Meskipun Butuh Ratusan Purnama

Beberapa Minggu ini saya sering memikirkan kehidupan yang saya jalani. Bisa dikatakan kehidupan saya sangat kacau dan rusak. Biarpun saya tahu penyebab rusaknya, namun saya tidak punya cukup motivasi untuk berbenah. Selalu saja ada alasan untuk menunda.

Beruntung mereka yang hidupnya diberkahi keberuntungan, pikiran ini kerap melintas di benak saya. Namun kalimat penyanggahannya kembali teriang, kalau tidak beruntung maka carilah keberuntungan itu. Ternyata sebatas kalimat saja mudah diucapkan apalagi dituliskan seperti yang sedang saya lakukan. Ketika akan dijalani, akan ditemukan banyak alasan kenapa tidak melakukannya dan ini dinikmati sekali.

Semua kerumitan hidup saya dimulai dari keputusan yang salah. Keputusan salah ini berujung pada kesulitan dan saya memecahkan kesulitan itu dengan keputusan yang salah lagi. Bagai lingkaran setan, tidak ada habis-habisnya. Dan semakin lama kesulitan itu membesar dan menjadi beban hidup yang membuat resah, sekalipun dalam tidur.

Menjelang tahun 2019, motivasi itu muncul. Mengajak saya merenung lebih dalam untuk melakukan perubahan. Dan saya tentu saja menyambut ajakan itu dengan senang hati. Walau sudah terbayang akan menemui banyak perih, sakit, meradang, bahkan memalukan.

Saya merasa sudah waktunya untuk membenahi segala macam kesalahan dan kerumitan hidup saya yang semakin menyesakkan dada. Selain karena faktor usia yang mengharuskan saya segera naik kelas, saya juga sudah muak dengan keresahan yang selama ini saya rasakan.

Entah kapan tepatnya, saya menemukan pegangan hidup yang membuat saya semangat: lakukan saja hal kecil yang benar daripada melakukan hal besar tapi keliru. Mantra ini sangat menyambung sekali dengan apa yang saya alami. Saya tipe orang yang selalu melihat hasil sehingga segala yang saya lakukan selalu memilih yang besar, padahal kemampuan saya belum sanggup melaksanakannya. Hasilnya tentu saja lebih banyak yang keliru. Dan saya tidak kapok melakukan hal serupa dan masih meremehkan hal-hal kecil.

Saya berharap bisa melakukan segalanya dengan baik. Demi kebahagian yang rasanya langka saya rasakan, dan demi bisa menularkan kebahagian kepada keluarga saya, kepada kerabat, kepada rekan kerja, kepada teman-teman, lebih luas lagi kepada orang-orang di sekitar saya.

Saya ingin melakukan hal benar untuk kebenaran dalam hidup, meskipun butuh ratusan purnama untuk melakukannya.

Rindu Separah-parahnya

Sebagai manusia biasa
Aku didera rindu
Rasa yang besarnya hanya Tuhan yang tahu

Kepadamu mantan yang sudah melupakan
Nama itu masih diukir berulang
Tidak pernah lelah

Ya Allah,
Getarkan hatinya dengan mengingatku
Lingkupi dia dengan ingatan yang menghangatkan

Ya Allah,
Jangan pertemukan kami kembali sampai mati
Kalau terjadi, aku yang akan mati
Sebab didera bahagia sekaligus pedih tak tertahan
Yang berubah jadi racun

Ya Allah,
Bahagiakan dia dalam cintanya
Dan sayangi dia seperti aku pernah menyayanginya

Ujung-ujungnya Curhat Juga

Sumpah, jam sebelas malam gini saya nggak ada hal seru yang bisa saya lakukan. Nggak kepikiran nyetel musik buat nemenin tiduran, nggak kepikiran baca novel soalnya stock buku fisik kayaknya cuma satu, atau nyuci baju kotor yang udah numpuk. Pilihannya justru ke ngeblog. Bodo amatlah kalo akhirnya yang saya ketik berupa curhatan receh.

Bulan November kemarin tuh bulan padat buat kerjaan saya. Gara-garanya saya menduduki posisi baru (kalo di tempat kerja saya nyebutnya Bagian GL (General Ledger)/itu tuh yang suka bikin laporan keuangan sekaligus revisi sana-sini). Yang bikin grasah-grusuh karena saya ditinggalkan sama staf sebelumnya dadakan. Waktunya kurang banyak buat serah terima kerjaan, perkara bikin template laporan keuangan plus analisanya. Jadi, laporan keuangan bulan Oktober kemarin, saya buat dengan teknik 'bikin saja dulu' tanpa analisa. Saya nggak kebayang gimana kalo saya membuat laporan keuangan plus menganalisanya, bisa telat ngasih laporan. Oya, deadline-nya itu tiap tanggal tiga (template) dan laporan OJK (jangan tanya singkatannya apaan, belum sempet tanya) tiap tanggal lima.
Perkara bikin laporan keuangan selesai, datanglah tim audit yang mau ngebedah laporan keuangan periode Januari sampai dengan Oktober. Biasanya mereka ngantor paling lama tiga hari, kali ini sembilan hari. Sumpah, sehari menjelang mereka balik ke Jakarta, badan dan otak saya remuk, lelah, dan sudah melambaikan tangan tanda nggak kuat lagi.

Audit kelar, langsung persiapan laporan keuangan November dan semua selesai hari ini, baik template ataupun OJK. Yang seru lagi hari ini, nggak tau kenapa laporan November ini alot dibikin. Bolak-balik revisi seputar COGS yang masih gede, pengakuan biaya yang salah milih COA, bahkan yang dramatis hanya soal rumus Excel berupa kurang tanda minus (-), laporan jadi ngaco. Untuk memecahkan kekeliruan ini dilakukan berjam-jam dengan membedah lagi laporan dari Januari. Otak mendadak panas dingin.

Hanya saja hari ini saya belajar menahan emosi sedemikian rupa. Karena biasanya saya gampang panik dan down kalo ada sesuatu yang pelik dan nggak beres-beres. Namun hari ini semua terkendali. Saya sampe merapal mantra, "Sok revisi ribuan kali lagi, saya lakukan kok. Saya siap. Saya sedang belajar melakukan hal yang benarnya, bukan fokus pada kesalahannya."

Mungkin ada benarnya yang bilang, "Manajemen stres itu sukses dilakukan ketika di-push. Karena saat itulah emosi ditentukan mau dikeluarkan atau dikendalikan."

Pokoknya, hari ini - LUAR BIASA.

[Buku & Giveaway] Yorick, Kirana Kejora

"Seorang sahabat tak akan berpikir rumit untuk membantu sahabatnya saat terdera kondisi sulit."

Kalimat yang tertulis di halaman 286 ini langsung bikin saya meneteskan air mata. Cemen banget, bukan? Bukan apa-apa, saya merasa langsung tertohok, teringat kepada perlakuan saya kepada teman-teman saya selama ini, yang bisa dikatakan belum menjadi teman terbaik. Dan novel Yorick ini seolah membedah diri saya untuk berubah menjadi kawan, bahkan sahabat yang paling baik ke depannya.


Judul: Yorick
Penulis: Kirana Kejora
Editor: Key Almira
Desain sampul: Sidiq Yuliana
Penerbit: PT Nevsky Prospektif Indonesia
Terbit: 2018
Tebal buku: 346 hlm.
ISBN: 9786025288302

Novel Yorick adalah novel kedua dari penulis Kirana Kejora yang saya baca. Kesempatan berharga karena saya bisa mengikuti perjalanan sosok Yorick, anak kampung dari daerah Ciamis yang diasuh oleh neneknya, Mak Encum dan kemudian melalui perjuangan berat untuk bisa sukses. Nilai perjuangan ini merupakan nilai paling kental yang dihadirkan kepada pembaca. Mengajarkan arti kerja keras, kesantunan, dan tetap rendah hati. Sebut saja, "From Zero to Hero."

Perjuangan Yorick sebagai anak yang tidak dianggap di keluarga besarnya, menapaki takdir hidupnya dengan penuh kegetiran. Bagaimana tidak getir, di usia anak-anak, dia mesti mengalah sama kehidupan yang serba kekurangan. Dan menjejak usia tanggung, hidup Yorick tak kalah miris, dia harus terlempar ke jalanan, berkali-kali, berusaha dan bertahan hidup, hingga jalanan dan alam menjadi sekolah yang sesungguhnya bagi Yorick.

Bukan cuma kisah metamorfosis sosok Yorick yang biasa menjadi luar biasa, novel ini menyisipkan kisah roman. Yorick sebagai manusia biasa yang pernah kehilangan sosok guru (neneknya) dan berujung menyisakan ruang sepi, ia pun melirik sosok perempuan yang berharap bisa mengisi kekosongan hatinya yang di sisi lain. Sebut saja nama Tia dan Nevia. Karena roman ini sekadar sisipan, saya merasa kurang terpuaskan oleh Yorick dalam menghadapi masalah hati. Yorick tidak memiliki akhir kisah cinta yang jelas dan itu membuat saya penasaran. Sebaik sosok Yorick, sebenarnya pertimbangan apa yang ia punya soal memilih pasangan hidupnya. Ada alasan apa yang ia pegang ketika membuat keputusan perkara romantisme, yang jelas akan sangat berbeda alasannya ketika ia menghadapi perkara kerjaan IT-nya.

Ijinkan saya menilai secara objektif untuk garis besar kisah Yorick ini. Saya merasa kisah nenek dan cucu ini merupakan pilihan tepat ketika kebanyakan novel saat ini berbicara romantisme antara pria dan wanita, muda atau dewasa.  Namun saya menangkap kehambaran peran nenek untuk 3/4 kisah Yorick selanjutnya. Seolah posisi nenek hanya nostalgia dengan ucapan-ucapan bijaknya. Tapi tidak punya pertalian yang kukuh terhadap perjuangan Yorick selanjutnya. Yang kemudian saya rasakan bahwa sebenarnya novel ini hanya berhasil menghadirkan konsep besar tentang liku-liku menggapai kesuksesan yang dibumbui kisah persahabatan.

Kisah persahabatan Yorick dengan beberapa temannya (Pak Kin, Iyan, Rotten, Tejo, dan Azis) tampak dominan dan saya bersyukur bisa mendapatkan kisah yang seperti ini. Dan sisi persahabatan ini yang justru membuat saya terharu (meneteskan air mata), bukan tentang hubungan Yorick dan neneknya. Persahabatan solid baik dalam kemunduran maupun kemajuan. Kehadiran sahabat dalam keadaan suka dan dukanya menjadi ukuran siapa saja yang memang layak disematkan sebutan 'sahabat terbaik'. Novel ini bakal saya rekomendasikan untuk siapa pun yang memang harus tahu gambaran paling ideal dalam membangun 'persahabatan'. Hubungan tanpa asas manfaat, apalagi harus ada khianat.

Berita gembira kalau novel ini akan difilmkan dan prosesnya sedang dilakoni. Sebab sepanjang membaca novel ini saya merasa kesulitan menyematkan dalam benak saya sosok Yorick anak-anak dan dewasa sesuai foto yang ada di kover novelnya, dengan adegan-adegan novelnya yang terbilang sangat dinamis karena novel Yorick ini merangkum perjalanan Yorick sejak dia kecil, remaja, hingga tumbuh jadi pria dewasa. Jadi tidak sabar untuk menonton filmnya demi membandingkan seberapa greget Yorick di novel dan di film, hehehe.

***


ADA GIVEAWAY!!!

1. Follow akun Instagram/Twitter @yorick.id , @kiranakejora , @adinseglesious (IG) , @adindilla (Twitter)

2. Bantu sebar link giveaway ini ya, boleh via Instagram atau Twitter!

3. Tuliskan nama dan akun kamu (Instagram/Twitter) di kolom komentar di bawah

4. Periode giveaway ini adalah 18 s/d 20 November 2018. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 21 November 2018 (pemenang diundi ya!)

5. Untuk 1 pemenang utama berhak mendapatkan 1 buah novel Yorick. Dan ada 5 pemenang lainnya yang berhak mendapatkan voucher diskon 20% yang bisa digunakan saat pembelian novel Yorick di website www.yorick.id (kamu akan mendapatkan kode unik untuk pembelian di sana, sekaligus kode itu akan diundi untuk kesempatan jalan-jalan ke Rusia bersama penulis novel Yorick, Kak Kirana Kejora. Mau? Mau? Mau?)


Hayoo... Ikutan yuk giveaway ini, siapa tahu kamu yang beruntung!

UPDATE PEMENANG!

Sebelum saya mengumumkan pemenang, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada peserta yang sudah ikut serta meramaikan giveaway ini. Jumlah peserta tidak banyak tetapi Alhamdulillah giveawaynya berjalan lancar dan tepat waktu.

Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Mbak Delisa yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk menjadi host giveaway novel Yorick ini. Juga terima kasih kepada Mbak Kirana Kejora sebagai penulis novel Yorick yang sudah memperkenalkan saya kepada sosok yang pantang menyerah.

Nah, tinggal saya umumkan pemenangnya. Berikut ini pemenang di giveaway novel Yorick:


Yeay! Yeay! Yeay!
Selamat untuk para pemenang!

[Silakan kirim data diri kalian ke email hapudincreative@gmail.com dengan judul Konfirmasi Pemenang Yorick. Formatnya Nama, Alamat, dan Nomor Ponsel, untuk pengiriman hadiah.]

Sekali lagi selamat kepada para pemenang dan nantikan giveaway selanjutnya...


Mantan! Kangen!

Setahun lalu kita bersitegang. Hebat. Saya yang salah, banyak. Kamu yang mengalah, sering. Tapi sore itu puncak dari segalanya. Kamu meninggalkan saya.

Saya berusaha mencari kamu. Seperti orang yang kesetanan. Cuma satu niatku, memperbaiki yang rusak. Mengembalikan yang dibuang.

Kamu tetap di sisi itu. Sisi memilih berakhir. Saya merosot ke jurang paling dalam bersama tangis yang enggan ditampakkan. 

Berapa kali saya jahat mengintip facebook-mu. Dan berujung pada teriakan tidak jelas, campur amarah dan sedih yang bias untuk dijelaskan. Pernah juga saya menangis di depan sahabat, memohon penguatan untuk nasib asmara yang kamu hancurkan.

Setu Patok, tempat yang sering kita kunjungi. Sekadar ngobrol receh, tentang kamu, juga tentang saya.

Menjelang setahun kemarin, saya kembali berdiri di depan kamu. Sengaja saya bulatkan tekad, demi mengucap kalimat, "Saya minta maaf." Dan kamu tidak bereaksi. Antara kaget atau benci. Saya menemui kamu tidak lebih dari tiga menit. Namun segitu lebih dari cukup menenangkan badai di jiwa akibat rasa menyesal, rasa kangen, sekaligus rasa kecewa.

Kamu... Saya kangen. Bolehkan? 

Saya tidak akan mengganggu kamu bersama masa depan yang tengah kamu rancang. Bukan dengan saya. Tapi saya baik-baik saja. Kamu berhak bahagia. Kamu berhak melupakan saya. Dan jangan kangen ke saya.

[Cirebon, 16 Oktober 2018]

Anjing! Ketipu Lagu Dia

Ada gak ya yang di ponselnya gak ada satu lagu pun?

Kalo udah jawab, lanjutkan baca sepenggal kisah Agus di bawah ini:

Agus tidak bisa menikmati film yang tengah diputar, film Munafik 2. Menakutkan? Kagak, maksudnya kagak tau. Pikirannya kusut. Sekaligus mempertanyakan kedudukannya di hati Nunung, sang kekasih.


Begitu pesan WA yang diterimanya ketika jadwal film udah lewat lima belas menit, dan Agus sudah terlanjur gusar menunggu kekasihnya tampak.

Anjing!!!

Beberapa hari lalu, Nunung juga apatis sama Dio. Jadwal malam Minggu di rumah Nunung jadi momen anjing banget gara-gara Nunung lebih perhatian sama Dio.

"Kamu manis banget, Yo. Suka, suka, suka kamu," ucap Nunung memanjakan Dio sambil tangannya mengucek-ucek rambutnya.

Yang pacarnya tuh siapa sebenarnya, saya apa Dio? Pengen banget Agus teriak begitu di kuping Nunung

Nah, kondisi kegusaran Agus akhirnya dibikin lagu. Liriknya:

Ternyata.....Dio itu Anjing!

Surprise banget! Yes! Anjing pisanlah. Saya ketipu sama lagu yang dibawakan Fahri ini. Dengan musik folk jaz yang romantis nan syahdu, dicampur lirik yang nunjukin cemburu, saya kira si cewek (pacar) selingkuh terang-terangan. 

Kemudian kata 'Anjing' yang nunjuk dia si pihak ketiga, seolah bentuk kemarahan si cowok yang gak terima ceweknya diembat. Namun setelah seluruh lirik dibaca, wait, wait, tunggu, jadi beneran dia-nya itu memang anjing beneran.

"Edan!"

Ini lagu ceritanya si cowok cemburu sama anjing karena si cewek lebih perhatian ke makhluk guk-guk itu.

Kan kampret!!!

Tapi, saya sarankan kalian dengar lagunya langsung di YouTube. Aseeek dan emmmmm... Cihuy lah.


Buat saya musik itu bagian dari kehidupan. Bisa jadi pengiring suasana sehari-hari yang setiap waktu bisa berubah. Hari Senin bisa nge-pop banget, hari Selasa bisa religian, hari Rabu bisa nge-reggae, dan seterusnya.

Nah, kalo kalian suka musik aliran apa?

Erin Moriarty, Bogoh Lah Aing Ka Maneh!

Lupa pisan tepatnya kapan saya nonton film India yang judulnya 3 Idiots. Saya nonton film itu sampe berulang-ulang. Dramanya ngena banget, bisa bikin terharu biru sekaligus terpingkal-pingkal.

Dasar cengeng!

"Edan!"

Kalo sekarang ditanya bagian mana film yang bikin mengharu biru, saya bakal ngejawab, "Lupa euy! Udah lama soalnya?"

Nah, baru-baru ini saya habis nonton film India lagi. Nggak ada yang mengharu biru, nggak ada yang lucu sekali, tapi filmnya seru banget. Judulnya: The Extraordinary Journey of The Fakir.

Rilis: 30 Mei 2018 Durasi: 92 Menit
Film ini mengisahkan tentang Ajatashatru 'Aja' Lavash Patel (Dhanus) yang pergi ke Paris untuk mencari ayahnya, setelah ibunya meninggal. Perjalanan ini seru sebab Aja yang bernasib miskin sejak kecil pergi ke sana hanya bermodal paspor, uang palsu, dan nekat. Setibanya di Paris, dia datang ke toko furnitur dan bertemu Marie (Erin Moriarty), yang kemudian jadi bumbu roman di film ini.

Perjalanan Aja ke Paris tidak mulus, dia harus keluar-masuk negara. Kata 'Journey' di judulnya mungkin merujuk ke bagian ini kali. Setelah tiba di Paris, ia terbawa ke London. Setelah dideportasi dari sana, Aja ditahan di Barcelona. Pas bisa lolos dari negara itu, dia masuk ke negara Libya. Urusan di Libya kelar, Aja memilih balik kampung ke India dan menjadi guru.

Oke, di sini saya mau cerita poin-poin seru yang ada di filmnya :
Aja ini pinter banget ngomong dan bercerita. Makanya pas dia cerita ke Marie soal India, ucapannya bikin Marie serasa tengah berada di sana.

Aja kecil pernah dipenjara. Saat bosan dan menyesal karena terkurung, Aja menerima ceritaan dari Guru Deva yang menerangkan aktifitas di luar sel melalui lubang kecil di dinding. Saat Aja ketemu lagi Guru Deva setelah keluar dari penjara, dia tidak menyangka jika Guru Deva ternyata buta. Kebutaan ternyata tidak membatasi imajinasi si Guru.

Film ini seolah mau ngomong kalau mulutmu yang pandai bercerita bisa membuat nasibmu berubah. Bahkan cerita perjalanan Aja saja, entah benar atau bohong. Di akhir film pertanyaan itu hanya dijawab, "Untuk yang penting-pentingnya saja."

Waktu di Barcelona, berkat jasa Nelly Marnay (Berenice Bejo), Aja punya uang sekoper. Namun apes menimpa pas dia turun dari balon udara di atas kapal, uangnya disita. Di Libya ia kembali bertemu Wiraj (Barkhad Abdi), pengungsi sewaktu terbawa ke London. Berkat jasa Wiraj, uang itu kembali. Yang seharusnya digunakan untuk memulai hidup, Aja justru membagikan demi mewujudkan mimpi para pengungsi. Pelajaran 'Berbagi' yang benar-benar menyentuh.

Urusan asmara Aja dan Marie juga pelik tapi seru. Janji keduanya ketemu di sekitar Menara Eiffel, batal, lantaran Aja yang harus terbawa ke London. Marie akhirnya ketemu pria baru. Gimana ya nasib Aja? Kalo saya udah tau. Buat kalian yang mau tau, buruan nonton bae lah filmnya!

Pokoknya kalian harus nonton film ini. Pesan moralnya banyak, berguna buat bikin kita jadi orang baik dan bikin kita belajar soal makna di balik hidup 'miskin'.

Survive dan nerimo merupakan paket yang bikin kita bersyukur kalo bicara soal miskin-kaya. Film ini nyoba untuk memberikan pandangan itu melalui perjalanan tokoh Aja.

Erin, Erin, kau cantik amat. Gimana kamu tanggung jawab ke saya nya?
Dan begitu filmnya selesai, yang terbayang cuma sosok Erin Moriarty yang kalem, anggun, manis, dan cantik. Bogohlah pokok na mah.

Usut punya usut, ternyata film ini dibuat berdasarkan novel yang terbit Agustus 2015

Maju Tak Gentar! Ngeblog di Ponsel

Saya lupa udah berapa lama ngeblog gak pake laptop. Beberapa postingan terbaru itu dibikinnya di ponsel, kemudian diedit dan dipublikasikan di blogger lewat komputer kantor. Rada keteteran sih, cuma untuk sekarang ini belum memprioritaskan buat beli laptop dulu. Soalnya masih banyak pos yang harus didahulukan.

Pokoknya komputer kantor sangat ngebantu buat eksekusi postingan :)


Aslinya sulit banget mengimprovisasi tulisan pas ngedraft di ponsel. Layar yang terbatas dan tuts yang kecil bikin ngerjain artikel butuh niat yang gede banget. Kadang gemes banget pas lagi ngetiknya. Buat ngehapus kalimat yang salah atau paragraf yang kurang menarik saja mesti sabar karena ngehapusnya huruf demi huruf.

Oya, tulisan ini dibuat semata-mata untuk jadi pengingat kalau saya pernah mengatakan, "Saya baik-baik aja", kalau-kalau di masa depan saya mengeluh gara-gara mesti ngeblog via ponsel. Tapi tetep sih berdoa semoga segera kebeli laptop barunya, hehehe.


 Kondisi:
 1. Saya pakai ponsel Evercoss type M53 (layar 5.34 Inch, kamera belakang 8MP)
 2. Saya menggunakan aplikasi Blogger untuk ngedraft artikel.

Biarpun saya pakai ponsel, semoga kegiatan ngeblog saya nggak terganggu. Walau kenyataannya udah kerasa banget ada penurunan ngeposting artikel. Bahkan banyak artikel setengah jadi yang dihapus gara-gara alasan, "Ribet ah ngeditnya. Mending bikin baru lagi."

Nah lho, sampe segitunya.

Meski kondisinya begitu, ini malah menantang saya untuk aktif ngeblog lagi. Ibarat masak air, udah matang banget, meluap-luap bergulak. Tentu saja sisi penyajian artikel bakal jadi PR besar dengan keadaan yang terbatas begini. Improvisasi dan kreatifnya harus pelan-pelan dan gak boleh nyerah uji coba sampe bisa dan terbiasa.

[Buku] Friendzone: Lempar Kode, Sembunyi Hati, Alnira


Judul: Friendzone: Lempar Kode, Sembunyi Hati
Penulis: Alnira
Penyunting: Tim Editor Fiksi
Desain sampul: Aqsho Zulhida
Penerbit: Grasindo
Terbit: April 2018
Tebal buku: 310 halaman
ISBN: 9786024528423
Nilai: 4/5

Ini kali pertama saya membaca karya dari seorang Alnira yang menurut data profilnya sudah menerbitkan delapan judul novel, termasuk yang ini. Penulis baru (atau bukan baru-baru banget) yang produktif sekali ternyata.

Lagi, saya membaca novel roman yang tema utamanya friendzone. Permasalahan temanya seputar kebimbangan merubah status teman ke pacar. Tokoh utamanya Dira dan Ransi. Mereka bagian dari sekumpulan pertemanan sejak SMA: Angga, Maya, Wisnu, Okta. Dira sadar kalau dia suka Ransi yang suka ngasih kode romantis. Sayangnya si Ransi nggak pernah terus terang dan hanya main kode-kodean. Pernah Dira iseng menegaskan maksud Ransi, eh malah dikatain kegeeran. Berikutnya dia malas bahas kepastian. Dan si Ransi masih nggak berubah. Dalam permasalahan roman ini Dira yang lebih banyak makan hati.

Subkonflik lainnya, Maya suka Angga, tapi Angga jadiannya sama Okta. Wisnu suka Maya, Mayanya pacaran sama yang lain. Subkonflik yang cukup ampuh mempermanis konflik utamanya biar nggak jadi membosankan. Eh, tapi membaca konflik utamanya aja nggak bakal bosan. Jaminan. Malah seru.

Berikut catatan yang saya bikin setelah membaca tuntas bukunya: 
  1. Saya ngiri sama pertemanan mereka yang solid. Walau setelah mereka beranjak dewasa, mereka masih menyempatkan diri berkabar dan berkumpul untuk update keadaan terbaru. Ah, pokoknya beda banget sama saya dan sahabat-sahabat SMA yang kemudian sibuk dengan dunia masing-masing.
  2. Saya mendapatkan pelajaran penting tentang cara memperhatikan perempuan hingga apa saja yang mesti dipersiapkan untuk menghalalkannya. Dewasa banget pesan moralnya.
  3. Banyak prinsip hidup dari masing-masing tokoh yang bisa dipetik. Cukup untuk menjadi pengingat dalam hal kebaikan.

Pengen banyak berkomentar tapi mendadak kaku. Jadi, saya sudahi saja dulu. Semoga saya punya kesempatan membaca buku karya Alnira lainnya.

[Buku] Perkara Bulu Mata, Nina Addison


Judul: Perkara Bulu Mata
Penulis: Nina Addison
Editor: Harriska Adiati & Neinilam Gita
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: September 2018
Tebal buku: 296 halaman
ISBN: 9786020611907 / 9786020611914

Cerita di novel Perkara Bulu Mata terbilang segar, itu reaksi pertama saya setelah selesai membaca tuntas. Padahal judulnya ini jadi persoalan di awal membaca, nggak ada menarik-menariknya sama sekali. Dan saya juga sempat mandeg membacanya. Begitu kesempatan kedua datang, saya keukeuh melanjutkan sampai tamat.

Novel Perkara Bulu Mata menceritakan empat anak manusia yang bersahabat sejak mereka di SMA: Vira, Jojo, Albert, dan Lilian. Usia dewasa yang melemparkan mereka pada dunianya masing-masing lantas nggak merenggangkan persahabatan yang terjalin. Hanya saja tidak ada jaminan kalau perempuan dan laki-laki sahabatan, bakal awet sahabatan tanpa ada cinta-cintaan. Ternyata waktu SMA Lilian sempat naksir Albert yang berujung penolakan. Beruntungnya persahabatan mereka tidak jadi tumbal. Dan akhir-akhir ini Vira yang mulai merasakan suka sama Jojo sejak mereka curhat tentang kandasnya hubungan dia dengan Tom, dan nggak sengaja Vira memperhatikan bulu mata Jojo. Terdengar aneh memang, ada ya orang jatuh cinta sebabnya lihat bulu mata.


Cerita utama kemudian bergulir urusan tarik ulur hubungan Vira dan Jojo. Awalnya Vira suka Jojo, Jojo malah nggak suka. Begitu Jojo suka Vira, Vira sedang berproses ikhlas dengan perasaannya yang dirasa sepihak. Bagian ini menggemaskan sekali. Belum lagi bagian-bagian seru ketika Vira dan Jojo merasa cemburu untuk satu sama lain gara-gara muncul pihak lain: Bella dan JC.

Kalau mau tau perjalanan asmara mereka, mending baca aja novelnya langsung!

Tema novel ini roman friendzone. Dan nggak tau kenapa nggak pernah bosan baca novel roman begini. Terutama bagian tarik ulur hubungan yang nggak jelasnya itu. Saya simpulkan Nina berhasil membawa pembaca ke konflik seru Vira-Jojo hingga bikin saya gemas, kesal, menggerutu, sekaligus tertawa.

Gaya bercerita renyah karena diksi yang digunakan to the point, nggak pakai bahasa yang terlalu baku, apalagi yang sastra banget. Yang mengganggu buat saya justru penggunaan bahasa inggris di kalimat yang panjang. Pokoknya ini urusan personal banget, soalnya saya nggak pinter menerjemahkan kalimat bahasa inggris.

Karakter keempat tokoh sangat hidup dan terkesan nyata. Kedewasaan mereka juga kerasa, nggak terjebak dengan ala remaja-remaja alay. Tercermin dari keputusan dan pola pikir yang dibentuk ada unsur bijaknya. Soalnya ada beberapa novel yang pakai tokoh dewasa tapi si tokoh disajikan remaja banget. Kan ganggu sekali. Sorotan cerita di novel ini memang kepada Vira-Jojo, namun keberadaan Albert dan Lilian sangat berarti sebagai penopang cerita. Permasalahan mereka ibarat jeda untuk masalah Vira-Jojo sehingga cerita tidak monoton membahas inti cerita Vira-Jojo.

Ada empat catatan yang merangkum mengenai novel Perkara Bulu Mata ini:

  1. Persahabatan yang disajikan Nina lewat keempat tokoh utamanya terbilang seru dan manis. Geng temen yang dewasa dan manusiawi.
  2. Kisah percintaan yang ada di novel ini tergolong kompleks, akibat ragu milih sahabatan apa pacaran. Ah, ketakutan nyata yang dihadapi orang-orang di club ‘sahabatan lawan jenis’ selalu soal nanti bakal gimana kalau berubah status. Bakal baik-baik saja atau justru berantakan. Dan pikiran ini yang menjadi dalih, “Mending dipendem aja deh!”
  3. Nilai kemanusiaan yang mendewasakan pembaca lewat wejangannya yang nggak menggurui. Ditambah momen untuk menyampaikannya yang nggak kayak ceramah di mimbar atau menegur secara brutal, membuat novel ini nggak kehilangan rasanya jadi novel religi atau buku self-improvement. Aura novel metropop-nya tetap terjaga.
  4. Jalan-jalan ke Praha yang seru karena subkonflik yang dipilih penulis membuat adegannya tetap menarik diikuti. Nggak hanya bicara tentang nama jalan, sejarah, atau monumen khas kota Praha, namun lebih ke fungsi latar yang menyokong alur dalam menyampaikan pesan novel dengan tanpa melepaskan informasi kotanya.

Akhirnya, saya merekomendasikan novel ini untuk dibaca kalian. Terus saya penasaran dengan novel karya Nina lainnya: Morning Brew (2011) dan Kismet (2015).


#1 - Ah, Saya Memang Cemen

Saya tipikal orang yang suka menilai diri sendiri dengan sangat rendah. Sengaja menyembunyikan segala kebaikan yang ada (menurut orang lain) akibat rasa minder. Kenyataan yang biasa saya jadikan dalih adalah saya berangkat dari keluarga biasa saja sehingga kemajuan yang saya capai sangat lambat dan terlambat.


Pikiran ini selalu dipatahkan oleh pikiran lain. Kadang-kadang dua pendapat berperang. Benar, saya memang lahir dari keluarga biasa, tetapi seharusnya saya berjuang lebih keras dan pantang sakit. Kata 'seharusnya' ini yang saya sadari betul, namun berat diwujudkan. Saya masih sering menikmati zona nyaman yang makin melambatkan saya maju.

Malam jumat minggu lalu, saya kembali merenung sampai menangis. Ah, saya memang cemen. Gampang menangis jika saya dilanda kegalauan luar biasa dan ujung-ujungnya saya berdiam diri di kosan, menyepi, dan memikirkan banyak kegagalan yang menimpa. Tetapi, malam jumat minggu lalu menjadi titik balik. Sejak itu kesadaran baru muncul untuk melahirkan sosok baru yang lebih baik. Lebih baik di sini tidak peduli langkahnya sekecil apa pun. 

Saya percaya dengan tiga hal yang sedang saya perjuangkan hingga artikel ini saya tulis:

1. Memperbaiki salat.
Sudah keharusan bagi saya untuk memperbaiki hubungan saya dan Allah SWT. Selama ini saya banyak mengabaikan salat dengan banyak alasan. Dan sejak malam jumat minggu lalu saya berniat memperbaiki salat dengan berusaha mati-matian agar tidak lalai satu waktu pun, ditambah saya kembali mempelajari tata cara salat yang benar dengan referensi buku-buku. Kadang saya juga mengajak diskusi teman kuliah yang lulusan pesantren.

2. Bersyukur
Poin penting lain yang saya usahakan sekuat jiwa raga adalah bersyukur. Saya kerap melihat ke atas sehingga memunculkan rasa iri dan dengki. Apalagi yang saya lihat soal duniawi yang memang saya kalah dari orang-orang sekitar saya. Saya percaya bersyukur bisa membuat hati saya lebih luas dalam menerima ketentuanNya.

3. Merancang rutinitas produktif
Hal paling sukar adalah mengganti rutinitas malas jadi rutinitas produktif. Contohnya setelah bangun subuh, ada waktu panjang hingga jam saya siap-siap kerja yang saya habiskan untuk tidur lagi. Namun sampai saya menulis ini, saya belum menemukan ritme menarik yang bisa mengalahkan rasa kantuk. 

Saya tahu kalau apa yang saya mulai sekarang sudah kategori langkah terlambat. Kepercayaan 'lebih baik terlambat daripada tidak berubah' menguatkan dan memberikan saya keberanian lebih banyak untuk melaksanakannya. Tujuan yang mau saya raih bukan yang muluk-muluk. Saya hanya ingin menjadi pribadi yang lebih baik untuk diri sendiri. untuk keluarga, untuk sahabat dan teman, dan lebih luas untuk masyarakat.

[Buku] Arwah, Jounatan & Guntur Alam


Judul: Arwah
Penulis: Jounatan & Guntur Alam
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Terbit: Desember 2017
Tebal: 172 halaman
ISBN: 9786020451176
Harga: Rp46.800
Nilai: 2/5

Setelah lama tidak bisa menyelesaikan satu bacaan pun, akhirnya saya bisa pecah telur dengan membaca tuntas novel horor berjudul Arwah. Novel ini ditulis duet oleh Jounatan dan Guntur Alam, dan didaulat sebagai novel pertama dari novel trilogi. Buku keduanya sudah terbit juga, berjudul Tumbal. Sedangkan novel ketiganya sedang dalam proses penulisan, berjudul Ritual.

Novel Arwah bercerita tentang tiga teman kelas XI di SMA Victoria yaitu Jounatan, Nayla dan Leo. Jou diperkenalkan kepada Kak Bram yang merupakan kakak laki-laki Melodi, teman perempuan yang diam-diam menyukainya, untuk pekerjaan di Diskotek Lipstik. Kunjungan pertama mereka ke diskotek itu berujung tragedi yang melibatkan sosok hantu berambut gondrong dan memakai kaus kuning bertuliskan Nirvana. Hantu tersebut dikenal sebagai hantu Budi Lupus. Kemudian ketiganya diteror dengan sadis.

Apa hubungan benang merah antara Diskotek Lipstik, hantu Budi Lupus dan Jounatan?

Secara umum saya rada kecewa dengan ceritanya.

Novel Arwah ini memang mengambil genre yang jelas, novel horor. Tetapi, buat saya aura horor itu menjadi tidak horor lagi ketika adegan horor dimunculkan terlalu sering. Sejak Jounatan pergi ke Diskotek Lipstik, rasanya hidup Jounatan diganggu mulu oleh hantu Budi Lupus. Bukan sekali atau dua kali, setiap ke toilet, di rumah, di diskotek, Jounatan selalu dihantui. Saya sebagai pembaca bukannya merasa ngeri dengan kehadiran hantunya, justru makin bertanya-tanya, apa benar novel horor harus hantunya dimunculkan setiap saat begini.

Bahkan narasi mengenai hantunya diulang berkali-kali, seperti darah yang menetes dari hantu, bau rokok yang menguar, hingga bau amis darah. Sehingga saya beberapa kali meloncati paragraf yang menjelaskan kehadiran hantu dengan narasi sama karena saya sudah paham sekali ciri hantu dan kehadirannya akan diceritakan seperti itu.

Kemudian, menurut saya alasan Jounatan untuk bekerja terlalu mengada-ada. Sekadar menjadi mandiri dan bukan tuntutan hidup yang kemudian membuat Jounatan mengalami gangguan belajar di sekolah (tertidur di kelas, hal.67), sangat disayangkan. Saya tidak habis pikir penulis mau mengambil alasan aneh ini untuk ukuran anak SMA kelas 2 dengan orang tua yang masih lengkap. Terkesan dipaksakan.

“Jangan dipaksain kerjan Jou. Papa masih sanggup ngumpulin uang buat kuliahmu nanti….” (hal.52)
“Enggak apa-apa. Aku kuat. Udah gede ini. Lagian, kayak yang sering aku bilang, aku mau mandiri, Pa….” (hal.53)
Karakter Jounatan pun tidak pas untuk disukai sebagai karakter utama. Saya paham ketakutan dia yang dihantui mahluk halus. Namun ketika Nay membuka diri menceritakan keganjilan yang ia alami, Jo justru menutup diri terhadap keganjilan yang ia alami. Padahal sebelumnya ada pernyataan ia ingin menceritakan keanehan yang ia alami namun ia takut dengan reaksi Leo atau Nay tidak sesuai yang ia pikirkan. Jadinya situasi yang kontradiksi.

Bisa dikatakan karakter Jou, Nay, dan Leo tidak menonjol. Parameternya, saya tidak mendapatkan kesan mendalam terhadap ketiganya.

Di buku ini juga memuat kebetulan yang membuat saya tidak percaya. Penulis menghadirkan Natali, Pak Narto (satpam) dan Pak Hasta, yang punya kemampuan merasakan keanehan atas keberadaan hantu. Tiga orang terlalu banyak untuk menjadi perantara perasa keberadaan hantu yang bersinggungan dengan tokoh utama Jou.

Selain itu ada teknik penulisan yang tidak saya sukai yaitu penggambaran kejadian aneh yang dinarasikan penulis secara detail tetapi bukan dalam sudut pandang tokohnya. Semacam ada kejadian aneh di belakang punggung tokoh utama yang tidak disadari. Jadinya malah tidak horor lagi.

Tanpa dia sadari, satu per satu pakaian kotor di dalam keranjangnya bergerak ke atas,… (hal.84)
Kesan saya setelah membaca cerita buku Arwah ini adalah capek. Saya merasa dijejali dengan kehadiran hantu yang kelewat sering. Maunya saya, cerita hantu itu dikemas dengan kehadiran hantunya yang tepat waktu dan enggak keseringan, tetapi dibanyakin kegiatan ketiga tokoh utama menelusuri fakta tersembunyi atas misteri hantunya. Biarkan hantu itu muncul di bagian-bagian klimaks saja.

Gara-gara membaca buku ini juga, saya merasa perlu membaca novel genre horor penerbit ‘tetangga’ untuk membandingkan mana teknik yang pas dalam membuat cerita horor. Biarpun banyak catatan di ulasan novel Arwah ini, saya tetap akan melanjutkan ke buku keduanya, Tumbal.

Semoga bisa lekas selesai membacanya!

[Jadi kaku lagi bikin ulasannya. Harap bisa maklum euy]

[Buku] Nikmatnya Bersyukur: Merajut Gaya Hidup Penuh Bahagia, Bahrus Surur-Iyunk


Judul: Nikmatnya Bersyukur: Merajut Gaya Hidup Penuh Bahagia
Penulis: Bahrus Surur-Iyunk
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Terbit: 2018
Tebal buku: xxii + 178 halaman
ISBN: 9786020458601
Harga: Rp53.800

Ada yang bilang kalo instagram itu media sosial yang selain menghibur juga membuat banyak orang iri. Pasalnya pengguna di instagram seolah berlomba-lomba memamerkan keunggulan dengan kemasan menarik dan spesial, meski kenyataannya entah kayak gimana. Apapun yang di-posting harus mencapai love banyak, kalo perlu dibanjiri komentar yang berjuta-juta. Ini yang kemudian jadi perhatian beberapa pengguna untuk menganalisa banyak manfaatnya atau justru banyak tidak manfaatnya.

Kalo saya sendiri sudah lama nggak main instagram. Bukan perkara alasan di atas. Saya merasa menggunakan instagram menghabiskan banyak waktu. Sekalinya buka, scroll ke bawah, mendapatkan banyak suguhan informasi, foto menarik, video lucu, dan pas sadar sudah dua jam lebih. Saya menghabiskan dua jam untuk melihat saja. Kalau membaca caption panjang rasanya jarang orang melakukannya. Ada yang salah dengan pola penggunaan begini. Kalo mencari hiburan, saya mending nonton film. Kalo durasinya dua jam, setelah nonton ya sudah nggak akan ditonton lagi karena sudah tahu isi filmnya apa. Sedangkan instagram menjadi candu, bakal buka lagi, lagi, dan lagi.

Saya uninstall instagram dan lebih aktif di twitter yang penggunaanya baik buat saya sebagai orang yang mencari hiburan sekaligus informasi dunia blog.
Menilik cerita di atas, orang yang menggunakan instagram akan berdalih "Yang penting bahagia cuy!"

Dan kalau bahagiamu itu bikin kau tidur cukup gara-gara instagram, saya kasih selamat sambil tepuk tangan yang kenceng.

Pok! Pok! Pok!

Tapi kalau bahagiamu belum penuh, saya mau share sedikit isi buku keren yang ditulis oleh kepala sekolah SMA Muhammadiyah di Sumenep dengan tajuk Nikmatnya Bersyukur: Merajut Gaya Hidup Penuh Bahagia.

Buku ini bakal menuturkan mengenai cara-cara bersyukur dalam rangka menjadi bahagia dengan sumber-sumber dari Al-Quran dan hadits. Menurut Al-Ghazali ada tiga cara manusia menunjukkan cara bersyukur. Pertama, bersyukur dengan hati. Kedua, bersyukur dengan lisan. Ketiga, bersyukur dengan anggota badan. Lebih jelasnya mending baca langsung bukunya.

Pendapat mengenai bersyukur adalah persepsi cara pandang, sangat menarik dipahami. Mungkin ketidakbahagiaan kita saat ini karena tidak bersyukur akibat cara pandang yang keliru. Misalkan kita sudah punya mobil, masih saja gelisah setiap melihat mobil yang lain lebih bagus dan lebih mahal. Yang sudah punya motor masih gelisah karena kepikiran ingin punya mobil. Padahal hati bakal tentram sentosa kalau kita merubah cara pandang dengan tidak melihat ke atas untuk membandingkan. Cobalah melihat ke bawah saja. InsyaAllah kita akan paham bahwa Allah sudah memberikan lebih banyak kepada kita dibandingkan yang dimiliki oleh mereka yang ada di bawah kita. Dari sini kita akan merasa sangat bersyukur.

Pada akhir bab buku ini menjadi penutup yang benar-benar keren karena membuka amalan yang ringan namun berfaedah sangat besar. Sekaligus mengingatkan buat kita yang kalau habis salat langsung beranjak. Sebab kata Rasulullah membaca Alhamdulillah, Subhanallah, dan Allahuakbar sebanyak 33 kali memberikan banyak manfaat.

Kata Alhamdulillah, segala puji milik Allah, memiliki ajakan kepada kita untuk bersyukur dalam segala keadaan. Kata Subhanallah, Maha Suci Allah, memiliki ajakan kita sebuah kesadaran Allah itu suci dan manusia adalah tempat salah sehingga perlu sekali bagi kita untuk ringan menjadi orang yang pemaaf. Kata Allahuakbar, Allah Maha Besar, mengingatkan kita untuk tidak membesar-besarkan hal kecil dan tidak membesar-besarkan urusan dunia selain untuk urusan Allah.

Konsep bersyukur yang disampaikan dalam buku ini akan membuat kita menjadi pribadi yang taat, bersabar, pemaaf, dermawan, dan tentu saja jadi orang bahagia. Sebab ujung usaha keras manusia di dunia adalah kebahagiaan dunia sekaligus kebahagiaan akhirat.

[Buku] Teka-Teki Robeknya Baju Pangeran Oskar, Dyah Umi Purnama


Judul: Teka-Teki Robeknya Baju Pangeran Oskar
Penulis: Dyah Umi Purnama
Penerbit: Penerbit Bhuana Sastra
Terbit: 2018
Tebal: i + 81 halaman
Nilai: 3/5

Novel Teka-Teki Robeknya Baju Pangeran Oskar termasuk salah satu novel anak. Ceritanya seperti dongeng. Terutama tentang latarnya yaitu di sebuah desa yang dinaungi kerajaan Glomenia.

Kisahnya, pada suatu hari Pak Jame mendapati baju untuk Pangeran Oskar yang dipesan kerajaan sudah dalam keadaan robek. Pak Jame yang baru saja pulang dari pasar panik dan dugaan pertama mengenai pelakunya tentu saja tertuju kepada anak laki-lakinya, Tommy. Apalagi sebelum baju itu selesai dijahit, Tommy sempat menginginkan untuk mencoba baju tersebut namun dilarang oleh Pak Jame.

Tommy menyanggah dugaan ayahnya dan dugaannya justru menunjuk kepada sahabat perempuannya, sekaligus anak dari tetangganya, Sally. Bukan tanpa alasan, Sally pernah ditolak oleh Pangeran Oskar untuk mencicipi kue dadar gulung buatannya. Dan Sally masih kesal kepada Pangeran Oskar.

Sally jadi marah dituduh demikian dan dia sendiri punya dugaan lain soal pelaku yang merobek baju pangeran yaitu Memo, kucing peliharaannya.
Selain dugaan kepada Tommy, Pak Jame menaruh curiga kepada tetangganya, Pak Ale. Dia adalah penjahit juga. Hanya saja hasil jahitan Pak Ale kurang bagus sehingga pesanan jahitannya sedikit jika dibandingkan pesanan jahitan Pak Jame.

Masalah tambah pelik ketika Pak Jame berniat memperbaiki sobekan pada baju itu, dibutuhkan benang emas yang mesti dibeli seharga 20 keping emas. Ia pun terpaksa menggadaikan rumahnya kepada Pak Goldin hingga pada saat sebelum jatuh tempo, Pak Jame dan Tommy harus meninggalkan rumah, orang-orang Pak Goldin datang mengusir.

Lalu, sebenarnya siapa pelaku yang tega merobek baju pangeran Oskar?

Kisahnya sederhana dan memang begitulah ciri khas cerita-cerita yang ditujukan kepada anak-anak dalam rangka menanamkan nilai-nilai budi luhur. Mbak Dyah selaku penulis sudah berusaha menggabungkan cerita masa lalu dengan masa kini. Terasa sekali dari latar kerajaan yang disandingkan dengan nama karakter yang rasanya sudah modern. Misalkan nama Tommy dan Sally.

Penulis juga berhasil menjaga teka-teki pelaku hingga akhir kisah. Dugaan-dugaan setiap tokoh yang membuat pola menyambung antara satu ke yang lain, membuat bingung menentukan alibi siapa yang benar dan siapa yang sebenarnya bersalah.

Nilai budi luhur yang ingin disampaikan dalam novel Teka-Teki Robeknya Baju Pangeran Oskar adalah hati-hati dalam berprasangka dan berbuat baiklah kepada siapa saja.
Pesan pertama, hati-hati dalam berprasangka, ditunjukkan oleh beberapa karakter yang tidak serta merta terang-terangan mengatakan si anu sebagai biang masalah. Pak Jame bahkan tidak menghakimi anaknya dan tetangganya secara frontal atas dugaannya. Kalau sampai itu terjadi, masalah lebih besar akan menanti. Ini terjadi kepada Tommy yang menuduh Sally. Efeknya persahabatan mereka menjadi renggang.

Pesan kedua, berbuat baiklah kepada siapa saja juga diajarkan oleh Pak Jame. Dia sosok yang berhati mulia dengan tidak membiarkan pihak kerajaan menghukum Pak Goldin yang sudah mencuranginya. Juga memberikan kesempatan kepada Pak Jenggo, orang-orang yang mengusir dari rumahnya sendiri, untuk tetap tinggal sampai mereka menemukan tempat tinggal yang baru. Yang paling mengharukan, Pak Jame mau berbagi rezeki atas pesanan jahitan dari kerajaan dengan Pak Ale, sekaligus dalam rangka mengajarinya menjahit yang bagus.

Keseluruhannya, buku ini sangat layak dibaca oleh anak-anak dalam rangka membangun akhlak baik atau dibacakan oleh orangtua kepada anak-anak dengan tujuan lainnya, menciptakan waktu berharga bersama keluarga.

[Buku] False Beat, Vie Asano


Judul: False Beat
Penulis: Vie Asano
Editor: Kavi Aldrich
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Maret 2018
Tebal: 296 halaman
ISBN: 9786020382265
Harga: Rp72.00
Nilai: 4/5


Novel False Beat ini dilabeli sebagai novel dewasa metropop. Ini peringatan dini jika di dalamnya akan ditemukan konten dewasa. Namun, kalian tenang saja, bukan berupa adegan syur kok, hanya sebatas narasi mesum saja. Kalau buat saya sih termasuk mengecewakan karena tidak vulgar seperti yang sudah saya bayangkan, hahaha.

Kita akan ketemu sama gadis berusia 26 tahun yang karena punya hutang kepada om-nya sewaktu ia berangkat magang ke Jepang, Kanaya Thalitha harus setuju dengan perjanjian yang mengharuskannya menjadi manajer dari grup band Keanu & squad selama tur konser ke belasan kota. Yang membuat berat tugas ini adalah Aya mesti menghadapi sosok Keanu, sang vokalis, yang kalau bertindak sesuka hati dan kalau berbicara seasalnya. Aya tidak bisa mundur dari perjanjian ini dan di hari pertamanya secara tidak sengaja ia menyaksikan tubuh topless Keanu yang aduhai (menurut Aya) sehingga memancing Keanu marah. Jelas Keanu geram, sebelumnya ia tengah tersandung gosip melecehkan mantan manajernya. Jadi di mata Keanu, Aya tercap gadis mesum.

Hubungan Aya dan Keanu sudah seperti Tom dan Jerry, selalu berdebat dan bersitegang. Aya yang berusaha menjadi manajer yang baik kewalahan menghadapi sikap Keanu yang serba semaunya sendiri.

Informasi baru yang didapatkan Aya, ternyata Keanu memiliki saudara kembar bernama Kevin. Mereka berdua ibarat siang dan malam dalam hal profesi. Keanu jadi anak band, sedangkan Kevin jadi pengacara. Tapi jika soal karakter, Aya menyimpulkan mereka berdua sama saja, sama-sama bikin kesal.

Di awal-awal buku, cerita Aya menghadapi si Keanu sangat menarik. Perseteruan mereka benar-benar bikin gemas, soalnya pembaca akan dibawa pada satu bab yang dikira saya mereka akan baikkan dan saling mengerti, eh ternyata malah lanjut berantemnya. Keanu pun bandel banget mengikuti jadwal tur. Dia beberapa kali menyelinap pergi ke Bandung. Kepergian Keanu ke Bandung tidak saya duga akan jadi misteri besar. Saya kira dia ke Bandung hanya untuk urusan pacar dan tabiat nakalnya. Namun ternyata ada kisah besar di sana yang berhubungan dengan si Kevin.

Sampai sini saya bingung untuk menerangkan lebih banyak plot ceritanya sebab takut jadi spoiler. Nanti malah nggak seru pas kalian baca sendiri bukunya.

Novel ini berpusat bagaimana Aya membuka rahasia yang ditutupi si kembar. Dugaan-dugaan kalian akan keliru mengenai si kembar sebab konflik perseteruan si kembar sudah sangat umum dibahas di beberapa novel sebelum ini tapi novel ini menyajikan plot lain yang berbeda. Sangat berbeda sekali. Yang jelas apa yang dilakukan si kembar akibat keadaan yang mengharuskan melakukan keputusan itu, hampir membunuh keduanya baik fisik maupun psikologi.

Latar belakang Aya sendiri sangat sedikit dibahas di novel ini. Terutama bagaimana awal mula ia bisa terlilit hutang pasca kondisi keuangan keluarganya terpuruk. Sehingga yang saya kenali luar dalam bukan tokoh Aya, melainkan Keanu dan Kevin. Sedikit mengganggu juga karakter Aya yang meledak-ledak dan ekspresif di usianya yang 26 tahun, menurut saya terasa berlebihan. Usia segitu umumnya perempuan sudah lebih tenang dan bijak. Beruntungnya profesi yang disematkan kepada Aya bukan yang formal seperti orang kantoran atau tenaga profesional formal lainnya, sehingga saya tutup mata untuk informasi usia tersebut dan saya hanya membayangkan usia Aya sekitar 22 tahunan.

Saya juga merasa perlu menggambarkan bagaimana rasa dari novel ini. Awalnya kita akan diajak mesem-mesem dengan keributan bak Tom dan Jerry, lalu berikutnya akan dikagetkan dengan rahasia si kembar. Pada bagian ini kalian akan merasa tak percaya dengan yang dilakukan si Kevin, terutama alasannya. Lalu, selanjutnya menjadi kelam, ada yang meninggal, ada yang mau bunuh diri, dan lebih banyak yang patah hati. Menjelang ujung cerita, harapan dimunculkan seperti matahari pagi yang terbit setelah semalaman hujan deras seperti tak ada habisnya.

Selain Aya, Keanu, dan Kevin, muncul karakter lainnya yang turut menyemarakkan cerita novel False Beat ini. Randy (basisst), Jonas (gitar), Regan (drummer), dan Adrian (kibor). Mereka adalah personil Keanu & squad. Dari keempatnya, Jonas menjadi tokoh yang punya kekhasan sendiri. Dia kerap melakukan meditasi. Aya sampai bertanya-tanya, bagaimana ceritanya Jonas yang penganut kedamaian hidup berkecimpung di dunia yang dikenal hedonis, hura-hura, dan ramai. Tentu saja alasannya bisa kalian temukan dengan membaca novelnya.

Karakter lain yang sama bersinarnya adalah Key. Perempuan cantik yang mengenal Keanu dan Kevin sejak mereka masuk SMA. Dia pula yang menjadi salah satu sebab Keanu dan Kevin berseteru soal asmara. Key ini katanya cantik banget lho, sampai diperbandingkan dengan Kate Middleton.

Siapa pula itu Kate Middleton?



Setelah membaca tuntas kisahnya, saya simpulkan novel False Beat ini ingin menyampaikan pesan "Sayangilah keluargamu, orang-orang terdekatmu, orang-orang yang kau sayangi, sebelum waktu yang menghalanginya. Saat semua sudah terlambat, semenyesal apa pun dirimu, kesempatan itu nggak akan terulang. Maaf, airmata, penyesalan, cuma tertinggal tanpa mampu memperbaiki kesempatan yang terlanjur sudah hilang." Pesan ini sangat kuat disampaikan penulis, sampai saya harus menahan mata yang kadung berkaca-kaca agar nggak menetes. Pesan yang menohok dan membuat kita merenung tentang arti keluarga dan mereka yang kita sayangi.

Catatan:
Gambar Kate Middleton diunduh dari link berikut: https://www.behance.net/gallery/10256449/Trench-Coat-Inspirations-by-Kate-Middleton-httpwwwl

[Artikel] Mengintip Koleksi Ebook Di Google Play Book

Sudah dua bulan saya langganan paket premium Gramedia Digital. Pertimbangannya karena lebih hemat. Dengan harga 90K, saya puas membaca buku terbitan Gramedia dari yang paling baru sampai yang lawas. Namun, sebulan ini saya berhenti langganan mengingat mood baca saya sedang turun dan langkah baiknya saya meniatkan membaca buku fisik saja. Niat tinggal niat, buku fisik tak ada yang selesai dibaca. Saya masih berdalih karena sibuk sama Ujian Tengah Semester dan ngebut menunaikan tugas kuliah yang belum disetor.

Dari pada meratapi bacaan saya yang belum nambah, saya mau ajak kalian mampir ke akun google play book untuk mengintip ada ebook apa saja yang saya koleksi. 


1. COUPL(OV)E, RHEIN FATHIA
Novel roman lawas yang saya beli pas sedang suka-sukanya sama buku terbitan Bentang Pustaka. Namun, sampai hari ini saya belum membacanya.

2. STALKER, DONNA WIDJAJANTO
3. KOSONG, ADE IGAMA
4. HILANG, DANNIE FAIZAL
5. SALON TUA, CHRISTINA JUZWAR
6. MIMPI PADMA, AYU DIPTA KIRANA
7. DERING KEMATIAN, LAMIA PUTRI DAMAYANTI
8. NYAWA, VINCA CALLISTA
Ketujuh novel yang tergabung dalam series Darklit di bawah naungan penerbit Bentang Pustaka, saya beli saat momen digratiskan. Saya lupa saat itu ada perayaan apa, tapi ketujuh ebook ini bisa diunduh dengan nol rupiah.

9. A GAME OF THRONES, GEORGE R. R. MARTIN
Novel kolosal yang saya beli ebook-nya karena terpengaruh oleh series televisinya yang bagus. Dan menurut beberapa blogger buku, novel yang berseri ini patut dibaca oleh penggemar series televisinya.

10. CANNERY ROW, JOHN STEINBACK
Novel ini saya beli karena nama Eka Kurniawan sebagai penerjemah. Namun, baru beberapa lembar membaca saya harus menghentikan. Ada ketidaknyamanan yang susah dijelaskan dan saya berniat membaca ulang ketika sudah siap.

11. THE MIDNIGHT STAR, MARIE LU
12. UBUR-UBUR LEMBUR, RADITYA DIKA
Kedua buku ini saya beli saat ada diskon gede. Saya lupa diskonnya berapa. Namun, diskon gede itu berlaku hanya untuk pembelian dua buku. Sebab saat saya mau membeli buku ketiga, harganya sudah kembali normal.

13. BIG MAGIC, ELIZABETH GILBERT
Saya suka dengan buku non-fiksi yang membahas kreatifitas. Ditambah, poin kreatifitas pada buku ini berkisar dunia penulisan. Makin mantap saya harus punya dan baca buku ini.

14. STEAL LIKE AN ARTIST, AUSTIN KLEON
15. ANIMAL FARM, GEORGE ORWELL
Kedua buku ini baru banget dibeli karena Mizan Indonesia mengadakan diskon 35% di google play book. Selain saya penasaran dengan buku yang karakternya ada hewan babinya, juga buku Animal Farm ini muncul di bukunya Jakarta Sebelum Pagi - Ziggy Zezsyazeoviemazabrizkie. Sedangkan buku Austin Kleon karena membahas kreatifitas.

16. NOVELET MADRE, DEE LESTARI
Novelet ini saya beli ketika ingin belajar gaya bercerita khas Dee Lestari yang terus terang dan tidak puitis.

Itulah sederetan buku yang saya punya yang ada di akun google play book. Buku-buku tadi beberapa sudah dibaca, dan kebanyakan belum dibacanya, hehehe. Nah, mungkin kalian juga punya ebook di google play book, boleh sharing di kolom komentar. Dan kalau ada buku rekomendasi tentang kreatifitas, kalian boleh kasih tahu saya di kolom komentar juga. Ke depannya mungkin judul buku itu yang akan saya beli.

[Buku] Warm Heart (Ullianne): Jangan Kebanyakan Memendam Rasa


Judul: Warm Heart
Penulis: Ullianne
Penyunting: Tim Editor Fiksi
Penerbit: Grasindo
Terbit: Februari 2018
Tebal buku: 150 halaman
ISBN: 9786024529055
Harga: Rp49.000 (via bukabuku.com)
Nilai: 2/5

Jangan pernah membenci saya jika saya mengulas novel kalian dengan terus terang. Saya pembaca saja, dan saya bisa menilai suka atau tidak suka terhadap bacaan saya, dengan mempertimbangkan beberapa standar pribadi. Dan jangan sekali-sekali membalik kritikan saya dengan ungkapan, "Kalo gitu, silakan tulis sendiri kisah yang bagus menurutmu!!!".

Tidak butuh waktu lama buat saya untuk bisa menuntaskan membaca novel kedua dari Ulianne ini. Novel pertamanya justru saya belum baca. Dan begitu selesai baca, saya tahu saya akan menuliskan banyak hal yang tak bagus tentang novel ini.

Saya tahu ini novel percintaan dan saya mengakui kalau kadar romannya sangat kental. Berkisah tentang gadis bernama Clara yang pulang ke Indonesia setelah menetap selama lima tahun di Singapura, dalam rangka menjauh dari laki-laki yang sudah menorehkan luka. Laki-laki itu bernama Andre, dia adalah sahabat dekatnya Clara. Ada satu kejadian penting yang terjadi antara Clara dan Andre hingga keduanya menjauh dengan memendam amarah dan tekad untuk saling melupakan. Lima tahun yang berlalu ternyata tidak membuat amarah dan tekad itu terlaksana. Keduanya justru dirundung pilu atas usaha-usaha melupakan yang justru makin memperbesar rasa rindu. Pertemuan itu kembali terjadi dan keduanya mati-matian menghindar tapi proyek kerjaan membuat mereka harus terus bersinggungan.

Konflik percintaan yang dibahas penulis terlalu diperpanjang. Lagi-lagi-lagi-lagi penulis membahas masa lalu di lima tahun kemarin, tanpa menerangkan apa yang terjadi. Saya menunggu dan penasaran dengan kejadian tersebut, dan ketika hampir mencapai akhir buku, saya harus mengelus dada. Tidak ada perpisahan yang diakibatkan oleh peristiwa besar. Jadi, mereka saling benci dan menahan amarah hanya karena takut melangkah ke babak lain dan mereka tidak berani terus terang? Sedangkan seakan-akan masalahnya lebih besar daripada itu jika dilihat bagaimana penulis mau membuka twist-nya di akhir. Saya super kecewa.

Noktah hitam muncul dari segi typo. Banyak saya temukan kata-kata yang kurang hurup atau salah hurup. Bikin gemas saja. Bukan apa-apa, Grasindo itu penerbit besar yang sudah tentu punya tim hebat dan jeli untuk sekadar memeriksa aksara. Saya malah berkesimpulan, mengejar targetkah hingga masalah typo saja bisa kelolosan. Jangan bilang, "Kan kami juga manusia biasa." Ergggggh.

Lalu, apa sih pelajaran yang bisa dipetik dari novel Warm Heart ini? Terus terang sajalah. Yap, jangan suka memendam apa yang pengen diutarakan. Jangan kebanyakan mikir nanti bagaimana. Sebab, kalau sudah terlanjur makin rumit masalahnya, kita harus memulai dari nol dan beradaptasi dengan perubahan yang terlanjur sudah dimulai. Clara dan Andre memang terlalu membiarkan masalah berkembang makin besar tanpa tahu dengan jelas masalah sebenarnya. Mereka berdua hanya mengandalkan kesimpulan pribadi saja. Dan lihat hasilnya, mereka dibelenggu masalah yang bias dan ketika takdir mendorong mereka untuk menuntaskan masalah itu, mereka harus ekstra berupaya menolerir keadaan yang sudah kaku. Betapa tidak menyenangkannya berada di kondisi demikian.

Yang jelas, novel ini juga terlalu terburu-buru. Saya bahkan sulit menentukan apa yang berkesan dari novel ini, bukan karena banyak pilihan, melainkan karena saya tidak menemukan dimana. Biar demikian, saya apresiasi karena penulis sukses menyelesaikan kedua novel hingga dipinang penerbit. Semoga sedikit ulasan ini bisa memberikan pelajaran agar di karya selanjutnya menjadi lebih baik.

[Buku] Hai, Conchita (Marthino Andries): Yakin Mau Jadi Artis?


Judul: Hai, Conchita!
Penulis: Marthino Andries
Penyunting: Shara Yosevina
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Terbit: Februari 2018
Tebal buku: 120 halaman
ISBN: 9786024553869
Harga: Rp38.000

Novel Hai, Conchita! jadi pengalaman kedua saya membaca karya Marthino. Sebelumnya, saya sudah membaca novelnya yang bertajuk A Love Song From Bunaken. Menurut saya, kedua novel ini punya kesamaan dari cara penulis bercerita. Fresh, muda, dan penuh komedi. Kesan ini muncul lantaran tokoh yang dipakai penulis adalah murid SMA, sehingga penulis menceritakan dengan diksi-diksi kekinian dan lincah seperti aura remaja itu sendiri.


Kali ini kita akan berkenalan dengan sosok Conchita Velasquez, atau biasa dipanggil Chita, murid SMA yang tomboi dan agresif. Awal cerita saja, kita akan disuguhkan aksi Chita membajak mobil Kopaja. Sebuah adegan yang tidak biasa tapi menarik sekali, sekaligus menegaskan karakter Chita yang tomboi, berani, dan aktif. Di adegan awal ini, kita pun akan berkenalan dengan tokoh cowok bernama Ivan Fernandez, seorang aktor sinetron muda, yang akan kita temui sepanjang babak berikutnya. Chita dan Ivan dihubungkan untuk menawarkan suasana roman, tapi saya kasih bocoran dulu, menariknya novel ini bukan pada kisah cinta-cintaannya.

Konflik pertama, perjalanan Chita menjadi aktris sinetron. Bagian ini Marthino mengingatkan pentingnya orang tua untuk membatasi anak dengan kesibukan barunya jadi aktris karena si anak masih bergelar murid sekolah. Orang tua Chita tidak melarang anaknya jadi selebriti tapi kekhawatiran sebagai orang tua, mereka membatasi Chita dengan memberi kelonggaran Chita membintangi sinetron sebanyak enam episode. Solusi menarik, karena di sini orang tua Chita tidak digambarkan sebagai sosok yang kejam, marah, dan diktator, melainkan berada di pihak yang mampu menengahi kemauan anak dan orang tua. Konflik kedua, kisah percintaan Chita dengan Ivan. Saya ragu menyebutnya sebagai konflik sebab porsi roman mereka sangat sedikit. Berkutat pada bagaimana Chita menebak perhatian Ivan, tapi dia susah membedakan apakah Ivan serius atau tidak. Apalagi ketika dia mengetahui jika Ivan ini bersikap manis juga dengan gadis lain. Karena pembawaan Chita yang tomboi, kebingungan Chita tidak menyeretnya pada perasaan galau khas kids zaman now.

Selain kedua konflik tadi, kalian harus tahu jika novel ini membuka cara pandang manusiawi dalam memperlakukan asisten rumah tangga. Diwakilkan tokoh Bi Ijah, keluarga Chita menilai jika peran asisten rumah tangga bukan sekadar melakukan pekerjaan rumah. Melainkan sebagai teman dan sebagai keluarga. Peran mereka memberikan kontribusi besar dan sebutan ‘pembantu’ rasanya kurang layak disematkan mengingat jasa besar mereka, walau maknanya sama. Menghormati mereka bisa dimulai dengan memberikan sebutan yang hormat dan terpuji. Dan prinsip ini bisa juga diaplikasikan dalam berbagai dinamika kehidupan.

Novel ini juga menyinggung mengenai cara penggunaan gawai. Fakta jika gawai menjadi barang yang sama pentingnya dengan makan dan minum, Marthino mengingatkan batasan yang seharusnya dipakai oleh pengguna. Jika gawai saja sudah smart, sudah semestinya penggunanya juga smart. Yang dianggap penting menurut novel ini adalah bagaimana kita menjadi pengguna gawai yang arif dan bijaksana. “Banyak manfaat penggunaan ponsel selama dia mampu menggunakannya secara arif dan bijaksana” (hal.13). Konsep penulisan juga ternyata berubah ketika peran gawai disisipkan dalam cerita. Bukan bentuk narasi yang memiliki banyak kalimat, melainkan bentuk unik cerita lainnya.


Pujian rasanya pas ditujukan kepada penulis untuk komedi yang digarapnya sehingga novel ini punya rasa renyah dan tentu saja berkat komedi tersebut saya bisa tersenyum membayangkan kekonyolan-kekonyolan yang ‘kok bisa begitu ya?’. Selain Chita, tokoh Bi Ijah juga menggelitik. Kepolosan khas perempuan dewasa yang sepertinya hanya lulusan SD, menambah semarak kisahnya dengan celetukkan dan gelagat yang mengejutkan. Berbeda dengan komedinya, saya tidak suka dengan kovernya yang warna backround-nya putih, plus warna tulisan judulnya yang merah-muda-sangat-pucat sehingga susah dilihatnya. Hanya saya tidak tahu yang resmi yang mana soalnya kover putih ini yang versi di Gramedia Digital, sedangkan versi Goodreads warnanya merah (atau pink?).

Terus, saya kira novel ini terlalu nge-gas untuk berakhir padahal bisa diulik lebih banyak. Rasanya kurang puas saja menikmati novel yang hanya punya halaman kurang dari dua ratus ini. Jadi, saya pun memberikan nilai 3/5 untuk pasangan Chita dan Ivan, juga saya doakan semoga Bi Ijah dan Bang Tarjo langgeng pernikahannya.

Gambar diunduh dari:
https://kabarpenumpang.com/rute-jauh-ongkos-murah-inilah-si-hijau-putih-kopaja/

[Buku] A Love Song From Bunaken (Marthino Andries): Kisah Remaja yang Fresh


 Judul: A Love Song From Bunaken
Penulis: Marthino Andries
Penyunting: Shara Yosevina
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Cetakan: Maret 2018
Tebal buku: 180 halaman
ISBN: 9786024553753
Harga: Rp 48.000 (via bukabuku.com)

Pertama yang kalian perlu tahu sebelum membaca novel ini adalah label di belakangnya: novel ini dilabeli untuk usia tiga belas tahun ke atas (U13+) dan ber-genre romance comedy. Pentingnya mengetahui fakta ini agar kalian punya harapan yang terukur saat mulai membacanya. Tentu saja label tadi menunjukkan karakter novel ini secara keseluruhan. Label umur misalnya, kalian akan bertemu tokoh utama yang usianya belia. Di sini kita akan berkenalan dengan cowok dan cewek kelas dua SMA bernama Adrianus Dion dan Dessy Murni. Mereka sekelas tapi tidak akrab. Pasalnya, Adri yang berasal dari Pulau Bunaken yang kemudian merantau ke Jakarta demi bisa sekolah di tempat yang bagus, terlanjur dicap bopung alias bocah kampung. Kerap juga dia dipanggil Tarzan ketika diolok-olok oleh Arjun, pacarnya Dessy. Sehingga butuh waktu lama buat Adri menyesuaikan diri walau hasil akhirnya tidak seperti kisah upik abu, yang mendadak dilimpahi keberuntungan besar. Label umur pun mempengaruhi konflik yang disajikan penulis. Dan karena lebih banyak mengambil latar di sekolah, novel ini pun punya konflik seputar kehidupan murid. Sebut saja, adaptasi murid baru, kompetisi cinta monyet, dan yang paling banyak dibahas tentu saja kasus perundungan baik secara verbal maupun tindakan.

Berbicara tentang konflik perundungan, penulis seolah ingin menyampaikan cara menghadapi dan bertahan dari tindakan perundungan tanpa bantuan pihak luar. Adri mencontohkan dengan berprinsip kenakalan tidak boleh dibalas kenakalan. Melainkan dia tunjukkan dengan kebaikan-kebaikan yang sudah menjadi nilai hidupnya yang dia bawa dari didikan ibunya sewaktu di Pulau Bunaken. Apakah boleh melawan jika dirasa perundungannya keterlaluan? Penulis membolehkan melakukannya tapi dengan syarat kontrol kesadaran dan emosi sehingga perlawanan itu tepat sasaran dan tidak menimbulkan efek buruk lainnya.

Novel ini juga menyentuh banyak dinamika masalah yang ada di seputar remaja. Tentang pencarian jadi diri remaja yang kerap mengabaikan keluarga karena memilih lebih eksis dengan teman sekolah, tentang persaingan sesama teman sekolah yang imbasnya melakukan cara apa pun tanpa mengindahkan caranya salah atau benar, tentang penggunaan narkoba di kalangan remaja, dan yang membuat saya kaget, novel ini juga membahas sisi gelap pergaulan bebas remaja yang sampai ke ranah seksualitas.

Label Romance Comedy pun tepat disematkan di novel ini sebab kita bakal diajak ketawa mengikuti kisah Adri dan Dessy yang menghibur. Perbedaan karakter antara Adri yang kampungan dan Dessy yang anak kota, dengan sangat baik diolah penulis menjadi humor lewat sindiran atas kesenjangan ekonomi, miskomunikasi atas penggunaan bahasa daerah, dan tentu saja adu gengsi untuk mengaku saling suka. Untuk humornya, penulis konsisten menjaga tone-nya sampai babak akhir dan cara ini tentu saja berhasil menciptakan rasa bahagia terhibur sepanjang proses membacanya. Dan jangan khawatir, humor yang dihadirkan tidak mengaburkan format novel menjadi buku humor yang beredar di pasaran, melainkan masih pakai pakem format novel dalam bercerita.

Cerita romannya pun terasa manis dan pas kadarnya. Saya menyimpulkan demikian karena melihat betapa kompleks muatan novel ini sehingga setiap unsurnya mendapatkan porsi masing-masing. Juga bukan tipe kisah roman yang kental dengan drama, melainkan roman segar khas anak SMA.Sehingga tarik-ulur perasaan yang dipendam oleh Adri dan Dessy semakin membuat saya gemas, sekaligus berharap penulis tidak menggiring ke drama yang super romantis. Dan harapan saya terkabul, sampai akhir cerita, Adri dan Dessy masih lucu.

Saya pun merasa harus mengatakan ketidaksukaan saya pada perkembangan karakter Adhi dan Dessy ketika usia mereka di angka dua puluh lima tahun. Perseteruan mereka di masa lalu yang belum selesai, masih membuntuti saat mereka bertemu kembali di pulau Bunaken. Dan cara keduanya tidak menyukai pertemuan itu ditampilkan dengan dialog dan tingkah yang sama persis seperti perseteruan mereka sewaktu SMA. Kekonyolan itu seharusnya berubah drastis menjadi reaksi yang dewasa dan elegan. Pengaruhnya adalah saya tidak bisa membayangkan tokoh Adri dan Dessy dalam sosok dewasanya, atau katakan saja imajinasi saya terjebak di sosok remaja mereka.



Selain perkembangan karakter yang disayangkan, saya pun merasa jika latar Pulau Bunaken dan unsur tradisional yang dimiliki tidak digali dengan aduhai. Semua dinyatakan dalam narasi berupa informasi semata. Misal, fakta Pulau Bunaken dan suasananya, juga macam-macam menu khas Bunaken. Padahal secara foto yang saya intip di google, lingkungan Pulau Bunaken begitu indah.Setidaknya, menurut saya, keberhasilan membawa latar ke cerita, bisa diukur dari tergugah atau tidaknya pembaca untuk pergi ke lokasi.

Saya juga mengapresiasi kover novelnya yang kece. Perpaduan warna yang beragam (warna-warni) dalam ilustrasi gabungan simbol-simbol penting dalam kisahnya, tidak membuat mata jadi pusing. Simbol-simbol yang saya maksud adalah pantai, karang laut, senar gitar, pohon kelapa, dan dua sosok laki-laki dan perempuan yang mewakili Adri dan Dessy. Jadi, akhirnya saya memberikan nilai 4/5 untuk humor segar antara Adri dan Dessy.

Gambar diunduh dari:
http://www.gocelebes.com/taman-laut-nasional-bunaken/