Boleh Sedih Pas Patah Hati, Tapi Jangan Lama-Lama


Film: Elsewhere / Aktor-is: Aden Young, Parker Posey / Sutradara: Hernan Jimenez / Produksi: Evoke / Rilis: 24 Januari 2020

Saya termasuk orang yang pengen banyak menonton film, tetapi kebanyakan selalu berhenti di tengah jalan. Apalagi kalau filmnya bergenre drama. Rasanya susah melanjutkan menonton kalau konfliknya kurang wah. Pengecualian untuk film Elsewhere ini.

Alasan kuat yang bikin saya bisa selesai menonton film ini karena di awal saya berharap menemukan cerita perjalanan ke alam. Begitu menonton filmnya, keinginan saya tadi itu hanya terpenuhi 20% saja. Sisanya memang murni drama roman.

Film Elsewhere memberikan pertanyaan kepada penonton yang bucin dengan pertanyaan, “Berapa lama kamu bersedih kehilangan orang terkasih? Dan apa yang sudah kamu dapatkan selama waktu itu?” Jawaban dari dua pertanyaan ini diharapkan mampu mengembalikan semangat penonton yang tengah patah hati.

Diceritakan pria bernama Bruno (Aden Young) tengah bersedih setelah istrinya meninggal karena sakit, dua tahun silam. Kehidupannya kacau dan sepanjang waktu dihabiskan untuk meratapi kehilangannya itu. Lalu satu hari ayah mertuanya datang dan mengatakan akan mengambil rumah yang pernah jadi tempat tinggal Bruno dan Lydia (Kathleen Munroe) karena rumah itu memang properti miliknya.

Bruno merasa berasa berat untuk melepaskan rumah itu. Walaupun dia sudah pindah ke pondok di rumah orang tuanya, Bruno masih sering ke rumah lawasnya untuk membersihkan. Namun pada minggu ketiga, dia mendapati penghuni baru, seorang perempuan bernama Marie (Parker Posey).

Apakah Marie bisa menyembuhkan luka Bruno?

Ada yang saya suka dari film ini. Pertama, momen ketika Bruno mengobrol dengan ayahnya secara intim. Sang ayah memberikan nasihat bijaknya mengenai pentingnya untuk move-on. Dia menegaskan, waktu dua tahun sudah sangat cukup untuk bersedih. Dan ayahnya mengingatkan kesedihan yang dialami Bruno jangan sebagai tipuan cara dia mengatakan jika hubungan dia dan Lydia sangat harmonis. Kenyataannya hubungan mereka berdua bermasalah.

Kedua, pesan yang disampaikan film ini begitu kuat mengenai ruginya berlama-lama meratapi kehilangan. Dari tokoh Bruno, kita bisa belajar jika menghabiskan waktu terlalu lama untuk bersedih bakal ada banyak momen yang hilang dilewatkan. Misalnya pertemanan, keharmonisan keluarga, kinerja pekerjaan, bahkan hal-hal remeh ikutan luput dari pandangan.

Ketiga, visual alamnya begitu memesona terutama ketika kamera menangkap pemandangan hutan yang begitu alami. Ini ada hubungannya dengan profesi Marie yang seorang penulis, yang tengah menggarap proyek buku keduanya yang berkaitan dengan lumut.


Film Elsewhere ini bukan drama yang punya klimaks menghentak. Justru terbilang datar. Kalau pun hampir klimaks, pembuat film menarik riak itu kembali tenang. Misalnya ketika rumah yang punya banyak kenangan itu kembali kepemilikannya kepada Bruno, dan mau tidak mau Marie harus meninggalkan rumah itu, pertengkaran mereka malam sebelumnya dengan mudah dinetralkan dengan kebijaksanan Marie yang menganggap hubungan mereka ya segitu saja. Tidak ada saling gas, tidak ada saling mengumpat, tidak ada saling memaki. Begitu mudah selesai, begitu tenang.

Untuk karakter Marie, jujur saja saya kurang suka. Ini efek karena saya pernah melihat peran Parker Posey di serial Lost in Space dan berperan antagonis. Jadi meski dia menangis karena perpisahan dengan Bruno, aktingnya tidak membuat saya terharu.

Secara keseluruhan, film Elsewhere ini membuat saya merenung jika menyimpan sedih itu sah-sah saja, asal jangan kelamaan. Bukan apa-apa, yang mengkhawatirkan kita itu ada orang tua, ada saudara, dan ada teman-teman. Jadi, film ini saya rekomendasikan untuk ditonton.

-

#NontonFilm2020

Susahnya Menulis Resensi Buku


Duh, saya akhirnya kebentur juga sama masalah menulis resensi buku. Jadi, beberapa hari lalu saya sudah menyelesaikan membaca satu judul buku yang menurut saya sangat bagus. Begitu menutup halaman terakhirnya, saya langsung menyalakan laptop dan mulai menulis data bukunya. Tetapi begitu mau mengulas bukunya, saya terpaku, bingung.

Ada yang pernah mengalami hal begini juga?

Saya mendiamkan otak saya beberapa hari kemudian, dan begitu mencoba mengetikkan lagi ulasan bukunya, tetap aja saya kesulitan merangkai kata. Kesel sendiri dong ujung-ujungnya.

Lalu saya memikirkan masalah utamanya. Dan ini masih dugaan aja ya. Takut-takut, saya sebenarnya kena masalah "hasil sempurna".

Lha, emang ada masalah begini di dunia blogger buku?

Entahlah. Saya hanya menduga. Alasan kenapa saya mandeg menulis resensi buku saat ini karena saya sudah membayangkan akan membuat resensi buku yang bagus, memikat, pakai bahasa yang renyah, dan lekat ke pembaca dengan gaya story telling yang mantap. Bukan apa-apa, soalnya buku yang kemarin sudah saya baca punya cerita yang bagus banget. Dan di benak saya ada keinginan untuk menuliskan resensi yang bagus juga.

Rupanya keinginan ini malah menjebak saya. Otak saya tidak bisa berpikir mengalir. Karena ekspektasi yang saya pasang terlalu tinggi, begitu mengetikkan hasilnya, duh jauh dari keinginan yang sudah saya idamkan di awal.

Saya jelas berontak dong mengalami fase ini. Rasanya nggak enak banget nyimpen PR bikin resensi dan PR ini justru menghalangi saya membaca buku lainnya. Akhirnya saya harus jujur ke diri sendiri kalau ada waktunya kita nggak bisa bekerja secara optimal sesuai yang kita inginkan, apalagi menargetkan hasilnya sempurna.

Mungkin ke depannya kalau saya mengalami hal serupa, saya akan menuliskan resensi bukunya dengan singkat saja. Enggak masalah walau hanya satu paragraf. Setidaknya dengan jalan ini, saya bisa membuat diri saya sudah menunaikan PR-nya. Saya juga bisa melanjutkan membaca buku lainnya.

Kalau di antara kalian ada yang mengalami mentok bikin tulisan bagus dan bisa mengatasinya, boleh dong kasih tau caranya di kolom komentar. Mungkin saja cara kalian mempan juga buat saya praktikkan.

Baiklah, sekian dulu latihan menulisnya. Semoga saya bisa terus menulis lebih banyak biar pun untuk hal-hal remeh.


Wrap Up: Januari 2020


Sebagai pembaca buku, rasanya seneng banget setiap kali bisa mendapatkan buku baru. Tetapi kalau melihat daftar buku yang belum dibaca dan jadi timbunan, sedih juga sih.

Begitu awal tahun ini saya langsung mengingatkan diri sendiri untuk mengurangi membeli buku. Alasannya seperti yang saya bilang di atas, masih banyak timbunan buku yang belum dibaca. Kalau terus beli buku, mau sebanyak apa buku yang ditumpuknya.

Akhirnya ada peraturan tidak tertulis yang saya camkan. Boleh beli buku jika buku itu benar-benar disukai. Dan alasan lainnya kalau buku itu ada diobralan atau bazar.

Nah, untuk melengkapi artikel resensi buku, saya sengaja menghadirkan lagi nih konten wrap up setiap bulannya. Isinya membeberkan buku apa saja yang didapatkan dan buku apa saja yang sukses dibaca.

Cek daftarnya berikut ini ya!

BUKU YANG DIDAPATKAN DI JANUARI 2020

Novel Bilangan Fu dan Novel Manjali, karya Ayu Utami


Saya sudah pernah baca novel Bilangan Fu ini di I-Jakarta, sebuah apliaksi perpustakaan digital yang dikelola oleh pemerintah daerah Kota Jakarta. Dan karena novelnya bagus, saya bertekad harus punya buku fisiknya. Setelah novel ini mengendap di Wishlist, akhirnya semesta mendukung saya untuk memilikinya, berbarengan dengan munculnya notifikasi email dari apliaksi MyValue berupa voucher bulan ulang tahun berupa potongan 20%. Saya langsung beli sepaket dengan buku kedua series Bilangan Fu ini yaitu novel Manjali.

Novel Bilangan Fu: dari harga 120K jadi 96K. Novel Manjali: dari 65K jadi 52K.
Total beli jadi seharga 148K.

Novel Langit Merbabu karya Rons Imawan dan Novel Hector and The Secret of Love karya Francois Lelord


Kedua buku ini saya beli di acara bazar Out of The Boox yang digelar di Living Plaza Cirebon mulai tanggal 23 Januari sampai dengan 11 Februari 2020. Untuk novel Langit Merbabu saya beli lantaran dua alasan. Pertama, karena saya pernah membaca buku lainnya karya Bang Rons yang Udin Fabulous. Kedua, karena tema yang diangkat mengenai hiking ke Gunung Merbabu.

Lalu, buku Hector and The Secret of Love saya pilih karena buku pertamanya, Hector and The Seacrh for Happiness, pernah saya baca. Bahkan film Hector pun saya sudah tonton. Jadi begitu melihat buku ini ada di jajaran obralan, saya segera ambil.


Novel Langit Merbabu dibeli harga 25K sedangkan Novel Hector and The Secret of Love dibeli seharga 35K
Total beli buku jadi seharga 60K

BUKU YANG DIBACA DI JANUARI 2020


Untuk Januari 2020 ini saya lumayan mengeluarkan duit buat beli buku. Tapi pilihan bukunya membuat saya senang. Jadi setimpal saja. Dan siap-siap di Februari nanti, pasti saya beli lagi buku di bazar Out of The Boox. Nantikan informasinya di wrap-up Februari ya!


Jalan-Jalan Naik Perahu di Pantai Kejawanan Cirebon


Hari Minggu tanggal 26 Januari 2020 ini saya habiskan dengan menyenangkan.

Hari kemarin saya dan kawan kampus janjian untuk mampir ke bazar buku Out of The Boox yang ada di Living Plaza Cirebon (insyaallah ceritanya bakal saya bikin di artikel terpisah). Temen saya akhirnya bisa jemput saya di kosan sekitar jam 13.30. Kita langsung berangkat ke lokasi bazar. Paling satu jam-an kita ngubek buku disana.

Pulang dari bazar buku, kita menyempatkan isi perut dulu di Warung Sambal. Karena bingung mau kemana lagi, soalnya kita cuma janjian ke bazar doang, saya mengajukan untuk berkunjung ke Pantai Kejawanan.

Untuk masuk ke area Pelabuhan Kejawanan, setiap motor yang masuk dikenai retribusi 500 rupiah. Berikutnya nambah biaya parkir 3K.

Karena hari Minggu, Pantai Kejawanan beneran penuh orang. Serunya lagi, sore ini air lautnya tengah surut. Sehingga orang-orang pada turun ke pantai yang berpasir hitam. Saya dan kawan lebih memilih untuk naik perahu saja. Sumpah, ini kali pertama saya naik perahu padahal saya sudah sering mantai di Kejawanan.

Saya aslinya takut mabuk laut. Kebayang tubuh kita terguncang-guncang di perahu mengikuti deburan ombak. Alasan inilah yang bikin saya nggak tertarik naik perahu. Tapi sore ini saya beranikan diri untuk naik.

Bayar naik perahu sebesar 10K. Saya kira kita bakal dibawa ke ujung laut lepas sebatas batu pemecah ombak. Tetapi nyatanya kita dibawa rada lebih jauh ke tengah laut.  Kita melewati tiga kapal besar. Bahkan sempat mendekati ke sebuah kapal yang bawa batu bara.

Rasanya berada di atas perahu dengan ombak yang lumayan gede, membuat adrenalin kepacu. Ini lebih seru daripada rafting di sungai Elo, Magelang, pas acara gathering lalu. Dan bikin pikiran kembali segar gara-gara mata melihat betapa luasnya lautan. Istilahnya, bikin hati dan pikiran lebih jembar.

Kayaknya sekitar setengah jam-an kita pulang-pergi melaju ke tengah lautan. Makanya pas sampe lagi di labuhan perahu, hari sudah rada sore. Kita memutuskan untuk menyudahi mantainya. Saya juga perlu mandi karena badan rasanya lengket banget, dan mau minum obat. Biasalah, badan lagi kena flu.

Biaya ke Pantai Kejawanan:

  • Biaya retribusi area Pelabuhan Kejawanan: Rp500,-
  • Biaya parkit: Rp3.000,-
  • Biaya naik perahu: Rp10.000,-

Sampai jumpa di jalan-jalan berikutnya ya! Berangkat Yuk!

[masih malu-malu buat ngambil foto, jadi minim banget, haha]

Lelah Itu Nikmat Allah SWT Juga


Saya menulis sekarang, ketika saya sedang pulang ke rumah orang tua di Desa Durajaya, salah satu desa yang ada di Kabupaten Cirebon. Kegiatan rutin setiap akhir pekan, saya selalu setor wajah kepada Bapak dan Ibu.

Menjelang tidur begini, dengan laptop masih nyala, hati saya gusar. Sedikit resah. Pikiran saya jalan ke masa lalu yang lebih banyak diisi kegagalan. Akhirnya saya memutuskan untuk mengetik artikel baru, berupa renungan, sekaligus curhat terselubung.

Saya lelah. Perasaan ini hampir sudah saya rasakan dua mingguan. Mungkin karena saya sedang disibukkan dengan auditor di kantor, juga belum sempat jalan-jalan. Pengen banget renang lagi ke Situ Janawi untuk memulihkan kemerosotan mood saya yang sedang anjlok.

Ditambah kemarin-kemarin saya harus menghadapi kawan kampus yang ngambek gara-gara nggak masuk ke kelompok tugas. Sampai malam-malam saya chatingan sama orang itu dengan nada super kesal karena menurut saya masalah itu sepele. Ditambah dia mengungkit keengganan saya sekelompok sama dia yang saya utarakan ke salah satu temen kampus lain saat semester 1 atau 2, saya lupa. Kejadian ini bikin nambah masalah saja. Namun beruntung saya segera menyelesaikannya walau untuk saat ini saya dan dia sepakat tidak saling mengusik.

Pikiran saya juga rada terganggu dengan kejadian hari Jumat kemarin. Ketika penilaian KPI (semacam penilaian kinerja) di kantor, saya yang mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan apa yang saya pikirkan setelah penilaian KPI-nya selesai, saya bercerita tentang keresahan saya yang ternyata saya iri dengan rekan kerja saya yang gajinya lebih tinggi.

Saya hanya ingin bercerita dan tidak menuntut. Soalnya saya rada terganggu dengan fakta itu. Memang ya, untuk hal gaji, sebaiknya sesama rekan kantor tidak perlu tahu. Sayangnya, beberapa minggu sebelum penilaian KPI, secara nggak sengaja saya mengetahui gaji rekan kantor saya itu.

Apa yang bikin saya gusar? Tak lain karena saya merasa tanggung jawab saya besar dan bertumpuk-tumpuk. Bahkan tanggung jawab dia saja harus saya pikul. Saya merasa nggak adil saja. Karena saya pernah berada di posisi rekan kerja saya itu, dan saya tidak pernah melimpahkan persoalan kerjaan saya ke rekan kerja saya yang lama. Dia tahu beres. Tetapi dengan rekan kerja saya yang ini, saya harus ikut pusing pas dia dapat kerjaan pusing, sedangkan pas dia dapat gaji gede, saya kagak. Ah, ini bentuk iri hati saya saja rupanya.

Nah, pas makan siang di hari Jumat itu, saya dan beberapa rekan kerja diskusi soal mengontrol perasaan semacam ini. Dan nasihatnya bener-bener masuk ke hati saya. Pada akhirnya memang Allah SWT memberi gaji saya disini segitu. Dengan proses yang rada panjang dan sulit. Saya pun dipaksa harus mencoba ikhlas. Saya masih butuh kerjaan, jadi saya harus berlapang dada. Yang ditekankan rekan kerja saya itu, tata lagi niat kerjanya. Pastikan saja untuk beribadah. InsyaAllah rejeki yang nggak didapatkan disini, akan dikasih Allah SWT dari arah lain.

Sejak selesai makan siang itu, saya sungguh ikhlas dengan keadaan yang sedang saya hadapi, dan saya berniat akan kembali menata hati saya meniatkan banyak hal untuk beribadah.

Belajar kehidupan yang sebenarnya tidak dengan berpura-pura segalanya baik-baik saja. Melainkan menerima hal buruk dengan segenap hati. Selanjutnya kita hanya perlu melakukan banyak perbaikan diri dan mulai mencintai diri sendiri.

Semoga cerita saya kali ini bisa memberikan perspektif baru dalam menjalani esok hari.

[Buku] Kupu-Kupu Bersayap Gelap karya Puthut EA


Judul: Kupu-Kupu Bersayap Gelap
Penulis: Puthut EA
Penyunting: Nody Arizona
Pemeriksa aksara: Prima S. Wardhani
Ilustrasi sampul & isi: Saipul Bachri
Penata isi: Azka Maula
Penata sampul: Narto Anjala
Penerbit: Penerbit Mojok
Cetakan: II, Februari 2016
Tebal: xvi + 168 hlm.
ISBN: 9786021318256

Saya setuju dengan pernyataan Rusdi Mathari dalam pembukaan buku kumpulan cerpen ini, "... karena tulisan yang ditulis dengan sepenuh perasaan akan sampai pula pada perasaan pembacanya."(hal. viii) Begitu juga 13 cerpen yang ada di buku ini, penulis menuliskannya dengan penuh perasaan dan hampir semua ceritanya menyentuh ke lubuk hati saya sebagai pembaca. Mungkin karena semua cerita pendek disini punya benang merah: tragedi yang tragis.


Laki-Laki yang Tersedu. Menceritakan kesedihan perempuan yang saat dia kecil jauh dari orang tua, saat remaja mengenal laki-laki brengsek yang membuatnya hamil, bahkan pernikahannya hanya jalan suaminya melampiaskan nafsu. Mereka akhirnya bercerai dan dia harus dipisahkan dari anaknya. Karena beratnya beban kesedihan, dia kerap ingin bunuh diri. Tetapi bayangan wajah anaknya mampu mencegah niat itu. Ketika dia bertemu laki-laki yang baik, dia menolaknya dengan alasan sebuah cerita kesedihan yang ia tanggung selama ini. Begitu selesai mendengar ceritanya, benar saja, si laki-laki tadi hanya menangis tersedu.

Kenanga. Menceritakan kekesalan kakak laki-laki menghadapi adik perempuannya yang suka menyepelekan sesuatu. Termasuk uang seratus ribuan yang dikeluarkan Kenanga untuk mentraktir dia dan teman-temannya padahal kehidupan Kenanga sudah sangat prihatin. Peristiwa besar terjadi saat adiknya membawa temannya menginap hingga beberapa hari di kontrakannya. Ratna hamil. Dan kejadian ini membuyarkan niat baik si kakak untuk meminang gadis baik seperti Kenanga.

"Kita harus mensyukuri pencapaian-pencapaian kecil dalam hidup ini, untuk menekan hasrat yang tidak ada habisnya, sekaligus agar tidak merasa lelah." (hal. 19).

Bunga dari Ibu. Pasangan Ibu dan anak memutuskan untuk berkabar dengan bunga yang mereka tanam di depan jendela. Jika bunga layu berarti ada yang tidak beres. Jika bunga kelihatan segar berarti ada kabar membahagiakan. Namun saat si anak menggugurkan kandungannya karena laki-laki itu tidak mau tanggung jawab, dia merahasiakan dari ibunya. Si Ibu menjadi tidak percaya dengan pertanda bunga lagi. Dan si anak kaget saat pulang ke rumah ibunya, tanaman yang ditanamnya juga sudah tidak ada. Ketika dia pulang ke rumahnya, dia pun mencabut tanaman yang ditanam ibunya.

"Apakah ibu mengajarimu memberi uang hanya dengan recehan?" (hal. 29)

Benalu di Tubuh Mirah. Mengangkat tema nepotisme yang praktiknya sudah mencapai level jabatan pemerintah paling bawah. Bukan hanya di lingkungan pekerjaan si ibu, tetapi anaknya yang SD pun ditimpa. Si anak gagal memimpin lomba pramuka gara-gara digantikan secara sepihak oleh anak baru yang merupakan anak camat.

Membaca cerita ini mengingatkan saya pada novel Kim Ji- Yeong Tahun 1982 karena menyinggung peran laki-laki yang lebih mendominasi.

... tidak pantas dalam hidup ini untuk mendapatkan sesuatu yang bukan dari hasil kerjanya. (hal. 36)

Sesuatu Telah Pecah di Senja Itu. Gara-gara panggilan tugas membela negara, seorang suami meninggalkan istrinya. Keadaan genting saat itu membuat kabar suaminya tidak jelas. Hingga datang sahabat suaminya yang mengabarkan kalau suaminya tidak selamat dan si suami berpesan agar si istri menikah lagi.

Butuh waktu lama bagi si istri untuk menikah dengan pilihan sahabatnya itu. Dan butuh waktu lama lagi baginya untuk menerima dan mencintai suaminya yang baru. Hingga pada suatu senja setelah beberapa tahun, sahabat suaminya bertamu dengan pesan yang tidak keluar dari mulutnya. Saat itulah si istri tahu kalau suaminya yang diangka meninggal ternyata masih hidup.

"... kadang kala banyak jalan hidup yang tidak bisa kita pahami. Hidup ini bukanlah sesuatu yang bisa kita pilih. Ini bukanlah masalah senang atau tidak senang. Tapi putuskanlah. Sebab hidup ini adalah sebuah keputusan..." (hal. 53)

"Percaya saja hukuman itu akan datang, entah kapan dan datang dari mana. Tapi kalau kamu tidak mencoba berdamai dengan masa lalumu, kamu akan rugi..." (hal. 55)

Drama Itu Berkisah Terlalu Jauh. Seorang anak perempuan yang terlibat hubungan dengan anak laki-laki tetangga dekatnya hingga dia hamil. Karena keadaan negara yang sedang genting, si laki-laki menghilang. Beruntungnya ada laki-laki baik yang mau menikahi dengan membawa cerita kebohongan. Namun penyesalan itu selalu datang ketika si perempuan tidak bisa berterus terang kepada ibu si laki-laki yang kerap melamun karena kesedihan, kalau dia sudah menjadi nenek bagi anaknya.

Dalam Pusaran Kampung Kenangan. Rasa miris seorang pemuda yang mendapati kampungnya berubah karena zaman. Meski dulu penduduknya suka mabuk dan judi, hampir tidak ada kejahatan saat itu. Berbeda dengan saat ini yang rasanya selalu ada kematian di kampung itu. Terutama orang-orang yang sudah tua, yang dikabarkan kematian mereka karena menanggung sedih dengan kejadian buruk yang menimpa.

Gayung Plastik. Mbah Supri dan Mas Joyo bisa dikatakan orang gila. Tapi dalam beberapa kejadian, kedua orang ini sangat membantu warga. Keisengan dua anak dari warga baru yang berasal dari kota membuat ayah mereka memukuli Mbah Supri dan Mas Joyo. Bahkan sampai tega menghancurkan gayung yang merupakan satu-satunya barang berharga bagi keduanya. Sejak itu Mbah Supri dan Mas Joyo selalu tinggal di pos ronda sampai mereka meninggal. Itulah hari paling menyedihakn untuk warga sekampung.

Rasa Simalakama. Menceritakan dua pasang kekasih yang berat melanjutkan hubungan mereka karena beda agama. Si pria merasa tidak punya daya menentang perkataan ayahnya yang meminta dia menikahi perempuan soleha. Begitu juga si perempuan yang sulit menolak pesan ibunya untuk menikahi pria yang sekeyakinan.

"Tidak ada barang gratis dari langit, semua harus dengan pengorbanan, prihatin, dan kerja keras." (hal. 108)

Doa Berkabut. Cerita yang memaparkan kesedihan adik perempuan yang ditinggal mati kakak laki-lakinya karena dibunuh.

Rasa angkuh selalu muncul dari orang yang merasa dirinya lebih unggul dibanding manusia lain. (hal. 124)

Semakin banyak uang yang dimiliki oleh seseorang, semakin banyak kekuasaan yang digenggamnya. (hal. 125)

Di atas seluruh kesempurnaan hanya ada kesederhanaan. (hal. 126)

Ibu Pergi ke Laut. Menyedihkan membaca kisah kerinduan seorang anak kepada ibunya yang menjadi korban tsunami di Aceh. Dia sampai menulis surat yang dihanyutkan di sungai supaya sampai kepada ibunya yang ada di laut. Yang paling nyesek adalah reaksi ayahnya. ketika ditanya soal ibunya, sang ayah selalu menangis.

Bocah-Bocah Berseragam Biru Laut. Menarasikan banyak kesedihan dari sudut pandang anak-anak yang mati. Ada yang ikut dibakar saat ibunya putus asa kepada kehidupan. Ada yang meninggal di jalan ketika rumah sakit menolak pengobatan. Bahkan ada yang bunuh diri karena malu belum bayaran sekolah.

Kupu-Kupu Bersayap Gelap. Hanya cerpen terakhir ini yang saya tidak paham kisahnya mengerucut kemana. Tetapi saya sedikit memahami jalan cerita mengenai pria yang kerap dihinggapi mimpi aneh. Dan dia sering kumat mengalaminya. Semacam terkena syndrom. Hanya saja si pria ini menyangkut-pautkan dengan kupu-kupu bersayap gelap.

Membaca 13 cerita yang ada membuat saya merenungkan banyak nilai-nilai kehidupan. Karena temanya yang mengangkat sisi kemanusiaan, siapa pun yang membaca buku kumcer ini pasti akan setuju jika buku ini bagus. Banyak pesan juga yang disampaikan penulis dalam ceritanya. sehingga kita bisa belajar lebih banyak kebaikan dari buku ini.

Kelebihan cerita pendek, untuk menyelesaikannya tidak membutuhkan waktu yang lama. Dan pesan yang tersurat di dalamnya biasanya langsung bisa dipahami. Akhirnya saya memberikan buku ini nilai 4 dari 5.

To Be Read (TBR) 2020


Mengingat ini masih di bulan pertama di tahun 2020, saya merasa perlu membuat artikel master untuk semua daftar buku yang masuk ke To Be Read (TRB) 2020.

Tujuannya adalah untuk melihat progres membabat timbunan bacaan.



[Foto buku akan dilengkapi secara berkala karena proses memfoto dan editing-nya lumayan kejar-kejaran.]


DAFTAR TBR:


1. Adventure Lovers : 69 Wisata Pacu Adrenalin di Pulau Jawa - Gagas Ulung


2. Verge on Voyage Lombok & Flores - Ruben Kristianto


3. Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto - Mitch Albom


4. Tuhan Itu 'Maha Santai', Maka Selowlah... - Edi AH Iyubenu


5. Wisdom Traveler - Imam Arkananto


6. Kupu-Kupu Bersayap Gelap - Puthut EA


7. Manjali - Ayu Utami


8. Voice - Ghyna Amanda


9. Happiness Is You - Clara Cancerina


10. Kala Mata - Ni Made Purnama Sari


11. Lara Miya - Erlin Natawiria


12. Asa Ayuni - Dyah Rinni


13. Jemput Terbawa - Pinto Anugrah


14. Amalan Pembuka Rezeki - Haris Priyatna & Lisdy Rahayu


15. Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat - Mark Manson


16. Dua Tangisan Pada Satu Malam - Puthut EA


17. Hati Tak Bertangga - Adi Prayuda & Ikhwan Marzuqi

18. Cerita Cinta Enrico - Ayu Utami


19. Para Bajingan yang Menyenangkan - Puthut EA


20. Romeo & Juliet - William Shakespeare


21. Jogja Jelang Senja - Desi Puspitasari


22. Frankfurt to Jakarta - Leyla Hana & Annisah Rasbell

23. Cum on Feel The Noize: Tetap Hair Metal di Tengah Cicilan KPR, Perut Berlemak, dan Rambut Beruban - Nuran Wibisono


24. Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang - Guntur Alam


25. The Seven Good Years - Etgar Keret


26. Di Kaki Bukit Cibalak - Ahmad Tohari


27. Spy in Love - Dwitasari


28. Arterio - SJ. Munkian


29. Anatomi Rasa - Ayu Utami

30. The Travel Crates - @rudycrates

31. Goodbye, Thing - Fumio Sasaki

32. Keep Calm and Be Fabulous - Amal Azwar, dkk.

33. Megatruh Nagari Kaler - Pungkit Wijaya

34. The Wrong Side of Right - Jenn Marie Thorne

35. Waktu untuk Tidak Menikah - Amanatia Junda


36. Elegi Rinaldo - Bernard Batubara

37. Love Catcher - Riawani Elyta

38. Samaran - Dadang Ari Murtono

39. Lambe Akrobat - Agus Mulyadi

40. Y - Billy Boen

41. Let's Break Up - Anjani Fitriana

42. Bilangan Fu - Ayu Utami


43. Man's Search for Meaning - Viktor E. Frankl (ebook)

44. Big Magic - Elizabeth Gilbert (ebook)

45. Steal Like An Artist - Austin Kleon (ebook)

46. Hilang - Dannie Faizal (ebook)

47. Mata yang Enak Dipandang - Ahmad Tohari (ebook)

48. Kubah - Ahmad Tohari (ebook)

49. Senyum Karyamin - Ahmad Tohari (ebook)

50. Orang - Orang Proyek - Ahmad Tohari (ebook)

51. Animal Farm - George Orwell (ebook)

52. Turtles All The Way Down - John Green (ebook)

53. The Midnight Star - Marie Liu (ebook)

54. Cannery Row - John Steinbeck (ebook)

55. A Game of Thrones - George R. R. Martin (ebook)

56. Nyawa - Vinca Callista (ebook)

57. Dering Kematian - Lamia Putri Damayanti (ebook)

58. Mimpi Padma - Ayu Dipta Kirana (ebook)

59. Salon Tua - Christina Juzwar (ebook)

60. Coupl(ov)e - Rhein Fathia (ebook)

61. Langit Merbabu - Rons Imawan


62. Hector and The Secrets of Love - Francois Lelord


63. Patah Hati di Tanah Surga - Tasaro GK


64. Sudut Mati - Tsugaeda


65. Spammer - Ronny Mailindra


66. Raksasa Dari Jogja - Dwitasari


67. Tiba Sebelum Berangkat - Fasial Oddang



[ Aturan mainnya: 1) Setiap judul buku yang sudah dibaca, silakan dicoret dan diberi link ke resensinya. 2) Jika dalam waktu yang berjalan ada tambahan buku TBR, silakan lanjutkan daftarnya. 3) Atau jika ada buku yang dikeluarkan dari koleksi, silakan dicoret.]

[Buku] Sekaca Cempaka karya Nailiya Nikmah JKF


Judul: Sekaca Cempaka
Penulis: Nailiya Nikmah JKF
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Cetakan: I, Juli 2014
Tebal: viii + 248 hlm.
ISBN: 9786020243962

Sinopsis Novel
Sebuah surat tak bernama yang diterima oleh Badri dan Rara tentang sekaca cempaka yang dimiliki oleh pasangan mereka, membuka semua asal mula sekaca cempaka itu, beserta masa lalu yang selama ini tidak mereka tahu.

Terbukanya masa lalu tersebut justru melimbungkan pernikahan mereka. Dugaan-dugaan dan pertanyaan silih bertindihan menuntut penjelasan dan jawaban.

Mampukan mereka bertahan dengan kisah masa lalu yang tampaknya belum juga berujung?

Resensi Novel
Novel Sekaca Cempaka ini merupakan novel islami yang berada di bawah lini Quanta. Yang paling khas dari lini ini adalah ukuran novelnya yang lebih kecil dibandingkan ukuran novel pada umumnya. Dan tentu saja cerita di dalamnya memiliki muatan nilai-nilai islam.

Benarkah setiap orang harus punya rahasia, termasuk menyembunyikannya dari pasangan hidup?

Saya pernah mendengar kalau suami atau istri boleh memiliki rahasia, yang tidak harus diketahui pasangannya. Pernyataan ini benar karena tujuannya menjaga perasaan pasangan. Kalau gara-gara rahasia ini bisa membubarkan pernikahan, saya kira wajar kalau rahasia tetap jadi rahasia. Hal krusialnya adalah rahasia seperti apa yang diperbolehkan.

Konflik dalam novel ini disebabkan oleh rahasia yang tidak disampaikan kepada pasangan. Nurul yang menyimpan salah satu sekaca cempaka tidak memberitahukan sejarah benda itu kepada suaminya, padahal benda itu merupakan bukti masa lalunya yang belum tuntas.

Begitu juga dengan Syaiful yang menyimpan pasangan lain sekaca cempaka, tidak menjelaskan kisah yang menyertai benda itu kepada istrinya padahal momennya ada. Dia justru menutupi kisah masa lalunya itu.

Alhasil ketika pasangan mereka mencium masa lalu yang ternyata dipertemukan lagi, membuat pernikahan mereka diuji. Apalagi ternyata ada pihak lain yang memperkeruh dan menimbulkan fitnah, perjalanan kedua pasangan untuk memperbaiki masa lalu terasa lebih menyakitkan.

Kearifan lokal yang digali membuat adem ayem

Latar tempat novel ini ada di Banjarmasin. Penulis yang lahir di kota itu mencoba menggali banyak kebudayaan yang ada di sana. Bukan saja mengenai bunga-bunga yang dikarang oleh pengarang bunga, melainkan penulis banyak membubuhkan istilah-istilah kebudayaan dalam bahasa daerah sana. Dan disinggung juga beberapa nama penyair lokal di Banjarmasin semisal Hijaz Yamani dan Ajjamudin Tifani.

Selain itu, penulis menggunakan sudut pandang dari tokoh Ibu Si Pengarang Bunga, Nurul dan Rahma. Penulis mencoba melihat masalah dari sudut pandang sebagai perempuan. Dan cara ini tentu saja berhasil menunjukkan bagaimana nelangsanya menjadi perempuan yang dikuntit masa lalu.

Sepanjang membaca kisah Nurul dan Syaiful ini, saya merasakan adem ayem yang bikin membaca kisah mereka nagih. Terlebih lagi, masing-masing karakter memegang teguh ajaran islam. Rasanya saya ikut terserap ke dalam kisah mereka dan begitu kisahnya berakhir, semacam ada perpisahan yang enggan dirayakan.

Jangan main-main dengan masa lalu yang belum tuntas

Pembaca seperti diingatkan kalau kita tidak boleh menyepelekan masa lalu yang belum tuntas. Sebab suatu saat masa lalu itu akan menuntut untuk diselesaikan sampai paripurna. Dan bukan tidak mungkin saat hal itu terjadi akan banyak hati yang merasa disakiti.

Salah satunya adalah tidak ada alasan untuk menyimpan benda yang asalnya dari masa lalu. Kita pasti tahu alasan menyimpan barang kenangan yang benar. Jangan sampai karena pengaruh ingin mempertahankan masa lalu atau ingin bernostalgia, justru melahirkan bom waktu yang bisa meledak di kemudian hari.

Terakhir dan Rating
Saya sangat terkesan membaca novel Sekaca Cempaka ini lantaran dinarasikan dengan begitu apik dan tenang. Perpaduan budaya, kehidupan pernikahan dan bunga-bunga membuat novel ini menguarkan aroma yang bikin adem. Sehingga saya memberikan novel ini nilai 4 dari 5.

*****