[Buku] Stalker by Donna Widjajanto


Judul: Stalker
Penulis: Donna Widjajanto
Penyunting: Starin Sani & Dila Maretihaqsari
Penerbit: Bentang Belia
Cetakan: I, Juni 2015
Tebal: vi + 210 hlm.
ISBN: 9786021383537

Sinopsis
Buku Stalker ini menceritakan gadis SMA bernama Khila yang suatu hari bertemu dengan pemuda bernama Leon ketika menunggus bus pulang. Khila, Leon, Ibu Silvia dan Ibu Iin memutuskan naik taksi yang bayarnya patungan. Karena Leon itu ganteng, Khila merasa tidak keberatan bertemu di hari selanjutnya. Apalagi saat itu Khila sedang tegang dengan Saka soal proyek komik sekolah, dan kehadiran Leon menjadi seperti hujan bagi Khila di tengah panasnya hubungan dia dengan Saka, Abel, dan Nadia.

Namun Khila tidak menyangka jika Leon punya sisi gelap: protektif, pemaksa, dan pejuang. Buah dari kurang kasih sayang membuat Leon menjadi sosok yang mengerikan. Khila sempat mengalami pelecehan seksual di dalam taksi oleh Leon. Dan sejak itu penilaian Khila berubah terhadap Leon. Dia berusaha menjauhinya. Sebaliknya, Leon tambah mengusiknya.

Resensi
Ketika memutuskan untuk mengeratkan ikat pinggang dari belanja buku baru (entah beneran bisa atau enggak), saya akhirnya bisa selesai membaca satu judul buku dalam satu hari. Pencapaian yang spesial karena saya akhir-akhir ini kesulitan membaca buku sampai tamat.

Buku itu adalah Stalker karya Mbak Donna, yang menjadi salah satu dari series DarkLit bikinan Penerbit Bentang. Dalam bayangan saya, series ini berkaitan dengan horor, tetapi ternyata untuk buku ini tidak demikian. Justru mengambil tema besar berupa sakit mental. Dan insyaallah untuk resensi judul lainnya akan segera menyusul.

Membaca buku ini membuka mata saya dalam merasakan perasaan korban pelecehan seksual. Membaca bagian ketika Khila mandi dan menggosok badannya untuk menghapus bekas tangan Leon, membuat saya terenyuh. Khila merasakan marah, kesal, tidak berdaya, kotor, malu, menjijikan, semua bercampur, dan dia enggak bisa ngomong ke siapa pun. Tekanan ini yang dirasakan korban pelecehan seksual. Makanya mereka baru bisa bercerita setelah beberapa lama setelah kejadian.

Peran keluarga atau orang terdekat menjadi sangat penting dalam proses pemulihan. Korban pasti mengalami trauma dan orang sekitarnya harus membantu korban untuk keluar dari traumanya. Bukan tidak mungkin jika korban dibiarkan meratapi nasibnya, mereka akan melakukan tindakan bodoh misal percobaan bunuh diri. Orang tua Khila, Saka, Abel, Nadia, dan Eri memberikan inspirasi bagus dalam menguatkan Khila. Poinnya adalah penting sekali membangun kembali kepercayaan diri korban untuk melanjutkan kehidupan dan mengingatkan korban jika dia enggak sendiri. Masih banyak sekali orang sekitar yang sayang dan peduli.

Di novel ini pembaca juga akan menemukan tema keluarga, tema persahabatan, dan tema roman. Kalau ditakar, buku ini punya lebih banyak tema persahabatan. Tema keluarga ditampilkan pada bagian cerita peran orang tua Khila dalam mendampingi anaknya yang menjadi korban penguntit. Untuk tema persahabatan yang menjadi tema besar ditampilkan dalam bagian cerita bagaimana sahabat-sahabat Khila merespon apa yang dialami Khila. Sedangkan tema roman muncul dari hubungan Saka dan Khila, dan perasaan tersembunyi dari Nadia dan Eri.

Sebelum tahun ajaran dimulai, Saka sudah menimbang-nimbang apakah sebaiknya dia nembak Khila. Tapi, Saka takut persahabatan mereka malah rusak kalau mereka jadian. Atau, apesnya, mereka nantinya putus, terus musuhan. (hal.85)

Kemudian karakter-karakter tokoh di novel ini sudah pas dan berkesan. Khila ini sosok gadis muda yang judes, galak, rajin, egois, sekaligus rapuh. Saka tampil sebagai cowok muda yang tegas, lebih bijak, dan sabar. Nadia muncul sebagai gadis yang pemendam rasa, berusaha menyenangkan semua orang, sensitif, namun pengendali emosi yang baik. Eri dirancang sebagai cowok kstaria yang mau menerima kenyataan percintaannya tanpa harus membenci. Sedangkan untuk Abel yang tipe pemimpin, penengah, dan punya empati yang besar, menjadi bias di bayangan saya, dia itu cewek apa cowok sebenarnya.

Petik-Petik
Pesan yang saya terima adalah ketika punya masalah jangan pernah merasa sendirian. Terbukalah kepada keluarga dan orang terdekat. Biarkan mereka mengerti dan membantu. Karena kita hidup tidak sendirian. Keluarga dan orang terdekat pasti menyayangi kita dan tidak akan membiarkan kita kesulitan sendirian.

Terakhir & Rating
Buku Stalker ini sangat cocok dibaca oleh remaja untuk mengingatkan bahwa tidak semua orang dalam lingkaran pergaulan kita itu baik. Lalu, ketika kita tertimpa masalah, ayo selesaikan bersama keluarga dan orang terdekat, bukan meratapi, menutupi, dan merasa takut. Jangan lari tetapi ayo hadapi. Akhirnya buku stalker ini saya ganjar dengan rating 4 dari 5.

*****

  • Kesedihan yang dibagi akan berkurang, sama seperti kesenangan yang dibagi akan bertambah. Itu, kan, gunanya teman? (hal.70)
  • "...Sakitnya kalau benci sama orang itu lebih sakit daripada kalau kita dibenci orang." (hal.95)


Rekap #NontonFilm2019 Bulan November 2019

Di sela rutinitas sehari-hari saya selalu menyempatkan menonton film yang merupakan hiburan murah untuk saya saat ini. Saya jarang banget nonton film di bioskop. Malah lebih banyak nonton film hasil download-an (maafkeun kalo caranya ilegal...)

Dan sejak bulan September, saya sudah membuat utas di twitter untuk memantau film apa saja yang sudah saya tonton dengan menggunakan tagar #NontonFilm2019. Ada yang disertai ulasan kesan-kesan setelah menonton, tapi lebih banyak hanya mencantumkan judul dan poster filmnya.


Berikut ini daftar film yang saya tonton selama bulan November. Silakan disimak!

1. Film 47 Meters Down Uncaged (2019)


Menceritakan kakak-adik perempuan beserta dua temannya, yang menghabiskan waktu liburan dengan ngeyel melakukan diving ke perairan dalam yang merupakan lokasi penelitian ayahnya. Kecelakaan terjadi dan membuat terowongan penelitian di bawah laut runtuh. Keempat gadis ini berusaha keluar dari terowongan yang kemudian diteror oleh hiu besar.

Formula film ini sama dengan formula film hewan buas produksi tahun-tahun sebelumnya. Sehingga tidak ada yang membuat istimewa selain rasa deg-degan mengikuti cerita survive para tokohnya dalam bertahan hidup dari hiu si pemangsa.

2. Film Dora and The Lost City of Gold (2019)


Dora yang dikenal sebagai anak kecil yang suka berpetualang, dihadirkan sudah menjadi remaja di film ini. Suatu hari dia kehilangan kontak dengan orang tuanya yang sedang melakukan penjelajahan. Dan tak lama kemudian, dia diculik oleh penjahat pemburu emas beserta Diego dan kedua teman sekolahnya. Berangkat dari konflik inilah yang mengantarkan Dora menjelajah hutan mencari peninggalan suku lawas yang menurut rumor penuh dengan emas.

Filmnya lumayan seru mengingat visual alamnya yang memikat. Dan tentu saja film ini masih kategori aman ditonton anak-anak selama didampingi orang tua.

3. Film Klaus (2019)


Film animasi tentang natal yang menghadirkan sosok tukang pos pemalas lantaran bapaknya sangat kaya. Dia dihukum dengan dipindahkan ke daerah yang penduduknya terbagi menjadi dua kubu, dan saling bersebrangan. Targetnya adalah memenuhi pengiriman 6000 surat. Dalam perjalanan kisahnya, dia bertemu sosok Klaus yang dirundung kepiluan lantaran istrinya meninggal sehingga Klaus berhenti membuat mainan untuk anak-anak.

Kehadiran si tukang pos ini membawa perubahan besar-besaran di daerah tersebut. Sampai pada waktunya, ketika target terpenuhi, dia dilema antara kembali ke kota asalnya atau bertahan di tempat yang sudah dia rubah.

4. Film The Fighting Preacher (2019)


Saya rada lupa sama kisah detailnya tetapi film ini merupakan film yang menunjukkan penyebaran agama dengan cara yang santun dan ramah. Sepasang suami istri mendapatkan mandat dari gurunya untuk menyebarkan agama di satu wilayah yang sangat kolot dan tertutup terhadap agama mereka. Kehadiran mereka ditolak pada awalnya, namun perlahan-lahan penduduk di daerah tersebut menerima setelah bertahun-tahun pasangan suami istri tadi menunjukkan betapa sabarnya mereka.

5. Film Crayon Shin-chan - Honeymoon Hurricane - The Lost Hiroshi (2019)


Film ini membawa penonton mengikuti petulangan keluarga Shin-chan ketika berlibur bulan madu di Australia. Satu suku asli di sana menculik Hiroshi untuk ditukarkan dengan kekayaan. Dan petualangan penyelamatan dimulai.

6. Film Line of Duty (2019)


Polisi yang sedang bertugas akhirnya menembak salah satu penculik anak kepala kepolisian. Itu dilakukan karena keadaan mendesak. Karena penembakan itu, polisi tadi diliburkan. Namun perasaan bersalah membuat dia melakukan pengejaran sekaligus penyelamatan anak yang diculik.

Lebih seru lagi karena proses pengejaran dan penyelamatan itu disiarkan langsung oleh gadis muda pemilik akun siaran. Ending film ini benar-benar mengharukan.

*****

Bulan November ini lebih sedikit film yang saya tonton jika dibandingkan dengan bulan Oktober. Maklum saja soalnya awal bulan ini saya menghadapi masalah berat yang cerita ringkasnya bisa dibaca di artikel Terima Kasih Tidak Akan Pernah Cukup Untuk Dua Jantung.

Nah, giliran kalian nih yang ngasih tau film apa saja yang sudah ditonton di bulan November ini. Tulis di kolom komentar ya!

[semua poster diunduh dari imdb.com]

Terima Kasih Tidak Akan Pernah Cukup Untuk Dua Jantung

Saya adalah tipe orang yang paling pinter memendam masalah sendiri. Lebih banyak bertarung sendirian. Sifat ini kayaknya paketan karakter saya yang condong introvert, rendah diri, bahkan pemalu. Ah, mungkin tepatnya saya adalah pecundang.

Kejelekkan saya yang kerap memendam masalah sendirian, justru melahirkan masalah besar setelah beberapa lama. Saat masalah masih kecil, saya selalu berdalih bakal mampu menyelesaikan dan pasti selesai. Namun kenyataannya, saya terbebani makin banyak dan akhirnya dikalahkan masalah tadi.

Tanggal 15 November 2019, tepatnya hari Jumat, saya mengalami masalah besar. Maaf, disini tidak akan saya umbar masalah yang sebenarnya, sebab itu aib saya dan aib keluarga. Saya hanya ingin membagikan hikmahnya saja.

Masalah besar itu hampir membuat saya menangis seharian. Sehabis Subuh, saya banyak merenung dan air mata mengalir deras nggak bisa ditahan. Ibarat sungai yang diganjar banjir bandang dari hulu. Di tempat kerja pun emosi saya tidak bisa dikendalikan. Pokoknya hari itu saya dalam kondisi sangat down dan tidak bisa berbagi cerita ke siapa pun.

Meski sedih bertumpuk-tumpuk, saya tetap memikirkan jalan keluar untuk masalah saya. Sayangnya, semua jalan sudah buntu. Dan waktu itu yang terpikirkan oleh saya hanya satu, saya harus pulang ke rumah dan menceritakan semuanya kepada orang tua.

Sebelum berangkat kerja, saya membulatkan tekad untuk melakukan pengakuan dosa ini. Harus saya lakukan dan tidak ada pertimbangan lagi. Keluarga harus tahu keadaan saya yang sebenarnya.

Sehabis Maghrib, saya dijemput seorang kawan dan diantar pulang ke rumah kakak perempuan saya. Sebelumnya saya sudah menelepon kakak saya itu agar Ibu dan Bapak dijemput ke rumahnya. Biar ketika saya datang, mereka sudah siap menerima keadaan anaknya ini yang sedang ditimpa masalah.

Benar saja, begitu sampai gerbang rumah, saya mendapati Ibu dan Bapak sudah duduk di ruang tamu. Saya masuk ke rumah dan langsung bersimpuh menangis di kaki mereka.


Tidak usah saya jelaskan secara rinci ya bagaimana saya melakukan pengakuan dosa kepada Ibu dan Bapak sambil menangis sejadi-jadinya. Pokoknya malam itu semua keluhan hidup saya mengalir deras dari mulut.

Yang membuat saya lebih terharu, Ibu dan Bapak tidak membenci saya yang datang membawa masalah. Mereka tidak memaki atau marah oleh kegagalan yang saya persembahkan. Justru mereka merentangkan tangan lalu memeluk saya sambil mengelus punggung.

"Sabar. Kamu harus banyak bersabar. Lain kali kalau ada apa-apa cerita ke keluarga. Masalah yang sekarang nanti dipikirkan Bapak dan Ibu. Pasti ketemu jalan keluarnya."

Sampai saya menuliskan tulisan ini, masalah itu sudah teratasi. Bayangkan saja, saya pernah berjuang berbulan-bulan untuk menyelesaikan masalah ini dan tidak menemukan titik terang. Begitu saya menceritakan kepada keluarga besar, hitungan dua minggu masalah tadi teratasi. Saya sangat-sangat-sangat berterima kasih dan bersyukur masih mempunyai keluarga yang menerima saya beserta kegagalan yang saya punyai. Setelah masalah ini selesai sampai ke akarnya, fokus saya adalah memberikan hal terbaik yang bisa saya berikan untuk keluarga.

Lalu hikmah yang bisa saya bagikan kepada kalian adalah tempat terbaik pulang adalah keluarga. Mereka akan menerima kita apa adanya, apa kondisi kita, dan siapa kita. Tidak membenci, tidak memaki, tidak menyesal, tidak kecewa, tidak juga menambah luka. 

Saya sangat menghaturkan terima kasih kepada Ibu dan Bapak yang sudah sedia berlapang dada menerima anaknya kembali, meski sekarang hanya mampu menyodorkan kegagalan dan masalah. Dari malam itu, saya bertambah keinginan membahagiakan kalian sampai menurut kalian cukup, dan saya diperbolehkan memilih cerita hidup lain sebagai kelanjutan cerita hidup saya.

Demikian ringkas cerita yang saya bagikan, semoga menambahkan cinta kita kepada keluarga. Terakhir, sampaikan salam saya untuk keluarga kalian.

Tuliskan Saja Jutaan Kalimat Sampai Kamu Mahir Bercerita

"Enggak ada tulisan yang jelek. Yang ada cuma tulisan yang nggak selesai ditulis."

Mendadak saya ingin menuliskan kalimat di atas sebagai motivasi buat diri sendiri pasca saya memublikasikan dua tulisan yang bisa dikatakan menabrak rule blog ini pada awalnya; Tiga Almamater dan Belum Selesai Juga dan Biarkan Hujan yang Turun, Lalu Doa yang Naik. Dua tulisan tadi bukan membahas buku melainkan tulisan random yang muncul di otak saya dan saya paksa untuk diketik menjadi artikel blog ini, ketimbang blog ini selalu alfa menerbitkan tulisan baru.

Begitu saya memublikasikan artikel yang lain dari pada biasanya (dunia buku), ada penilaian yang muncul. Apakah tulisan saya layak dibaca orang lain? Apakah tulisan saya berbobot secara pesan? Apakah pantas tulisan ringan begitu diterbitkan di media umum?

Penilaian tadi yang berupa pertanyaan hampir membuat saya menghapus kembali artikel yang sudah kadung terbit di blog. Alasannya saya kehilangan kepercayaan diri atas tulisan yang sudah saya buat. Saya merasa tulisan saya masih sangat ringan, masih kurang berbobot, dan belum layak jadi bahan konsumsi bacaan orang-orang.

Lalu kemudian bisikan pembenaran muncul juga, makanya lahir kalimat di atas, yang jadi kalimat pembuka tulisan ini. Saya memberanikan diri untuk menyebut tulisan saya tidak jelek. Biarpun masih sangat receh, masih sangat acak-acakan, masih sangat berantakan, tapi setidaknya tulisan saya bisa rampung menjadi satu artikel yang punya judul.

Saya menarik nafas panjang dan mengembangkan paru-paru untuk menampung oksigen sebanyak yang bisa dihirup. Bersamaan dengan itu, hati saya berkata, "Saya sedang belajar menulis. Perjuangan saya adalah menulis sebanyak mungkin. Kualitas akan mengikuti seiring pengalaman saya menulis banyak kata."



Memang tidak mudah untuk memantapkan hati agar proses menulis berjalan secara konsisten. Penilaian terhadap tulisan bisa menjadi alasan besar kenapa proses itu berhenti di tengah jalan. Makanya saya memastikan terlebih dahulu penilaian terhadap tulisan harus sudah ditiadakan. Dilanjutkan dengan bersungguh-sungguh akan menuliskan apa pun yang ingin ditulis.

Ada satu lagi pikiran yang muncul, jika banyak tulisan yang jadi atau dibuat, akankah semua tulisan itu terbit di blog ini. Sedangkan kurang apik jika dalam sehari terbit dua tulisan. Pembaca jelas akan merasa kecepatan membaca artikel atau tulisan di blog ini. Padahal belum tentu dalam tulisan saya itu tersimpan manfaat.

Dan solusinya adalah membiarkan semua tulisan rampung menjadi draft. Setiap hari saya punya tugas rutin untuk memeriksa tulisan mana yang pas terbit setiap harinya. Sambil melakukan editing juga. Dengan begini, bank artikel tulisan blog saya akan selalu penuh. Syukur ke depannya saya mengalihkan beberapa tulisan ke media lain.

Inti tulisan saya ini adalah mengajak kepada pembaca blog ini untuk rajin menulis. Biar saja kalau kita hanya berhasil menulis satu atau dua paragraf. Ketika hasil tulisan itu jadi draft, kita bisa meng-edit-nya di lain waktu dengan mengembangkan kembali ide-idenya.

Jangan biarkan keraguan muncul ketika kita sudah memutuskan untuk menulis artikel. Biarkan pikiran kita kawin dengan tangan untuk melahirkan rangkaian kata menjadi kalimat yang kemudian menjadi santapan pembaca.

Terakhir, terus semangat menulis untuk sesama.

Biarkan Hujan Yang Turun, Lalu Doa Yang Naik

Alhamdulillah...

Allahumma Shoyyiban Nafi'an. Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang bermanfaat.

Jutaan syukur saya panjatkan untuk Allah SWT yang akhirnya menurunkan hujan deras di Kota Cirebon pada malam ini. Derasnya membuat hati siapa pun membuncah bahagia lantaran penantian panjang akhirnya terbayar lunas.


Musim panas kali ini lebih banyak menguji. Suhu naik tak terkira kalau siang dan itu bikin manusia gampang mengeluh. Saya merasakan sekali bagaimana panasnya udara ketika tengah hari menerpa wajah begitu saya keluar dari gedung tempat kerja ketika hendak solat Dzuhur. Bukan saya saja yang bergumam, "Panas banget hari ini, MasyaAllah..." Sebagian rekan lainnya mengiyakan kalau musim panas kali ini lebih menguji sabar.

Belum lagi kalau malam hari, udara rasanya kering. Biar kipas angin di kosan sudah disetting paling cepat muternya, tetap saja masih kegerahan. Kadang saya mengakali dengan mandi malam, ditambah minum es agak banyakan.

Pernah kipas angin rusak dan beberapa hari itu saya mesti bersabar menahan gerah. Sebagai jalan keluar, selain mandi dan minum es, saya juga mengepel lantai kosan beberapa kali, membuka jendela sepanjang malam, dan sering membuka pintu lebar-lebar agar sirkulasi udara di dalam kamar lebih adem. Maklum, kosan saya bukan yang pakai AC.

Begitu malam ini hujan turun deras, banyak orang yang mengucapkan doa dan banyak yang mensyukurinya. Saya melihat di beberapa status WA, tampaknya hujan malam ini membawa bahagia banyak orang.


Beberapa waktu lalu, saya sempat membaca buku Amalan Pembuka Rezeki yang ditulis oleh Haris Priyatna dan Lisdy Rahayu pada bab Berdoa, dikatakan salah satu waktu yang mustajab untuk memanjatkan doa adalah ketika hujan turun.

Hadisnya sebagai berikut: "Doa tidak tertolak pada dua waktu, yaitu ketika azan berkumandang dan ketika hujan turun." (HR Al-Hakim)

Maka saya pun tidak melewatkan untuk berdoa sebanyak-banyaknya. Sebab saya yakin semua doa akan sampai kepada Allah SWT.

Jadi, marilah kita perbanyak berdoa ketika hujan turun. Apalagi tampaknya musim hujan sudah menyapa. Dan yang paling utama, tetap lakukan ibadah wajib walau kita bukan orang paling baik.

*Gambar diunduh dari behance.com dan diedit

Tiga Almamater Dan Belum Selesai Juga

Kalau seandainya diperbolehkan memilih hidup saat kapan inginnya, saya kayaknya bakal milih menjadi anak-anak saja. Bayangkan, sehari-hari hanya sibuk urusan main, ngerjain PR sekolah, bantu-bantu kerjaan rumah, dan ngobrolin film kartun atau sinetron laga.

Jauh berbeda dengan menjadi dewasa seperti sekarang. Terlalu banyak tanggung jawab yang harus dipikul sedangkan sadar bahu tak seberapa kuat dan tak seberapa lebar.

Hidup saya berat. Bolehkan saya mengeluh demikian. Saya manusia biasa juga, yang punya ciri manusia pada umumnya, lebih pandai mengeluh, padahal seharusnya lebih banyak bersyukur. Ada banyak ketidakberuntungan yang saya alami. Sebentar, kasih saya penjelasan singkat, ini bukan lagi cara saya kufur nikmat, justru dengan mengeluh, semoga bisa bertambah bersyukur.

Ada beberapa masa yang saya sesali. Keputusan-keputusan yang saya pilih bukan keputusan yang terbaik. Malah menjadi bumerang yang menyerang saya hingga kalah. Kalau mengingat ini semua, rasanya badan mendadak loyo melorot ke tanah.

Tulisan ini akan berseri. Kalau kalian tidak ingin mendapatkan aura busuk dari sambatan saya, silakan berhenti membacanya. Tapi saya bakal keukeuh menuliskan karena ini terapi yang saya bisa lakukan untuk mengeluarkan racun di tubuh saya.

*****


Kuliah saya harus ditempuh di tiga kampus dan belum juga rampung, entah kapan, semoga segera. 

Dua kampus jadi kegagalan. Satu kampus sedang saya jalani. Kampus pertama gagal karena saya tidak cukup punya biaya. Saat itu restu orang tua bisa dibilang hanya separuh. Separuhnya lagi kekecewaan karena anaknya tidak jadi memegang warung sembako di Muara Baru, Jakarta Utara. Seberapa butuh saya biaya untuk semesteran, orang tua tetap menutup tangan.

Kampus kedua juga gagal karena saya merasa kalah oleh pikiran picik. Waktu itu ada yang nyeletuk, "Kamu ngapain kuliah lagi sekarang. Yang lain, sepantaran kamu, sudah nyampe dimana, kamu masih dimana. Sudah terlambat, Din!" Dan saya memilih berhenti kuliah, lalu menjalani hari-hari seperti semula. Lagian kuliah di kampus kedua ini dilaksanakan Sabtu dan Minggu, jadi sepekan itu saya harus tinggal di kota mulu. Waktu balik ke rumah orang tua rada susah menyesuaikan.

Kampus ketiga ini, yang sedang saya jalani, juga buah desakan manajer di tempat kerja. Kata beliau, kesempatan bisa datang kapan saja dan kesempatan bisa jadi keberuntungan jika kita sudah siap menerimanya. Benar saja, kesempatan menjadi manajer di tempat kerja lain terlewat begitu saja karena saya tidak memegang tiket masuknya atau ijazah. Dua kali malah. Ampun!

Doakan saja saya yang baru saja selesai UAS semester lima, bisa rampung wisuda tahun depan. Biar ngejar goal hidup lainnya makin lancar dan cepat.

*****

Sekian sambat saya kesempatan ini, kalian boleh sambat juga pengalaman zaman kuliah dulu di kolom komentar. Anggap aja silaturahmi, biar berkah...