Tiga Almamater Dan Belum Selesai Juga

Kalau seandainya diperbolehkan memilih hidup saat kapan inginnya, saya kayaknya bakal milih menjadi anak-anak saja. Bayangkan, sehari-hari hanya sibuk urusan main, ngerjain PR sekolah, bantu-bantu kerjaan rumah, dan ngobrolin film kartun atau sinetron laga.

Jauh berbeda dengan menjadi dewasa seperti sekarang. Terlalu banyak tanggung jawab yang harus dipikul sedangkan sadar bahu tak seberapa kuat dan tak seberapa lebar.

Hidup saya berat. Bolehkan saya mengeluh demikian. Saya manusia biasa juga, yang punya ciri manusia pada umumnya, lebih pandai mengeluh, padahal seharusnya lebih banyak bersyukur. Ada banyak ketidakberuntungan yang saya alami. Sebentar, kasih saya penjelasan singkat, ini bukan lagi cara saya kufur nikmat, justru dengan mengeluh, semoga bisa bertambah bersyukur.

Ada beberapa masa yang saya sesali. Keputusan-keputusan yang saya pilih bukan keputusan yang terbaik. Malah menjadi bumerang yang menyerang saya hingga kalah. Kalau mengingat ini semua, rasanya badan mendadak loyo melorot ke tanah.

Tulisan ini akan berseri. Kalau kalian tidak ingin mendapatkan aura busuk dari sambatan saya, silakan berhenti membacanya. Tapi saya bakal keukeuh menuliskan karena ini terapi yang saya bisa lakukan untuk mengeluarkan racun di tubuh saya.

*****


Kuliah saya harus ditempuh di tiga kampus dan belum juga rampung, entah kapan, semoga segera. 

Dua kampus jadi kegagalan. Satu kampus sedang saya jalani. Kampus pertama gagal karena saya tidak cukup punya biaya. Saat itu restu orang tua bisa dibilang hanya separuh. Separuhnya lagi kekecewaan karena anaknya tidak jadi memegang warung sembako di Muara Baru, Jakarta Utara. Seberapa butuh saya biaya untuk semesteran, orang tua tetap menutup tangan.

Kampus kedua juga gagal karena saya merasa kalah oleh pikiran picik. Waktu itu ada yang nyeletuk, "Kamu ngapain kuliah lagi sekarang. Yang lain, sepantaran kamu, sudah nyampe dimana, kamu masih dimana. Sudah terlambat, Din!" Dan saya memilih berhenti kuliah, lalu menjalani hari-hari seperti semula. Lagian kuliah di kampus kedua ini dilaksanakan Sabtu dan Minggu, jadi sepekan itu saya harus tinggal di kota mulu. Waktu balik ke rumah orang tua rada susah menyesuaikan.

Kampus ketiga ini, yang sedang saya jalani, juga buah desakan manajer di tempat kerja. Kata beliau, kesempatan bisa datang kapan saja dan kesempatan bisa jadi keberuntungan jika kita sudah siap menerimanya. Benar saja, kesempatan menjadi manajer di tempat kerja lain terlewat begitu saja karena saya tidak memegang tiket masuknya atau ijazah. Dua kali malah. Ampun!

Doakan saja saya yang baru saja selesai UAS semester lima, bisa rampung wisuda tahun depan. Biar ngejar goal hidup lainnya makin lancar dan cepat.

*****

Sekian sambat saya kesempatan ini, kalian boleh sambat juga pengalaman zaman kuliah dulu di kolom komentar. Anggap aja silaturahmi, biar berkah...


10 comments:

  1. Kalo udah semester akhir memang telinga harus kebal sama pertanyaan "kapan lulus?"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akhirnya saya terbiasa denger pertanyaan, "Kapan lulus?" Dan saya jawab aja, "Pokoknya siapin baliho gede ucapan selamat pas wisuda nanti dari sekarang..." Hehe

      Delete
  2. Sebagai orang yang gagal sarjana karena kendala biaya sebagaimana masalahmu di kampus pertama itu, sudah cukup membuat saya sadar bahwa kuliah lagi bakal memicu trauma. Jadilah saya ikhlas saja dengan pendidikan terakhir SMK. Saya mau sungkem sama kamu yang betulan gigih mencoba tiga kali.

    Namun, sulit dihindari akan fakta kerja kantoran yang perlu tiket masuk selembar ijazah biar naik pangkat itu penting sekali. Berhubung saat ini masih kerja serabutan, saya enggak tahu bagaimana tekanan gagal promosi lantaran riwayat pendidikan. Yang saya tahu, saya juga sering gagal dapat kerja tetap ketika melamar pekerjaan yang jadi minat. Terus juga sekalinya diterima, gaji yang ditawarkan begitu memprihatinkan. Jadilah saya yang menolaknya. Beginilah ketika keahlian dan pendidikan sama mediokernya. Saya rasa, saya saat ini butuh faktor keberuntungan.

    Akhir kata, semoga kuat menjalaninya, Din. Saya hanya bisa bantu mengamini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha saya kira kamu kuliah Yog, bahkan udah lulus.

      Ayolah semangat lagi buat kuliah, nggak perlu ambil yang mahal-mahal. Yang penting punya ijazah. Hehehe.

      Delete
    2. Lulus dengan tidak hormat pas semester 7, tepatnya saat mahasiswa lain sudah membayar biaya untuk seminar proposal dan mendapatkan dosen pembimbing, sedangkan semesteran saya aja masih nunggak. Ahaha. Saya emang jarang membuka hal ini. Malas membicarakan kegagalan. Belakangan ini sudah berdamai syukurnya, sih. Zaman 2016 itu sampai depresi. Lalu 2017-2018 fase memulihkan diri.

      Delete
    3. Padahal tinggal selangkah lagi ya Yog. What happened?

      Tapi siapa tau jalan hidup harus begitu. Kita tinggal menjalani jalan lain dengan hal baik, maka hal baik bahkan datang juga.

      Semangat lah Yog. Tapi saya nggak menyangka saja sama lidahmu ini.

      Delete
  3. Semangat din inshaalloh bisa
    Apalagi kalau tekun meski senin jumat gawe alias kerja, lanjut weekend rodi kuliah muehehhehe
    Seenggaknya kalau ijazah udah di tangan, ke depannya lumayan mempermudah, percaya, usaha ga akan mengkianati hasil

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Terima kasih doanya. Insya Allah untuk kuliah kali ini bakal saya perjuangkan banget. Saya mau mempersembahkan ke orang tua ijazah ini dan insya Allah ingin membantu mereka sebanyak mungkin ke depannya.

      Delete
  4. Semangat! Saya doakan semoga kuliahnya lancar (baik itu dari sisi pendidikan maupun keuangannya) dan lulus membawa ilmu yang bermanfaat. Selama diniatkan untuk menuntut ilmu, Insya Allah tidak ada yang sia-sia :)

    ReplyDelete