[Buku] Pencuri Dan Anjing-Anjing - Naguib Mahfouz


Judul: Pencuri dan Anjing-Anjing
Penulis: Naguib Mahfouz
Penerjemah: An. Ismanto
Editor: Tia Setiadi
Penerbit: Basabasi
Cetakan: September 2017
Tebal: 180 hlm.
ISBN: 9786026651136
Harga: Rp 60.000 (via belbuk.com, sebelum diskon)

Novel Pencuri dan Anjing-Anjing ini bercerita tentang Said Mahran yang baru saja keluar dari penjara setelah empat tahun mendekam. Ia dipenjara lantaran pekerjaannya sebagai pencuri. Tetapi yang membuatnya merutuk adalah pengkhianatan yang dilakukan Ilish Sidra (temannya), Nabawiyya (mantan istri), dan Rauf Ilwan (temannya) yang merupakan orang terdekatnya. Dan tujuan utama yang hendak dicapai Said setelah keluar dari penjara adalah membalas dendam kepada mereka semua. Apakah Said berhasil melakukannya?

Kesan yang muncul setelah selesai membaca novel ini adalah novel yang kelam dan penuh renungan. Melalui tokoh utamanya, Said, pembaca disuguhkan alur cerita tentang tidak baiknya punya niat balas dendam. Karakter Said yang diliputi amarah dendam, dan bukannya menyesal terus menjadi sosok yang lebih baik, membuat saya kesal juga selama megikuti jalan ceritanya. Penulis sangat pintar mengantarkan pesan yang ingin disampaikan dengan memakai tokoh yang posisinya bersalah. Dan pesan itu tersampaikan dengan baik.

Selain tokoh Said si pembalas dendam, penulis pun menghadirkan sosok soleh, Syekh Ali al-Junaydi. Ia merupakan guru pada sebuah majelis, tempat dulu ayah Said pernah ikut bergabung. Dari kebijaksanaan beliaulah, pikiran yang bertentangan dengan karakter Said bisa dilihat dan dirasakan.

Untuk gaya bercerita dari terjemahannya, novel ini punya kalimat yang kesastraan. Saya tidak paham apakah ini merupakan gaya bercerita penulis asal Timur Tengah. Tetapi, saya mengakui butuh ketelitian dalam memahami maksud kalimatnya. Sedangkan untuk alurnya, penulis mengusung alur maju dan alur mundur. Di dalam juga akan ditemukan dua jenis huruf dalam cetakan. Tulisan dengan huruf yang miring (Italic) menunjukkan bagian pikiran Said secara langsung. Sedangkan tulisan biasa (normal) menunjukkan narasi dengan Sudut Pandang Ketiga.

Karakter utama di novel ini adalah Said Mahran, yang pendendam, ceroboh, tidak sabaran, dan terlalu percaya diri. Ia benar-benar dibutakan niat balas dendam sehingga cara-cara yang ia lakukan membuatnya semakin dicari polisi. Orang-orang yang ingin dihancurkannya makin aman, dirinya sendiri yang makin terperosok. Syekh Ali al-Junaydi, guru majelis yang bijaksana dan sederhana. Ia kerap menuturkan kalimat-kalimat yang filosofis bermuatan nilai kebaikan. Nur, sosok perempuan malang yang menyukai Said sejak mereka muda dan tetap mau menolongnya setelah semua rencana Said mulai kacau. Sosok yang terus mendampa kehidupan damai dan tentram namun semua itu tidak berpihak kepadanya.

Karakter lainnya seperti Ilish Sidra, Nabawiyya, dan Rauf Ilwan, diceritakan sedikit. Karakter mereka diterangkan secara narasi lewat bagian pikiran Said. Tetapi sangat cukup untuk menuturkan konflik yang dialami Said.

Pesan paling vokal di novel ini adalah larangan keras membalas dendam. Tindakan benar menanggapi kesalahan orang lain adalah dengan memaafkan. Balas dendam justru hanya akan menghadirkan kemalangan lainnya.

Saya pun memberi nilai 3/5. Novel yang berbobot untuk dijadikan bahan merenung. Tapi, tetap saja novel ini bukan buku yang punya cerita mengesankan untuk saya.

Catatan:
  • Yang sudah terjadi biarlah terjadi, hal semacam itu terjadi setiap hari. Derita bisa menimpa, dan persahabatan lama pun bisa putus. Tetapi hanya tindakan hina yang bisa menghinakan manusia. (hal.18)
  • Apakah kau tak merasa malu meminta disenangi dari Tuhan sementara kau tidak senang dengan-Nya? (hal.31-32)
  • Terpikir olehnya bahwa kebiasaan merupakan akar kemalasan, kelesuan, dan kematian, bahwa kebiasaan menjadi penyebab semua penderitaan, pengkhianatan, kelancangan, dan kesia-siaan seluruh usaha dalam hidupnya. (hal.32)
  • Tetapi kenapa kita mengutuk kecemasan dan rasa takut kita? Pada akhirnya, bukankah dua hal itu tak membuat kita kesulitan memikirkan masa depan? (hal.65)
  • Tragedi susungguhnya adalah bahwa musuh kita sekaligus teman kita. (hal.66)
  • Sebenarnya, agar bisa tetap hidup, kita tak boleh takut pada apa pun. (hal.114)
  • Kalau cinta memang akan menimbulkan masalah, lebih baik menyisih saja. (hal.131)
  • Kesabaran itu suci dan melaluinyalah segala sesuatu diberkati. (hal.164)

0 komentar:

Post a Comment