[Wishlist] Belahan Jiwa - Tasaro GK

Ada buku baru dari penulis favorit saya, Tasaro GK, yang judulnya Belahan Jiwa yang diterbitkan Penerbit Qanita. Kovernya mencolok banget karena dominan warna merah. 



Menemukan belahan jiwa adalah kerinduan yang menggayuti setiap jiwa. Kita mendamba agar keberadaannya melengkapi kekosongan dalam diri. Kita menghabiskan pencarian panjang dengan berbagai ujian agar bisa bertemu sang kekasih hati, seseorang yang dalam bayangan akan menjadi belahan jiwa sempurna. Namun, kala kita sudah temukan sosoknya, apakah pencarian ini akan terhenti dalam gemerlap pesta pernikahan?

Pernikahan bagai sebuah lorong panjang untuk menguji seberapa tangguh pasangan kekasih meneguhkan cinta. Kala terjangan masalah mengguncang: kecewa, bosan, kurangnya perhatian, dan keraguan, akankah kita rela mengorbankan segalanya demi belahan jiwa? Hanya waktu yang mampu menyingkap seberapa kuat sebuah cinta hingga kita dengan yakin mengatakan dialah sang Belahan Jiwa.

Secangkir Teh Tawar

Engkau dan aku baru saja memulai sebuah obrolan panjang begitu kita membuka halaman pertama buku ini. Seperti meletakkan secangkir teh tawar di pinggir meja, dan menikmati pagi santai tanpa berpikiran lima atau sepuluh menit lagi kita harus mengerjakan macam-macam hal.

Aku akan melupakan komputer, IG story, kemacetan jalan, dan kolega yang menyebalkan. Engkau tinggalkan sejenak drama Korea-mu, buku masakanmu, apa pun yang menjadi rutinitasmu.

Hal paling penting, aku berharap engkau semakin rileks ketika tahu, aku akan mendengarkan setiap teorimu tanpa mendebat ini dan itu. Engkau tahu, itu tak pernah mudah bagiku. Lima belas tahun ini, engkau lebih banyak mendengarkan. Kali ini, aku akan berusaha menikmati ketika menjadi seorang pendengar.

Aku berjanji kepadamu untuk tidak menyela, tetapi engkau harus terus-menerus mengingatkanku akan janjiku itu. Aku pelupa, engkau tahu? Persisnya, aku memang banyak bicara. Lima belas tahun memang bukan waktu yang terlalu lama, tetapi sama sekali bukan rentang waktu yang sebentar. Kita hampir tidak pernah betul-betul duduk berhadapan dan berusaha memecahkan persoalan.

Semua mengalir begitu saja. Itu terjadi karena engkau memang lebih banyak mengalah. Sedangkan, aku akan menemukan kesalahanku sendiri dan berusaha memperbaikinya atau setidaknya engkau memang sangat ahli mengingatkanku dengan cara yang aku inginkan.

Setiap pertanyaan kemudian bertemu dengan jawaban.

Itu tidak ideal. Namun, itu yang mempertahankan rumah tangga kita hampir tanpa guncangan, bukan?

Kita bahkan perlu mulut orang lain untuk menemukan kebenaran yang sudah kita ketahui. Kita tahu, setiap pemberi solusi, mampu memberikan tips-tips yang baik ketika berada di luar sebuah masalah. Seseorang yang canggih memberi solusi problem pernikahan tidak bisa kita ukur seberapa harmonis rumah tangganya sendiri.

Kita kadang hanya cukup tahu, dia tak pernah mengecewakan ketika memberi masukan-masukan tentang pernikahan. Setidaknya, terkesan begitu bagi seseorang yang membutuhkan teman bicara saat dia merasa biduk rumah tangganya terasa tak lagi bertenaga. Sedikit membosankan.

Kita mungkin akan mencari seorang penceramah agama, motivator, atau konsultan pernikahan demi mendapat nasihat, masukan-masukan praktis, dan sedikit menertawakan diri sendiri, barangkali. Problem rumah tangga tentu saja sangat beragam. Ketika hal itu terus-menerus memberondong, lalu kita tak sanggup lagi berpikir bagaimana menyelesaikannya, segalanya terasa melelahkan.

Namun, tahukah engkau, bahwa segala jenis nasihat itu pada akhirnya akan mengembalikan jalan keluar persoalan kepada kita sendiri. Mereka hanya membantu kita untuk membuka diri, jujur kepada diri sendiri. Mengoreksi kekurangan, lalu berusaha memperbaikinya.

Aku ingin tahu, apakah ada yang aku lewatkan selama belasan tahun ini? Rutinitas bertahun-tahun ini, barangkali memunculkan keajegan yang mengurangi sebagian besar keasyikan kita dalam menikmati kehidupan rumah tangga.

***

Yang membuat saya memfavoritkan Bang Tasaro ini, karena ide tulisannya menarik dan dieksekusi dengan tulisan yang mendalam. Sejauh ini buku beliau yang sudah saya baca ada dua judul: Sewindu dan Kinanthi. Keduanya meninggalkan kesan sangat baik, terutama pada bagaimana penulis menyampaikan kisahnya. Sehingga sampai saat ini saya sedang proses mengumpulkan karyanya yang segera bakal saya baca.

Karya Bang Tasaro yang sudah saya punya adalah Muhammad #1; Lelaki Penggenggam Hujan, Muhammad #2; Para Pengeja Hujan, Al-Masih; Putra Sang Perawan, dan Patah Hati di Tanah Suci.

Kenapa belum dibaca bukunya?

Sebab buku beliau itu tebal-tebal. Sampai dengan akhir tahun kemarin saya diserang reading slump, sehingga kesusahan menyelesaikan bacaan yang jumlah halamannya banyak. Dan sekarang ini saya sedang membiasakan lagi membaca, tentu saja dengan pilihan bacaan yang kategori ringan. Jika sudah panas mesinnya, bakal saya gas-keun membabat koleksi buku yang sudah bertengger manis minta diulas.

Nah, itu dia wishlist saya untuk minggu ini. Semoga saja saya bisa segera berkesempatan untuk punya dan membaca bukunya. Terakhir, jaga kesehatan dan terus membaca buku.



[Resensi] Reclaim Your Heart - Yasmin Mogahed


Judul: Reclaim Your Heart

Penulis: Yasmin Mogahed

Penerjemah: Nadya Andwiani

Penerbit: Penerbit Zaman

Terbit: 2014, cetakan pertama

Tebal: 297 hlm.

ISBN: 9786021687383

Saya sudah lama menginginkan punya buku ini sebab saya menaruh ekspektasi isi bukunya akan membawa perubahan, baik di hati atau di mindset saya. Tetapi semesta menunda sekian lama sampai akhirnya baru-baru ini saya membeli ebook-nya di google play book.

Butuh dua hari untuk menyelesaikan bacaan ini. Dan benar saja, ada banyak hikmah yang saya petik dari isi bukunya. Baik tentang ibadah, atau pun tentang cara pandang melihat kehidupan sehari-hari.

Ada tujuh pengelompokan pembahasan di buku ini: keterikatan, cinta, penderitaan, hubungan dengan sang pencipta, status perempuan, umat, dan puisi. Semua pembahasan berdasar pondasi nilai islam sehingga akan ditemukan banyak terjemahan ayat Al-Quran yang relevan. Cara penulis menyampaikan pembahasannya pun tidak terkesan mendesak, memaksa, atau menggurui. Bagi saya justru terkesan seperti mengingatkan.

Pada pembahasan 'keterikatan' penulis mengajak kita untuk melepaskan ketergantungan kita terhadap dunia; harta, manusia, dan bentuk duniawi lainnya. Sebab dunia ini hanya sarana, dan jika bergantung padanya, maka siap-siap saja kita akan mendapatkan kecewa. Dunia ini titipan, dan kapan waktu pasti akan diambil lagi. Jika kita terikat dengan dunia, kehilangan sarana akan membuat kita terpuruk dan sedih. Sedangkan Allah tidak ingin hambanya mengalami hal itu. Makanya penulis mengingatkan kembali kepada kita untuk, "Letakan dunia di tangan, dan letakan Tuhan di hati." Jangan terbalik!

Lalu, penulis juga membahas mengenai hubungan suami istri yang ideal. Ada prinsip yang mesti dipegang oleh pasangan, "Suami ingin dihormati, istri ingin disayangi." Dalam mengaplikasikannya tidak ada kata menuntut harus siapa yang lebih dulu. Sebab prinsip ini seperti lingkaran, harus dilakukan secara berbarengan.

Penulis juga membahas tentang keburukan feminisme. Allah menciptakan manusia dengan kekhasan antara laki-laki dan perempuan. Dan tidak ada konsep perempuan harus mengejar standar laki-laki, sebab ketentuan ini sudah ditegaskan Allah, ada pembeda antara perempuan dan laki-laki.

Reclaim Your Heart mengajak kita untuk kembali ke Allah, seperti kembalinya kita ke titik nol. Kita diajak untuk mengosongkan bejana. Jika sudah kosong, silakan isi dengan tahta Allah, bukan dunia. Maka segala urusan akan terasa lebih mudah karena kita akan sadar segalanya ada campur tangan Allah di baliknya.

Saya yakin buku ini akan saya baca lagi, sebab pada proses bacaan pertama ini masih banyak yang belum terserap dengan murni. Tetapi saya mengakui jika buku ini membawa pengaruh yang baik. 

Sekian ulasan saya, terakhir, jaga kesehatan dan terus membaca buku.



[Resensi] Happily Ever After - Winna Efendi

 



Judul: Happily Ever After

Penulis: Winna Efendi

Editor: Jia Effendi

Penerbit: GagasMedia

Terbit: 2016, cetakan kelima

Tebal: x + 358 hlm.

ISBN: 9787807702

Novel ini menceritakan tentang kehidupan Lulu yang didera masalah keluarga dan persahabatan di usia SMA-nya. Kehidupan bahagia Lulu berubah ketika sahabat dekatnya, Karin, menjadi pacar Ezra, yang pada saat itu berstatus pacar. Otomatis hubungan Lulu dan Ezra berakhir. Sejak itu Lulu kehilangan sahabat dan pacar. Selain itu Lulu dibuat kaget sekaligus sedih ketika ayahnya didiagnosa mengidap kanker stadium akhir. Hari-harinya yang diisi dengan dongeng-dongeng, seketika berubah menjadi kesedihan, ketakutan, kekesalan, bahkan kebingungan. Dan Lulu mulai mengerti jika dalam kehidupan ada kalanya menemukan akhir yang tidak bahagia.

Secara garis besar novel ini menggali perasaan anak yang menghadapi orang tua yang mengidap penyakit serius, yaitu kanker. Penulis berhasil menggambarkan perubahan keseharian keluarga Lulu yang awalnya begitu harmonis, penuh canda tawa dan petualangan, secara tiba-tiba dilingkupi ketakutan kehilangan dan kesedihan yang luar biasa. Dan menariknya penyakit kanker yang dibahas di novel ini bukan sekadar tempelan semata untuk membuat kisahnya tragis. Penulis justru mengenalkan kanker ini lebih banyak, termasuk pendiagnosaan, proses pengobatan, dan bahkan efek-efek yang dialami oleh pengidapnya.

Penyakit kanker sebenarnya salah satu penyakit serius yang kerap dipakai penulis di beberapa cerita roman, tetapi keunggulan novel ini justru memperlihatkan bagaimana perubahan dalam keluarga jika ada salah satu anggota yang mengidap penyakit ini. Sehingga pembaca dibuat hanyut oleh perubahan situasi di dalam keluarga yang mau tidak mau harus menyesuaikan dengan prioritas yang berubah. Misalnya Lulu harus menemani ayahnya berkunjung ke rumah sakit sementara ibunya mengganti posisi ayah mengurus usaha. Kolaborasi yang harus dijalankan mereka karena bisa dikatakan salah satu kaki dalam keluarga sedang rusak, sementara keluarga harus tetap prima.

Membaca tuntas novel ini membuat saya ingat dengan novel Winna Efendi lainnya yang pernah saya baca, Refrain. Pada kedua novel ini terlihat jika penulis mempunyai gaya bercerita yang detail dan romantis. Namun kalau harus jujur, saya sedikit terganggu dengan gaya bercerita yang terlalu detail karena di novel ini disebut banyak hal, banyak keadaan, banyak penekanan yang terkesan diulang-ulang. Misalnya penggambaran kedekatan Lulu dan Karin yang disebut di banyak halaman, padahal pembaca sudah sangat paham kedekatan persahabatan mereka sebelum akhirnya berseteru. Atau ketika penulis mengulang-ulang kedekatan Lulu dan ayahnya terhadap kebiasaan membaca buku cerita atau dongeng. Yang akhirnya membuat saya harus men-skip beberapa paragraf yang sudah diindikasi merupakan pengulangan.

Ada yang membuat saya kurang greget ketika membaca novel ini yaitu ketika saya sudah mengikuti perjalanan Lulu menemani ayahnya berjuang melawan penyakitnya yang terasa melelahkan, harus ditutup dengan kepergian yang tidak dramatis sama sekali. Proses Lulu menghadapi kepergian ayahnya tidak menimbulkan simpati saya sebab pada bagian ini terasa dibuat sangat singkat. Cerita secara terburu-buru bergulir pindah pada urusan Lulu dan Elliot. Wait! Siapa Eli?

Menurut saya inti cerita novel ini adalah bagaimana menghadapi kehilangan orang yang kita sayangi, terlebih adalah orang tua. Namun proses move on-nya dieksekusi penulis dengan mudah saja. Padahal saya membayangkan kesedihannya sama dengan ketika menonton video klip dari lagu Bidadari Surga yang dibawakan Siti Nurhaliza. Persamaannya adalah sama-sama ditinggal pergi seorang ayah.

Kalau ngomongin tokoh-tokoh di novel ini, saya tidak bisa memilih mana yang jadi favorit. Baik Lulu atau pun Eli, keduanya tidak meninggalkan kesan. Tidak juga dengan Karin atau Ezra. Alasannya, tidak ada ada tokoh yang menginspirasi, mungkin karena karakter yang dipakaikan ke tokoh-tokohnya terlalu biasa. Lulu: gadis SMA yang tidak populer dan sampai cerita berakhir tetap tidak berkembang, melankolis dan introvert. Elliot: Penyuka fotografi. Bahkan saya tidak tahu seramah dan semenarik apa Eli yang membuat dia tampak akrab dengan banyak orang di rumah sakit. Karin: tokoh protagonis yang dibentuk oleh keadaan. Ezra: mantan pacar Lulu yang punya style musisi tapi tidak cukup banyak penggambaran sosoknya bergelut di musik.

Kalau membaca ulasan tokoh di atas, saya tampaknya tidak puas dengan karakter yang dipakaikan penulis untuk tokohnya. Saya selalu mengukur 'tokoh yang menarik itu yang membuka mindset baru' daripada jalan pikiran orang pada umumnya. Jadi, di atas itu merupakan penilaian personal saya, jika berbeda, itu hal biasa.

Lalu, hikmah yang bisa diambil dari cerita Happily Ever After ini adalah untuk menghargai waktu dan kesempatan. Selagi sehat, pergunakan sehatnya untuk hal-hal baik dan menyenangkan. Sebab waktu yang sudah berlalu, nggak bisa diminta balik.

Terakhir dari ulasan saya, jaga kesehatan dan terus membaca buku!



[Resensi] Matinya Burung-Burung - Ronny Agustinus


Judul:
Matinya Burung-Burung

Penerjemah: Ronny Agustinus

Penyunting: Dea Anugrah

Penerbit: Moka Media

Terbit: April 2015, cetakan pertama

Tebal: 168 hlm.

ISBN: 9789797959838

Ini adalah buku yang memuat kumpulan cerita sangat pendek. Untuk penjelasan 'sangat pendek' ini dipaparkan langsung oleh penyusun pada pendahuluannya. Lalu, cerita yang terangkum di buku ini merupakan karya penulis dari berbagai negara: Bolivia, Uruguay, Kuba, Cile, Argentina, Guatemala, Nikaragua, Meksiko, Kolombia, El Salvador, Venezuela, Brasil, Panama, Republik Dominika, Kosta Rika,  dan Honduras. Karena latar belakang berbagai negara, maka tema dalam cerita sangat pendek di buku ini pun beragam.

Karena mempunyai label 'cerita sangat pendek', tentu saja ini benar adanya. Misal di cerita berjudul Dinosaurus, hanya terdiri dari satu kalimat saja. Ketika ia terbangun, dinosaurus itu masih ada di sana. Dalam judul Fabel pun punya format sama, Dan tikus-tikus pun bersekutu memakaikan ular derik sebagai kelonengan kucing. Jika demikian adanya, saya pun tidak menaruh harapan mendapatkan cerita yang komplit mempunyai unsur tokoh, alur cerita, latar belakang, dan bahkan pesan moral dalam satu paket. Sepanjang membaca buku ini, saya menganggapnya sebagai latihan mengembalikan minat membaca buku sampai tuntas.

Lalu bagaimana dengan cerita-cerita di dalamnya?

Berbeda dari cerita pendek pada umumnya, sebagian besar cerita di buku ini terkesan hanya memaparkan satu kondisi, satu opini, bahkan satu kilasan ide yang melintas di kepala. Sehingga pengalaman membaca buku ini, ya sebatas membaca. Tapi di beberapa cerita, tentu saja ada yang memberi kesan. Misalnya di cerita pertama, Simulakra, yang menceritakan si anak yang menipu ibunya dari mulai sekolah sampai dia bekerja, semua dibuat tipuan, memberi pesan, "satu kebohongan itu akan mengundang kebohong lainnya."

Jujur saja, semua cerita di buku ini tidak ada yang terhubung dengan saya. Alasannya karena latar belakang cerita dari negara asing yang sudah pasti berbeda keadaan dengan keadaan saya sebenarnya. Beda negara, beda rasa, beda sepengalaman. Bisa dibilang ada jarak antara saya dengan cerita di buku ini. Saya bisa menilai begini karena saat membaca kumcer dari penulis lokal, misal karya Puthut Ea atau karya Linda Christanty, ada keterikatan, ada persamaan, bahkan ada satu momen saya bisa bilang, "Ini cerita saya banget." Dan pengalaman ini tidak saya dapatkan saat membaca buku ini.

Bukan berarti buku ini jelek. Buku ini bagus untuk banyak orang yang memang bisa terhubung. Dan buku ini juga bagus untuk saya karena membuat saya bisa membaca buku sampai tuntas, setelah sekian lama saya mendeg membaca buku sampai halaman belakang. Jadi, pada akhirnya semua buku itu bagus, tergantung dibaca siapa, dan pengalaman apa yang diperolehnya.

Terakhir, saya tidak akan bosan menutup ulasan pendek saya dengan, jaga kesehatan dan terus membaca buku.

***



[Resensi] My Other Half - Cyndi Dianing Ratri


Judul:
My Other Half

Penulis: Cyndi Dianing Ratri

Editor: Tesara Rafiantika

Penerbit: GagasMedia

Terbit: 2016, cetakan pertama

Tebal: viii + 168 hlm.

ISBN: 9787808599

Novel ini menceritakan kesedihan Adinda yang secara mendadak mendapatkan kabar kalau saudara kembarnya, Aninda, meninggal karena penyakit kanker. Kemarahannya melebar menyinggung banyak kesedihan di masa lalu, dimana kehidupannya berubah total sejak keputusan orang tuanya untuk bercerai. Sejak perceraian itu, Adinda diasuh ayahnya, sedangkan Aninda diasuh ibunya. Mereka yang saudara kembar dipisahkan, dan berakhir pada titik perpisahan yang tidak akan ada kesempatan lain untuk bertemu kembali.

Secara keseluruhan, cerita novel ini dapat diikuti dengan lancar. Di beberapa bagian, penulis bisa membuat saya hanyut dalam kisah sedih yang dialami dan dirasakan Adinda. Apalagi jika sudah menyangkut perpisahan yang rasanya bagi siapa pun tidak adil untuk diterima, apalagi untuk dipahami. Mungkin juga karena tema besar novel ini adalah keluarga, sehingga bagi saya sendiri sangat mudah menerima kisah si kembar yang harus dipisah kematian.

Novel ini juga punya suasana suram. Sejak awal pembaca diajak untuk menyelami perasaan Adinda yang tidak sempat mengucapkan perpisahan kepada saudara kembarnya. Dan sampai akhir cerita, aura suram itu tetap melekat. Penulis yang mencoba menghadirkan keceriaan di ujung kisahnya, tetap tidak berhasil mengusir rasa sedih yang dari awal sudah dibangun. 

Apakah kemudian kisah di novel ini menjemukan?

Menurut saya tidak, sebab fondasi dari novel ini berangkat dari rasa sedih itu. Penulis seperti sedang menggali perasaan manusia pada umumnya ketika dihadapkan pada perpisahan. Bagaimana kita bisa menerima kenyataan atas kepergian seseorang yang kita sayangi. Bagaimana kita bisa menerima jika di balik perpisahan ada hikmah yang bisa diambil. Bagaimana kita bisa kembali melanjutkan hidup pasca terpuruk dipaksa perpisahan. Novel ini memang menekankan tentang move on dari kesedihan.

Rajutan kisah si kembar ini dikemas dengan plot campuran, maju dan mundur. Plot maju lebih mengeksplorasi Adinda menerima kenyataan, sedangkan plot mundurnya berfokus pada penjelasan kejadian masa lalu yang membuat Adinda sebegitu sedihnya. Yang menarik lagi, flashback di novel ini diceritakan melalui bagian tulisan diary yang ditulis Aninda, dibaca Adinda. Sehingga pembaca bisa paham perasaan yang dirasakan baik Anin atau Dinda.

Hal lain yang menjadi catatan saya adalah gaya bercerita penulis yang menurut saya masih kurang lues untuk menyajikan cerita dengan karakter dewasa. Pada awalnya saya kira si kembar ini berusia remaja. Tetapi tak lama kemudian saya mendapati fakta kalau Adinda dan Aninda ini sudah bekerja, mereka bukan anak sekolah. Saya mendapatkan kesan mereka masih sekolah karena gaya bahasa yang begitu rapi dan santun, ditambah minim sekali informasi dunia kerja pada karakter di novel ini. Hampir keseluruhan novel ini diisi penjelasan tentang kesedihan dan keadaan keluarga di sekitar si tokoh.

Pelajaran yang kemudian bisa diambil setelah membaca tuntas novel ini adalah keluarga merupakan harta paling berharga, tempat kita kembali pulang setelah mengalami banyak prahara di luar rumah. Jadi, berusahalah terus menciptakan keharmonisan di tengah keluarga, sebab keluarga yang kondusif akan membentuk kepribadian yang baik untuk anggota keluarga.

***

Alhamdulillah, saya kembali belajar menulis resensi lagi, walau saya akui masih sangat kaku dan masih sangat bertele-tele. Semoga ini langkah awal untuk memulai mengaktifkan kembali blog buku ini.

Terakhir, jaga kesehatan dan terus membaca buku!




Langkah Pertama di 2021


Halo! Apa kabar?


Udah lama saya nggak menyapa dengan artikel baru di blog ini. Bukan pengen berhenti dari kegiatan membaca buku lalu meresensinya, tetapi tahun 2020 kemarin minat baca saya terjun bebas. Bukan sekali saya mencoba untuk mengembalikan gairah membaca seperti yang sudah-sudah, namun tetap saja belum menunjukkan hasil.

Minat saya justru bergeser ke kegiatan menonton film. Sebab kalau melihat thread di twitter saya, selama setahun kemarin saya menonton 140 judul film. Jumlah yang wah banget jika dibandingkan dengan 8 judul buku yang berhasil dibaca dari 50 target yang dipasang pas awal tahun kemarin.

Biar hasilnya miris begitu, tahun ini saya masih mengumpulkan semangat supaya bisa membaca buku lebih banyak dibanding tahun lalu. Dan tahun ini pula saya menurunkan jumlah target baca saya di 2021 Goodreads Challenge menjadi 25 buku saja, separuh dari target tahun kemarin, semoga bisa terpenuhi kali ini.

Lainnya, saya tuh ada keinginan mengaktifkan kembali blog ini seperti tahun 2016 - 2017. Saya bisa membaca banyak buku, bisa memublikasikan banyak resensi buku, bisa mengikuti banyak giveaway, bahkan menjadi penyelenggara giveaway. Sementara sudah ada beberapa rencana yang saya susun untuk meramaikan kegiatan blogger buku. Dan sejauh ini masih dipertimbangkan bagaimana eksekusinya. 

Jadi, nantikan terus artikel terbaru di blog ini!

Segini saja pembukaan awal tahun saya di blog ini. Untuk yang kebetulan mampir ke sini, mari ramaikan kembali kegiatan membaca buku dengan meramaikan blog-blog buku. 

Jaga kesehatan terus, dan sampai jumpa di artikel lainnya!


***


[Resensi] Steal Like an Artist - Austin Kleon


Judul: Steal Like an Artist
Penulis: Austin Kleon
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penerbit: Noura Books (PT Mizan Publika)
Terbit: Maret 2013
Tebal: 160 hlm.
ISBN: 9786021606810
Harga: Rp59.000

Rasanya seneng bisa menyelesaikan satu ebook lagi yang udah lama jadi PR buat dibaca. YEAYYYY!

Kali ini saya mau bahas mengenai buku yang mengupas tentang kreatifitas dengan judul "Mencuri seperti seorang seniman", dari sudut pandang penulis Austin Kleon.

Pada awal buku saya sudah tertohok dengan kalimat, "Bila orang memberimu saran, mereka justru berbicara dengan diri sendiri di masa lalu." (hal.11). Kenapa?

Soalnya baru-baru ini saya memang habis ngomongin adik perempuan saya, kelas XI SMA, mengenai beberapa hal. Misalnya harus serius belajar bahasa inggris sampai bisa, ikut organisasi dan mengembangkan pertemanan, dan jangan jadi mageran.

Jujur saja, rupanya nasehat yang saya kasih merupakan penyesalan dan dari pengalaman saya, yang dulu tidak saya lakukan. Saya kurang bisa bahasa inggris, kurang aktif di organisasi, kurang banyak teman, dan semua itu mempengaruhi keadaan saya sekarang.

Sayangnya, waktu nggak bisa diputar. Jadi, saya harap adik saya tidak merasakan penyesalan serupa. Dan saya berharap dia lebih berkembang jauh dibandingkan saya dan kakak-kakaknya yang lain.

Tetapi, inti dari buku ini lebih menekankan jika, "Semua kreasi berasal dari sesuatu yang pernah ada." (hal.17). Penulis menegaskan jika nggak ada karya yang 100% original. Semua hampir percampuran dari ide yang pernah ada. Saya pun mengaminkan pendapatnya ini. Analoginya adalah ketika kita terlahir, kita nggak membawa jati diri. Justru jati diri muncul setelah proses meniru sepanjang pertumbuhan kita jadi dewasa. Lama-lama terbentuklah jati diri kita. Nah, tugas seniman yang baik adalah memberikan sentuhan kepada ide hasil curian untuk menjadi ide versi kita.


Prinsip soal meniru menurut penulis adalah, "Jika kamu meniru dari satu orang, kamu akan disebut penerus si anu. Sedangkan jika kamu meniru dari seratus orang, kamu akan disebut orisinal. kita punya kekurangan yaitu tidak dapat meniru dengan sempurna. Namun, kegagalan meniru ini bisa menjadi jalan menemukan jati diri sendiri."

Lalu bagaimana proses kreatif ini dimulai?

Mulai belajar. Proses yang gampang diucapkan tapi sulit dilakukan, apalagi supaya konsisten. "Belajar itu mudah. Asal kamu punya keinginan."(hal.30) Related banget dengan apa yang saya alami saat ini.

Saya merasakan susah sekali menyelesaikan tugas kampus. Padahal sudah direncanakan sedemikian rupa, dari waktu hingga alatnya. Tetapi, selalu saja kalah dengan gangguan lain. Misalnya youtube, film baru, musik, dan lainnya. Setelah membaca kalimat ini, saya jadi paham, mungkin keinginan saya belum begitu teguh. Sehingga gampang diganggu dan akhirnya tidak pernah mewujudkan apa yang sudah saya rencanakan.

Dan silakan renungkan kalimat berikut ini:
"Gambar hal yang ingin kamu lihat, mulailah bisnis yang kamu ingin jalankan, mainkan musik yang kamu ingin dengar, tulis buku yang menarik bagimu, buat produk yang kamu ingin pakai-kerjakan apa yang ingin kamu selesaikan." (hal.59).

Semua orang kreatif menemukan ide cemerlangnya dengan melakukan apa yang mereka sukai. Bukan menunggu waktu yang tepat, keadaan yang memungkinkan, bahkan tidak menunggu sampai ide mampir. Dengan melakukan langkah pertama, sering melakukan apa yang kita sukai, kita akan menemukan ide hebat pada prosesnya.

Ada nasehat lain yang kontradiktif dari penulis buku ini yang mengatakan, "Membatasi diri saja." (hal.143). Maksudnya adalah ketika kita sedang mengerjakan karya, beri batasan dari informasi yang melimpah saat ini, terutama dari internet. Godaan untuk mengerjakan karya lainnya menjadi besar dan ini akan membuat karya yang sedang dikerjakan akan ditinggalkan. Masih menurut penulis, "Batasan yang tepat dapat mendatangkan karya terbaik." (hal.144)

Oya, ada juga nasehat buat siapa pun yang ingin jadi penulis, yakni, "Tulislah apa yang kamu sukai, bukan apa yang kamu tahu."

Prinsip ini dapat diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sudah waktunya kita menyisihkan untuk melakukan apa yang kita sukai, dibandingkan melakukan apa yang kita tahu. Kalau Sabtu-Minggu, enak tuh menyempatkan diri membaca buku di kamar sambil ngemil. Dibandingkan ikut jalan-jalan hanya karena nggak enak sama teman. Capek euy, ngikutin maunya orang mulu!

Selain membahas bagaimana menjadi kreatif, penulis juga memberikan masukan yang lebih personal. Misalnya keharusan untuk selalu menerapkan "Bekerja lebih baik dan berbagilah", atau "Berteman di internet harus selalu mengatakan yang baik-baik saja."


Secara keseluruhan dari pembahasan di buku ini, penulis berharap siapa pun yang ingin menjadi kreatif harus tetap menjadi manusia yang beradab, lebih bijak, dan selalu berkarya.

Saya tetap kaget juga begitu selesai membaca buku ini karena saya menemukan hal-hal baru. Padahal ini jadi kali kedua saya menamatkan buku yang terbilang tipis ini. Nggak butuh banyak waktu kok untuk membabat habis semua halaman di dalamnya. Selain ringan, gaya penulisan sederhana, buku ini juga berbobot. Kerenlah pokoknya!

[Resensi] Man's Search for Meaning - Viktor E. Frankl


Judul: Man's Search for Meaning
Penulis: Viktor E. Frankl
Penerjemah: Haris Priyatna
Penerbit: Noura Books (PT Mizan Publika)
Terbit: Desember 2017
Tebal: 256 hal.
ISBN: 97860238541659786023854455
Harga: Rp61.000

Saya punya ebook buku ini sudah agak lama. Tetapi selalu saja urung dibaca. Padahal saya sempat membaca resensi buku ini, yang secara garis besar buku ini menceritakan tentang ketahanan penulis di kamp konsentrasi ketika Perang Dunia II berlangsung, dan menurut saya sangat menarik. Kemudian ketika akhir-akhir ini saya kesulitan membaca tuntas satu buku, saya memutuskan untuk membaca ebook agar bisa dibaca kapan dan dimana pun. Judul ini pun menjadi pilihan.

Benar saja, akhirnya saya bisa menyelesaikan membaca buku ini, walau butuh semingguan.

Yeayyyyy, pencapaian yang menyenangkan.

Man's Search for Meaning bercerita mengenai penulis yang juga seorang psikiater, yang masuk ke kamp konsentrasi, dimana nasibnya tidak karuan, mungkin mati cepat, atau mati pelan-pelan dipaksa kerja. Selama di kamp, penulis bersama tawanan lainnya, mengalami banyak penyiksaan. Penderitaan dan bayang kematian mengincar setiap hari. Dipukul dan dimaki jadi makanan setiap hari.

Penulis menjelaskan ada tiga fase yang dialami tawanan. Pertama, tawanan kaget karena perlakuan tentara yang menyiksa mereka. Kebiasaan hidup bebas, menjadi terkontrol oleh orang lain, sambil dihujani pukulan dan makian. Kedua, tawanan mulai bebal, bahkan tidak lagi bisa merasakan emosi. Kondisi ini terbentuk dari penderitaan yang dialami setiap hari, sehingga psikis mereka kehilangan rasa selain penderitaan. Mereka akan kesulitan membedakan emosi sedih, senang, kecewa, gembira, dan emosi lainnya. Fase terakhir, ketiga, tawanan merasakan kebebasan yang hampa. Ketika mereka sudah dibebaskan, tapi mereka tidak bisa bergembira, karena tidak pernah terbayangkan titik bebas itu akan dialami mereka. Kebebasan selama ini hanya jadi mimpi. Teriakan dan pukulan menjadi hal yang mereka kenal, dan ketika itu hilang, mereka merasa kosong.

Yang menarik dari buku ini, selain cerita mengenai pengalaman penulis di kamp, dipaparkan juga buah pikiran penulis mengenai logoterapi (pencarian makna hidup). Pengalaman di kamp menjadi contoh nyata bagaimana logoterapi membantu siapapun memaknai hidup.

Logoterapi mengajarkan bahwa ada tiga jalan yang bisa ditempuh seseorang untuk menemukan makna hidupnya. Jalan pertama melalui karya atau tindakan. Jalan kedua, melalui pengalaman atau dengan mengenal seseorang; dengan kata lain, makna hidup tidak hanya bisa ditemukan di dalam pekerjaan, tetapi di dalam cinta. Jalan ketiga, orang-orang yang menghadapi nasib yang tidak bisa diubah, masih bisa tumbuh melampaui dirinya sendiri, berkembang di luar dirinya sendiri, dan dengan melakukan itu, mereka mengubah dirinya sendiri. (hal. 228-229)

Yang paling berkesan dari membaca buku ini dan paling terhubung dengan saya mengenai kebosanan. Menurut penulis, banyak sekali orang pada saat itu yang datang ke psikiater bukan karena jiwanya yang sakit, melainkan untuk mengeluh oleh kebosanan, yang dianggap sebagai sakit. Ternyata, kebosanan yang dialami banyak orang dikarenakan orang tersebut tidak mempunyai tujuan yang ingin dicapai.

Saya termasuk ke golongan itu. Setiap Senin ke Sabtu saya bekerja dan menunggu datangnya hari Minggu karena libur kerja. Inginnya istirahat total. Saat hari Minggu berlalu, saya menyesal karena sebenarnya banyak sekali kegiatan/hal yang saya lewatkan. Idealnya, hari Minggu digunakan untuk melakukan yang menyenangkan, bukan dengan rebahan, apalagi melakukan pekerjaan kantor.

Menurut penulis, setiap orang harus mempunyai tujuan setiap harinya. Terlepas dari tujuan itu kadarnya besar atau kecil. Dengan adanya tujuan, kita akan dipaksa bergerak untuk mengerjakan sampai tujuan tercapai.

"Lebih baik merasa lelah setelah beraktifitas, daripada menyesal karena tidak melakukan apa-apa."

Sebenarnya masih banyak pelajaran hidup yang diceritakan penulis. Bahkan relevan dengan kondisi modern saat ini. Buat saya buku ini memiliki nilai besar untuk merubah pola pikir kita mengenai arti hidup. Dan kayaknya bakal saya baca ulang untuk memahami lebih dalam mengenai bagaimana cara memaknai hidup.

Dan saya tidak sabar pengen punya buku keduanya yang bertajuk: The Will of Meaning.

Rupanya membaca buku pengembangan diri membuat kita lebih sadar banyak hal. Ada sisi-sisi lain, mungkin kecil, yang selama ini tidak kita raba, tidak kita sadari, bahkan tidak terlihat, yang sebenarnya sisi itu ikut membentuk kita menjadi pribadi utuh.

Dan perlu diingat, "Mungkin kita tidak bisa menjadi atau berubah seperti yang diceritakan di buku. Tetapi dengan membaca buku pengembangan diri, membuat kita sadar apa yang menjadi kekurangan dan kelebihan kita, lalu kita bisa berdamai dengan keduanya."