Rekap Blog Buku Januari 2021


    Terima kasih dan selamat tinggal Januari. Ada banyak momen yang terjadi di bulan ini. Juga merupakan bulan yang menyenangkan untuk membaca buku kembali. 

    Kalau melihat menu Koleksi Buku dan Koleksi E-Buku, saya kadang merasa sedih karena masih banyak buku yang belum terbaca. Tetapi hasrat untuk membeli buku, suka tidak bisa dikendalikan dan selalu saja ada buku yang dibeli setiap bulannya.

    Berikut adalah buku-buku yang masuk ke koleksi saya untuk bulan Januari ini:

1. Reclaim Your Heart - Yasmin Mogahed (e-book, Rp20.698)



2. Muhammad #2: Sang Pengeja Hujan - Tasaro GK (e-book, Rp58.800)


    Kedua buku ini saya beli di google play book karena merasa pulsa axis saya masih banyak. Dan saat melihat-lihat koleksi buku di akun saya, ketemu dua judul ini yang memang sudah pengen saya beli. Buku Reclaim Your Heart sudah beberapa kali masuk keranjang di shopee, tapi selalu kalau beli oleh judul-judul lain. Alasannya karena buku ini non-fiksi, ada keraguan apakah saya bisa membaca dan memahami isinya, atau justru hanya akan jadi koleksi lainnya seperti buku-buku non-fiksi yang sudah-sudah.

    Sedangkan buku series Muhammad #2, memang merupakan series yang niatnya akan saya lengkapi di tahun ini. Buku dari penulis favorit yang tidak akan saya lewatkan kesempatan untuk menggenapi koleksi saya.

3. Interval - Diasya Kurnia (Rp15.000)



4. Basirah - Yetti A. KA (Rp25.000)



5. Sawerigading Datang dari Laut - Faisal Oddang (Rp30.000)



6. Dari Hari Ke Hari - Mahbub Djunaidi (Rp30.000)



    Keempat buku ini saya beli tepat di akhir bulan Januari 2021 karena teringat ada acara Bazar Sejuta Buku Cirebon yang digelar di Gedung Wanita. Sepulang mencari angin sore di Setu Patok, saya menyempatkan diri mampir untuk melihat-lihat. 



    Acara bazar ini sangat sepi. Dan buku koleksi yang digelar juga sangat sedikit. Sepengelihatan saya selama di sana, saya menemukan buku novel dari penerbit Ping!, Mojok, Diva press, Circa, dan penerbit minor lainnya. Untuk buku mizan sangat sedikit. Dan saya rasanya tidak menemukan buku dari penerbit mayor; Gramedia.

    Selain membeli buku, bulan Januari ini juga saya berhasil membaca beberapa buku berikut ini:

1. My Other Half - Cyndi Dianing Ratri

2. Matinya Burung-Burung - Ronny Agustinus

3. Happily Ever After - Winna Efendi

4. Reclaim Your Heart - Yasmin Mogahed

5. Kami (Bukan) Sarjana Kertas - J. S. Khairen

6. Seperti Bianglala, Pada Sebuah Akhir Kita Memulai - Galih Hidayatullah

    Jumlah yang menurut saya sangat banyak untuk permulaan setelah sekian bulan saya kepayahan menyelesaikan satu judul buku saja. Dan semoga saja semangat membaca ini akan terus terpelihara sehingga saya bisa membabat semua tumpukan buku yang menunggu untuk dibaca, lalu diresensi.

    Sekian update Rekap Blog Buku Januari 2021. Oya, artikel serupa akan saya buat setiap akhir bulan sebagai bentuk laporan bulanan kegiatan membaca dan ngeblog. Terakhir, jaga kesehatan dan terus membaca.



[Resensi] Seperti Bianglala, Pada Sebuah Akhir Kita Memulai - Galih Hidayatullah

 


Judul: Seperti Bianglala, Pada Sebuah Akhir Kita Memulai

Penulis: Galih Hidayatullah

Penyunting: Fariz Kelima

Penerbit: PT Bukune Kreatif Cipta

Terbit: Mei 2017, cetakan kedua

Tebal: vi + 178 hlm.

ISBN: 9786022202172


    Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada penulis dan penerbit ebook ini, karena sudah menyediakan secara gratis ketika awal pandemi kemarin, sebagai teman bacaan ketika pemerintah menggalakan #StayAtHome. Setidaknya dengan gratis, saya bisa menikmati beberapa buku tanpa merogoh kocek.

    Buku dengan tajuk Seperti Bianglala, Pada Sebuah Akhir Kita Memulai, bukan novel. Melainkan kumpulan tulisan pendek yang dikumpulkan penulis dengan tema roman. Kalau kita menilik sampulnya, pantasnya ini adalah novel, begitu juga dugaan saya di awal. Namun setelah membaca bab 'thanks to' yang merupakan pendahuluannya, di situ dikatakan tulisan ini merupakan catatan-catatan saja.

    Tema roman merupakan intisari semua tulisan di buku ini. Kita akan menemukan tulisan-tulisan pendek mengenai banyak keadaan manusia ketika dihadapkan dengan cinta. Ada catatan ketika jatuh cinta, bahkan jatuh cinta yang diam-diam. Ada juga catatan tentang putus cinta, ketika kehilangan. Ada pula catatan tentang rindu. 

    Tulisan yang dibuat penulis tersaji dalam banyak format. Ada yang seperti cerita pendek, ada juga yang seperti sajak, bahkan ada juga yang seperti tulisan jurnal pribadi. Bahkan tulisan per judulnya dibuat dengan unik, karena satu dengan yang lainnya dibuat berbeda, baik font, maupun susunan paragrafnya. Tidak lupa juga di buku ini kita akan melihat ilustrasi-ilustrasi sederhana yang menegaskan pada setiap tulisannya.

    Namun, secara pribadi saya kurang menyukai buku ini. Pertama, tulisannya memiliki tema yang diulang-ulang. Misalnya tulisan mengenai kerinduan, kita akan menemukan lebih dari dua judul yang membahas persoalan kerinduan ini. Atau tulisan mengenai patah hati karena kehilangan kekasih dibuat penulis menjadi beberapa judul. Yang kemudian membuat saya nggak nyaman adalah saya menemukan diksi yang diulang-ulang juga. Misalnya kata 'menganaksungai' yang dipakai penulis sebanyak lima kali untuk menggambarkan 'menangis'. Diksi yang diulang-ulang begini secara otomatis membuat saya merasa membaca kalimat template yang dibuat penulis untuk memperindah tulisannya. 

    Kedua, saya tidak menemukan pendalaman terhadap rasa dari masing-masing tulisan. Ketika berbicara rindu, saya tidak menemukan rasa rindu yang bisa menulari saya. Atau ketika berbicara jatuh cinta, saya tidak ikut merasakan jatuh cinta tadi. Atau ketika berbicara patah hati, saya tidak merasakan simpati. Dugaan saya karena tulisan di sini dibuat pendek, seperti jurnal, bahkan seperti sajak, sehingga rasa tulisan ini begitu personal untuk penulisnya, tetapi bukan untuk dirasakan pembaca. Singkatnya, rasa tulisan di sini belum menggali perasaan pembaca sampai dalam.

    Kita pernah mempertahankan sesuatu- cinta, impian, pekerjaan, atau apa saja yang menurut kita kebahagiaan- hingga menafikan luka, rasa sakit, kepedihan, dan kegetiran yang bertubi-tubi menghadang. Hanya karena begitu kukuh meyakini bahwa itu adalah kebahagiaan yang paling benar. Tak peduli lagi pada kebaikan diri sendiri (hal. 17).

    Paragraf di atas merupakan yang mengena di saya karena mengingatkan sekaligus memperingatkan untuk mengejar kebahagiaan tanpa harus mengorbankan kebahagiaan. Yang terlintas pertama kali saat membaca kalimat di atas adalah soal pekerjaan saya. Beberapa bulan ini saya mati-matian mengerjakan pekerjaan yang mendadak banyak, dan kerap saya lupa makan, kurang tidur, bahkan ketika sakit pun saya mencoba untuk tidak merasakannya. Hanya karena keyakinan semua usaha akan berbuah manis. Padahal bisa saja ketika manis itu datang, kondisi kita justru yang ambruk. Buah manis tadi tidak akan bisa dinikmati ketika kita sakit. Kesimpulannya, pengendalian diri, berjuang keras sah-sah saja, tapi bukan berarti menyakiti diri sendiri. Harus tahu batasan diri, karena kita semua masih manusia biasa.

    Setelah membaca buku ini, saya mengakui kalau membuat tulisan pribadi seperti jurnal harian akan sangat membantu menstabilkan emosi. Pun ketika kita berurusan soal cinta-cintaan, yang kapan waktu mood seperti dimain-mainkan, membuat tulisan perlu dilakukan untuk menumpahkan perasaan. Apalagi untuk sebagian pria yang susah mengungkapkan emosi rapuh, sedih, bahkan terpuruk, ke orang lain, dan lebih memilih menelan semuanya, menuliskan perasaan akan membantu mengeluarkan uneg-uneg yang terpendam.

    Sekian tulisan saya, terakhir, jaga kesehatan dan terus membaca buku.


[Buku selanjutnya dari penulis Galih Hidayatullah yang akan dibaca adalah buku Untukmu Di Hari Kemarin]



[Resensi] Kami (Bukan) Sarjana Kertas - J. S. Khairen

 


Judul: Kami (Bukan) Sarjana Kertas

Penulis: J. S. Khairen

Penyunting: MB Winata

Penerbit: PT. Bukune Kreatif Cipta

Terbit: Februari 2019

Tebal: x + 362 hlm.

ISBN: 9786022203049

[Terima kasih Bang J. S. Khairen atas ebook legal yang dibagikan gratis pas pandemi mulai parah dan pemerintah menggalakan #StayAtHome, dan akhirnya baru dibaca sekarang-sekarang ini.]

***

    Awalnya pas liat sampul buku ini, saya kira genrenya buku non-fiksi, memotivasi para lulusan kampus untuk nggak jadi 'sarjana kertas'. Diperkuat pula oleh judulnya yang kaku. Kalo fiksi, biasanya punya judul yang lebih puitis, atau satu kata tapi punya makna mendalam. Sedangkan buku ini punya judul mirip-mirip buku pengembangan diri yang sedang hits, yang ada seni-seninya begitu. Tetapi ketika ditilik lebih seksama, ini adalah sebuah novel.

    Novel ini punya cerita sekumpulan mahasiswa di sebuah kampus yang tidak terkenal, yang masing-masing punya perang atau perjuangan sendiri-sendiri. Awalnya kita akan dikenalkan dengan dua tokoh; Ogi dan Randi Jauhari. Dua temen, yang satu niat banget kuliah sedangkan satunya kagak, yang akhirnya kedua pemuda ini punya masa depan tidak terduga. Tokoh lainnya adalah Arko, orang ketiga yang masuk ke pergaulan Ogi dan Ranjau. Berikutnya ada Gala, mahasiswa penuh misteri, yang kerap ditemani bodyguard-nya. Lalu ada tiga perempuan yang mewarnai pertemanan mereka, Catherine, Juwisa dan Sania.

    Penulis secara mendalam menggali karakter tokoh dengan detail. Dilakukan dengan pelan-pelan, dicampur-aduk dengan permasalahan yang kerap dihadapi para mahasiswa. Misalnya permasalahan soal biaya kuliah, pilihan jurusan, kegiatan ospek, dan banyak masalah umum yang ada di kampus. Dan memang inti dari cerita buku ini adalah bagaimana kita memandang fase kuliah sebagai fase penting untuk merubah kehidupan. 

Apakah kalau nggak kuliah, hidup nggak bisa dirubah? 

    Jawabannya, bisa. Tapi faktanya lebih banyak orang kuliah yang punya kehidupan lebih baik. Setidaknya dengan kuliah memperbesar kemungkinan kita mendapatkan kehidupan yang layak, memperbesar kita mendapatkan posisi pekerjaan. Dan di buku ini secara gamblang disampaikan kalau mewujudkan masa depan tidak semudah ketika kita mengangankannya, atau seperti membalik telapak tangan. Ada jatuh bangun yang harus dilalui, ada air mata yang mesti tumpah, ada geram yang harus dikendalikan, dan ada syukur ketika semesta mempermudah jalannya.

    Pokoknya buku ini paling pas dibaca oleh mahasiswa di sela-sela kuliah. Bagi saya buku ini bisa memberikan sudut pandang baru atas pertanyaan-pertanyaan mahasiswa soal masa depan yang kadang masih sangat buram untuk diterawang. Dan sebagai pembaca kita akan diberikan nilai lain soal hidup, "Hidup selalu penuh cerita. Berusaha terus untuk menjalaninya, kalau mampu, berusahalah untuk menikmatinya."

    Oya, jangan kaget pas awal membaca cerita di buku ini, kita akan dihidangkan detail cerita yang banyak diparodikan. Misal nama kampus 'UDEL', nama merek, atau candaan lainnya. Saya sendiri sempat merasa risih dengan detail yang diparodikan tersebut. Sebab konsentrasi saya pecah ketika mencoba untuk menyelami alur ceritanya akibat membayangkan parodi yang mirip detail aslinya. Tetapi penilaian saya berubah begitu sudah membaca lebih jauh, ternyata penulis menggunakan cara itu untuk membangun fondasi cerita yang khas remaja kuliahan. Guyonan garing, sumbu pendek, sok-sokan arogan, semua itu dibangun untuk dirubah, tokoh-tokohnya kemudian berubah dari pemuda cuma senang-senang menjadi pemuda bertanggung jawab. Kayaknya kalau tidak dibangun demikian, perubahan karakter tokohnya nggak akan kerasa.

    Setelah membaca novel ini saya mendapatkan pelajaran, "Semua orang punya mimpi. Dan mimpi itu akan dipertaruhkan untuk diwujudkan atau dimatikan. Semua kembali ke keadaan realitas kita. Tapi satu hal yang penting, nggak ada yang salah ketika melakukan kesalahan, karena proses itu justru membuat kita benar dan belajar banyak."

    Setelah buku ini, saya bakal lanjut ke cerita berikutnya, Saya (Bukan) Jongos Berdasi. 

    Terakhir dari saya, jaga terus kesehatan dan terus membaca buku!




[Wishlist] Belahan Jiwa - Tasaro GK

Ada buku baru dari penulis favorit saya, Tasaro GK, yang judulnya Belahan Jiwa yang diterbitkan Penerbit Qanita. Kovernya mencolok banget karena dominan warna merah. 



Menemukan belahan jiwa adalah kerinduan yang menggayuti setiap jiwa. Kita mendamba agar keberadaannya melengkapi kekosongan dalam diri. Kita menghabiskan pencarian panjang dengan berbagai ujian agar bisa bertemu sang kekasih hati, seseorang yang dalam bayangan akan menjadi belahan jiwa sempurna. Namun, kala kita sudah temukan sosoknya, apakah pencarian ini akan terhenti dalam gemerlap pesta pernikahan?

Pernikahan bagai sebuah lorong panjang untuk menguji seberapa tangguh pasangan kekasih meneguhkan cinta. Kala terjangan masalah mengguncang: kecewa, bosan, kurangnya perhatian, dan keraguan, akankah kita rela mengorbankan segalanya demi belahan jiwa? Hanya waktu yang mampu menyingkap seberapa kuat sebuah cinta hingga kita dengan yakin mengatakan dialah sang Belahan Jiwa.

Secangkir Teh Tawar

Engkau dan aku baru saja memulai sebuah obrolan panjang begitu kita membuka halaman pertama buku ini. Seperti meletakkan secangkir teh tawar di pinggir meja, dan menikmati pagi santai tanpa berpikiran lima atau sepuluh menit lagi kita harus mengerjakan macam-macam hal.

Aku akan melupakan komputer, IG story, kemacetan jalan, dan kolega yang menyebalkan. Engkau tinggalkan sejenak drama Korea-mu, buku masakanmu, apa pun yang menjadi rutinitasmu.

Hal paling penting, aku berharap engkau semakin rileks ketika tahu, aku akan mendengarkan setiap teorimu tanpa mendebat ini dan itu. Engkau tahu, itu tak pernah mudah bagiku. Lima belas tahun ini, engkau lebih banyak mendengarkan. Kali ini, aku akan berusaha menikmati ketika menjadi seorang pendengar.

Aku berjanji kepadamu untuk tidak menyela, tetapi engkau harus terus-menerus mengingatkanku akan janjiku itu. Aku pelupa, engkau tahu? Persisnya, aku memang banyak bicara. Lima belas tahun memang bukan waktu yang terlalu lama, tetapi sama sekali bukan rentang waktu yang sebentar. Kita hampir tidak pernah betul-betul duduk berhadapan dan berusaha memecahkan persoalan.

Semua mengalir begitu saja. Itu terjadi karena engkau memang lebih banyak mengalah. Sedangkan, aku akan menemukan kesalahanku sendiri dan berusaha memperbaikinya atau setidaknya engkau memang sangat ahli mengingatkanku dengan cara yang aku inginkan.

Setiap pertanyaan kemudian bertemu dengan jawaban.

Itu tidak ideal. Namun, itu yang mempertahankan rumah tangga kita hampir tanpa guncangan, bukan?

Kita bahkan perlu mulut orang lain untuk menemukan kebenaran yang sudah kita ketahui. Kita tahu, setiap pemberi solusi, mampu memberikan tips-tips yang baik ketika berada di luar sebuah masalah. Seseorang yang canggih memberi solusi problem pernikahan tidak bisa kita ukur seberapa harmonis rumah tangganya sendiri.

Kita kadang hanya cukup tahu, dia tak pernah mengecewakan ketika memberi masukan-masukan tentang pernikahan. Setidaknya, terkesan begitu bagi seseorang yang membutuhkan teman bicara saat dia merasa biduk rumah tangganya terasa tak lagi bertenaga. Sedikit membosankan.

Kita mungkin akan mencari seorang penceramah agama, motivator, atau konsultan pernikahan demi mendapat nasihat, masukan-masukan praktis, dan sedikit menertawakan diri sendiri, barangkali. Problem rumah tangga tentu saja sangat beragam. Ketika hal itu terus-menerus memberondong, lalu kita tak sanggup lagi berpikir bagaimana menyelesaikannya, segalanya terasa melelahkan.

Namun, tahukah engkau, bahwa segala jenis nasihat itu pada akhirnya akan mengembalikan jalan keluar persoalan kepada kita sendiri. Mereka hanya membantu kita untuk membuka diri, jujur kepada diri sendiri. Mengoreksi kekurangan, lalu berusaha memperbaikinya.

Aku ingin tahu, apakah ada yang aku lewatkan selama belasan tahun ini? Rutinitas bertahun-tahun ini, barangkali memunculkan keajegan yang mengurangi sebagian besar keasyikan kita dalam menikmati kehidupan rumah tangga.

***

Yang membuat saya memfavoritkan Bang Tasaro ini, karena ide tulisannya menarik dan dieksekusi dengan tulisan yang mendalam. Sejauh ini buku beliau yang sudah saya baca ada dua judul: Sewindu dan Kinanthi. Keduanya meninggalkan kesan sangat baik, terutama pada bagaimana penulis menyampaikan kisahnya. Sehingga sampai saat ini saya sedang proses mengumpulkan karyanya yang segera bakal saya baca.

Karya Bang Tasaro yang sudah saya punya adalah Muhammad #1; Lelaki Penggenggam Hujan, Muhammad #2; Para Pengeja Hujan, Al-Masih; Putra Sang Perawan, dan Patah Hati di Tanah Suci.

Kenapa belum dibaca bukunya?

Sebab buku beliau itu tebal-tebal. Sampai dengan akhir tahun kemarin saya diserang reading slump, sehingga kesusahan menyelesaikan bacaan yang jumlah halamannya banyak. Dan sekarang ini saya sedang membiasakan lagi membaca, tentu saja dengan pilihan bacaan yang kategori ringan. Jika sudah panas mesinnya, bakal saya gas-keun membabat koleksi buku yang sudah bertengger manis minta diulas.

Nah, itu dia wishlist saya untuk minggu ini. Semoga saja saya bisa segera berkesempatan untuk punya dan membaca bukunya. Terakhir, jaga kesehatan dan terus membaca buku.



[Resensi] Reclaim Your Heart - Yasmin Mogahed


Judul: Reclaim Your Heart

Penulis: Yasmin Mogahed

Penerjemah: Nadya Andwiani

Penerbit: Penerbit Zaman

Terbit: 2014, cetakan pertama

Tebal: 297 hlm.

ISBN: 9786021687383

    Saya sudah lama menginginkan punya buku ini sebab saya menaruh ekspektasi isi bukunya akan membawa perubahan, baik di hati atau di mindset saya. Tetapi semesta menunda sekian lama sampai akhirnya baru-baru ini saya membeli ebook-nya di google play book.

    Butuh dua hari untuk menyelesaikan bacaan ini. Dan benar saja, ada banyak hikmah yang saya petik dari isi bukunya. Baik tentang ibadah, atau pun tentang cara pandang melihat kehidupan sehari-hari.

    Ada tujuh pengelompokan pembahasan di buku ini: keterikatan, cinta, penderitaan, hubungan dengan sang pencipta, status perempuan, umat, dan puisi. Semua pembahasan berdasar pondasi nilai islam sehingga akan ditemukan banyak terjemahan ayat Al-Quran yang relevan. Cara penulis menyampaikan pembahasannya pun tidak terkesan mendesak, memaksa, atau menggurui. Bagi saya justru terkesan seperti mengingatkan.

    Pada pembahasan 'keterikatan' penulis mengajak kita untuk melepaskan ketergantungan kita terhadap dunia; harta, manusia, dan bentuk duniawi lainnya. Sebab dunia ini hanya sarana, dan jika bergantung padanya, maka siap-siap saja kita akan mendapatkan kecewa. Dunia ini titipan, dan kapan waktu pasti akan diambil lagi. Jika kita terikat dengan dunia, kehilangan sarana akan membuat kita terpuruk dan sedih. Sedangkan Allah tidak ingin hambanya mengalami hal itu. Makanya penulis mengingatkan kembali kepada kita untuk, "Letakan dunia di tangan, dan letakan Tuhan di hati." Jangan terbalik!

    Lalu, penulis juga membahas mengenai hubungan suami istri yang ideal. Ada prinsip yang mesti dipegang oleh pasangan, "Suami ingin dihormati, istri ingin disayangi." Dalam mengaplikasikannya tidak ada kata menuntut harus siapa yang lebih dulu. Sebab prinsip ini seperti lingkaran, harus dilakukan secara berbarengan.

    Penulis juga membahas tentang keburukan feminisme. Allah menciptakan manusia dengan kekhasan antara laki-laki dan perempuan. Dan tidak ada konsep perempuan harus mengejar standar laki-laki, sebab ketentuan ini sudah ditegaskan Allah, ada pembeda antara perempuan dan laki-laki.

    Reclaim Your Heart mengajak kita untuk kembali ke Allah, seperti kembalinya kita ke titik nol. Kita diajak untuk mengosongkan bejana. Jika sudah kosong, silakan isi dengan tahta Allah, bukan dunia. Maka segala urusan akan terasa lebih mudah karena kita akan sadar segalanya ada campur tangan Allah di baliknya.

    Saya yakin buku ini akan saya baca lagi, sebab pada proses bacaan pertama ini masih banyak yang belum terserap dengan murni. Tetapi saya mengakui jika buku ini membawa pengaruh yang baik. 

    Sekian ulasan saya, terakhir, jaga kesehatan dan terus membaca buku.



[Resensi] Happily Ever After - Winna Efendi

 



Judul: Happily Ever After

Penulis: Winna Efendi

Editor: Jia Effendi

Penerbit: GagasMedia

Terbit: 2016, cetakan kelima

Tebal: x + 358 hlm.

ISBN: 9787807702

    Novel ini menceritakan tentang kehidupan Lulu yang didera masalah keluarga dan persahabatan di usia SMA-nya. Kehidupan bahagia Lulu berubah ketika sahabat dekatnya, Karin, menjadi pacar Ezra, yang pada saat itu berstatus pacar. Otomatis hubungan Lulu dan Ezra berakhir. Sejak itu Lulu kehilangan sahabat dan pacar. Selain itu Lulu dibuat kaget sekaligus sedih ketika ayahnya didiagnosa mengidap kanker stadium akhir. Hari-harinya yang diisi dengan dongeng-dongeng, seketika berubah menjadi kesedihan, ketakutan, kekesalan, bahkan kebingungan. Dan Lulu mulai mengerti jika dalam kehidupan ada kalanya menemukan akhir yang tidak bahagia.

    Secara garis besar novel ini menggali perasaan anak yang menghadapi orang tua yang mengidap penyakit serius, yaitu kanker. Penulis berhasil menggambarkan perubahan keseharian keluarga Lulu yang awalnya begitu harmonis, penuh canda tawa dan petualangan, secara tiba-tiba dilingkupi ketakutan kehilangan dan kesedihan yang luar biasa. Dan menariknya penyakit kanker yang dibahas di novel ini bukan sekadar tempelan semata untuk membuat kisahnya tragis. Penulis justru mengenalkan kanker ini lebih banyak, termasuk pendiagnosaan, proses pengobatan, dan bahkan efek-efek yang dialami oleh pengidapnya.

    Penyakit kanker sebenarnya salah satu penyakit serius yang kerap dipakai penulis di beberapa cerita roman, tetapi keunggulan novel ini justru memperlihatkan bagaimana perubahan dalam keluarga jika ada salah satu anggota yang mengidap penyakit ini. Sehingga pembaca dibuat hanyut oleh perubahan situasi di dalam keluarga yang mau tidak mau harus menyesuaikan dengan prioritas yang berubah. Misalnya Lulu harus menemani ayahnya berkunjung ke rumah sakit sementara ibunya mengganti posisi ayah mengurus usaha. Kolaborasi yang harus dijalankan mereka karena bisa dikatakan salah satu kaki dalam keluarga sedang rusak, sementara keluarga harus tetap prima.

    Membaca tuntas novel ini membuat saya ingat dengan novel Winna Efendi lainnya yang pernah saya baca, Refrain. Pada kedua novel ini terlihat jika penulis mempunyai gaya bercerita yang detail dan romantis. Namun kalau harus jujur, saya sedikit terganggu dengan gaya bercerita yang terlalu detail karena di novel ini disebut banyak hal, banyak keadaan, banyak penekanan yang terkesan diulang-ulang. Misalnya penggambaran kedekatan Lulu dan Karin yang disebut di banyak halaman, padahal pembaca sudah sangat paham kedekatan persahabatan mereka sebelum akhirnya berseteru. Atau ketika penulis mengulang-ulang kedekatan Lulu dan ayahnya terhadap kebiasaan membaca buku cerita atau dongeng. Yang akhirnya membuat saya harus men-skip beberapa paragraf yang sudah diindikasi merupakan pengulangan.

    Ada yang membuat saya kurang greget ketika membaca novel ini yaitu ketika saya sudah mengikuti perjalanan Lulu menemani ayahnya berjuang melawan penyakitnya yang terasa melelahkan, harus ditutup dengan kepergian yang tidak dramatis sama sekali. Proses Lulu menghadapi kepergian ayahnya tidak menimbulkan simpati saya sebab pada bagian ini terasa dibuat sangat singkat. Cerita secara terburu-buru bergulir pindah pada urusan Lulu dan Elliot. Wait! Siapa Eli?

    Menurut saya inti cerita novel ini adalah bagaimana menghadapi kehilangan orang yang kita sayangi, terlebih adalah orang tua. Namun proses move on-nya dieksekusi penulis dengan mudah saja. Padahal saya membayangkan kesedihannya sama dengan ketika menonton video klip dari lagu Bidadari Surga yang dibawakan Siti Nurhaliza. Persamaannya adalah sama-sama ditinggal pergi seorang ayah.

    Kalau ngomongin tokoh-tokoh di novel ini, saya tidak bisa memilih mana yang jadi favorit. Baik Lulu atau pun Eli, keduanya tidak meninggalkan kesan. Tidak juga dengan Karin atau Ezra. Alasannya, tidak ada ada tokoh yang menginspirasi, mungkin karena karakter yang dipakaikan ke tokoh-tokohnya terlalu biasa. Lulu: gadis SMA yang tidak populer dan sampai cerita berakhir tetap tidak berkembang, melankolis dan introvert. Elliot: Penyuka fotografi. Bahkan saya tidak tahu seramah dan semenarik apa Eli yang membuat dia tampak akrab dengan banyak orang di rumah sakit. Karin: tokoh protagonis yang dibentuk oleh keadaan. Ezra: mantan pacar Lulu yang punya style musisi tapi tidak cukup banyak penggambaran sosoknya bergelut di musik.

    Kalau membaca ulasan tokoh di atas, saya tampaknya tidak puas dengan karakter yang dipakaikan penulis untuk tokohnya. Saya selalu mengukur 'tokoh yang menarik itu yang membuka mindset baru' daripada jalan pikiran orang pada umumnya. Jadi, di atas itu merupakan penilaian personal saya, jika berbeda, itu hal biasa.

    Lalu, hikmah yang bisa diambil dari cerita Happily Ever After ini adalah untuk menghargai waktu dan kesempatan. Selagi sehat, pergunakan sehatnya untuk hal-hal baik dan menyenangkan. Sebab waktu yang sudah berlalu, nggak bisa diminta balik.

    Terakhir dari ulasan saya, jaga kesehatan dan terus membaca buku!



[Resensi] Matinya Burung-Burung - Ronny Agustinus


Judul:
Matinya Burung-Burung

Penerjemah: Ronny Agustinus

Penyunting: Dea Anugrah

Penerbit: Moka Media

Terbit: April 2015, cetakan pertama

Tebal: 168 hlm.

ISBN: 9789797959838

    Ini adalah buku yang memuat kumpulan cerita sangat pendek. Untuk penjelasan 'sangat pendek' ini dipaparkan langsung oleh penyusun pada pendahuluannya. Lalu, cerita yang terangkum di buku ini merupakan karya penulis dari berbagai negara: Bolivia, Uruguay, Kuba, Cile, Argentina, Guatemala, Nikaragua, Meksiko, Kolombia, El Salvador, Venezuela, Brasil, Panama, Republik Dominika, Kosta Rika,  dan Honduras. Karena latar belakang berbagai negara, maka tema dalam cerita sangat pendek di buku ini pun beragam.

    Karena mempunyai label 'cerita sangat pendek', tentu saja ini benar adanya. Misal di cerita berjudul Dinosaurus, hanya terdiri dari satu kalimat saja. Ketika ia terbangun, dinosaurus itu masih ada di sana. Dalam judul Fabel pun punya format sama, Dan tikus-tikus pun bersekutu memakaikan ular derik sebagai kelonengan kucing. Jika demikian adanya, saya pun tidak menaruh harapan mendapatkan cerita yang komplit mempunyai unsur tokoh, alur cerita, latar belakang, dan bahkan pesan moral dalam satu paket. Sepanjang membaca buku ini, saya menganggapnya sebagai latihan mengembalikan minat membaca buku sampai tuntas.

    Lalu bagaimana dengan cerita-cerita di dalamnya?

    Berbeda dari cerita pendek pada umumnya, sebagian besar cerita di buku ini terkesan hanya memaparkan satu kondisi, satu opini, bahkan satu kilasan ide yang melintas di kepala. Sehingga pengalaman membaca buku ini, ya sebatas membaca. Tapi di beberapa cerita, tentu saja ada yang memberi kesan. Misalnya di cerita pertama, Simulakra, yang menceritakan si anak yang menipu ibunya dari mulai sekolah sampai dia bekerja, semua dibuat tipuan, memberi pesan, "satu kebohongan itu akan mengundang kebohong lainnya."

    Jujur saja, semua cerita di buku ini tidak ada yang terhubung dengan saya. Alasannya karena latar belakang cerita dari negara asing yang sudah pasti berbeda keadaan dengan keadaan saya sebenarnya. Beda negara, beda rasa, beda sepengalaman. Bisa dibilang ada jarak antara saya dengan cerita di buku ini. Saya bisa menilai begini karena saat membaca kumcer dari penulis lokal, misal karya Puthut Ea atau karya Linda Christanty, ada keterikatan, ada persamaan, bahkan ada satu momen saya bisa bilang, "Ini cerita saya banget." Dan pengalaman ini tidak saya dapatkan saat membaca buku ini.

Cerita ini jadi viral pas kejadian jatuhnya pesawat dari salah satu maskapai dalam negeri, Sriwijaya Air. Memang kalau dibaca, rasanya bikin merinding. Ini mungkin perandaian percakapan para penumpang pasca mereka kembali ke pangkuan Tuhan.



    Bukan berarti buku ini jelek. Buku ini bagus untuk banyak orang yang memang bisa terhubung. Dan buku ini juga bagus untuk saya karena membuat saya bisa membaca buku sampai tuntas, setelah sekian lama saya mendeg membaca buku sampai halaman belakang. Jadi, pada akhirnya semua buku itu bagus, tergantung dibaca siapa, dan pengalaman apa yang diperolehnya.

    Terakhir, saya tidak akan bosan menutup ulasan pendek saya dengan, jaga kesehatan dan terus membaca buku.

***



[Resensi] My Other Half - Cyndi Dianing Ratri


Judul:
My Other Half

Penulis: Cyndi Dianing Ratri

Editor: Tesara Rafiantika

Penerbit: GagasMedia

Terbit: 2016, cetakan pertama

Tebal: viii + 168 hlm.

ISBN: 9787808599

Novel ini menceritakan kesedihan Adinda yang secara mendadak mendapatkan kabar kalau saudara kembarnya, Aninda, meninggal karena penyakit kanker. Kemarahannya melebar menyinggung banyak kesedihan di masa lalu, dimana kehidupannya berubah total sejak keputusan orang tuanya untuk bercerai. Sejak perceraian itu, Adinda diasuh ayahnya, sedangkan Aninda diasuh ibunya. Mereka yang saudara kembar dipisahkan, dan berakhir pada titik perpisahan yang tidak akan ada kesempatan lain untuk bertemu kembali.

Secara keseluruhan, cerita novel ini dapat diikuti dengan lancar. Di beberapa bagian, penulis bisa membuat saya hanyut dalam kisah sedih yang dialami dan dirasakan Adinda. Apalagi jika sudah menyangkut perpisahan yang rasanya bagi siapa pun tidak adil untuk diterima, apalagi untuk dipahami. Mungkin juga karena tema besar novel ini adalah keluarga, sehingga bagi saya sendiri sangat mudah menerima kisah si kembar yang harus dipisah kematian.

Novel ini juga punya suasana suram. Sejak awal pembaca diajak untuk menyelami perasaan Adinda yang tidak sempat mengucapkan perpisahan kepada saudara kembarnya. Dan sampai akhir cerita, aura suram itu tetap melekat. Penulis yang mencoba menghadirkan keceriaan di ujung kisahnya, tetap tidak berhasil mengusir rasa sedih yang dari awal sudah dibangun. 

Apakah kemudian kisah di novel ini menjemukan?

Menurut saya tidak, sebab fondasi dari novel ini berangkat dari rasa sedih itu. Penulis seperti sedang menggali perasaan manusia pada umumnya ketika dihadapkan pada perpisahan. Bagaimana kita bisa menerima kenyataan atas kepergian seseorang yang kita sayangi. Bagaimana kita bisa menerima jika di balik perpisahan ada hikmah yang bisa diambil. Bagaimana kita bisa kembali melanjutkan hidup pasca terpuruk dipaksa perpisahan. Novel ini memang menekankan tentang move on dari kesedihan.

Rajutan kisah si kembar ini dikemas dengan plot campuran, maju dan mundur. Plot maju lebih mengeksplorasi Adinda menerima kenyataan, sedangkan plot mundurnya berfokus pada penjelasan kejadian masa lalu yang membuat Adinda sebegitu sedihnya. Yang menarik lagi, flashback di novel ini diceritakan melalui bagian tulisan diary yang ditulis Aninda, dibaca Adinda. Sehingga pembaca bisa paham perasaan yang dirasakan baik Anin atau Dinda.

Hal lain yang menjadi catatan saya adalah gaya bercerita penulis yang menurut saya masih kurang lues untuk menyajikan cerita dengan karakter dewasa. Pada awalnya saya kira si kembar ini berusia remaja. Tetapi tak lama kemudian saya mendapati fakta kalau Adinda dan Aninda ini sudah bekerja, mereka bukan anak sekolah. Saya mendapatkan kesan mereka masih sekolah karena gaya bahasa yang begitu rapi dan santun, ditambah minim sekali informasi dunia kerja pada karakter di novel ini. Hampir keseluruhan novel ini diisi penjelasan tentang kesedihan dan keadaan keluarga di sekitar si tokoh.

Pelajaran yang kemudian bisa diambil setelah membaca tuntas novel ini adalah keluarga merupakan harta paling berharga, tempat kita kembali pulang setelah mengalami banyak prahara di luar rumah. Jadi, berusahalah terus menciptakan keharmonisan di tengah keluarga, sebab keluarga yang kondusif akan membentuk kepribadian yang baik untuk anggota keluarga.

***

Alhamdulillah, saya kembali belajar menulis resensi lagi, walau saya akui masih sangat kaku dan masih sangat bertele-tele. Semoga ini langkah awal untuk memulai mengaktifkan kembali blog buku ini.

Terakhir, jaga kesehatan dan terus membaca buku!