[Resensi] Steal Like an Artist - Austin Kleon


Judul: Steal Like an Artist
Penulis: Austin Kleon
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penerbit: Noura Books (PT Mizan Publika)
Terbit: Maret 2013
Tebal: 160 hlm.
ISBN: 9786021606810
Harga: Rp59.000

Rasanya seneng bisa menyelesaikan satu ebook lagi yang udah lama jadi PR buat dibaca. YEAYYYY!

Kali ini saya mau bahas mengenai buku yang mengupas tentang kreatifitas dengan judul "Mencuri seperti seorang seniman", dari sudut pandang penulis Austin Kleon.

Pada awal buku saya sudah tertohok dengan kalimat, "Bila orang memberimu saran, mereka justru berbicara dengan diri sendiri di masa lalu." (hal.11). Kenapa?

Soalnya baru-baru ini saya memang habis ngomongin adik perempuan saya, kelas XI SMA, mengenai beberapa hal. Misalnya harus serius belajar bahasa inggris sampai bisa, ikut organisasi dan mengembangkan pertemanan, dan jangan jadi mageran.

Jujur saja, rupanya nasehat yang saya kasih merupakan penyesalan dan dari pengalaman saya, yang dulu tidak saya lakukan. Saya kurang bisa bahasa inggris, kurang aktif di organisasi, kurang banyak teman, dan semua itu mempengaruhi keadaan saya sekarang.

Sayangnya, waktu nggak bisa diputar. Jadi, saya harap adik saya tidak merasakan penyesalan serupa. Dan saya berharap dia lebih berkembang jauh dibandingkan saya dan kakak-kakaknya yang lain.

Tetapi, inti dari buku ini lebih menekankan jika, "Semua kreasi berasal dari sesuatu yang pernah ada." (hal.17). Penulis menegaskan jika nggak ada karya yang 100% original. Semua hampir percampuran dari ide yang pernah ada. Saya pun mengaminkan pendapatnya ini. Analoginya adalah ketika kita terlahir, kita nggak membawa jati diri. Justru jati diri muncul setelah proses meniru sepanjang pertumbuhan kita jadi dewasa. Lama-lama terbentuklah jati diri kita. Nah, tugas seniman yang baik adalah memberikan sentuhan kepada ide hasil curian untuk menjadi ide versi kita.


Prinsip soal meniru menurut penulis adalah, "Jika kamu meniru dari satu orang, kamu akan disebut penerus si anu. Sedangkan jika kamu meniru dari seratus orang, kamu akan disebut orisinal. kita punya kekurangan yaitu tidak dapat meniru dengan sempurna. Namun, kegagalan meniru ini bisa menjadi jalan menemukan jati diri sendiri."

Lalu bagaimana proses kreatif ini dimulai?

Mulai belajar. Proses yang gampang diucapkan tapi sulit dilakukan, apalagi supaya konsisten. "Belajar itu mudah. Asal kamu punya keinginan."(hal.30) Related banget dengan apa yang saya alami saat ini.

Saya merasakan susah sekali menyelesaikan tugas kampus. Padahal sudah direncanakan sedemikian rupa, dari waktu hingga alatnya. Tetapi, selalu saja kalah dengan gangguan lain. Misalnya youtube, film baru, musik, dan lainnya. Setelah membaca kalimat ini, saya jadi paham, mungkin keinginan saya belum begitu teguh. Sehingga gampang diganggu dan akhirnya tidak pernah mewujudkan apa yang sudah saya rencanakan.

Dan silakan renungkan kalimat berikut ini:
"Gambar hal yang ingin kamu lihat, mulailah bisnis yang kamu ingin jalankan, mainkan musik yang kamu ingin dengar, tulis buku yang menarik bagimu, buat produk yang kamu ingin pakai-kerjakan apa yang ingin kamu selesaikan." (hal.59).

Semua orang kreatif menemukan ide cemerlangnya dengan melakukan apa yang mereka sukai. Bukan menunggu waktu yang tepat, keadaan yang memungkinkan, bahkan tidak menunggu sampai ide mampir. Dengan melakukan langkah pertama, sering melakukan apa yang kita sukai, kita akan menemukan ide hebat pada prosesnya.

Ada nasehat lain yang kontradiktif dari penulis buku ini yang mengatakan, "Membatasi diri saja." (hal.143). Maksudnya adalah ketika kita sedang mengerjakan karya, beri batasan dari informasi yang melimpah saat ini, terutama dari internet. Godaan untuk mengerjakan karya lainnya menjadi besar dan ini akan membuat karya yang sedang dikerjakan akan ditinggalkan. Masih menurut penulis, "Batasan yang tepat dapat mendatangkan karya terbaik." (hal.144)

Oya, ada juga nasehat buat siapa pun yang ingin jadi penulis, yakni, "Tulislah apa yang kamu sukai, bukan apa yang kamu tahu."

Prinsip ini dapat diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sudah waktunya kita menyisihkan untuk melakukan apa yang kita sukai, dibandingkan melakukan apa yang kita tahu. Kalau Sabtu-Minggu, enak tuh menyempatkan diri membaca buku di kamar sambil ngemil. Dibandingkan ikut jalan-jalan hanya karena nggak enak sama teman. Capek euy, ngikutin maunya orang mulu!

Selain membahas bagaimana menjadi kreatif, penulis juga memberikan masukan yang lebih personal. Misalnya keharusan untuk selalu menerapkan "Bekerja lebih baik dan berbagilah", atau "Berteman di internet harus selalu mengatakan yang baik-baik saja."


Secara keseluruhan dari pembahasan di buku ini, penulis berharap siapa pun yang ingin menjadi kreatif harus tetap menjadi manusia yang beradab, lebih bijak, dan selalu berkarya.

Saya tetap kaget juga begitu selesai membaca buku ini karena saya menemukan hal-hal baru. Padahal ini jadi kali kedua saya menamatkan buku yang terbilang tipis ini. Nggak butuh banyak waktu kok untuk membabat habis semua halaman di dalamnya. Selain ringan, gaya penulisan sederhana, buku ini juga berbobot. Kerenlah pokoknya!

[Resensi] Man's Search for Meaning - Viktor E. Frankl


Judul: Man's Search for Meaning
Penulis: Viktor E. Frankl
Penerjemah: Haris Priyatna
Penerbit: Noura Books (PT Mizan Publika)
Terbit: Desember 2017
Tebal: 256 hal.
ISBN: 97860238541659786023854455
Harga: Rp61.000

Saya punya ebook buku ini sudah agak lama. Tetapi selalu saja urung dibaca. Padahal saya sempat membaca resensi buku ini, yang secara garis besar buku ini menceritakan tentang ketahanan penulis di kamp konsentrasi ketika Perang Dunia II berlangsung, dan menurut saya sangat menarik. Kemudian ketika akhir-akhir ini saya kesulitan membaca tuntas satu buku, saya memutuskan untuk membaca ebook agar bisa dibaca kapan dan dimana pun. Judul ini pun menjadi pilihan.

Benar saja, akhirnya saya bisa menyelesaikan membaca buku ini, walau butuh semingguan.

Yeayyyyy, pencapaian yang menyenangkan.

Man's Search for Meaning bercerita mengenai penulis yang juga seorang psikiater, yang masuk ke kamp konsentrasi, dimana nasibnya tidak karuan, mungkin mati cepat, atau mati pelan-pelan dipaksa kerja. Selama di kamp, penulis bersama tawanan lainnya, mengalami banyak penyiksaan. Penderitaan dan bayang kematian mengincar setiap hari. Dipukul dan dimaki jadi makanan setiap hari.

Penulis menjelaskan ada tiga fase yang dialami tawanan. Pertama, tawanan kaget karena perlakuan tentara yang menyiksa mereka. Kebiasaan hidup bebas, menjadi terkontrol oleh orang lain, sambil dihujani pukulan dan makian. Kedua, tawanan mulai bebal, bahkan tidak lagi bisa merasakan emosi. Kondisi ini terbentuk dari penderitaan yang dialami setiap hari, sehingga psikis mereka kehilangan rasa selain penderitaan. Mereka akan kesulitan membedakan emosi sedih, senang, kecewa, gembira, dan emosi lainnya. Fase terakhir, ketiga, tawanan merasakan kebebasan yang hampa. Ketika mereka sudah dibebaskan, tapi mereka tidak bisa bergembira, karena tidak pernah terbayangkan titik bebas itu akan dialami mereka. Kebebasan selama ini hanya jadi mimpi. Teriakan dan pukulan menjadi hal yang mereka kenal, dan ketika itu hilang, mereka merasa kosong.

Yang menarik dari buku ini, selain cerita mengenai pengalaman penulis di kamp, dipaparkan juga buah pikiran penulis mengenai logoterapi (pencarian makna hidup). Pengalaman di kamp menjadi contoh nyata bagaimana logoterapi membantu siapapun memaknai hidup.

Logoterapi mengajarkan bahwa ada tiga jalan yang bisa ditempuh seseorang untuk menemukan makna hidupnya. Jalan pertama melalui karya atau tindakan. Jalan kedua, melalui pengalaman atau dengan mengenal seseorang; dengan kata lain, makna hidup tidak hanya bisa ditemukan di dalam pekerjaan, tetapi di dalam cinta. Jalan ketiga, orang-orang yang menghadapi nasib yang tidak bisa diubah, masih bisa tumbuh melampaui dirinya sendiri, berkembang di luar dirinya sendiri, dan dengan melakukan itu, mereka mengubah dirinya sendiri. (hal. 228-229)

Yang paling berkesan dari membaca buku ini dan paling terhubung dengan saya mengenai kebosanan. Menurut penulis, banyak sekali orang pada saat itu yang datang ke psikiater bukan karena jiwanya yang sakit, melainkan untuk mengeluh oleh kebosanan, yang dianggap sebagai sakit. Ternyata, kebosanan yang dialami banyak orang dikarenakan orang tersebut tidak mempunyai tujuan yang ingin dicapai.

Saya termasuk ke golongan itu. Setiap Senin ke Sabtu saya bekerja dan menunggu datangnya hari Minggu karena libur kerja. Inginnya istirahat total. Saat hari Minggu berlalu, saya menyesal karena sebenarnya banyak sekali kegiatan/hal yang saya lewatkan. Idealnya, hari Minggu digunakan untuk melakukan yang menyenangkan, bukan dengan rebahan, apalagi melakukan pekerjaan kantor.

Menurut penulis, setiap orang harus mempunyai tujuan setiap harinya. Terlepas dari tujuan itu kadarnya besar atau kecil. Dengan adanya tujuan, kita akan dipaksa bergerak untuk mengerjakan sampai tujuan tercapai.

"Lebih baik merasa lelah setelah beraktifitas, daripada menyesal karena tidak melakukan apa-apa."

Sebenarnya masih banyak pelajaran hidup yang diceritakan penulis. Bahkan relevan dengan kondisi modern saat ini. Buat saya buku ini memiliki nilai besar untuk merubah pola pikir kita mengenai arti hidup. Dan kayaknya bakal saya baca ulang untuk memahami lebih dalam mengenai bagaimana cara memaknai hidup.

Dan saya tidak sabar pengen punya buku keduanya yang bertajuk: The Will of Meaning.

Rupanya membaca buku pengembangan diri membuat kita lebih sadar banyak hal. Ada sisi-sisi lain, mungkin kecil, yang selama ini tidak kita raba, tidak kita sadari, bahkan tidak terlihat, yang sebenarnya sisi itu ikut membentuk kita menjadi pribadi utuh.

Dan perlu diingat, "Mungkin kita tidak bisa menjadi atau berubah seperti yang diceritakan di buku. Tetapi dengan membaca buku pengembangan diri, membuat kita sadar apa yang menjadi kekurangan dan kelebihan kita, lalu kita bisa berdamai dengan keduanya."

Unboxing: Novel 5CM. Aku, Kamu, Samudra, dan Bintang-Bintang - Donny Dhirgantoro


Na, na, na, na, na...

Bacanya pakai senandung, terserah kalian yo!

Jadi, salah satu buku yang pernah bikin saya nangis adalah novel 5cm, yang ditulis Donny Dhirgantoro. Adegannya, pas di Gunung Mahameru ketika ada salah satu dari lima yang mengalami cedera. Itu beneran meresap ke jantung sampai saya nangis dan berhasrat pengen naik gunung. Apalah daya, keinginan nggak semua langsung dikabulkan. Sampai sekarang belum juga terwujud pengen naik gunung. Semoga aja bisa terwujud sebelum saya mati kelak.

Lalu, ketika ada kabar PO untuk buku sekuelnya, yang dikasih judul 5CM. Aku, Kamu, Samudra, dan Bintang-Bintang, saya memaksakan merogoh kantong untuk ikutan beli.

Harga asli bukunya Rp.115.000, sedangkan di program PO Gramedia ini ada diskon 20% jadi Rp.92.000,-. Lumayan banget bukan?!

Nah, ini juga jadi pengalaman pertama saya membeli buku PO di Gramedia pakai WA. Jadi kalau kita mau ongkirnya kecil atau tanpa ongkir, bisa banget pesannya lewat WA Gramedia yang tokonya terdekat dengan rumah kita.

Kalau nggak salah ada di akun twitter Gramedia yang memberikan link nomor WA Gramedia. Siapa tahu Gramedia di kota kalian sudah termasuk yang menyediakan layanan ini.

Untuk PO buku sekuel 5CM ini, saya baru dapat kabar pas tanggal 17 Agustus kemarin, kalau bukunya sudah siap di toko buku. Dan saya sendiri baru bisa ambil bukunya di tanggal 18 Agustus sepulang kerja.

Sekarang... buku sudah di tangan dan sudah dibaca juga beberapa halaman.

Terima kasih Gramedia Cipto Cirebon atas responsif-nya. Pelayanannya sangat membantu mengurangi ongkir, hehehe.

Koleksi Ebook Update


Sudah lama banget saya tidak membeli buku fisik karena didorong rasa bersalah sudah mempunyai banyak timbunan buku yang belum dibaca. Makanya saya coba untuk berhenti beli buku fisik, kecuali buku itu memang pengen banget. Misalnya buku terbaru terbaru dari penulis Donny Dhirgantoro, 5cm. Aku, Kamu, Samudra, dan Bintang-Bintang. Untuk buku ini saya sudah ikutan PO-nya dan tinggal menunggu informasi ketersediaan buku di toko buku Gramedia.

Lantas yang kemudian saya lakukan adalah berusaha membaca buku yang ada. Walaupun hasilnya saya masih kesulitan membaca buku sampai selesai. Mencoba untuk dipaksakan tetapi malah tidak enak selama prosesnya. Akhirnya, pelan-pelan saya mulai mendekati buku lagi dan membaca ketika mood sedang bagus, walau hanya 1-3 lembar saja.

Lainnya adalah menambah koleksi buku dengan format ebook bersifat gratis yang saya download di Google Play Book. Kayaknya pernah saya beruntung sekali ketika di Google Play Book ada update buku gratis selama tiga hari (ini yang saya tau) dari penerbit GagasMedia.

Nah berikut ini saya mau meng-update koleksi ebook yang ada di Google Play Book saya. Ikutan ngintip yuk!

1. MAN'S SEARCH FOR MEANING - VIKTOR E. FRANKL
2. MY OTHER HALF - CINDY DIANING RATRI
3. KISAH TANAH JAWA 'POCONG GUNDUL' - @kisahtanahjawa
4. HAPPILY EVER AFTER - WINNA EFENDI
5. MATINYA BURUNG-BURUNG - RONNY AGUSTINUS
6. BIG MAGIC - ELIZABETH GILBERT
7. WILLIAM -  RISA SARASWATI
8. SAYAP BESI VOLUME 1: E - ANGGADITYA PUTRA & IKHROMI OKTAFIANDI
9. BUKU RAHASIA GEEZ - RINTIK SEDU & HELLODITTA
10. MIDNIGHT STORIES - REDAKSI MEDIAKITA
11. CATATAN PENDEK UNTUK CINTA YANG PANJANG - BOY CANDRA
12. PENGABDI NETIJEN - GERALDY TAN
13. DARK STORIES RIDDLE - DAVE CAHYO
14. MEMBERI JARAK PADA CINTA - FALAFU
15. ELENA - ELLYA NINGSIH
16. SAYAP BESI VOLUME 2: M - ANGGADITYA PUTRA & IKHROMI OKTAFIANDI
17. SETELAH HUJAN REDA - BOY CANDRA
18. AKU INGIN TERUS MENARI - IMPY ISLAND
19. PUTRI RAJAPATNI - PUTU FELISIA
20. KAMI LINTANG - YUNITA R. SARAGI
21. LET ME ESCAPE - BILLA RUNNISA
22. HIJRAH ASMARA - MADUN ANWAR & SUKMA EL-QATRUNNADA
23. RED THREAD - REFFI DHINAR
24. KUTUNGGU KAU DI 2017 - SEPTI TITANIKA
25. PERJALANAN DINAS - NADYA WIJANARKO
26. JEJAK KAKI - DHIAN RIZKY & RINI NURUL
27. THE ACACIA BRIDE - CITRA NOVY
28. HIS WIFE - AURORAGONG-JU
29. BERANI NULIS ARTIKEL - MUYYASAROH
30. ANANTA PRAHADI - RISA SARASWATI
31. DANUR - RISA SARASWATI
32. SAMANTHA - RISA SARASWATI
33. MADDAH - RISA SARASWATI
34. HANS - RISA SARASWATI
35. ASIH - RISA SARASWATI
36. JANSHEN - RISA SARASWATI
37. PETER - RISA SARASWATI
38. HENDRICK - RISA SARASWATI
39. GERBANG DIALOG DANUR - RISA SARASWATI
40. UNTUKMU DI HARI KEMARIN - GALIH HIDAYATULLAH & RA MONICA
41. PADA SEBUAH AKHIR KITA MEMULAI - GALIH HIDAYATULLAH
42. IGAUAN KITA - J. S. KHAIREN
43. KAMI (BUKAN) JONGOS BERDASI - J. S. KHAIREN
44. KAMI (BUKAN) SARJANA KERTAS - J. S. KHAIREN
45. LELAKI BERNAMA OVE - FREDRIK BACKMAN
46. STEAL LIKE AN ARTIST - AUSTIN KLEON
47. HILANG -  DANNIE FAIZAL
48. KOSONG - ADE IGAMA
49. STALKER - DONNA WIDJAJANTO
50. MATA YANG ENAK DIPANDANG - AHMAD TOHARI
51. KUBAH - AHMAD TOHARI
52. SENYUM KARYAMIN - AHMAD TOHARI
53. ORANG-ORANG PROYEK - AHMAD TOHARI
54. COFFEESHOP - LUPANTUI WIGUNA
55. ANIMAL FARM - GEORGE ORWELL
56. TURTLES ALL THE WAY DOWN - JOHN GREEN
57. UBUR - UBUR LEMBUR - RADITYA DIKA
58. THE MIDNIGHT STAR - MARIE LU
59. MADRE - DEE LESTARI
60. CANNERY ROW - JOHN STEINBECK
61. A GAME OF THRONES - GEORGE R. R. MARTIN
62. NYAWA - VINCA CALLISTA
63. DERING KEMATIAN - LAMIA PUTRI DAMAYANTI
64. MIMPI PADMA - AYU DIPTA KIRANA
65. SALON TUA - CHRISTINA JUZWAR
66. COUPL(OV)E - RHEIN FATHIA

WOW, kok bisa banyak banget begitu? Padahal ketika saya merilis ebook di bulan Maret tahun 2018 lalu, hanya 16 ebook yang saya punya. Lalu saya juga sempat merilis ebook di bulan Januari tahun 2020 dan tercatat hanya punya 18 ebook. Artinya saya hanya menambah 2 ebook saja. Dan sekarang sudah di angka 66 ebook. Menakjubkan!

Ebook yang bertambah ini karena pada saat PSBB akibat covid, banyak sekali yang menggratiskan ebook baik dari penerbit maupun dari penulis bukunya. Sehingga saya langsung mendownload dengan dalih akan dibaca suatu saat nanti. Alhasil, bertumpuklah.

Saat ini mungkin saya memang harus pelan-pelan kembali membiasakan membaca buku karena bagaimanapun saya menyukai kegiatan membaca buku. Kalau sekarang sedang lelah, memang berarti butuh rehat dari kegiatan membaca buku.

Apa ada juga di antara kalian yang mengalami hal serupa dengan yang saya alami. Tos lah!

Butuh Saran Soal Membaca Efektif!


Akhirnya saya memberanikan diri menulis di blog ini lagi. Malu sebenarnya, karena yang ingin saya bahas kali ini bukan resensi atau informasi seputar buku. Ini hanya curhatan saja.

Jadi, selama beberapa bulan ini saya berhenti menulis di blog. Bukan karena keinginan untuk hiatus, hanya saja keadaan saya yang tidak pernah bisa menyelesaikan bacaan, yang akhirnya saya tidak bisa menulis resensi buku satu pun.

Selama ini saya sudah berdekatan dengan buku, berharap bisa membacanya di waktu luang. Buku tersebut adalah Bilangan Fu, Langit Merbabu, dan buku Manjali. Ketiga buku ini selalu bergantian ada di ransel saya dan saya bawa sampai ke kantor. Tetapi selalu gagal saya baca. Kalaupun bisa membaca beberapa lembar suatu hari, hari lainnya kembali tidak tersentuh.

Ritme kegagalan membaca buku sampai tuntas terus terjadi dan tanpa terasa sudah hitungan bulan saja saya tidak menyelesaikan satu buku pun.

Dengan artikel ini, saya ingin tahu saran dari kalian supaya saya bisa membaca buku dengan efektif sehingga bisa sampai selesai. Tolong komentar ya!


Wrap Up: Maret 2020


Berubah itu ternyata butuh usaha luar biasa. Ini yang saya rasakan setelah bulan Februari kemarin saya sama sekali tidak berhasil membaca satu judul buku pun untuk diresensi. Begitu masuk Maret, saya mencoba melakukan dengan lebih santai dan berharap mood untuk membaca meningkat. Rupanya tidak sungguhan menjadi kenyataan. Saya tetap terseok-seok dan tidak begitu banyak membaca buku.

Mau tau gimana perkembangan saya dalam kegiatan membaca buku, yuk cek langsung di bawah ini:


BUKU YANG DIDAPATKAN DI JANUARI 2020

Karena saya kebetulan harus beli dompet baru dan lokasi tokonya deket dengan toko buku Gramedia, jadi saya menyempatkan mampir dulu. Memang sih saya sudah ada niatan mau beli buku nonfiksi untuk pengembangan diri. Nah, sewaktu di tempat kerja sempat mengintip aplikasi My Value untuk melihat ada voucher apa saja. Ketemulah dua voucher yang menggiurkan. 1) Voucher 30% untuk kategori buku Seni yang diterbitkan penerbit BIP. 2) Voucher 10% untuk semua buku terbitan Gramedia dan lininya.

Buku Mengatasi Masalah Besar Dalam Hidup karya Richard Carlson (88.200 - sudah diskon 10%)


Membaca sinopsis di belakang bukunya bikin saya yakin untuk membaca buku ini. Pilihan ini tentu saja bikin saya menunda membeli buku kedua Mark Manson yang judulnya Segalanya Ambyar. Biarlah buku Bang Manson dibeli di lain kesempatan, hehe.

Buku Bicara Itu Ada Seninya karya Oh Su Hyang (46.900 - sudah diskon 30%)


Jujur saja saya sempat membeli buku bajakannya karena waktu itu butuh untuk membuat artikel lomba. Eh rupanya lombanya nggak ikut, bukunya juga gagal dibaca. Begitu ada promo diskon yang lumayan gede ini, saya nggak melewatkan kesempatan untuk beli buku aslinya. Tetapi awal buku ini memang memikat banget, karena apa yang dibahas terhubung sekali dengan saya yang susah banget untuk memulai percakapan yang asyik. Dan semoga saja buku ini bisa membantu merubah kekakuan saya dalam berbincang-bincang.

Oya, buku ini sudah saya baca dan resensinya ada disini: [Buku] Bicara Itu Ada Seninya karya Oh Su Hyang

Total saya beli buku adalah 135.100,-

Novel Renegades karya Marissa Meyer


Novel ini saya dapatkan sebagai hadiah giveaway yang diadakan oleh toko buku AIAKAWA BOOKS di twitter. Waktu itu diminta menyebutkan quote yang bagus dari buku. Dan yang saya jawab adalah, "Merusak memang lebih mudah daripada memperbaiki." Quote ini ada di novel Asa Ayuni yang ditulis oleh Dyah Rinni.

Tanggal 23 Maret diumumkan pemenangnya dan saya baru liat di tanggal 24 Maret-nya. Hari itu juga saya langsung DM untuk konfirmasi sebagai pemenang. Barulah di tanggal 30 Maret buku itu sampai ke tangan saya. Sumpah, saya seneng banget karena memang sudah lama tidak pernah menang giveaway buku lagi. Sampai saya menulis artikel ini, bukunya sedang proses dibaca, hehe.

BUKU YANG DIBACA DI JANUARI 2020


  1. Buku Bicara Itu Ada Seninya karya Oh Su Hyang
  2. Novel Starting Over karya Titi Sanaria


Untuk bulan Maret ini memang belum banyak buku yang dibaca. Semoga bulan depan sudah bisa melahap lebih dari bacaan bulan ini. Semoga ya!

[Resensi] Starting Over karya Titi Sanaria


Judul: Starting Over
Penulis: Titi Sanaria
Editor: Dion Rahman
Penata Letak: Debora Melina
Desainer Sampul: @Hayharits
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Terbit: Oktober 2019
Tebal Buku: 394 halaman
ISBN: 9786230007620 / 9786230007637 (digital)

Blurb
Hubungan mereka hanya berlandaskan physical attraction, awalnya Prita mengira begitu. Hanya ketertarikan fisik semata. Tidak lebih. Dia mengagumi Erlan yang tampan dengan setelan kantor yang membuatnya terlihat sempurna. Namun, waktu telah membantu dia menyadari bahwa perasaannya kepada laki-laki itu mulai berkembang.

Hanya ketertarikan fisik, Erlan mendengar pengakuan itu berulang kali dari mulut Prita. Sementara dia sendiri gamang atas perasaannya. Dia nyaman berada di sisi putri tunggal bosnya itu. Akan tetapi, logika terus mengingkari rasa bahwa dirinya telah jatuh cinta kepada Prita.

Ya, tidak ada jatuh cinta dalam kamus Erlan, awalnya begitu. Namun, apa yang kira-kira tidak bisa dilkaukan oleh kekuatan cinta?

#####

394 halaman merupakan pencapaian tertebal novel yang berhasil saya baca beberapa bulan ini. Awalnya saya cuma berpikir perlu membaca cerita dengan tokoh dewasa. Akhirnya saya memutuskan membaca novel Starting Over ini tanpa tahu tebalnya berapa halaman. Yang saya jadikan pertimbangan karena novel ini masuk ke lini citylite.

Ide Cerita
Novel Starting Over ini mengisahkan kisah roman antara Prita dan Erlan. Perbedaan karakter membuat kisah cinta mereka sangat berliku yang ada awalnya saya kira karena perbedaan kelas sosial. Prita Halim adalah anak tunggal bos besar Johny Halim, yang dilimpahi banyak kemewahan dan orang mengenalnya sebagai gadis yang manja, egois, bahkan sembrono. Sedangkan Erlan merupakan tangan kanan Johny yang gila kerja, menuntut sempurna, kaku, dan jarang ngomong selain untuk urusan kerjaan.

Keduanya sempat bertunangan dengan alasan masing-masing, tetapi bukan karena saling suka, jauh juga dari saling cinta. Namun, dewi asmara membolak-balik hati mereka dengan banyak konflik.

Konflik dalam novel ini pun tidak bergulat sekadar roman antara Prita dan Erlan tetapi penulis menyisipkan sisi lain kehidupan tokohnya seperti dinamika pekerjaan, latar belakang keluarga, dan keseruan persahabatan. Pokoknya bisa dikatakan paket komplit.

Gaya Menulis. POV. Plot. Karakter.
Sebagai pembaca yang baru pertama kali melahap karya Kak Titi Sanaria, saya suka dengan rangkaian kalimat yang disusun tanpa menggunakan banyak majas. Narasinya terbaca sangat lugas sehingga terkesan ceritanya lebih dinamis dan tidak bertele-tele.

Hanya saja saya beberapa kali melakukan skip terhadap paragraf yang isinya berupa pengulangan. Kebanyakan paragraf itu mengulang latar belakang Prita sebagai anak orang kaya, sebagai gadis yang pernah tersandung kasus pembunuhan, dan beberapa kali menyebut permakluman karakter Prita yang keinginannya harus terpenuhi. Mungkin tujuan penulis adalah menegaskan kembali.

Novel ini secara keseluruhan menggunakan sudut pandang orang ketiga yang serba tahu. Subjeknya lebih banyak menyoroti sisi Prita, walaupun di beberapa halaman berpindah menyoroti sisi Erlan. Dan pemilihan font yang berbeda ketika menceritakan kilas balik cukup membantu untuk mengidentifikasi kapan cerita sedang berlangsung sehingga pembaca tidak dibikin bingung, apalagi dibikin galau.

Untuk karakter utamanya tentu saja ada Prita dan Erlan. Prita ini memiliki sifat sembrono, cerewet, manja, dan banyak karater minus lainnya yang biasa ditempelkan pada anak orang kaya. Namun, bukan berarti dia tidak punya karakter baik. Karena dia itu tipe orang yang sangat tanggung jawab ketika menjalankan tugas yang diamanahkan kepadanya. Bahkan kalau mengerjakan hal yang dia suka, Prita akan melakukannya dengan kerja keras dan sepenuh hati.

Sedangkan Erlan, lelaki dewasa yang kaku, pintar, terjadwal, irit ngomong, banyak bersikap cuek. Namun jangan salah, dia bersikap begitu karena latar belakang masa kecilnya yang cukup menguras airmata. Tetapi sikapnya itu perlahan-lahan mengalami perubahan. Cukuplah untuk bikin pembaca nggak ikutan geram mengikuti interaksi dia dengan Prita.

Lalu, ada karakter pendukung yaitu: Felis (adik angkat Erlan), Ardhian (temen Prita, pacar Felis), Sebastian (asisten Erlan), Becca (sahabat Prita), Johny dan Yura Halim (orang tua Prita), dan yang paling konyol sekaligus menggemaskan adalah Orlin (asisten Prita). Karakter mereka cukup memberikan kesan dan bakal teringat mulu sampai saya benar-benar selesai membaca novel ini. Tentu saja ini keberhasilan penulis dalam memakaikan karakter kepada masing-masing tokohnya.

Bagian Favorit 

“Aku tertarik sama kamu, tapi aku belum siap untuk terlibat hubungan dengan seseorang.”

“Mungkin kamu akan menganggap apa yang aku katakan ini sebagai pembelaan diri untuk apa yang sudah aku lakukan. Dan itu mungkin memang benar. Tapi dibutuhkan lebih daripada sekadar ketertarikan fisik untuk menjalin hubungan.”

Dua penggalan kalimat di atas ada di halaman 211 dan merupakan awal ketika Erlan mulai terbuka dengan apa yang dia rasakan kepada Prita. Kenapa ini sangat berkesan? Karena Erlan dan Prita itu dua orang yang selalu mengingkari apa yang mereka rasakan. Dalihnya banyak dan semua hampir masuk akal. Kekurangannya hanya satu, keduanya tidak berani mengambil resiko untuk saling terus terang. Lebih banyak bersembunyi kepada alasan-alasan yang masih bersifat ‘seandainya’.

Petik-Petik
Urusan romannya, pembaca bakal diingatkan untuk bikin komunikasi yang efektif. Sehingga kalau suka katakan suka, kalau ada keinginan mohon disampikan. Nggak perlu melibatkan ‘seandainya’ yang justru membuat jarak untuk sebuah hubungan.

Untuk pesan lainnya adalah terkadang masa lalu yang pilu memang menyisakan luka. Tetapi bakal sampai kapan membiarkan lukanya tetap basah? Sedangkan kita diberikan pilihan lainnya, yaitu memaafkan. Pilihan ini jelas-jelas ampuh untuk menyembuhkan luka hati. Kita harus memilih, bukan memelihara luka.

Final. Rating.
Membaca kisah Prita dan Erlan ini cukup menguras emosi dan memberikan banyak perenungan terutama soal bagaimana menyikapi asmara dengan cara dewasa. Diseling juga dengan kekonyolan kaum bucin yang haus perhatian dan penuh drama, membuat novel ini terasa lebih berwarna. Akhirnya, saya memberikan nilai 4/5.

Cuplikan
  • “...Suka sama orang kan hak asasi manusia. Asal nggak maksa dia buat balas perasaan kita, wajar-wajar aja, sih.” – hal.16
  • “... Bahkan ada orang yang membenci kita hanya karena kita lebih kaya daripada mereka, tanpa tahu kerja keras yang kita lakukan untuk sampai pada titik ini.” – hal.20
  • Mengingat aib orang lain jauh lebih mudah dan menyenangkan daripada membicarakan kebaikannya. –hal.21
  • Hanya saja, orang memang tidak pernah menduga apa yang akan mereka dapatkan dalam hidup. Sama seperti kehilangan yang juga tidak bisa diperkirakan. –hal.49
  • Bertindak impulsif itu jatuhnya malah sering merugikan. –hal.58
  • “Memang ada orang yang sukses dalam pekerjaan, tetapi kehidupan sosialnya menyedihkan....” –hal.79
  • “Tapi orang yang kelihatannya menyenangkan itu bisa membawa masalah juga....” –hal.80

[Resensi] Bicara Itu Ada Seninya karya Oh Su Hyang


Judul: Bicara Itu Ada Seninya
Penulis: Oh Su Hyang
Penerjemah: Asti Ningsih
Penyunting: Yosepha Ary Hascaryani. K
Desain: Aditya Ramadita
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (BIP)
Terbit: Desember 2019, cetakan kedua
Tebal: xvi + 240 hal.
ISBN: 9786024553920

Saya memutuskan membeli buku ini karena judulnya menarik. Saya merasa butuh bantuan dan latihan untuk bisa berbicara dengan baik karena dalam kehidupan sosial saya kesulitan memulai pembicaraan. Sehingga saya berharap pada buku ini akan menemukan beberapa tips untuk melakukannya.

Sepanjang membaca buku ini memang saya menemukan banyak tips terkait berbicara. Beberapa saran memang bisa dipakai. Tetapi, banyak juga yang akhirnya tidak bisa saya pakai.

Contohnya, di halaman 10–12, kita akan diberitahu cara melatih logika dalam berbicara: berikan alasan tepat untuk argumen anda, hindari lompatan logika dan melebih-lebihkan, konsisten dalam bersikap, gunakan kata-kata sederhana, dan tetap tenang.

Contoh lainnya mengenai berbicara menggunakan storytelling yang baik harus memenuhi syarat seperti tema, konflik, simpati dan solusi. Syarat tambahannya berupa pembalikan dan alasan. Lebih jelasnya kita bisa membaca di halaman 16–18.

Bagi kalian yang termasuk tipe orang yang gugupan, penulis juga memberikan tips cara menghilangkan kegugupan yaitu: membuat karikatur pendengar, menghindari merendahkan kapasitas diri saat memperkenalkan diri, mempelajari konten dengan baik, dan mengucapkan “mantra” dengan penuh keyakinan.

Dan masih banyak lagi tips yang dibagikan penulis, yang kemudian dirangkung dalam catatan saya sebagai berikut: 

  1. Lima unsur nonverbal untuk memikat hati pendengar (hal. 27-30).
  2. Tiga kunci menjadi sukses dengan bertingkah seperti orang sukses (hal. 40).
  3. Tiga keterampilan dalam berbicara (hal. 59-61).
  4. Empat teknik mendengarkan (hal. 95).
  5. Delapan unsur untuk mmebuat plot yang kokoh (hal. 113-118)
  6. Sepuluh rahasia pembiacaran komunikatif ala Yoo Jae Suk (hal. 142-143).
  7. Empat unsur menghadirkan irama dalam berbicara (hal. 149-150).
  8. Empat tipe presentasi yang tidak cukup persiapan (hal. 168-169).
  9. 4P mempersiapkan presentasi yang baik (hal. 170-171).
  10. Tiga cara membentuk suara (hal.200-201).

Dari beberapa tips berbicara yang dibagikan penulis ternyata dapat diaplikasikan dalam membuat tulisan. Misalnya menggunakan kata-kata yang sederhana, menggunakan perumpamaan, dan yang paling berhubungan dengan membuat tulisan adalah tips delapan unsur untuk membuat plot yang kokoh.

Keunggulan buku ini selain isinya banyak berupa tips, penulis juga menceritakan banyak tokoh yang menurutnya merupakan pembicara yang handal. Seperti Oprah Winfey, Barack Obama, dan tokoh-tokoh dunia lainnya.

Yang membuat saya kurang suka dengan buku ini adalah tips yang diberikan pada akhirnya ditujukan untuk berbicara dalam situasi formal. Misalnya berbicara untuk presentasi, berbicara sebagai presenter acara, dan bahkan berbicara sebagai pekerja penjualan. Padahal saya berharap akan mendapatkan inspirasi memulai pembicaraan dalam konteks hubungan personal. Karena kendala saya saat ini adalah tidak bisa memulai pembicaraan dengan orang sekitar secara luwes.

Karena alasan di atas, saya sangat rekomendasikan buku ini untuk kalian yang membutuhkan nasihat cara berbicara dalam dunia pekerjaan yang membutuhkan keahlian berbicara yang baik. Saya kira semua saran di buku ini akan sangat berguna sekali.

Akhirnya saya memberikan nilai 3 dari 5 untuk buku ini.