[Buku] Belenggu Ilse by Ruwi Meita


Judul: Belenggu Ilse
Penulis: Ruwi Meita
Editor: Dion Rahman
Penata letak: Divia Permatasari
Desainer sampul: Sukutangan
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Cetakan: I, Desember 2019
Tebal: 328 hlm.
ISBN: 9786230010033
ISBN digital: 9786230010040

Sinopsis
Setelah dua tahun menghilang, Ilse kembali datang ke rumah mewah miliknya dengan kondisi hilang ingatan dan tubuh yang tidak terurus juga penuh luka. Firas, suaminya, sangat terkejut. Padahal sebelumnya dia sudah memutuskan untuk membuka hati kepada Ralia, sahabat Ilse. Kembalinya Ilse mengubah semuanya.

Kemana saja Ilse selama dua tahun ini?
Dan bagaimana hubungan selanjutnya antara Firas dan Ralia?

Resensi
Nama penulis Ruwi Meita bukan nama baru bagi saya karena sebelumnya saya pernah tahu karya beliau, diantaranya: Misteri Patung Garam, Kaliluna: Luka di Salamanca, dan Carmine. Sayangnya, saya belum pernah membaca salah satu bukunya, dan baru kesampaian sekarang, setelah saya mengunduh ebook ini di Gramedia Digital.

Misteri Perempuan yang Menghilang dan Entah Siapa Pelakunya

Di buku Belenggu Ilse ini, penulis meramu cerita yang mengandung tema misteri. Kembalinya Ilse ke keluarganya setelah hilang dua tahun, memberikan pertanyaan kepada pembaca, kemana saja dia selama ini. Juga melihat penampilan Ilse yang tidak terurus dan dia bersikap seperti binatang (makan dan minum, meringkuk) menjadi pertanyaan, apa yang sudah terjadi dan dilewati Ilse selama dua tahun ini. Misteri inilah yang membuat pembaca bakal terus terpikat mencari tahu.

Rasa dari misteri yang disajikan Ruwi Meita dalam bukunya kali ini sangat pas dan memikat. Proses mengungkapkan jawabannya dibuat dengan melibatkan tokoh lain yaitu dua polisi: Saram dan Hana. Sehingga sepanjang buku pembaca akan dijejali cerita mengenai:


  1. Kehidupan Ilse setelah kembali ke tengah-tengah keluarganya. Di sini diceritakan hubungan Ilse dengan Firas suaminya, hubungan Ilse dengan Kale, anak perempuannya, hubungan Ilse dengan Ralia, dan hubungan Ilse dengan lingkungan pendukungnya (orang tua, tetangga).
  2. Kehidupan Ralia setelah Ilse kembali. Di sini Ralia memendam rasa kepada Firas dan berharap bisa hidup bersama. Tapi setelah Ilse kembali, harapan itu lenyap. Selain soal perasaannya kepada Firas, Ilse dipertemukan lagi dengan rekan kerjanya, Sura, chef di kafe yang desain interiornya dia garap. Ralia dan Sura mempunyai cerita yang panjang juga di buku ini.
  3. Proses menelusuri misteri deep website yang punya kaitan dengan kasus menghilangnya beberapa perempuan. Puncaknya adalah kebakaran sebuah rumah yang menewaskan seorang perempuan yang identitasnya sama dengan perempuan yang hilang beberapa bulan lalu. Dari kejadian itu Saram dan Hana mulai melakukan penyelidikan terhadap kasus besar ini.


Sepanjang membaca buku ini saya suka menebak pelaku utamanya. Sebab setiap babnya seolah memberi potongan-potangan jawaban. Namun ternyata dugaan-dugaan saya salah semua. Tetapi tokoh-tokoh yang saya curigai memang punya andil baik langsung maupun tidak langsung dengan menghilangnya Ilse.

Roman Yang Kata Orang Manis Memang Hanya Pemanis

Cerita misteri tanpa roman sebenarnya bisa saja tetap menarik. Tapi apa salahnya roman dimasukkan selama itu mendukung cerita, justru tambah mantap. Di buku ini sajian roman antar tokohnya terbilang rumit dan enggak manis. Firas dan Ilse mempunyai hubungan suami istri yang tidak harmonis sebelum Ilse menghilang. Dan ketika Ilse kembali, hubungan mereka bertambah pelik mengingat Ilse berubah, bukan Ilse yang dulu.

Hubungan Ralia dan Firas pun tidak berjalan lancar. Apalagi pada pembukaan buku ini diceritakan mereka telah tidur bareng. Begitu keduanya akan membuka hati untuk satu sama lain, Ilse datang dan otomatis mengurungkan niat mereka. Yang paling merana tentu saja Ralia yang harus memupus perasaannya.

Hubungan Ralia dan Sura pun tidak ada kemajuan. Bagaimana bisa maju kalau Ralia masih sibuk berkutat dengan perasaannya kepada Firas. Dalam sisi ini, Sura lah yang lebih banyak bersabar dan berusaha menarik perhatian Ralia meski lebih banyak diabaikan.

Kriminal Dan Kekejian Yang Tidak Manusiawi

Selama dua tahun Ilse mengalami kejahatan yang tidak manusiawi. Tujuan si pelaku adalah menghilangkan ingatan si korban dengan dalih membuat si korban lahir kembali sebagai manusia baru. Kriteria korban yang dipilih si pelaku adalah mereka yang memiliki dosa dan seharusnya mereka tidak ada di dunia ini. Pelaku memposisikan diri sebagai pengadilan manusia dengan menggunakan alter sejarah Yunani.

Proses menghapus ingatan korban mengingatkan saya dengan serial Treadstone. Bedanya, di buku ini korban yang dihapus ingatannya akan lahir sebagai manusia yang seperti binatang. Sedangkan di serial itu, korban akan menjadi senjata mematikan untuk membunuh target yang diincar.

Cerita Panjang Yang Mencoba Mengupas Sampai Akar

Sebelumnya saya sudah menuturkan tiga cerita besar di buku ini. Terbilang buku ini punya kepadatan cerita sehingga membuat saya merasa kelelahan membacanya. Dalam waktu bersamaan saya mesti memahami cerita ketiganya dan cerita di buku ini bukan cerita ringan, melainkan punya sisi kelam dan sisi tebak-tebakan yang bikin pembaca ikut menduga-duga. Kebayang bukan lelahnya menyelesaikan cerita Ilse!

Tetapi begitu menuju akhir cerita, rasa lelah tadi terbayar sebab memang ceritanya seru dan ekspektasi saya terhadap akhir ceritanya memang terpuaskan. Akhir cerita yang enggak buru-buru dan enggak dipaksakan. Rapi dan runut pokoknya.

Petik-Petik
Awal mula dari kasus besar itu adalah bentuk kebencian. Saya jadi ingat pernah menonton sebuah video yang berisi pesan kurang lebih begini, "Kamu boleh tidak suka dengan sesuatu. Tapi jangan pernah membencinya. Sebab kebencian itu bukan saja merusak sesuatu tadi, melainkan secara bersamaan merusak diri sendiri dari dalam."

Akhirnya dan Rating
Sebuah petualangan dan proses pemahaman akan misteri hilangnya Ilse membuat saya ikut simpati, pusing menebak-nebak, bahkan geram kepada si pelaku. Dan akhirnya saya memberikan nilai untuk buku Belenggu Ilse ini adalah nilai 4 dari 5.

*****


  • "...seorang lelaki yang bisa begitu cepat berubah pikiran biasanya nggak bisa diandalkan. Kalaupun ada, karena sesuatu hal yang terjadi, dia harus meluruskannya...." (Hal. 165)
  • "...Perasaan memang nggak bisa dibunuh, tapi kamu harus belajar untuk mendidik perasaanmu." (Hal. 223)


[gambar kover diunduh dari situs Goodreads]

[Buku] Pendakian Terlarang by ArgaNov


Judul: Pendakian Terlarang
Penulis: ArgaNov
Penyelaras aksara: Agnes O.
Desain sampul & tata letak: Pandu S.
Penerbit: Bhuana Sastra
Cetakan: I, Desember 2019
Tebal: 116 hlm.
ISBN: -

Sinopsis
Delapan anak muda yang tergabung dalam grup hiking Devil Expedition akhirnya berkesempatan menaklukan puncak Gunung Marapi di Sumatera Barat. Perjalanan ini sudah dinantikan sejak tahun-tahun sebelumnya namun selalu gagal terlaksana karena berbagai halangan. Yang terakhir membuat mereka gagal mendaki karena salah satu teman mereka, Lisa, mendadak meninggal dunia.

“Jika siapa pun yang memasukkan langkahnya di seberang puncak Gunung Marapi, maka pilihannya adalah menjadi dari kami atau mati.”

Semua tahu ada larangan yang harus mereka taati kalau tidak mau berurusan dengan orang Kampung Bunian.

Akankah perjalanan mereka berhasil mencapai puncak Gunung Marapi?

Resensi
Salah satu alasan saya mengungguh ebook ini di aplikasi Gramedia Digital adalah judulnya yang memuat kata “Pendakian”. Saya selalu suka bacaan yang ada cerita tentang pendakian gunung. Ini dikarenakan saya belum pernah naik gunung. Padahal keinginan melakukannya sudah sangat menggebu dan beberapa kali merencanakan tapi masih belum ketemu jadwalnya. Alam memang tampaknya belum menghendaki saya menikmati suasana pegunungan.


Buku Pendakian Terlarang ini menceritakan sekumpulan anak muda yang melakukan pendakian Gunung Marapi yang ada di Sumatera Barat. Benar-benar menceritakan pendakian tanpa ada sisipan konflik drama lainnya. Dimulai dari mempersiapkan segala keperluan untuk pendakian. Misalkan mempersiapkan tenda dan alat lainnya, termasuk logistik. Ketepatan untuk menghitung persiapan ini setidaknya harus mendekati pas. Kalau sampai kurang siap, maka bersiap saja untuk mengalami kesusahan selama pendakian.

Di dalam buku ini dijelaskan beberapa adab yang harus ditaati oleh pendaki selama mendaki gunung. Pertama, kita harus meminta ijin kepada pemimpin lingkungan setempat sebelum memulai pendakian. Dalam buku ini tim Devil Expedition meminta ijin kepada kepala desa. Sebenarnya untuk beberapa gunung sudah ada pos perijinan pengelola sehingga urusan perijinan bisa dilakukan di tempat itu. Tujuannya adalah supaya para pendaki terawasi ketika naik dan turun gunung. Sehingga jika sesuatu terjadi dengan para pendaki, misalnya pendaki hilang, kepala desa atau kru di pos perijinan bisa segera melakukan pencarian.

Dan yang kedua, para pendaki dilarang meninggalkan sampah di gunung. Sampah yang ada harus di bawah lagi ke bawah ketika turun gunung. Cara ini wajib dipatuhi untuk menjaga lingkungan gunung tetap bersih dari sampah.

Adab ketiga adalah pendaki dilarang merusak lingkungan gunung, salah satunya adalah jangan memetik bunga atau pohon yang ada di lingkungan gunung. Tujuannya agar habitat gunung tetap terjaga seperi semula.

Sebenarnya ada beberapa aturan mendaki yang biasanya disampaikan kru perijinan tetapi karena saya belum pernah mendaki, jadi saya kurang paham yang lainnya. Ketiga adab tadi merupakan yang disebutkan di dalam buku ini. Yang lainnya, yang pernah saya dengar, selama pendakian, kita dilarang berucap yang buruk atau melakukan hal buruk. Katanya kalau kita tidak mematuhi, kita akan mengalami hal-hal aneh. Salah satu yang sering dibicarakan, yang melanggar aturan tadi, bukan tidak mungkin akan dibikin berputar-putar tanpa menemukan jalan yang benar. Ngeri ya membayangkannya!

Tampaknya untuk pendakian Gunung Marapi pun ada tambahan larangan lainnya bagi para pendaki yaitu dilarang mengusik atau mengganggu dunia lain yang ada di sekitar gunung, yang biasa dikenal dengan sebutan Orang Kampung Bunian. Kampung ini merupakan kampung yang tak kasat mata. Keberadaannya susah dipastikan. Sehingga kepala desa menekankan adab-adab tadi agar dipatuhi untuk menjaga para pendaki dari sesuatu yang aneh.

Jujur saja saya merasa ketakutan selama membaca buku ini. Ini bukti keberhasilan penulis menyampaikan ceritanya dengan diksi yang tidak bertele-tele dan tepat penggunaan untuk menggambarkan suasana. Padahal sebelum membaca buku ini, saya membaca buku horor lain, tapi baru di buku ini saya merasakan ketakutan yang luar biasa.

Awalnya rasa takut itu saya rasakan ketika Mila menyadari perubahan Nina yang menjadi pendiam sejak mereka berangkat. Ditambah ketika Mila pun mendengar suara samar-samar yang memanggil namanya. Suasana mencekam bertambah ketika perjalanan malam hari dan Nina semakin bertingkah aneh. Dalam kondisi lelah dan pegal, mereka harus mengurus Nina yang tiba-tiba pingsan. Begitu Nina sadar justru dia meracau seperti orang kesurupan.

“Tadi seperti suara kepala desa, panggil namaku,” katanya bingung.
Aku mengedarkan pandangan ke sekitar, diikuti yang lainnya. Tidak asa siapa pun di sekitar sini. Lagipula hari sudah menjelang Maghrib, mana mungkin masih ada orang di ladang. (Hal. 18)
Beberapa kejadian yang membuat saya bergidik ngeri seperti hembusan angin dingin yang berasal dari kegelapan, suasana hening namun seperti tengah diawasi, suara bisikan yang muncul sesekali tanpa ada sumbernya, kemunculan sosok orang berbadan besar di kegelapan, dan adegan kesurupan yang dialami Nina. Pokoknya saya sarankan jangan membaca buku ini malam hari. Takutnya kalian susah tidur lantaran sensasi mencekam masih menyelimuti. Karena itu yang saya alami, saya membacanya malam hari dan saat mau tidur masih kebayang suasana gunung malam hari yang dingin dan keramat.

Biarpun temanya horor dengan latar pegunungan, buku ini mengingatkan banyak hal untuk pembaca diantaranya:

  1. Jangan menganggap remeh keramat sebuah gunung. Sebab gunung memiliki rahasia aneh yang akan susah ditangkal jika kita berbuat ceroboh selama pendakian.
  2. Kita harus peka dengan tanda restu dalam hal apa pun. Bisa saja asalnya dari alam atau bahkan dari orang-orang sekitar. Di buku ini diceritakan jika Mila dan teman-temannya sebenarnya tidak diijinkan berangkat mendaki oleh orang tua. Tetapi mereka memaksakan kehendak dan benar saja pendakian mereka berujung maut.

Akhirnya dan Rating
Buku ini pas dibaca untuk kalian yang menyukai cerita horor. Dan pas juga dibaca oleh kalian yang suka mendaki gunung atau punya keinginan mendaki gunung seperti saya. Terakhir, buku Pendakian Terlarang ini saya beri nilai 5 dari 5.

***** 

  • ...tapi kami tahu kalau persaudaraan itu bisa dibentuk dengan cara naik gunung bersama, menikmati indahnya tantangan medan yang mempersatukan kami bagai saudara. (Hal. 38)

[gambar Gunung Marapi diunduh dari: http://www.gosumatra.com/gunung-marapi-sumatera-barat/]

[Rabu Sehat] Pentingnya Menjaga Kesehatan Usus


Usus adalah organ tubuh kita yang berperan mengubah makanan dan minuman yang kita makan menjadi nutrisi penting yang diserap tubuh. Usus mengandung banyak bakteri yang komposisinya dapat berubah dan berpengaruh terhadap fungsinya. Beragam penyakit dapat muncul dari usus yang bermasalah. Di antara penyakit tersebut adalah:

1. Diare
Diare membuat perut terasa mulas dan feses menjadi encer. Gangguan ini terjadi karena selaput dinding usus besar mengalami iritasi. Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang menderita diare, salah satunya yaitu karena penderita mengkonsumsi makanan yang tidak higienis atau mengandung kuman, sehingga dengan begitu gerakan peristaltik usus menjadi tidak terkendali serta di dalam usus besar tidak terjadi penyerapan air.

2. Gastritis
Gastritis merupakan penyakit atau gangguan dimana dinding lambung mengalami peradangan. Gangguan ini disebabkan karena kadar asam klorida atau asam lambung terlalu tinggi. Selain itu, Gastritis juga disebabkan karena penderita mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung kuman penyebab penyakit.

Ketika Gastritis terjadi, ada penderita yang merasakan gejalanya dan ada juga yang tidak. Beberapa gejala Gastritis di antaranya nyeeri yang panas, hilang nafsu makan, cepat merasa kenyang saat makan, kembung, cegukan, mual, muntah, sakit perut.

3. Konstipasi atau Sembelit
Sembelit merupakan salah satu gangguan pada sistem pencernaan dengan feses yang keras. Gangguan ini terjadi disebabkan karena usus besar menyerap air terlalu banyak. Sembelit disebabkan karena kurang mengkonsumsi makanan berserat seperti misalkan buah dan sayur atau kebiasaan buruk yang selalu menunda buang air besar.

4. Apendisitis
Apendisitis atau usus buntu yang mengalami peradangan biasanya terjadi ketika ada sisa-sisa makanan yang terjebak serta tidak bisa keluar di umbai cacing. Sehingga lama kelamaan umbai cacing tersebut akan menimbulkan peradangan yang menjalar ke usus buntu. Jika umbai cacing tidak segera dibuang, maka lama kelamaan akan pecah.

Dengan mengenal beragam penyakit di atas maka kita harus lebih memberikan perhatian lebih kepada kesehatan usus. Semoga bermanfaat.

*****

Artikel ini ditulis oleh dr. Fannie Anggraeni, dokter umum di RS Sumber Kasih. Dan artikel ini dipublikasikan di koran harian Radar Cirebon pada hari Minggu, 1 Desember 2019. Untuk pemuatan ulang artikel ini di blog saya, sudah seijin pihak rumah sakit.

[Buku] Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982 by Cho Nam-Joo



Judul: Kim Ji-Yeong, Lahir Tahun 1982
Penulis: Cho Nam-joo
Alih bahasa: Iingliana
Editor: Juliana Tan
Penyelaras aksara: Mery Riansyah
Ilustrator: Bella Ansori
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, November 2019
Tebal: 192 hlm.
ISBN: 9786020636191
ISBN digital: 6786020636207

Sinopsis
Kim Ji-yeong, seorang ibu rumah tangga berusia 34 tahun, bertingkah aneh karena suka bertindak seperti orang lain. Karena kondisinya semakin parah, Jeong Dae-hyeon, sebagai suami membawa Kim Ji-yeong ke psikiater.

Sebenarnya apa yang membuat aneh Kim Ji-yeong? Bagaimana sebenarnya kehidupan yang dia jalani?

Resensi
Buku Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982 ini sebenarnya memuat kehidupan keluarga Kim Ji-yeong dan suaminya, Jeong Dae-hyeon. Menceritakan profil orang-orang yang terhubung dengan mereka. Misalkan, ibu dan ayahnya Kim Ji-yeong, Neneknya Kim Ji-yeong, keluarga besar Jeong Dae-hyeon, dan kakak perempuan Kim Ji-yeong, Kim Eun-yeong.

Dari perjalanan hidup Kim Ji-yeong sejak dia kecil hingga menjadi seorang ibu, pembaca akan disuguhkan sisi lain menjadi wanita korea yang masih menganut sistem patriarki; sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi.

Kultur ini sangat jelas menempatkan laki-laki sebagai prioritas di berbagai kehidupan keluarga, sosial, bahkan profesional. Di dalam lingkungan keluarga, anak laki-laki akan selalu mendapatkan hal baik lebih banyak dan lebih dulu. Bahkan ada budaya sudara perempuan akan bekerja keras untuk membiayai saudara laki-laki mereka sampai mencapai kesuksesan.

Di lingkungan sosial, memiliki anak laki-laki lebih membanggakan dibandingkan memiliki anak perempuan. Bahkan di Korea dulu, diperbolehkan melakukan aborsi dengan alasan anak perempuan. Sehingga ada fenomena jika anak ketiga lebih banyak anak laki-laki.

Di lingkungan pekerjaan, pegawai laki-laki akan mendapatkan gaji lebih tinggi dibandingkan pegawai perempuan. Penulis bahkan menyisipkan informasi ilmiah yang menyebutkan jika negara Korea merupakan negara yang tidak layak untuk pegawai perempuan.

Sepanjang hidupnya, Kim Ji-yeong sering mendapatkan perlakukan berbeda dengan alasan gender ini. Kultur yang tidak bisa dia dobrak dan akhirnya membuat Kim Ji-yeong mengalami depresi berat.

Walau demikian, saya sangat terharu olek karakter ibunya Kim Ji-yeong. Dia merupakan sosok perempuan yang mencoba mendobrak sistem patriarki walaupun lingkupnya dalam keluarga. Dia mendorong agar Kim Ji-yeong menjadi dirinya sendiri sesuai yang dikehendaki tanpa perlu menjadi perempuan korea pada umunya.

Petik-Petik
Emansipasi bukan berarti sejajar sekali. Melainkan menyamaratakan hak yang memang tidak merusak kodrat perempuan. Misalkan mendapatkan pendidikan, mendapatkan keamanan, bahkan mendapatkan kesempatan untuk berkembang secara pribadi. Sehingga jika hal-hal yang umum tadi tidak terpenuhi, perempuan berkewajiban menyuarakan ketidakterimaan tersebut agar ada perbaikan soal persamaan hak ini.

Akhirnya & Rating
Buku Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982 ini memang diperuntukkan untuk siapa pun, walaupun sudut pandang yang dipakai adalah pembelaan terhadap hak perempuan. Siapa tahu selama ini ada sistem yang masih membedakan hak antara laki-laki dan perempuan, buku ini seolah menjadi pengingat. Jika akibat pembedaan tersebut bisa memicu depresi berat untuk perempuan. Rating yang saya berikan adalah nilai 4 dari 5.

*****


[Buku] Kosong by Ade Igama @kisahhorror


Judul: Kosong
Penulis: Ade Igama @kisahhorror
Penyunting: Ikhdah Henny & Dila Maretihaqsari
Desain & ilustrasi sampul: Rony Setiyawan
Pemeriksa aksara: Mia Fitri Kusuma
Ilustrasi isi & penata aksara: tsbb
Digitalisasi: Rahmat Tsani H.
Penerbit: Bentang Belia
Cetakan: I, Agustus 2015
Tebal: vi + 234 hlm.
ISBN: 9786021383476

Sinopsis
Satu pagi Aira tiba-tiba berubah karakter. Aira yang biasanya judes, galak, tukang bikin onar, tidak suka anak-anak, berubah menjadi sebaliknya. Ibunya dan Bram merupakan orang terdekat yang dibuat kaget namun mereka juga bersyukur sebab Aira berubah ke arah yang lebih baik.

Di sisi lain, hidup Aira tidak tenang. Dia kerap diganggu oleh mahluk halus berupa gadis seusianya yang selalu membisikan sesuatu. Teman dekat Aira, Bram, ternyata ikut didatangi juga oleh mahluk halus tersebut.

Siapa sebenarnya mahluk halus itu dan ada cerita apa hingga dia menggangu Aira dan Bram?

Resensi
Saya mohon maaf jika resensi kali ini akan lebih banyak spoiler! Susah banget untuk tidak menjabarkannya, soalnya njelimet untuk bikin resensi yang enggak ada spoiler-nya.

Buku Kosong ini merupakan buku lain dari seri DarkLit yang diterbitkan oleh penerbit Bentang Belia. Sebelumnya saya sudah membuat resensi untuk buku lainnya yaitu Stalker karya Donna Widjajanto. Di artikel itu, saya menyebutkan jika buku Stalker lebih mengangkat isu sakit mental. Sedangkan di buku ini sungguhan menceritkan horor yang ada setannya. Jujur saja saya masih bingung pakem yang dipakai penerbit untuk seri Darklit ini, apakah tentang setan atau tentang segala sesuatu yang kelam.

Konflik dalam buku Kosong ini disulut dari ketidakpuasan Aira terhadap kehidupannya. Terutama permasalahan ekonomi yang terjadi di keluarga setelah ayahnya terkena stroke dan beliau dipensiundinikan oleh perusahaannya. Mau tidak mau roda ekonomi keluarga dijalankan oleh ibunya dengan membuka warung soto. Di satu sisi, Aira ingin mempunyai kehidupan yang normal dan menyenangkan, tetapi di sisi lain dia harus menerima kenyataan dan ikut bekerja sama dengan ibunya menjalankan roda ekonomi. Hingga akhirnya ketika dia berteman dengan sosok hantu bernama Abigail, Aira melakukan perjanjian yang berujung masalah.

Sebenarnya begitu saya tahu soal perjanjian antara Aira dan Abigail, saya malah kurang bersimpati terhadap kemalangan Aira. Toh Aira ini tipe remaja yang kurang bersyukur sampai akhirnya memutuskan untuk melakukan perjanjian dengan hantu supaya dia merasakan kebebasan dari tanggung jawab terhadap keadaan hidupnya yang sekarang. Justru saya senang dengan keberadaan Aira 'yang baru' sebab dia memberikan banyak hal positif terhadap orang-orang di sekitarnya dibandingkan dengan keberadaan Aira 'yang dulu'.

Tetapi dengan alasan hantu dan manusia memiliki dunia dan tempatnya masing-masing, saya pun mengiyakan perjuangan Bram mengembalikan Aira ke Aira 'yang dulu'. Sehingga rasa senang atas efek keberadaan Aira 'yang baru' harus saya tolak. Dan hal paling menarik diikuti dari novel ini ya bagian perjuangan Bram untuk mengembalikan Aira ke Aira 'yang lama'. Karena dalam prosesnya ada rahasia besar yang terbongkar terkait kasus Abigail.

Abigail adalah kasus besar remaja yang tidak bisa diabaikan. Kasus tentang seorang gadis yang diperkosa secara beramai-ramai dan kemudian dibunuh. Mayatnya diperlakukan tidak hormat dengan dikubur di semak-semak. Di Cirebon pun pernah ada kejadian serupa, seorang gadis diperkosa ramai-ramai. Sedangkan pacarnya dipukuli. Lalu keduanya dibunuh. Kemudian jasadnya dibuang di jalan raya seolah-olah mereka korban kecelakaan lalu lintas.

Narasi penulis ketika menyampaikan cerita bagian ini membuat saya sangat geram kepada pelaku. Hati siapa yang enggak kelu mengetahui kejadian gadis SMA diperkosa secara bergantian. Saya tidak bisa membayangkan perasaan si gadis tadi mesti pasrah dirinya dijamah, dimasuki secara paksa, sedangkan dia tidak punya kekuatan untuk menolak. Saya tidak bisa memahami penderitaan dia ketika dicumbu paksa oleh orang asing dengan nafas bau alkohol dan seringai puas tanpa belas kasih. Pelaku sudah seperti jelmaan iblis karena setelah mereka menuntaskan birahinya, si korban dibunuh entah dengan cara apa, kemudian jasadnya dikubur di sembarang tempat. Perbuatan biadab dan keji seperti itu harus diganjar hukuman setimpal.

Aku diperkosa dan dibunuh di semak-semak itu, mereka berganti-gantian memerkosaku dengan bengis. (Hal. 228)

Buku ini memiliki tema keluarga yang ditunjukkan oleh hubungan Aira dengan ayah dan ibunya. Tema persahabatan ditampilkan melalui hubungan Aira dan Bram. Sedangkan tema roman remaja muncul saat Aira mulai dekat dengan Rama.

Perkembangan karakter yang paling menonjol tentu saja karakter Aira. Perubahan drastis muncul ketika dia menyadari kalau keputusannya bersekutu dengan hantu adalah kesalahan besar. Dia akhirnya mengerti arti keluarga dan arti sahabat. Bram menjadi sosok sahabat yang mengerti bagaimana menjadi orang yang dipandang sebelah mata sebab citra yang jelek. Sedangkan Rama muncul sebagai pemanis cerita lantaran keberadaannya hanya untuk memberi rasa roman saja. Abigail merupakan hantu yang berteman Aira. Dia adalah korban yang rohnya masih penasaran lantaran jasadnya belum diperlakukan dengan hormat.

Petik-Petik
Setelah membaca buku ini saya mendapatkan pesan moralnya untuk selalu bersyukur terhadap kehidupan yang ada sebab kehidupan ini buah dari rancangan Allah SWT. Dengan pandai bersyukur, kita juga akan mengurangi berkeluh kesah dan ndumel. Sehingga kita akan lebih bahagia menjalani kehidupan.

Terakhir & Rating
Buku Kosong ini memang menyasar pembaca muda sehingga latar yang dipilih pun seputar sekolah dan kehidupan remaja. Untuk cerita Aira dan hantu Abigail-nya, saya menyematkan nilai 4 dari 5.

*****


  • ... harga diri adalah hal paling penting bagi lelaki, jangan biarkan siapa pun mengambilnya. (Hal. 19)
  • "... jangan nilai dari apa yang kelihatan di luar, dong. Yang kuat belum tentu kuat, yang tersenyum belum tentu bahagia. Rusa yang berlari cepat bisa aja sedang terluka, dan kadang luka membuat mereka lari lebih cepat." (Hal. 38)
  • "...kalau burung walet aja nggak pernah nyerah dan terus berjuang untuk terbang di hujan deras, kenapa kita banyak ngeluh kalau dapet rintangan yang enggak seberapa, atau kegagalan kecil..." (Hal. 93)
  • "Lalu kenapa sebagian besar dari kita, manusia yang besar dan sempurna, takut ngadepin hidup kita sendiri." (Hal. 93)
  • "...alam terlalu indah dan luas untuk disia-siakan hanya karena ketakutan yang berlebihan, berdiam diri di tempat persembunyian nggak akan membuat kita luput dari takdir." (Hal. 93)
  • "Nggak peduli sekuat apa benteng pertahanan kita, kematian tetap akan merobohkannya semudah meniup lapisan debu di perabotan lama." (Hal. 94)
  • ...hidup adalah anugerah yang paling lengkap. Di dalamnya kita akan menemukan penderitaan, kesakitan, kekejaman, dan kegilaan. Namun, hidup juga menghamparkan kabahagiaan di setiap jalannya yang terjal, harapan di setiap masa-masa paling kelam, dan yang terpenting; keluarga dan teman yang menemani melewati fase hidup yang kita hadapi. Hidup memang indah dengan segala sisi gelap dan sisi terangnya, air mata dan gelak tawa yang membuatnya ramai, itulah yang melengkapinya. (Hal. 132)



Parfum O'Koffie, Pilihan Parfum Dengan Aroma Kopi


Gara-garanya saya membaca tweet dari @razaksyarif, yaitu member akun youtube CineCrib, yang menceritakan dia pernah dituduh oleh petugas KRL dan MRT sedang makan roti Boy atau bawa kopi, padahal dia itu hanya pakai sedikit parfum aroma kopi. Dari situ saya akhirnya mencari satu merek parfum kopi yang pengen dicoba juga.

Kayaknya seru kalo sehari-hari cium wangi kopi, pikir saya.

Alih-alih saya memilih merek yang disarankan Razak dalam tweetnya itu, saya malah ingat satu tweet orang yang jualan parfum kopi di twitter. Lalu saya cari-cari tweetnya dan tanpa basa-basi saya kirim DM ke akun itu.

Asal tau saja, selama ini saya hanya memakai parfum refil dengan aroma Spalding. Lumayan lama saya udah pakai aroma ini karena aroma Spalding itu punya karakter yang lembut, tidak menyengat dan tidak bikin pusing ketika dibawa panas-panasan, dan tentu saja aroma ini mempresentasikan wangi pria sejak dari lama. Pasti orang-orang dulu hafal betul aroma ini dan punya nostalgia sendiri.

Lalu pilihan saya mencoba parfum aroma kopi jatuhnya ke merek O'Koffie. Merek ini dikelola oleh akun twiiter @Florentinaanna. Menurut akunnya, O'Koffie punya delapan varian aroma parfum. Lengkapnya bisa dilihat di gambar di bawah ini:


Karena saya masih ditahap mencoba, jadi saya membeli parfum yang dikemas roll on, sejumlah dua varian: 1 pcs Vanilla Latte dan 1 psc Baby Coffee, masing-masing harganya 25K.

Respon Mbak Anna sangat baik. Dari selesai saya mengorder parfum hingga melakukan pembayaran, barang langsung dikirim dengan bukti nomor resi pengiriman. Saya kira bakal saya terima barangnya sekitar 3-4 hari, eh tetapi malah lebih cepat. Pengiriman tanggal 27 November 2019, dan barang sudah sampai tanggal 28 November 2019.


O'Koffie varian Baby Coffee memiliki warna cairan parfum yang lebih jernih. Dan begitu dicium wanginya, saya masih menangkap wangi kopi yang dominan walau sudah dibiaskan oleh wangi bedak bayi. Parfum varian ini terbilang memiliki aroma yang soft. Saya merasa sangat cocok dengan wanginya karena hidung saya tipe yang kurang suka dengan parfum yang aromanya menyengat karena bikin pusing kepala.


O'Koffie varian Vanilla Latte justru punya warna cairan parfum yang lebih cokelat, seperti seduhan kopi hitam, walau tidak terlalu pekat. Sudah diduga dari awal, varian ini punya wangi yang lebih tajam dibandingkan yang varian Baby Coffee. Bahkan rekan kantor yang ikut menjajal wanginya mengatakan jika varian Vanilla Late ini tak ubahnya seperti wangi ekstraksi kopi langsung, yang belum diutak-atik.

Sejauh saya menggunakan parfum aroma kopi dari O'Koffie beberapa hari ini, rekan kerja saya sudah mulai mengenali karakter aroma kopinya. Jika di ruangan tiba-tiba tercium aroma kopi, mereka suka berkomentar pasti ini aroma parfum saya. Saya jadi lebih percaya diri sebab aroma parfum kopi memperkuat citra karakter saya dari sisi wewangian.

Nah, untuk yang ingin menjajal juga parfum O'Koffie ini, kalian bisa langsung memesannya lewat akun twitter di atas ya!

Ingat lho, beberapa orang mengenali kita dari aroma parfum yang kita semprotkan ke badan. Jadi, jangan asal pilih aroma parfum, dan mari lebih percaya diri dengan aroma parfum kesukaan.

[foto merupakan dokumen pribadi]

[Buku] Stalker by Donna Widjajanto


Judul: Stalker
Penulis: Donna Widjajanto
Penyunting: Starin Sani & Dila Maretihaqsari
Perancang & ilustrasi sampul: Roid Mukhtar Malik Anggara
Ilustrasi isi & penata aksara: tsbb
Pemeriksa aksara: Septi Ws
Digitalisasi: Rahmat Tsani H.
Penerbit: Bentang Belia
Cetakan: I, Juni 2015
Tebal: vi + 210 hlm.
ISBN: 9786021383537

Sinopsis
Buku Stalker ini menceritakan gadis SMA bernama Khila yang suatu hari bertemu dengan pemuda bernama Leon ketika menunggus bus pulang. Khila, Leon, Ibu Silvia dan Ibu Iin memutuskan naik taksi yang bayarnya patungan. Karena Leon itu ganteng, Khila merasa tidak keberatan bertemu di hari selanjutnya. Apalagi saat itu Khila sedang tegang dengan Saka soal proyek komik sekolah, dan kehadiran Leon menjadi seperti hujan bagi Khila di tengah panasnya hubungan dia dengan Saka, Abel, dan Nadia.

Namun Khila tidak menyangka jika Leon punya sisi gelap: protektif, pemaksa, dan pejuang. Buah dari kurang kasih sayang membuat Leon menjadi sosok yang mengerikan. Khila sempat mengalami pelecehan seksual di dalam taksi oleh Leon. Dan sejak itu penilaian Khila berubah terhadap Leon. Dia berusaha menjauhinya. Sebaliknya, Leon tambah mengusiknya.

Resensi
Ketika memutuskan untuk mengeratkan ikat pinggang dari belanja buku baru (entah beneran bisa atau enggak), saya akhirnya bisa selesai membaca satu judul buku dalam satu hari. Pencapaian yang spesial karena saya akhir-akhir ini kesulitan membaca buku sampai tamat.

Buku itu adalah Stalker karya Mbak Donna, yang menjadi salah satu dari series DarkLit bikinan Penerbit Bentang. Dalam bayangan saya, series ini berkaitan dengan horor, tetapi ternyata untuk buku ini tidak demikian. Justru mengambil tema besar berupa sakit mental. Dan insyaallah untuk resensi judul lainnya akan segera menyusul.

Membaca buku ini membuka mata saya dalam merasakan perasaan korban pelecehan seksual. Membaca bagian ketika Khila mandi dan menggosok badannya untuk menghapus bekas tangan Leon, membuat saya terenyuh. Khila merasakan marah, kesal, tidak berdaya, kotor, malu, menjijikan, semua bercampur, dan dia enggak bisa ngomong ke siapa pun. Tekanan ini yang dirasakan korban pelecehan seksual. Makanya mereka baru bisa bercerita setelah beberapa lama setelah kejadian.

Peran keluarga atau orang terdekat menjadi sangat penting dalam proses pemulihan. Korban pasti mengalami trauma dan orang sekitarnya harus membantu korban untuk keluar dari traumanya. Bukan tidak mungkin jika korban dibiarkan meratapi nasibnya, mereka akan melakukan tindakan bodoh misal percobaan bunuh diri. Orang tua Khila, Saka, Abel, Nadia, dan Eri memberikan inspirasi bagus dalam menguatkan Khila. Poinnya adalah penting sekali membangun kembali kepercayaan diri korban untuk melanjutkan kehidupan dan mengingatkan korban jika dia enggak sendiri. Masih banyak sekali orang sekitar yang sayang dan peduli.

Di novel ini pembaca juga akan menemukan tema keluarga, tema persahabatan, dan tema roman. Kalau ditakar, buku ini punya lebih banyak tema persahabatan. Tema keluarga ditampilkan pada bagian cerita peran orang tua Khila dalam mendampingi anaknya yang menjadi korban penguntit. Untuk tema persahabatan yang menjadi tema besar ditampilkan dalam bagian cerita bagaimana sahabat-sahabat Khila merespon apa yang dialami Khila. Sedangkan tema roman muncul dari hubungan Saka dan Khila, dan perasaan tersembunyi dari Nadia dan Eri.

Sebelum tahun ajaran dimulai, Saka sudah menimbang-nimbang apakah sebaiknya dia nembak Khila. Tapi, Saka takut persahabatan mereka malah rusak kalau mereka jadian. Atau, apesnya, mereka nantinya putus, terus musuhan. (hal.85)

Kemudian karakter-karakter tokoh di novel ini sudah pas dan berkesan. Khila ini sosok gadis muda yang judes, galak, rajin, egois, sekaligus rapuh. Saka tampil sebagai cowok muda yang tegas, lebih bijak, dan sabar. Nadia muncul sebagai gadis yang pemendam rasa, berusaha menyenangkan semua orang, sensitif, namun pengendali emosi yang baik. Eri dirancang sebagai cowok kstaria yang mau menerima kenyataan percintaannya tanpa harus membenci. Sedangkan untuk Abel yang tipe pemimpin, penengah, dan punya empati yang besar, menjadi bias di bayangan saya, dia itu cewek apa cowok sebenarnya.

Petik-Petik
Pesan yang saya terima adalah ketika punya masalah jangan pernah merasa sendirian. Terbukalah kepada keluarga dan orang terdekat. Biarkan mereka mengerti dan membantu. Karena kita hidup tidak sendirian. Keluarga dan orang terdekat pasti menyayangi kita dan tidak akan membiarkan kita kesulitan sendirian.

Terakhir & Rating
Buku Stalker ini sangat cocok dibaca oleh remaja untuk mengingatkan bahwa tidak semua orang dalam lingkaran pergaulan kita itu baik. Lalu, ketika kita tertimpa masalah, ayo selesaikan bersama keluarga dan orang terdekat, bukan meratapi, menutupi, dan merasa takut. Jangan lari tetapi ayo hadapi. Akhirnya buku stalker ini saya ganjar dengan rating 4 dari 5.

*****

  • Kesedihan yang dibagi akan berkurang, sama seperti kesenangan yang dibagi akan bertambah. Itu, kan, gunanya teman? (hal.70)
  • "...Sakitnya kalau benci sama orang itu lebih sakit daripada kalau kita dibenci orang." (hal.95)


Rekap #NontonFilm2019 Bulan November 2019

Di sela rutinitas sehari-hari saya selalu menyempatkan menonton film yang merupakan hiburan murah untuk saya saat ini. Saya jarang banget nonton film di bioskop. Malah lebih banyak nonton film hasil download-an (maafkeun kalo caranya ilegal...)

Dan sejak bulan September, saya sudah membuat utas di twitter untuk memantau film apa saja yang sudah saya tonton dengan menggunakan tagar #NontonFilm2019. Ada yang disertai ulasan kesan-kesan setelah menonton, tapi lebih banyak hanya mencantumkan judul dan poster filmnya.


Berikut ini daftar film yang saya tonton selama bulan November. Silakan disimak!

1. Film 47 Meters Down Uncaged (2019)


Menceritakan kakak-adik perempuan beserta dua temannya, yang menghabiskan waktu liburan dengan ngeyel melakukan diving ke perairan dalam yang merupakan lokasi penelitian ayahnya. Kecelakaan terjadi dan membuat terowongan penelitian di bawah laut runtuh. Keempat gadis ini berusaha keluar dari terowongan yang kemudian diteror oleh hiu besar.

Formula film ini sama dengan formula film hewan buas produksi tahun-tahun sebelumnya. Sehingga tidak ada yang membuat istimewa selain rasa deg-degan mengikuti cerita survive para tokohnya dalam bertahan hidup dari hiu si pemangsa.

2. Film Dora and The Lost City of Gold (2019)


Dora yang dikenal sebagai anak kecil yang suka berpetualang, dihadirkan sudah menjadi remaja di film ini. Suatu hari dia kehilangan kontak dengan orang tuanya yang sedang melakukan penjelajahan. Dan tak lama kemudian, dia diculik oleh penjahat pemburu emas beserta Diego dan kedua teman sekolahnya. Berangkat dari konflik inilah yang mengantarkan Dora menjelajah hutan mencari peninggalan suku lawas yang menurut rumor penuh dengan emas.

Filmnya lumayan seru mengingat visual alamnya yang memikat. Dan tentu saja film ini masih kategori aman ditonton anak-anak selama didampingi orang tua.

3. Film Klaus (2019)


Film animasi tentang natal yang menghadirkan sosok tukang pos pemalas lantaran bapaknya sangat kaya. Dia dihukum dengan dipindahkan ke daerah yang penduduknya terbagi menjadi dua kubu, dan saling bersebrangan. Targetnya adalah memenuhi pengiriman 6000 surat. Dalam perjalanan kisahnya, dia bertemu sosok Klaus yang dirundung kepiluan lantaran istrinya meninggal sehingga Klaus berhenti membuat mainan untuk anak-anak.

Kehadiran si tukang pos ini membawa perubahan besar-besaran di daerah tersebut. Sampai pada waktunya, ketika target terpenuhi, dia dilema antara kembali ke kota asalnya atau bertahan di tempat yang sudah dia rubah.

4. Film The Fighting Preacher (2019)


Saya rada lupa sama kisah detailnya tetapi film ini merupakan film yang menunjukkan penyebaran agama dengan cara yang santun dan ramah. Sepasang suami istri mendapatkan mandat dari gurunya untuk menyebarkan agama di satu wilayah yang sangat kolot dan tertutup terhadap agama mereka. Kehadiran mereka ditolak pada awalnya, namun perlahan-lahan penduduk di daerah tersebut menerima setelah bertahun-tahun pasangan suami istri tadi menunjukkan betapa sabarnya mereka.

5. Film Crayon Shin-chan - Honeymoon Hurricane - The Lost Hiroshi (2019)


Film ini membawa penonton mengikuti petulangan keluarga Shin-chan ketika berlibur bulan madu di Australia. Satu suku asli di sana menculik Hiroshi untuk ditukarkan dengan kekayaan. Dan petualangan penyelamatan dimulai.

6. Film Line of Duty (2019)


Polisi yang sedang bertugas akhirnya menembak salah satu penculik anak kepala kepolisian. Itu dilakukan karena keadaan mendesak. Karena penembakan itu, polisi tadi diliburkan. Namun perasaan bersalah membuat dia melakukan pengejaran sekaligus penyelamatan anak yang diculik.

Lebih seru lagi karena proses pengejaran dan penyelamatan itu disiarkan langsung oleh gadis muda pemilik akun siaran. Ending film ini benar-benar mengharukan.

*****

Bulan November ini lebih sedikit film yang saya tonton jika dibandingkan dengan bulan Oktober. Maklum saja soalnya awal bulan ini saya menghadapi masalah berat yang cerita ringkasnya bisa dibaca di artikel Terima Kasih Tidak Akan Pernah Cukup Untuk Dua Jantung.

Nah, giliran kalian nih yang ngasih tau film apa saja yang sudah ditonton di bulan November ini. Tulis di kolom komentar ya!

[semua poster diunduh dari imdb.com]

Terima Kasih Tidak Akan Pernah Cukup Untuk Dua Jantung

Saya adalah tipe orang yang paling pinter memendam masalah sendiri. Lebih banyak bertarung sendirian. Sifat ini kayaknya paketan karakter saya yang condong introvert, rendah diri, bahkan pemalu. Ah, mungkin tepatnya saya adalah pecundang.

Kejelekkan saya yang kerap memendam masalah sendirian, justru melahirkan masalah besar setelah beberapa lama. Saat masalah masih kecil, saya selalu berdalih bakal mampu menyelesaikan dan pasti selesai. Namun kenyataannya, saya terbebani makin banyak dan akhirnya dikalahkan masalah tadi.

Tanggal 15 November 2019, tepatnya hari Jumat, saya mengalami masalah besar. Maaf, disini tidak akan saya umbar masalah yang sebenarnya, sebab itu aib saya dan aib keluarga. Saya hanya ingin membagikan hikmahnya saja.

Masalah besar itu hampir membuat saya menangis seharian. Sehabis Subuh, saya banyak merenung dan air mata mengalir deras nggak bisa ditahan. Ibarat sungai yang diganjar banjir bandang dari hulu. Di tempat kerja pun emosi saya tidak bisa dikendalikan. Pokoknya hari itu saya dalam kondisi sangat down dan tidak bisa berbagi cerita ke siapa pun.

Meski sedih bertumpuk-tumpuk, saya tetap memikirkan jalan keluar untuk masalah saya. Sayangnya, semua jalan sudah buntu. Dan waktu itu yang terpikirkan oleh saya hanya satu, saya harus pulang ke rumah dan menceritakan semuanya kepada orang tua.

Sebelum berangkat kerja, saya membulatkan tekad untuk melakukan pengakuan dosa ini. Harus saya lakukan dan tidak ada pertimbangan lagi. Keluarga harus tahu keadaan saya yang sebenarnya.

Sehabis Maghrib, saya dijemput seorang kawan dan diantar pulang ke rumah kakak perempuan saya. Sebelumnya saya sudah menelepon kakak saya itu agar Ibu dan Bapak dijemput ke rumahnya. Biar ketika saya datang, mereka sudah siap menerima keadaan anaknya ini yang sedang ditimpa masalah.

Benar saja, begitu sampai gerbang rumah, saya mendapati Ibu dan Bapak sudah duduk di ruang tamu. Saya masuk ke rumah dan langsung bersimpuh menangis di kaki mereka.


Tidak usah saya jelaskan secara rinci ya bagaimana saya melakukan pengakuan dosa kepada Ibu dan Bapak sambil menangis sejadi-jadinya. Pokoknya malam itu semua keluhan hidup saya mengalir deras dari mulut.

Yang membuat saya lebih terharu, Ibu dan Bapak tidak membenci saya yang datang membawa masalah. Mereka tidak memaki atau marah oleh kegagalan yang saya persembahkan. Justru mereka merentangkan tangan lalu memeluk saya sambil mengelus punggung.

"Sabar. Kamu harus banyak bersabar. Lain kali kalau ada apa-apa cerita ke keluarga. Masalah yang sekarang nanti dipikirkan Bapak dan Ibu. Pasti ketemu jalan keluarnya."

Sampai saya menuliskan tulisan ini, masalah itu sudah teratasi. Bayangkan saja, saya pernah berjuang berbulan-bulan untuk menyelesaikan masalah ini dan tidak menemukan titik terang. Begitu saya menceritakan kepada keluarga besar, hitungan dua minggu masalah tadi teratasi. Saya sangat-sangat-sangat berterima kasih dan bersyukur masih mempunyai keluarga yang menerima saya beserta kegagalan yang saya punyai. Setelah masalah ini selesai sampai ke akarnya, fokus saya adalah memberikan hal terbaik yang bisa saya berikan untuk keluarga.

Lalu hikmah yang bisa saya bagikan kepada kalian adalah tempat terbaik pulang adalah keluarga. Mereka akan menerima kita apa adanya, apa kondisi kita, dan siapa kita. Tidak membenci, tidak memaki, tidak menyesal, tidak kecewa, tidak juga menambah luka. 

Saya sangat menghaturkan terima kasih kepada Ibu dan Bapak yang sudah sedia berlapang dada menerima anaknya kembali, meski sekarang hanya mampu menyodorkan kegagalan dan masalah. Dari malam itu, saya bertambah keinginan membahagiakan kalian sampai menurut kalian cukup, dan saya diperbolehkan memilih cerita hidup lain sebagai kelanjutan cerita hidup saya.

Demikian ringkas cerita yang saya bagikan, semoga menambahkan cinta kita kepada keluarga. Terakhir, sampaikan salam saya untuk keluarga kalian.

Tuliskan Saja Jutaan Kalimat Sampai Kamu Mahir Bercerita

"Enggak ada tulisan yang jelek. Yang ada cuma tulisan yang nggak selesai ditulis."

Mendadak saya ingin menuliskan kalimat di atas sebagai motivasi buat diri sendiri pasca saya memublikasikan dua tulisan yang bisa dikatakan menabrak rule blog ini pada awalnya; Tiga Almamater dan Belum Selesai Juga dan Biarkan Hujan yang Turun, Lalu Doa yang Naik. Dua tulisan tadi bukan membahas buku melainkan tulisan random yang muncul di otak saya dan saya paksa untuk diketik menjadi artikel blog ini, ketimbang blog ini selalu alfa menerbitkan tulisan baru.

Begitu saya memublikasikan artikel yang lain dari pada biasanya (dunia buku), ada penilaian yang muncul. Apakah tulisan saya layak dibaca orang lain? Apakah tulisan saya berbobot secara pesan? Apakah pantas tulisan ringan begitu diterbitkan di media umum?

Penilaian tadi yang berupa pertanyaan hampir membuat saya menghapus kembali artikel yang sudah kadung terbit di blog. Alasannya saya kehilangan kepercayaan diri atas tulisan yang sudah saya buat. Saya merasa tulisan saya masih sangat ringan, masih kurang berbobot, dan belum layak jadi bahan konsumsi bacaan orang-orang.

Lalu kemudian bisikan pembenaran muncul juga, makanya lahir kalimat di atas, yang jadi kalimat pembuka tulisan ini. Saya memberanikan diri untuk menyebut tulisan saya tidak jelek. Biarpun masih sangat receh, masih sangat acak-acakan, masih sangat berantakan, tapi setidaknya tulisan saya bisa rampung menjadi satu artikel yang punya judul.

Saya menarik nafas panjang dan mengembangkan paru-paru untuk menampung oksigen sebanyak yang bisa dihirup. Bersamaan dengan itu, hati saya berkata, "Saya sedang belajar menulis. Perjuangan saya adalah menulis sebanyak mungkin. Kualitas akan mengikuti seiring pengalaman saya menulis banyak kata."



Memang tidak mudah untuk memantapkan hati agar proses menulis berjalan secara konsisten. Penilaian terhadap tulisan bisa menjadi alasan besar kenapa proses itu berhenti di tengah jalan. Makanya saya memastikan terlebih dahulu penilaian terhadap tulisan harus sudah ditiadakan. Dilanjutkan dengan bersungguh-sungguh akan menuliskan apa pun yang ingin ditulis.

Ada satu lagi pikiran yang muncul, jika banyak tulisan yang jadi atau dibuat, akankah semua tulisan itu terbit di blog ini. Sedangkan kurang apik jika dalam sehari terbit dua tulisan. Pembaca jelas akan merasa kecepatan membaca artikel atau tulisan di blog ini. Padahal belum tentu dalam tulisan saya itu tersimpan manfaat.

Dan solusinya adalah membiarkan semua tulisan rampung menjadi draft. Setiap hari saya punya tugas rutin untuk memeriksa tulisan mana yang pas terbit setiap harinya. Sambil melakukan editing juga. Dengan begini, bank artikel tulisan blog saya akan selalu penuh. Syukur ke depannya saya mengalihkan beberapa tulisan ke media lain.

Inti tulisan saya ini adalah mengajak kepada pembaca blog ini untuk rajin menulis. Biar saja kalau kita hanya berhasil menulis satu atau dua paragraf. Ketika hasil tulisan itu jadi draft, kita bisa meng-edit-nya di lain waktu dengan mengembangkan kembali ide-idenya.

Jangan biarkan keraguan muncul ketika kita sudah memutuskan untuk menulis artikel. Biarkan pikiran kita kawin dengan tangan untuk melahirkan rangkaian kata menjadi kalimat yang kemudian menjadi santapan pembaca.

Terakhir, terus semangat menulis untuk sesama.

Biarkan Hujan Yang Turun, Lalu Doa Yang Naik

Alhamdulillah...

Allahumma Shoyyiban Nafi'an. Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang bermanfaat.

Jutaan syukur saya panjatkan untuk Allah SWT yang akhirnya menurunkan hujan deras di Kota Cirebon pada malam ini. Derasnya membuat hati siapa pun membuncah bahagia lantaran penantian panjang akhirnya terbayar lunas.


Musim panas kali ini lebih banyak menguji. Suhu naik tak terkira kalau siang dan itu bikin manusia gampang mengeluh. Saya merasakan sekali bagaimana panasnya udara ketika tengah hari menerpa wajah begitu saya keluar dari gedung tempat kerja ketika hendak solat Dzuhur. Bukan saya saja yang bergumam, "Panas banget hari ini, MasyaAllah..." Sebagian rekan lainnya mengiyakan kalau musim panas kali ini lebih menguji sabar.

Belum lagi kalau malam hari, udara rasanya kering. Biar kipas angin di kosan sudah disetting paling cepat muternya, tetap saja masih kegerahan. Kadang saya mengakali dengan mandi malam, ditambah minum es agak banyakan.

Pernah kipas angin rusak dan beberapa hari itu saya mesti bersabar menahan gerah. Sebagai jalan keluar, selain mandi dan minum es, saya juga mengepel lantai kosan beberapa kali, membuka jendela sepanjang malam, dan sering membuka pintu lebar-lebar agar sirkulasi udara di dalam kamar lebih adem. Maklum, kosan saya bukan yang pakai AC.

Begitu malam ini hujan turun deras, banyak orang yang mengucapkan doa dan banyak yang mensyukurinya. Saya melihat di beberapa status WA, tampaknya hujan malam ini membawa bahagia banyak orang.


Beberapa waktu lalu, saya sempat membaca buku Amalan Pembuka Rezeki yang ditulis oleh Haris Priyatna dan Lisdy Rahayu pada bab Berdoa, dikatakan salah satu waktu yang mustajab untuk memanjatkan doa adalah ketika hujan turun.

Hadisnya sebagai berikut: "Doa tidak tertolak pada dua waktu, yaitu ketika azan berkumandang dan ketika hujan turun." (HR Al-Hakim)

Maka saya pun tidak melewatkan untuk berdoa sebanyak-banyaknya. Sebab saya yakin semua doa akan sampai kepada Allah SWT.

Jadi, marilah kita perbanyak berdoa ketika hujan turun. Apalagi tampaknya musim hujan sudah menyapa. Dan yang paling utama, tetap lakukan ibadah wajib walau kita bukan orang paling baik.

*Gambar diunduh dari behance.com dan diedit

Tiga Almamater Dan Belum Selesai Juga

Kalau seandainya diperbolehkan memilih hidup saat kapan inginnya, saya kayaknya bakal milih menjadi anak-anak saja. Bayangkan, sehari-hari hanya sibuk urusan main, ngerjain PR sekolah, bantu-bantu kerjaan rumah, dan ngobrolin film kartun atau sinetron laga.

Jauh berbeda dengan menjadi dewasa seperti sekarang. Terlalu banyak tanggung jawab yang harus dipikul sedangkan sadar bahu tak seberapa kuat dan tak seberapa lebar.

Hidup saya berat. Bolehkan saya mengeluh demikian. Saya manusia biasa juga, yang punya ciri manusia pada umumnya, lebih pandai mengeluh, padahal seharusnya lebih banyak bersyukur. Ada banyak ketidakberuntungan yang saya alami. Sebentar, kasih saya penjelasan singkat, ini bukan lagi cara saya kufur nikmat, justru dengan mengeluh, semoga bisa bertambah bersyukur.

Ada beberapa masa yang saya sesali. Keputusan-keputusan yang saya pilih bukan keputusan yang terbaik. Malah menjadi bumerang yang menyerang saya hingga kalah. Kalau mengingat ini semua, rasanya badan mendadak loyo melorot ke tanah.

Tulisan ini akan berseri. Kalau kalian tidak ingin mendapatkan aura busuk dari sambatan saya, silakan berhenti membacanya. Tapi saya bakal keukeuh menuliskan karena ini terapi yang saya bisa lakukan untuk mengeluarkan racun di tubuh saya.

*****


Kuliah saya harus ditempuh di tiga kampus dan belum juga rampung, entah kapan, semoga segera. 

Dua kampus jadi kegagalan. Satu kampus sedang saya jalani. Kampus pertama gagal karena saya tidak cukup punya biaya. Saat itu restu orang tua bisa dibilang hanya separuh. Separuhnya lagi kekecewaan karena anaknya tidak jadi memegang warung sembako di Muara Baru, Jakarta Utara. Seberapa butuh saya biaya untuk semesteran, orang tua tetap menutup tangan.

Kampus kedua juga gagal karena saya merasa kalah oleh pikiran picik. Waktu itu ada yang nyeletuk, "Kamu ngapain kuliah lagi sekarang. Yang lain, sepantaran kamu, sudah nyampe dimana, kamu masih dimana. Sudah terlambat, Din!" Dan saya memilih berhenti kuliah, lalu menjalani hari-hari seperti semula. Lagian kuliah di kampus kedua ini dilaksanakan Sabtu dan Minggu, jadi sepekan itu saya harus tinggal di kota mulu. Waktu balik ke rumah orang tua rada susah menyesuaikan.

Kampus ketiga ini, yang sedang saya jalani, juga buah desakan manajer di tempat kerja. Kata beliau, kesempatan bisa datang kapan saja dan kesempatan bisa jadi keberuntungan jika kita sudah siap menerimanya. Benar saja, kesempatan menjadi manajer di tempat kerja lain terlewat begitu saja karena saya tidak memegang tiket masuknya atau ijazah. Dua kali malah. Ampun!

Doakan saja saya yang baru saja selesai UAS semester lima, bisa rampung wisuda tahun depan. Biar ngejar goal hidup lainnya makin lancar dan cepat.

*****

Sekian sambat saya kesempatan ini, kalian boleh sambat juga pengalaman zaman kuliah dulu di kolom komentar. Anggap aja silaturahmi, biar berkah...


[Intermeso] Beli Buku di bukabuku.com

gambar diunduh dari behance.com / diedit author

Sebagai pembaca dan blogger buku, tentu saja setiap bulan pasti ada saja buku yang dibeli. Hitung-hitung sebagai amunisi, juga menjadi kebiasaan yang kalau tidak lakukan, merasa ada yang kurang. Saya sendiri kerap membeli buku secara offline, yaitu saat di kota saya digelar bazar buku murah, atau sedang ada promo beli buku dengan diskon sangat lumayan di toko buku.

Tetapi, kadang pilihan beli buku juga suka bergeser ke online. Pertimbangan utama tentu saja ketika diskon buku yang diberikan lebih besar sehingga harga buku baru bisa lebih murah dibandingkan harga asli di toko buku. 

Sepanjang saya beli buku secara online, saya pertama kali kenal toko buku online yaitu , bukabuku.com. Kalau melihat sejarah pembelian buku di toko buku ini, saya sudah melakukannya sejak tahun 2015. 


Tentang diskon yang gede menjadi alasan pertama kenapa saya akhirnya bisa kenalan dengan toko buku online ini. Bahkan dulu saya rajin berkunjung ke situs ini walau hanya sekadar melihat update ada buku baru apa yang terbit. Eit, tapi sampai sekarang pun masih suka mengintip informasi buku terbaru walaupun tidak serajin dulu.

Selain sebagai rujukan untuk membeli buku, saya pun ikut berafiliasi dengan toko buku ini.

Afiliasi tuh apaan?

Jadi begini, dalam postingan resensi buku, saya akan meletakkan link khusus yang diberikan bukabuku.com di judul buku. Sehingga ketika ada pembaca yang membeli buku dari link tersebut, saya mendapatkan fee. Kerja sama ini sudah jarang sekali saya lakukan. soalnya kegiatan membaca saya sedang menurun dan berimbas saya jarang menulis resensi di blog ini.

Tampilan blognya sangat membantu saya memilih buku. Sebab begitu masuk ke halaman utamanya, kita sudah dikasih tunjuk buku baru yang terbit, baik sudah benar-benar terbit atau statusnya masih preorder (PO).


Kalau sekadar mengintip, kita juga bisa memilih buku sesuai genre. Kalian tinggal pilih saja di menu genre, genre mana yang mau dilihat.

Sedangkan kalau ingin melihat promo menarik, cukup klik menu Promo Hari Ini.

Biar lebih jelas, saya sarankan langsung saja berkunjung ke website bukabuku.com. Siapa tahu kalian memasukan bukabuku.com ini sebagai salah satu toko buku online pilihan saat membeli buku.

Nah, ini artikel pertama saya mengenai pengalaman membeli buku di toko buku online. Ke depannya akan disusul oleh toko buku online lainnya. Nantikan saja ya!

Terakhir dari saya, selamat berbelanja buku!

[Buku] The Chronicle of a 35-Year-Old Woman by kincirmainan


Judul: The Chronicle of 35- Year-Old Woman
Penulis: kincirmainan
Penyunting: Yuke Ratna Permatasari
Penerbit: Penerbit Bhuana Sastra
Terbit: 2017
Tebal buku: 244 hlm.
ISBN: 9786023948512

Perjalanan cinta di ujung penantian.

Kikan, 35 tahun, seorang wanita karir yang molek dengan karakter work hard, play hard. Kikan masih melajang karena jera dengan hubungan asmaranya yang sudah-sudah, dan Andre "Si Blasteran Siluman Anjing Pemburu" adalah penyebabnya.

Bertahun-tahun Kikan tidak kunjung menemukan lelaki yang bisa memantapkannya. Sampai tiba-tiba juniornya di kantor nekat melamar. Dialah Pras, lelaki introver yang usianya delapan tahun lebih muda darinya. Tapi, bersama dengan Pras belum meyakinkannya seratus persen. Ditambah urusan dengan mantannya yang belum tuntas.

Kikan akhirnya harus memilih, mengakhiri penantiannya atau...

*****

Sinopsis di belakang novel ini sudah menggambarkan garis besar ceritanya. Kikan yang sudah berusia 35 tahun dilamar oleh rekan kerjanya yaitu Prasetyo, yang justru lebih muda delapan tahun. Dia galau dengan jawaban yang akan dipilihnya. Tiba-tiba saja dia bertemu dengan mantannya delapan tahun silam, Andreas.

Kehadiran Andreas benar-benar mengusik hubungan Kikan dan Pras. Selain hubungan Andreas dan Pras yang bersaudara tiri, ada masa lalu mereka yang sampai saat ini membuat keduanya berseteru. Kikan benar-benar dibuat gila oleh Pras yang susah ditebak dan oleh Andreas yang masih menyimpan perasaan masa lalu.
Siapakah yang akan dipilih oleh Kikan antara Pras dan Andreas? Jawabannya tentu saja lebih baik baca langsung novelnya.

*****

Novel ini dilabeli sebagai fiksi/novel dewasa yang tertera di sampul belakang. Alhasil, banyak ditemukan  bagian cerita yang menjelaskan secara detail soal hubungan seksual. Selain sebagai pemanis cerita, menurut saya adegan intim tokoh di novel ini untuk menunjang penggambaran karakter yang kuat dari masing-masing tokoh. Misalkan Andreas yang jelas-jelas penjahat kelamin disebutkan mahir soal medan ranjang. Sedangkan Prasetyo disebutkan sebagai karakter pria biasa yang berkacamata tapi punya sisi liar dalam hubungan seks. Kikan sendiri diceritakan sebagai perempuan matang yang memang butuh pemenuhan hasratnya. Tak heran pada beberapa bagian dia melakukan seks, diterangkan dia begitu menikmatinya.

Adegan mesum yang lumayan banyak membuat saya harus mewanti-wanti jika novel ini hanya boleh dibaca oleh pembaca di atas 20 tahun. Kenapa bukan 18 tahun? Sebab keutuhan cerita yang dipadukan dengan adegan seks pra-nikah perlu disikapi oleh pembaca yang bijak dan berwawasan.

Pembaca yang sudah cukup usianya bisa memandang jika adegan seks di novel ini, apa pun kondisinya, hanya sebatas tekstual semata, bukan untuk ditiru mentah. Sedikit bahaya jika novel ini dibaca oleh remaja. Ketakutannya adalah mereka meniru bulat-bulat adegan seks tanpa melihat jalan cerita besarnya.

*****

Saya menilai jika novel ini bagus sebab beberapa bagian ceritanya sejalan dengan pengalaman sendiri. Sehingga beberapa pesan ceritanya bisa sampai ke saya.

Ketika Kikan melakukan kesalahan besar kepada Pras, dia galau dengan banyak mempertimbangkan apa harus atau tidak harus memulai menghubungi Pras. Lalu Gita sebagai sahabat menekankan Kikan untuk memulai menghubungi Pras sebab jika terlambat bisa saja terjadi cerita lain. Menghubungi lebih dulu sama saja bentuk memperjuangkan.

Ini sejalan dengan pengalaman saya bolak-balik antara Cirebon - Subang untuk memperjuangkan dia lagi, menjelaskan masalahnya, dan mengatakan maaf. Sampai tiga kali saya melakukannya. Walau hasilnya tetap tidak bisa diperbaiki hubungan kami, saya merasa puas sebab saya sudah maksimal menjalankan bagian saya dalam memperbaiki hubungan yang saya rusak.

Bagian lain menceritakan soal bagaimana pentingnya melepaskan masa lalu ketika sedang menjalani hubungan yang baru. Kikan harus melepaskan bayangan Andreas yang pernah menorehkan luka yang dalam. Begitu juga Pras dan Andreas harus melepaskan masa lalu yang jadi pemicu mereka berseteru tak pernah akur.

Saya pun pernah terjebak masa lalu dengan seseorang karena kami berpisah dengan tidak baik-baik. Dia yang melakukannya dengan tidak baik-baik. Sehingga selama setahun ke depannya, saya kerap diserang rasa sakit di dada setiap mengingat dia. Pada puncaknya, setahun setelah kejadian perpisahan tidak baik-baik, saya memberanikan diri menemui dia untuk mengucapkan maaf karena saya tahu masalah perpisahan itu pasti dipicu oleh kesalahan saya juga.

Setelah itu saya bisa menjalani kehidupan dengan lebih adem. Saya juga bisa membuka hati untuk beberapa nama berikutnya walau sampai sekarang belum ada yang pas di hati.

*****

Novel ini punya tiga tokoh utama yaitu Kikan, Pras, dan Andreas. Mereka dibentuk dengan karakter yang kuat. Kikan merupakan tipe perempuan matang yang pekerja keras, menomorduakan asmara, punya kegalauan sendiri soal pencapaian hidup di usia kritis, dan masih kekanak-kanakan jika menyangkut perkara cinta.

Prasetyo itu sosok pria yang kalem, punya bakat di alat musik, hemat kata-kata, dan pemikir matang. Yang saya tidak sukai dari tokoh Pras ini adalah kebiasaan dia untuk menyampaikan hal penting harus nunggu waktu yang tepat. Saya tidak mengerti alasannya kenapa dia menunda-nunda menyampaikan cerita masa lalu yang sebenarnya kepada Kikan. Baru setelah konflik meruncing, Pras buka mulut.

Lalu Andreas ini tipe penjahat kelamin, bicaranya to the point, guyonannya keterlaluan, dan menyepelekan perempuan. Karakter Andreas sangat mengganggu dan menyebalkan.
Selain ketiga tokoh yang berkarakter kuat dan berwarna, novel ini tambah menarik oleh beberapa faktor lain: jalan ceritanya yang lincah dan kovernya menarik.

Jalan cerita novel ini dibangun dengan alur maju dan mundur. Alur maju dipakai penulis untuk memberikan progres konflik yang dialami si tokoh. Sedangkan alur mundur menjadi pembukaan tabir dari keadaan sekarang, yah semacam membuka alasan kenapa si tokoh begini dan begitu.

Penceritaan pun dilakukan oleh ketiga tokoh. Walau porsi Kikan lebih banyak dibandingkan bagian Pras atau Andreas. Teknik ini menyeimbangkan penilaian pembaca terhadap ketiga tokoh agar tidak dihakimi secara sepihak.

Sampul merah gelap dipadukan dengan Stiletto tampak tidak mengganggu mata. Justru menampilkan kesan dewasa. Pas banget dengan tokoh yang ada di dalamnya beserta konflik yang diurai menjalin alur cerita.

*****

Apakah novel ini menyuguhkan kisah roman saja?

Tidak. Sebab ada juga bagian cerita yang mengulas hubungan anak dan orang tua. Dipresentasikan oleh Andreas dan Pras kepada sosok Bunda. Sosok Bunda juga merupakan tokoh samping yang menarik. Cara pandang beliau kepada perseteruan kedua anaknya sangat elegan. Ia tidak memaksa agar keduanya akur. Tapi Bunda tahu kapan turun tangan untuk menengahi kedua anaknya.

Bagian lain mengulas soal hubungan persahabatan. Contohnya antara Gita dan Kikan. Kikan kerap menghabiskan waktu di rumah Gita. Merecoki Gita dengan keluhannya. Kadang Kikan malah ikut mengasuh anak Gita. Sampai menjelang konflik cerita berakhir, Gita punya peranan penting sebagai sahabat Kikan agar Kikan tidak semena-mena memutuskan sesuatu yang keliru. Fungsi sahabat demikian bukan? Mengingatkan sahabat ketika dia salah jalan.

*****

Akhirnya novel ini selesai dibaca dan saya pun merekomendasikan novel ini untuk pembaca dewasa yang ingin mendapatkan cerita rada panas dan memberikan pencerahan dari konflik yang disajikan.

[Buku] Table for Two by Dy Lunaly


Judul: Table for Two
Penulis: Dy Lunaly
Penyunting: Pratiwi Utami
Penerbit: Bentang Belia
Terbit: Cetakan pertama, Desember 2016
Tebal: iv + 260 hlm.
ISBN: 9786021383636

"Aku pernah janji untuk selalu ngelindungin kamu. Itu alasan kenapa aku nggak bisa berhenti bertinju, sekalipun kamu minta aku untuk berhenti. Aku cuma bisa ngelindungin kamu kalau aku kuat." (Hal. 112)

*****

Novel Table for Two ini merupakan bagian dari novel series Olahraga yang digagas penerbit Bentang Belia. Masih ada empat judul lainnya: Let's Break Up karya Anjani Fitriana, Other Half of Me karya Elsa Puspita, My Favorite Distruction karya Naala, dan Happiness is You karya Clara Canceriana.

Untuk Table for Two ini, olahraga yang menjadi tema utama adalah tinju. Membawa kisah Asha yang harus menjadi pendamping diet untuk sahabat masa kecilnya yang seorang petinju. Konflik muncul karena Asha dan Arga pernah berantem tujuh tahun lalu perkara soal Arga yang keukeuh menjalani cita-cita menjadi petinju profesional. Asha meminta Arga berhenti karena cerita menyedihkan meninggalnya sang papa sewaktu tanding tinju di Amerika.

Alur cerita dalam novel ini memang mengejutkan. Latar belakang kenapa Asha berantem dengan Arga, alasan Arga ketus kepada Asha, dan alasan Arga memilih jadi petinju, dibeberkan perlahan-lahan. Sehingga teknik menulis begini membuat saya penasaran dan terus membaca karena keseruan yang ditimbulkannya.

Saya bukan penyuka olahraga tinju jadi tidak terlalu tahu seluk-beluknya. Di sini pun saya mendapati kalau penulis tidak mendalami emosi orang-orang yang memilih penjadi petinju. Sekedar teknik dasar memang diselipkan, tapi kedalaman profesinya tidak sampai kepada saya selaku pembaca. Termasuk profesi mamanya Asha sebagai ahli gizi, tidak tereksplorasi secara mendalam. Menu diet yang disebutkan sekadar nama saja tanpa ada penjelasan lebih rinci tentang manfaat, takaran dan kombinasi menu atau bahan-bahannya.

Kesimpulan profesi yang saya tangkap berupa: untuk kelas dalam tinju ditentukan oleh berat badan makanya dibutuhkan diet untuk mencapai berat badan sesuai kelas. Istilah tinju paling sering disebut dalam novel ini adalah Sparring. Alat tinju yang disebutkan antara lain sarung tinju dan samsak. Sedangkan untuk dunia pergizian hanya informasi berupa penting sekali mengetahui kadar makanan yang kita makan baik berupa jumlah kalori atau ketersediaan unsur karbohidrat, protein dan sebagainya.

Dominasi hal lain yang ditulis penulis adalah mengenai rasa dan proses menerima kehilangan. Asha, mama, dan Om Bima menjadi orang-orang yang terbelenggu atas meninggalnya papanya Asha. Ketiga orang tadi memiliki alasan masing-masing memendam penyesalan atas kejadian itu. Namun penulis membawa cerita kehilangan ini menuju proses menerima kenyataan dengan cara yang bijaksana. Sebab ketiga pihak tadi tidak menjadikan penyesalan sebagai sesuatu yang menghalangi kehidupan ke depannya. Walaupun kesedihan kerap menimpa mereka dalam kondisi-kondisi tertentu terutama ketika mengingat hal-hal yang berkaitan dengan papanya Asha.

Unsur roman yang diracik penulis juga menarik. Terutama mengenai hati Asha akan berlabuh kemana, antara Arga atau Rama. Rama ini adalah pekerja di klinik mamanya Asha, yang perhatiannya melebihi sosok kakak. Penulis mengakhiri kebimbangan Asha dengan cukup baik. Asha memilih orang yang tepat setelah hatinya dilanda kebimbangan. Alasan kenapa Asha memilih pilihannya sangat saya terima. Kalau mau tau siapa yang dipilih Asha, langsung baca aja novelnya, hehe.

Beberapa hal dalam novel ini juga menjadi sorotan saya. Terutama karakter Arga yang temperamental, ketus, pendiam, suram, mendadak berubah ketika di bab menjelang akhir buku. Perubahannya terlalu cepat padahal Arga dan Asha habis bertengkar hebat. Apalagi di pertengkaran itu Arga menghina orang-orang yang Asha sayangi. Kalau saya di posisi Asha, bakal berat banget untuk memaafkan ucapan Arga yang mengandung hinaan, merendahkan dan tuduhan.

Penyelesaian konflik novel ini pun terasa terburu-buru. Ini lagi lagi berkaitan dengan mudahnya Arga dan Asha berdamai padahal konflik mereka terbilang runcing. Sehingga menjelang akhir buku, saya merasa kurang bisa menikmati alur cerita demi menutup kisah Arga dan Asha. Terutama adegan Asha yang berbincang dengan Arga setelah Arga siuman pasca pingsan. Mereka bisa bercanda sedemikan rupa padahal sebelumnya mereka berseteru hebat. Aneh saja buat logika saya.

Sebagai penutup, terlepas dari kekurangan (menurut saya) di atas, novel Table for Two ini nyaman dibaca. Kita akan disuguhi pelajaran bagaimana berdamai dengan masa lalu, dan bukan menjadikan masa lalu sebagai ganjalan untuk masa depan.

*****

Ternyata kenangan bahagia, tidak peduli selama apa pun tersimpan, selalu menghadirkan getar kerinduan ketika mengingatnya. (Hal. 7)

Ternyata benar, kenangan tidak tersimpan dalam ingatan atau hati. Tetapi, pada benda atau tempat kenangan itu terjadi. (Hal. 64)

...kuat itu bukan yang bisa mengalahkan lawan, melainkan seseorang yang bisa dihormati dan dihargai karena berhasil mengalahkan keinginan untuk balas dendam. (Hal. 143)

[Buku] Seumpama Matahari by Arafat Nur


Judul: Seumpama Matahari
Penulis: Arafat Nur
Editor: Yetti A. KA
Penerbit: DIVA Press
Terbit: Cetakan pertama, Mei 2017
Tebal buku: 144 hlm.
ISBN: 9786023914159

"Cinta Seumpama matahari, ia tidak pernah mengharapkan cahaya dari bumi. Tapi, ia selalu memberikan cahaya bagi bumi. Biarpun bumi tidak merasakan cahayanya. (Hal. 92)

*****

Novel Seumpama Matahari terbilang tidak tebal. Dan ukuran ini cukup untuk memancing daya baca saya yang sedang merosot. Ampuh memang hasilnya. Novel ini bisa saya selesaikan sekali duduk saja.

Buku berkover kuning ini menceritakan perjalanan seorang Asrul, pemuda Aceh, yang terlibat sebagai gerilyawan dalam operasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sampai dia memutuskan untuk keluar dari GAM demi menjadi warga yang normal.

Saya sedikit terusik ketika tahu jika tokoh dalam buku ini mengambil sudut pandang pemberontak. Dalih-dalih mereka memerangi tentara demi merdeka sangat bertentangan dengan pikiran saya yang masih mencintai tanah air dengan segala permasalahannya. Tetapi penulis berhasil memberikan jawaban untuk pertanyaan kenapa tokoh utamanya harus seorang gerilyawan.

Seorang Arafat Nur seperti ingin memberikan informasi kalau beberapa anggota gerilyawan sebenarnya tidak melulu memiliki ambisi memberontak. Asrul misalnya, dia ini memang punya dendam kepada tentara atas terbunuhnya Ayahnya yang ditembaki tentara sebagai pelampiasan karena gagal menangkap pemberontak. Karena ajakan kawannya dan hasutan peristiwa pembunuhan itu, Asrul akhirnya masuk ke pelatihan demi menjadi anggota gerilyawan.

Berjalannya cerita, Asrul akhirnya tiba di satu titik lelah dengan ambisi perangnya terhadap tentara. Dia menimbang perasaan ibunya, adiknya, bahkan calon istrinya. Muncullah kehendak hati untuk menjadi warga biasa saja yang menjalani kehidupan normal tanpa harus merasa dikejar untuk ditangkap tentara.

Hal menarik yang saya temukan dari membaca buku ini salah satunya adalah sejarah GAM itu sendiri. Penulis membuka selapis demi selapis mengenai GAM. Kapan GAM mulai kambuh. Apa latar belakang GAM muncul. Bahkan bagaimana senjata bisa dimiliki oleh GAM. Akhirnya setelah selesai membaca buku ini, saya paham eksistensi GAM yang dipicu oleh pemerintah yang tidak adil dalam membangun daerah di Aceh (sesuai novelnya).

Biarpun buku ini menceritakan bagian sejarah Indonesia, bobotnya tidak terlalu berat seperti buku teks di sekolahan. Mungkin karena penulis memasukkan unsur roman antara Asrul dan perempuan berambut hitam yang wangi. Justru roman ini paling melekat di benak saya begitu cerita ditamatkan.

Sepanjang mengikuti kisah roman Asrul, pikiran saya ikut liar berandai-andai. Jujur saja, saya sempat membayangkan si Asrul ini akan melakukan hal senonoh dengan perempuan yang ia sukai. Sebabnya, Asrul ini muda dan jiwanya masih meletup-letup. Kisah awal ketika dia bertemu dengan gadis itu, ada aura nakal yang muncul. Bahkan ketika Asrul serumah dengan perempuan itu, narasi mengesankan kalau Asrul hanya pemuda biasa yang punya birahi juga. Sayangnya latar Aceh menyelamatkan cerita jatuh ke kosnep liar yang saya bayangkan tadi. Tahu sendiri, Aceh sangat menjunjung tinggi nilai keislaman, bahkan itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan di dalam novel ini menyinggung pandangan soal pacaran di kalangan warga Aceh yang dianggap sebagai perilaku yang tak pantas. Kalau sampai ketahuan warga sedang berduaan di tempat sepi, bisa diarak dan disidang. Cukup bikin menelan ludah bukan jika dikaitkan dengan kondisi saat ini?

Alasan saya akhirnya lancar jaya menamatkan buku ini, karena ditopang juga oleh diksi yang digunakan penulis. Arafat Nur yang beberapa kali mendapat apresiasi karyanya, tampaknya lebih nyaman menggunakan bahasa baku ketimbang bahasa gaul dalam buku ini. Bisa jadi pengaruh latar di Aceh dan bukan di Jakarta, sehingga bahasa yang dipakai adalah bahasa santun yang memang dipergunakan di sana.

Ternyata tetap saja ada yang kurang terhubung antara saya dan buku Seumpama Matahari ini. Terutama mengenai penokohan Asrul dan karakter-karakter lainnya. Saya kesulitan membayangkan fisik dan sifat Asrul ini. Tidak ada penjelasan spesifik Asrul ini mukanya seperti apa, kecuali rambutnya yang panjang. Sifatnya pun masih bias, dia ini seperti apa. Pekerja keras bukan. Pemberani sekali juga bukan walau tersebut sebagai gerilyawan. Humoris juga tidak. Dewasa dan bijak juga tidak ada narasi yang kesana. Saya tidak menemukan karakter menonjol dari Asrul yang bisa mengesankan saya, syukur-syukur bisa diteladani.

Melihat kekurangan (menurut saya) tadi itu, saya jadi ingin membaca buku Arafat Nur lainnya. Terlebih ingin membandingkan cara beliau bercerita dan bermain diksi. Apakah lebih memikat dari yang ini atau justru sama saja karena itu ciri beliau?

Sebagai penutup, novel ini enak, nyaman, dan sangat bagus dibaca karena muatan sejarahnya yang bisa menambah wawasan pembaca soal salah satu peristiwa besar yang pernah terjadi di tanah Aceh, yaitu Gerakan Aceh Merdeka.

Catatan: Nggak ada penanda buku/bookmark

*****

Padukanlah pikiran dan perasaanmu, niscaya kau mampu mengendalikan dunia ini. (Hal. 24)

"Nak, berusaha untuk mati itu lebih cepat berhasil daripada kau berusaha untuk terus hidup." (Hal. 55)

Kebahagiaan selalu saja diakhiri perpisahan. Sebagaimana kehidupan yang dipisahkan kematian. (Hal. 58)

Sejujur-jujurnya manusia tetap pernah berbohong. (Hal. 109)