mempertahankan perasaannya, apa pun yang terjadi. Tentang seberapa kuat dia menahan keegoisan agar yang lain bisa bahagia meski tak bersamanya. (Hal. 184-185)

Novel Heart Reset menceritakan tentang seorang gadis SMA bernama Anaya yang diam-diam menyukai teman sejak kecilnya, Dipta. Perasaannya tak terbalas sebab Dipta menyukai Airin yang justru berpacaran dengan Billy. Anaya menjadi saksi kegalauan Dipta yang patah hati yang justru membuatnya lebih sakit hati lagi. Di lain waktu, muncul Abi, cowok yang sejak dulu menyukai Anaya. Apakah Anaya akan tetap memilih Dipta atau justru memilih Abi?

Novel ini berhasil membuat saya sesak nafas. Kisah asmaranya kental, bahkan kadar getirnya membuat saya mengelus dada. Secara garis besar novel Heart Reset mengangkat konflik cinta bertepuk sebelah tangan. Ada banyak faktor penyebabnya: seseorang itu menyukai orang lain, seseorang itu terjebak di area friendzone, seseorang itu gengsi untuk berterus terang.

Penyebab tadi tidak pernah terungkap dan membuat kisah Dipta, Ayana. Dan Abi bertambah seru. Bagian paling menohok dada saya, ketika Dipta melepas Anaya untuk sekolah di luar negeri. Pada bagian ini sangat dramatis, merasa sangat kehilangan setelah dia pergi. Juga ketika Anaya bertekad menyerah atas perasaannya kepada Dipta.

“Gue mau ngelupain dia, tapi rasanya sakit. Gue mau nyerah, tapi nggak mau sakit kayak gini,” racau Anaya. (Hal. 105)

Menurut saya, penulis sukses menyajikan kisah teenlit yang dramatisnya pas. Interaksi antar tokoh tidak dibuat berlebihan. Dan saya menangkap sisi kedewasaan pada tokoh-tokohnya meski usia mereka masih usia SMA.

Diksi yang dipakai pun enak dibaca karena kesederhanaan, keringkasan, dan keefisiensian kalimat dalam menarasikan suatu kondisi atau peristiwa. Saya tidak mendapati kalimat yang bertele-tele. Untung buat saya, tidak ribet mamahami jalan cerita yang mengusung alur maju ini.

Jujur, saya tidak menyukai kovernya. Gambarnya terlalu kaku, pemilihan jenis hurupnya terlalu tegas, padahal saya merasakan cerita yang hangat di dalamnya. Dibutuhkan ilustrasi yang lebih lembut mengingat sudut pandang yang dipakai dominan dari seorang gadis (Anaya), isi cerita berupa kisah cinta yang miris, dan ada babak bahagia setelah perjalanan panjang mengeja hati.

Saya pun punya catatan ketidaklogisan satu bagian cerita di halaman 25. 110 detik lampu merah itu terbilang lama, namun disana diceritakan dengan pengucapan satu kalimat, 110 detik itu selesai. Bila saya keliru tentang ini, silakan dikoreksi.

Berbicara tokoh utama, di novel ini kita akan dipertemukan dengan tokoh Anaya, Dipta, dan Abi. Anaya adalah gadis yang sabar memendam perasaan dan rasa sakit di hati, tulus, dan feminim. Dipta tampil jadi sosok pemuda baik-baik, pengecut karena tidak berani mengungkapkan isi hati dan pikirannya, dan egois. Sedangkan Abi sosok yang urakan, berandal, dewasa, perhatian, dan bertanggung jawab. Kekurangan pada penokohan dalam novel ini terletak pada sedikitnya penulis menarasikan ciri-ciri fisik setiap tokoh. Sampai cerita selesai, saya masih bingung menggambarkan sketsa muka-muka mereka.

Selain ketiga tokoh tadi, ada Airin dan Billy yang porsi diceritakannya sedikit, ada teman-teman tongkrongan Abi: Rio dan Dika, dan ada Editha (sepupu Dipta).

Dari novel ini, pembaca akan mendapatkan pelajaran untuk selalu bisa jujur. Apa pun hasil dari tindakan jujur itu yang kemudian harus dihadapi. Percayalah, setiap masalah selalu ada jalan keluarnya. Bukan justru bersikap takut sebelum berperang. Karena sikap begini malah menambah rumit masalah.

Saya menyukai novel ini dan saya belajar kedewasaan dan kebesaran hati dari tokoh Abi. Saya memberi nilai 4/5 untuk novel ini.

Catatan:
  • Persahabatan lawan jenis, salah satunya pasti menyimpan perasaan lebih. Kalau beruntung, perasaannya berbalas (Hal. 36)
  • Lelaki sejati akan menempati janji apa pun yang terjadi (hal. 58)
  • Tiap pertemuan pasti berakhir pada perpisahan (Hal. 77)

[Buku] Carisa dan Kiana - Nisa Rahmah

Judul: Carisa dan Kiana
Penulis: Nisa Rahmah
Editor: M. Adityo Haryadi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, April 2017
Tebal buku: 208 halaman
ISBN: 9786020339573
Harga: Rp 55.000 (via bukabuku.com, sebelum diskon)

Novel Carisa dan Kiana ini merupakan karya debut penulis Nisa Rahmah. Saya mengenal Mbak Nisa sebagai blogger buku yang ulasan bukunya sering wara-wiri di twitter. Kabar Mbak Nisa berhasil masuk penerbit untuk karyanya yang pernah ia publikasi di web Gramedia Writing Project (GWP), menarik perhatian saya karena penasaran dengan kemampuannya meramu cerita.

Novel Carisa dan Kiana ini bercerita tentang takdir dua siswi SMA Pelita Bangsa yang karena banyak hal harus bertentangan namun satu alasan mereka pun harus berdamai. Carisa dan Kiana juga dua pribadi yang bertolak belakang. Drama-drama sekolah membuat perseteruan mereka meruncing. Lalu, satu rahasia besar terbongkar. Rahasia yang membuat Carisa dan Kiana tidak bisa menolak takdir, dan memaksa mereka untuk belajar menerima satu sama lain. Apakah rahasia besar itu? Berhasilkah Carisa dan Kiana berdamai?

Ketakutan pertama saya membaca lini teenlit ini adalah takut menemukan drama, cerita, dan dialog yang lebay. Sebab, imajinasi saya sudah menolak hal demikian karena kesadaran kehidupan sebenarnya tidak se-drama itu. Namun, begitu memulai baca saya langsung bersyukur penulis tidak menghadirkan ketakutan saya tadi. Bahasa yang digunakan formal dan sederhana. Sehingga penguasaan saya pada cerita di dalamnya sangat lancar.

Latar sekolah yang dipilih penulis juga berimbang antara ilmu pengetahuan sekolah dengan ceritanya. Penulis tidak membuat novel ini penuh data-data pelajaran, melainkan disajikan dalam alur secara apik tanpa mengesankan sedang menggurui. Sehingga saya boleh mengatakan kalau novel Carisa dan Kiana ini memiliki kekuatan di sisi cerita.

Konflik utama novel ini adalah perseteruan antara Carisa dan Kiana. Sepanjang alur konflik tersebut, penulis membuat subkonflik lainnya yang menguatkan konflik utama dari segi karakter figuran, latar belakang konflik utama, dan proses klimaks konflik. Contohnya, latar belakang Stella, hubungan Rico dan Stella, perasaan Kiana kepada Rama, dan masih banyak subkonflik lainnya. Dan semua itu menjadikan diagram alur novel ini naik turun dan mencapai titik akhir yang cukup menggembirakan. Ditambah penulis menempatkan titik-titik penasaran di tempat yang tepat. Efeknya, saya tidak sabar menyelesaikan kelanjutan kisah Carisa dan Kiana ini sampai akhir buku.

Karakter utama yang muncul di novel ini adalah Carisa dan Kiana. Carisa itu gadis yang aktif, berani, cerdas. Saya menduga sedikit banyak karakter Carisa dipengaruhi keadaan keluarganya yang broken home. Sedangkan Kiana merupakan sosok anggun, pendiam, pintar, dan pemalu. Lalu karakter lain yang muncul adalah Rahman Ramadhan, Rico, Stella, Bang Aldo, dan beberapa lagi, termasuk Mamanya Carisa, Papanya Kiana, dan Zio (adik Kiana).

Kover bukunya menarik. Gambar dua gadis, yang satu membaca buku, yang satunya lagi memetik gitar, memberikan gambaran jelas kedua tokoh utama yang berbeda karakter. Juga pemilihan warna yang condong ke warna lembut, cocok sekali dengan sasaran pembaca remaja.

Novel Carisa dan Kiana membawa cerita yang bisa membuat pembaca dewasa bernostalgia ke masa SMA. Dimana pada waktu itu disibukkan dengan kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan pensi, kesibukan menjalankan organisasi, dan euforia pemilihan ketua OSIS. Dan berbobot lagi ketika pesan moral dalam novel ini diurai. Mengajarkan untuk memaafkan, santun terhadap orang tua, keharusan giat belajar, memilih teman yang baik, bertanggung jawab terhadap keputusan yang dipilih, dan masih banyak nilai-nilai kebaikan lainnya.

Sedikit catatan dari saya adalah paragraf di halaman 9 yang menerangkan Kelompok Ilmiah Remaja, sedikit mengagetkan karena menurut saya tidak terkait dengan paragraf sebelumnya. Saya sempat membaca ulang bagian tersebut untuk tahu maksud dari paragraf itu. Selain itu, detail pertunjukkan musikalisasi puisi, menurut saya terlalu panjang mendetailkan. Saya mengerti maksudnya agar pembaca merasakan betul suasananya, tetapi mengikuti alur cerita yang terbilang cepat pada bagian sebelumnya, membuat saya mau tak mau melewatkan bagian tersebut ke cerita berikutnya.

Terlepas dari catatan saya tadi, saya menyukai berkenalan dengan karya Mbak Nisa ini dan saya pun berani memberikan nilai 4/5 untuk novel Carisa dan Kiana ini.

Catatan:
  • Penerimaan terhadap takdir yang rumit adalah langkah kecil untuk berdamai dengan diri sendiri. (Hal. 96)
  • Orang yang berpikir bunuh diri itu sama aja dengan pengecut. Menganggap kehidupan setelah kematian seolah nggak ada. (Hal. 134)
  • Seorang anak belajar apa pun dalam kehidupannya, sebenarnya orangtua sedang belajar bagaimana cara menjadi orangtua yang baik. (Hal. 185)

[Buku] What I Talk About When I Talk About Running - Haruki Murakami




Judul: What I Talk About When I Talk About Running
Penulis: Haruki Murakami
Penerjemah: Ellnovianty Nine Sjarif & A. Fitriyanti
Penyunting: A. Fitriyanti
Penerbit: Penerbit Bentang / PT Bentang Pustaka
Cetakan: Pertama, April 2016
Tebal buku: vi + 198 halaman
ISBN: 9786022910862
Harga: Rp 49.000 (via mizanstore.com, sebelum diskon)

“Apakah hal yang kamu lakukan baik atau tidak, keren atau tidak keren sama sekali, pada akhirnya yang memiliki arti bukanlah sesuatu yang bisa dilihat, tetapi yang bisa dirasakan oleh hatimu. Agar mengerti sebuah nilai, kadang-kadang kamu harus melakukan sesuatu yang buang-buang waktu. Namun, bahkan suatu tindakan yang kelihatannya sia-sia, tidak selamanya berakhir demikian.” (Hal. 189)

Ada rasa janggal setelah membaca buku Haruki Murakami ini. Sebab memoar ini berisi pandangan penulis terhadap sesuatu. Di buku ini penulis mengungkapkan buah pikirannya terhadap hobinya: berlari. Sebagai memoar, saya meloncati proses dalam mengenal penulis. Biasanya, orang akan membaca novel-novel karya Haruki Murakami, setelah itu ia akan membaca memoarnya. Karena memoar lebih mengetengahkan lebih banyak sisi pribadi si penulis. Justru yang saya lakukan mengenal penulisnya dahulu, mungkin baru membaca novel-novelnya. Ini kesan yang saya simpulkan dan tentu saja akan berbeda dengan kalian.

Memoar What I Talk About When I Talk About Running berkisah pengalaman Murakami di dunia lari dan dunia kepenulisan. Dia menceritakan banyak pengalaman mengikuti lomba lari dan pikiran-pikirannya terhadap kegiatan berlari. Contohnya, pikirannya tentang ketidakinginannya bangun pagi dan berlari. Siapa pun pasti pernah menemukan perasaan ini setelah melakukan kegiatan dalam kurun waktu tidak sebentar. Murakami penasaran apakah pikiran tersebut muncul juga pada pelari profesional. (Hal. 55)

Pada bagian lain, Murakami juga menceritakan pengalaman ia berlari maraton di Yunani untuk artikel majalah (Hal. 65-76). Ada opsi untuk membuat foto setelah Murakami berlari beberapa jarak dan urusan selesai. Tetapi, Murakami memilih berlari menyelesaikan jarak lintasan maraton sejauh 42.195 km. Diceritakan terperinci bagaimana suhu panas pada saat itu, kondisi jalan yang ramai dan kerap ditemukan bangkai anjing dan kucing, dan perasaan campur aduk ketika Murakami berada di titik sangat lelah (marah, kesal, merutuk).

Namun, cerita pengalaman lari Murakami kemudian dikaitkan pada pengalaman ia sebagai penulis. Saya terkesan pada bagaimana awal mula ia memutuskan untuk menulis novel. Niat yang muncul saat ia menonton baseball dan kemudian ia lanjutkan dengan pengorbanan besar, menutup usaha bar yang pada saat itu dalam kondisi sangat baik. Usia Murakami pada saat itu di ujung 20-an.

Selain pengalaman awal mula menjadi penulis, Murakami berbagi cara-cara menjadi penulis yang baik menurut versinya. Sebab Murakami sadar sekali dirinya bukan penulis yang memiliki bakat alami luar biasa.

“Sebaliknya jika kamu bisa berfokus secara efektif, kamu akan dapat mengimbangi bakat yang tak menentu atau bahkan yang jumlahnya sedikit.” (Hal. 87-88)

“Jika konsentrasi hanyalah proses menahan napas, daya tahan merupakan seni mengeluarkan napas dengan tenang dan pelan-pelan sekaligus mengisi udara ke dalam paru-paru.” (Hal. 88)

“Keseluruhan proses menulis- duduk di depan meja, memfokuskan pikiran seperti sinar laser, membangun imajinasi dari kekosongan, mengarang cerita, memilih kata yang tepat satu demi satu, mempertahankan seluruh alur tetap berada pada jalur - membutuhkan energi yang jauh lebih banyak, untuk jangka waktu yang lama, dari yang dibayangkan orang kebanyakan.” (Hal. 90)

Sebuah pengalaman berharga karena setelah membaca memoar Murakami ini, saya seperti sudah belajar langsung kepadanya untuk urusan menulis. Ada banyak bagian dari buku yang menginspirasi saya untuk menekuni dunia menulis. Dan saya pun berharap kalian akan menemukan pengalaman yang sama setelah membaca buku ini.

Akhirnya, saya memberi nilai 4/5 untuk buku yang menginspirasi sekaligus meyakinkan saya kembali untuk fokus di dunia menulis.

Catatan:
  • Aku selalu berhenti pada saat aku merasa bisa menulis lebih banyak. Dengan begitu, penulisan selanjutnya secara mengejutkan menjadi lebih lancar. (Hal. 6)
  • Setelah berlari rasanya apa pun yang menjadi inti tubuh ini seperti diperas keluar sehingga terlahir perasaan ringan, dan apa pun yang terjadi, terjadilah. (Hal 9)
  • Apakah hasil tulisan sesuai atau tidak dengan standar yang ditetapkan oleh diri sendiri akan menjadi hal yang lebih penting daripada segalanya dan itu adalah sesuatu yang tidak mudah dijadikan alasan. (Hal. 13)
  • Hal terpenting adalah bagaimana melampaui diri sendiri yang kemarin. (Hal. 14)
  • Aku belajar bahwa tidak mungkin manusia hidup sendiri - sesuatu yang sudah sewajarnya. (Hal. 20)
  • Manusia memiliki nilai di dalam diri mereka dan cara hidup masing-masing, begitu juga aku. (Hal. 24)
  • Kepedihan ataupun sakit hati merupakan hal yang diperlukan dalam hidup. (Hal. 24)
  • Perkara sakit hati adalah harga yang harus dibayar seseorang untuk dapat menjadi mandiri di dunia ini. (Hal. 25)
  • Bagaimana membagi waktu dan tenaga kita untuk melakukan hal-hal sesuai urutan prioritas. Jika tidak bisa menetapkan sistem semacam itu pada suatu masa dalam hidup, kamu akan kurang terfokus dan hidupmu jadi tidak seimbang. (Hal. 45-46)
  • Seberapa pun besarnya niat seseorang, seberapa pun bencinya dia pada kekalahan, jika hal itu merupakan sesuatu yang tidak benar-benar disukai, dia tidak akan bisa bertahan lama meneruskannya. (Hal. 53)
  • Namun, manusia punya kecocokan dan ketidakcocokan masing-masing. (Hal. 54)
  • Dinding pemisah antara kepercayaan diri yang sehat dan harga diri yang berlebihan memang cukup tipis. (Hal. 63)
  • Saat semakin tua, kamu akan belajar untuk bahagia dengan apa yang kamu miliki. Itulah salah satu dari sedikit hal baik dengan menjadi tua. (Hal. 97)
  • Jika sesuatu berarti untuk dilakukan, memberikan semua yang terbaik - atau bahkan melebihi yang terbaik darimu - juga berarti. (Hal. 109)
  • Sekali melanggar peraturan yang kuputuskan sendiri, aku akan melanggar lebih banyak lagi. (Hal. 124)
  • Mungkin yang bisa kita lakukan hanyalah menerimanya, tanpa terlalu banyak tahu apa yang sebenarnya terjadi. (Hal. 134)

[Buku] Pencuri Dan Anjing-Anjing - Naguib Mahfouz


Judul: Pencuri dan Anjing-Anjing
Penulis: Naguib Mahfouz
Penerjemah: An. Ismanto
Editor: Tia Setiadi
Penerbit: Basabasi
Cetakan: September 2017
Tebal: 180 hlm.
ISBN: 9786026651136
Harga: Rp 60.000 (via belbuk.com, sebelum diskon)

Novel Pencuri dan Anjing-Anjing ini bercerita tentang Said Mahran yang baru saja keluar dari penjara setelah empat tahun mendekam. Ia dipenjara lantaran pekerjaannya sebagai pencuri. Tetapi yang membuatnya merutuk adalah pengkhianatan yang dilakukan Ilish Sidra (temannya), Nabawiyya (mantan istri), dan Rauf Ilwan (temannya) yang merupakan orang terdekatnya. Dan tujuan utama yang hendak dicapai Said setelah keluar dari penjara adalah membalas dendam kepada mereka semua. Apakah Said berhasil melakukannya?

Kesan yang muncul setelah selesai membaca novel ini adalah novel yang kelam dan penuh renungan. Melalui tokoh utamanya, Said, pembaca disuguhkan alur cerita tentang tidak baiknya punya niat balas dendam. Karakter Said yang diliputi amarah dendam, dan bukannya menyesal terus menjadi sosok yang lebih baik, membuat saya kesal juga selama megikuti jalan ceritanya. Penulis sangat pintar mengantarkan pesan yang ingin disampaikan dengan memakai tokoh yang posisinya bersalah. Dan pesan itu tersampaikan dengan baik.

Selain tokoh Said si pembalas dendam, penulis pun menghadirkan sosok soleh, Syekh Ali al-Junaydi. Ia merupakan guru pada sebuah majelis, tempat dulu ayah Said pernah ikut bergabung. Dari kebijaksanaan beliaulah, pikiran yang bertentangan dengan karakter Said bisa dilihat dan dirasakan.

Untuk gaya bercerita dari terjemahannya, novel ini punya kalimat yang kesastraan. Saya tidak paham apakah ini merupakan gaya bercerita penulis asal Timur Tengah. Tetapi, saya mengakui butuh ketelitian dalam memahami maksud kalimatnya. Sedangkan untuk alurnya, penulis mengusung alur maju dan alur mundur. Di dalam juga akan ditemukan dua jenis huruf dalam cetakan. Tulisan dengan huruf yang miring (Italic) menunjukkan bagian pikiran Said secara langsung. Sedangkan tulisan biasa (normal) menunjukkan narasi dengan Sudut Pandang Ketiga.

Karakter utama di novel ini adalah Said Mahran, yang pendendam, ceroboh, tidak sabaran, dan terlalu percaya diri. Ia benar-benar dibutakan niat balas dendam sehingga cara-cara yang ia lakukan membuatnya semakin dicari polisi. Orang-orang yang ingin dihancurkannya makin aman, dirinya sendiri yang makin terperosok. Syekh Ali al-Junaydi, guru majelis yang bijaksana dan sederhana. Ia kerap menuturkan kalimat-kalimat yang filosofis bermuatan nilai kebaikan. Nur, sosok perempuan malang yang menyukai Said sejak mereka muda dan tetap mau menolongnya setelah semua rencana Said mulai kacau. Sosok yang terus mendampa kehidupan damai dan tentram namun semua itu tidak berpihak kepadanya.

Karakter lainnya seperti Ilish Sidra, Nabawiyya, dan Rauf Ilwan, diceritakan sedikit. Karakter mereka diterangkan secara narasi lewat bagian pikiran Said. Tetapi sangat cukup untuk menuturkan konflik yang dialami Said.

Pesan paling vokal di novel ini adalah larangan keras membalas dendam. Tindakan benar menanggapi kesalahan orang lain adalah dengan memaafkan. Balas dendam justru hanya akan menghadirkan kemalangan lainnya.

Saya pun memberi nilai 3/5. Novel yang berbobot untuk dijadikan bahan merenung. Tapi, tetap saja novel ini bukan buku yang punya cerita mengesankan untuk saya.

Catatan:
  • Yang sudah terjadi biarlah terjadi, hal semacam itu terjadi setiap hari. Derita bisa menimpa, dan persahabatan lama pun bisa putus. Tetapi hanya tindakan hina yang bisa menghinakan manusia. (hal.18)
  • Apakah kau tak merasa malu meminta disenangi dari Tuhan sementara kau tidak senang dengan-Nya? (hal.31-32)
  • Terpikir olehnya bahwa kebiasaan merupakan akar kemalasan, kelesuan, dan kematian, bahwa kebiasaan menjadi penyebab semua penderitaan, pengkhianatan, kelancangan, dan kesia-siaan seluruh usaha dalam hidupnya. (hal.32)
  • Tetapi kenapa kita mengutuk kecemasan dan rasa takut kita? Pada akhirnya, bukankah dua hal itu tak membuat kita kesulitan memikirkan masa depan? (hal.65)
  • Tragedi susungguhnya adalah bahwa musuh kita sekaligus teman kita. (hal.66)
  • Sebenarnya, agar bisa tetap hidup, kita tak boleh takut pada apa pun. (hal.114)
  • Kalau cinta memang akan menimbulkan masalah, lebih baik menyisih saja. (hal.131)
  • Kesabaran itu suci dan melaluinyalah segala sesuatu diberkati. (hal.164)

[Buku] Melangkah ke Seberang - Karina Nurherbyanti Herbowo




Judul: Melangkah ke Seberang
Penulis: Karina Nurherbyanti Herbowo
Editor: Afrianty P. Pardede & Andiyani Lo
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Cetakan: September 2017
Tebal: vi + 194 hlm.
ISBN: 9786020445564
Harga: Rp 54.800 (via gramedia.com, sebelum diskon)

Novel Melangkah ke Seberang ini bercerita tentang pengalaman Arya berkunjung ke Indonesia. Ia datang ke Banten bersama sepupunya, Cody. Tujuannya untuk liburan, sekaligus mengenal kerabat yang memang belum pernah Arya kenal. Pasalnya, Arya sudah sejak lahir tinggal di Amerika.

Di Indonesia, Arya bertemu Fatma, anak dari seorang Gubernur. Perkenalan ini membawa pengaruh dalam menilai seseorang, sekaligus membuka pandangan baru baginya. Pengalaman apa saja yang dialami Arya di Indonesia?

Novel Melangkah ke Seberang bisa dikatakan novel yang mengenalkan kembali pembaca pada negara Indonesia. Melalui sudut pandang Karina, pembaca akan disuguhkan sajian politik, agama, kemanusiaan, dan nilai lokal daerah Banten.

Sedari awal, penulis sudah menyuguhkan satu ironi mengenai arti Indonesia bagi warganya. Arya yang keturunan darah Indonesia tidak paham tentang Indonesia dan tidak bisa berbahasa Indonesia. Lain hal dengan sepupunya yang blasteran, Cody justru lebih mengenal Indonesia dan bisa berbahasa Indonesia. Ironi ini efek dari pikiran orang tua Arya yang menganggap pentingnya Arya memahami Amerika daripada Indonesa, untuk bersaing hidup. Sebab orang tua Arya sudah memilih untuk tinggal di Amerika. Tetapi nilai positif orang tua Arya adalah mereka tetap mementingkan pendidikan agama Islam meski mereka hidup di Amerika. Sehingga Arya tumbuh dengan pemahaman agama yang baik, diukur dari tidak pernahnya ia meninggalkan salat.

Menurut saya, konflik utama novel ini bukan terletak pada Arya. Saya melihat konflik paling seru terletak pada kehidupan Ratu Fatma Alifya, yang anak dari seorang Gubernur Banten. Ia merasa kehilangan kehangatan keluarga akibat jabatan yang diemban Papa dan Kakak pertamanya. Ia merasa kehidupannya selalu dinilai dari latar belakang keluarga. Ia juga merasa jadi korban popularitas jabatan tersebut. Penulis membahas konflik itu dengan sangat baik. Pembaca diberikan gambaran bagaimana politik itu kejam. Papa Fatma sebagai orang yang jujur terkena fitnah perihal pembangunan bandara oleh mitra kerjanya. Dan kasus ini berimbas kepada Fatma sebagai anak. Ia bahkan sampai diusir oleh orang tua murid ketika menjadi relawan guru di sekolah SMP tempat ia pernah belajar hanya karena fitnah yang pada saat itu belum muncul kebenarannya.

Konflik menarik lainnya, Arya mesti memutuskan untuk memilih Brie (pacarnya yang di Amerika) atau Fatma (gadis yang baru ditemuinya di Indonesia). Proses memutuskan ini yang menarik. Sebab Arya sebagai tokoh utama harus bisa bijaksana. Dan penulis mengakhiri konflik ini dengan adil dan elegan.

Gaya bahasa yang digunakan penulis cukup baik. Meski pada beberapa bagian terasa janggal (saya lupa menandai bagian mana yang saya maksud). Tetapi, secara keseluruhan novel ini sangat bisa dinikmati. Melalui plot yang mengusung plot maju dan plot mundur, seluruh bagian cerita saling melengkapi. Walau di awal pembaca akan diberikan banyak tanda tanya, penulis membayar tuntas jawabannya secara bertahap. Berada di akhir buku, cerita berakhir tuntas dan manis.

Tokoh utama di novel ini adalah Ratu Fatma Alifya dan Arya Soeraadiningrat. Keduanya berusia dua puluh tahunan. Ratu Fatma Alifya condong berkarakter ceria, periang, dan berpikir positif. Gonjang-ganjing keluarganya akibat hawa politik masih ditanggapi Fatma dengan santai. Bahkan ketika ia diusir oleh orang tua murid dari sekolah SMP tempat ia membantu mengajar, Fatma tidak bersedih hati. Dalam hitungan waktu ia kembali menjadi Fatma yang periang. Sedangkan Arya Soeraadiningrat memiliki kedewasaan. Bisa jadi karakter ini hasil didik orang tuanya yang mengarahkannya jadi pribadi pekerja keras dan mandiri. Ia juga tipe pria yang bijak dalam memutuskan sesuatu. Dan yang utama, ia pria yang taat beragama. Ketaatan ini membawa pengaruh baik di sisi karakter lainnya sebab ketaatan dalam beragama berarti menerapkan nilai-nilai baik di agama.

Selain mereka, masih ada Cody Hudleston (sepupu Arya), Brie Ann (pacar Arya), Naira (sepupu Arya), Ibu Santi (pengasuh Fatma), Tubagus Ali Samudra (Kakek Fatma), Jhendra (Papa Fatma), dan ada beberapa lainnya lagi.

Memperhatikan kover novelnya, saya merasa terkecoh. Dari judulnya saja, saya kira novel ini akan diisi cerita petualangan mengeksplorasi wisata alam secara detail. Terlebih di kover ada dua sosok pria muda yang berkostum petualang. Namun, eksplorasi wisata alam di novel ini sangat minim. Saya sedikit kecewa. Terlepas dari isi cerita, pemandangan kovernya memikat. Akhir-akhir ini saya memang sedang menggandrungi foto-foto atau gambar yang menampilkan pemandangan alam. Sehingga rasa kecewa tadi cukup terhibur dengan foto kovernya.

Nilai novel Melangkah ke Seberang yang paling melekat di benak saya adalah betapa pentingnya menjadi diri sendiri yang dikokohkan dengan ilmu agama. Saya merasa diingatkan jika selama ini saya tidak memahami nilai-nilai agama yang saya anut. Padahal, pemahaman terhadap agama akan membawa banyak kebaikan.

Saya dengan senang hati memberikan nilai 4/5. Saya sangat menyukai ceritanya hingga saya harus membaca novel ini sampai dua kali.