Jalan-Jalan Naik Perahu di Pantai Kejawanan Cirebon


Hari Minggu tanggal 26 Januari 2020 ini saya habiskan dengan menyenangkan.

Hari kemarin saya dan kawan kampus janjian untuk mampir ke bazar buku Out of The Boox yang ada di Living Plaza Cirebon (insyaallah ceritanya bakal saya bikin di artikel terpisah). Temen saya akhirnya bisa jemput saya di kosan sekitar jam 13.30. Kita langsung berangkat ke lokasi bazar. Paling satu jam-an kita ngubek buku disana.

Pulang dari bazar buku, kita menyempatkan isi perut dulu di Warung Sambal. Karena bingung mau kemana lagi, soalnya kita cuma janjian ke bazar doang, saya mengajukan untuk berkunjung ke Pantai Kejawanan.

Untuk masuk ke area Pelabuhan Kejawanan, setiap motor yang masuk dikenai retribusi 500 rupiah. Berikutnya nambah biaya parkir 3K.

Karena hari Minggu, Pantai Kejawanan beneran penuh orang. Serunya lagi, sore ini air lautnya tengah surut. Sehingga orang-orang pada turun ke pantai yang berpasir hitam. Saya dan kawan lebih memilih untuk naik perahu saja. Sumpah, ini kali pertama saya naik perahu padahal saya sudah sering mantai di Kejawanan.

Saya aslinya takut mabuk laut. Kebayang tubuh kita terguncang-guncang di perahu mengikuti deburan ombak. Alasan inilah yang bikin saya nggak tertarik naik perahu. Tapi sore ini saya beranikan diri untuk naik.

Bayar naik perahu sebesar 10K. Saya kira kita bakal dibawa ke ujung laut lepas sebatas batu pemecah ombak. Tetapi nyatanya kita dibawa rada lebih jauh ke tengah laut.  Kita melewati tiga kapal besar. Bahkan sempat mendekati ke sebuah kapal yang bawa batu bara.

Rasanya berada di atas perahu dengan ombak yang lumayan gede, membuat adrenalin kepacu. Ini lebih seru daripada rafting di sungai Elo, Magelang, pas acara gathering lalu. Dan bikin pikiran kembali segar gara-gara mata melihat betapa luasnya lautan. Istilahnya, bikin hati dan pikiran lebih jembar.

Kayaknya sekitar setengah jam-an kita pulang-pergi melaju ke tengah lautan. Makanya pas sampe lagi di labuhan perahu, hari sudah rada sore. Kita memutuskan untuk menyudahi mantainya. Saya juga perlu mandi karena badan rasanya lengket banget, dan mau minum obat. Biasalah, badan lagi kena flu.

Biaya ke Pantai Kejawanan:

  • Biaya retribusi area Pelabuhan Kejawanan: Rp500,-
  • Biaya parkit: Rp3.000,-
  • Biaya naik perahu: Rp10.000,-

Sampai jumpa di jalan-jalan berikutnya ya! Berangkat Yuk!

[masih malu-malu buat ngambil foto, jadi minim banget, haha]

Lelah Itu Nikmat Allah SWT Juga


Saya menulis sekarang, ketika saya sedang pulang ke rumah orang tua di Desa Durajaya, salah satu desa yang ada di Kabupaten Cirebon. Kegiatan rutin setiap akhir pekan, saya selalu setor wajah kepada Bapak dan Ibu.

Menjelang tidur begini, dengan laptop masih nyala, hati saya gusar. Sedikit resah. Pikiran saya jalan ke masa lalu yang lebih banyak diisi kegagalan. Akhirnya saya memutuskan untuk mengetik artikel baru, berupa renungan, sekaligus curhat terselubung.

Saya lelah. Perasaan ini hampir sudah saya rasakan dua mingguan. Mungkin karena saya sedang disibukkan dengan auditor di kantor, juga belum sempat jalan-jalan. Pengen banget renang lagi ke Situ Janawi untuk memulihkan kemerosotan mood saya yang sedang anjlok.

Ditambah kemarin-kemarin saya harus menghadapi kawan kampus yang ngambek gara-gara nggak masuk ke kelompok tugas. Sampai malam-malam saya chatingan sama orang itu dengan nada super kesal karena menurut saya masalah itu sepele. Ditambah dia mengungkit keengganan saya sekelompok sama dia yang saya utarakan ke salah satu temen kampus lain saat semester 1 atau 2, saya lupa. Kejadian ini bikin nambah masalah saja. Namun beruntung saya segera menyelesaikannya walau untuk saat ini saya dan dia sepakat tidak saling mengusik.

Pikiran saya juga rada terganggu dengan kejadian hari Jumat kemarin. Ketika penilaian KPI (semacam penilaian kinerja) di kantor, saya yang mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan apa yang saya pikirkan setelah penilaian KPI-nya selesai, saya bercerita tentang keresahan saya yang ternyata saya iri dengan rekan kerja saya yang gajinya lebih tinggi.

Saya hanya ingin bercerita dan tidak menuntut. Soalnya saya rada terganggu dengan fakta itu. Memang ya, untuk hal gaji, sebaiknya sesama rekan kantor tidak perlu tahu. Sayangnya, beberapa minggu sebelum penilaian KPI, secara nggak sengaja saya mengetahui gaji rekan kantor saya itu.

Apa yang bikin saya gusar? Tak lain karena saya merasa tanggung jawab saya besar dan bertumpuk-tumpuk. Bahkan tanggung jawab dia saja harus saya pikul. Saya merasa nggak adil saja. Karena saya pernah berada di posisi rekan kerja saya itu, dan saya tidak pernah melimpahkan persoalan kerjaan saya ke rekan kerja saya yang lama. Dia tahu beres. Tetapi dengan rekan kerja saya yang ini, saya harus ikut pusing pas dia dapat kerjaan pusing, sedangkan pas dia dapat gaji gede, saya kagak. Ah, ini bentuk iri hati saya saja rupanya.

Nah, pas makan siang di hari Jumat itu, saya dan beberapa rekan kerja diskusi soal mengontrol perasaan semacam ini. Dan nasihatnya bener-bener masuk ke hati saya. Pada akhirnya memang Allah SWT memberi gaji saya disini segitu. Dengan proses yang rada panjang dan sulit. Saya pun dipaksa harus mencoba ikhlas. Saya masih butuh kerjaan, jadi saya harus berlapang dada. Yang ditekankan rekan kerja saya itu, tata lagi niat kerjanya. Pastikan saja untuk beribadah. InsyaAllah rejeki yang nggak didapatkan disini, akan dikasih Allah SWT dari arah lain.

Sejak selesai makan siang itu, saya sungguh ikhlas dengan keadaan yang sedang saya hadapi, dan saya berniat akan kembali menata hati saya meniatkan banyak hal untuk beribadah.

Belajar kehidupan yang sebenarnya tidak dengan berpura-pura segalanya baik-baik saja. Melainkan menerima hal buruk dengan segenap hati. Selanjutnya kita hanya perlu melakukan banyak perbaikan diri dan mulai mencintai diri sendiri.

Semoga cerita saya kali ini bisa memberikan perspektif baru dalam menjalani esok hari.

[Buku] Kupu-Kupu Bersayap Gelap karya Puthut EA


Judul: Kupu-Kupu Bersayap Gelap
Penulis: Puthut EA
Penyunting: Nody Arizona
Pemeriksa aksara: Prima S. Wardhani
Ilustrasi sampul & isi: Saipul Bachri
Penata isi: Azka Maula
Penata sampul: Narto Anjala
Penerbit: Penerbit Mojok
Cetakan: II, Februari 2016
Tebal: xvi + 168 hlm.
ISBN: 9786021318256

Saya setuju dengan pernyataan Rusdi Mathari dalam pembukaan buku kumpulan cerpen ini, "... karena tulisan yang ditulis dengan sepenuh perasaan akan sampai pula pada perasaan pembacanya."(hal. viii) Begitu juga 13 cerpen yang ada di buku ini, penulis menuliskannya dengan penuh perasaan dan hampir semua ceritanya menyentuh ke lubuk hati saya sebagai pembaca. Mungkin karena semua cerita pendek disini punya benang merah: tragedi yang tragis.


Laki-Laki yang Tersedu. Menceritakan kesedihan perempuan yang saat dia kecil jauh dari orang tua, saat remaja mengenal laki-laki brengsek yang membuatnya hamil, bahkan pernikahannya hanya jalan suaminya melampiaskan nafsu. Mereka akhirnya bercerai dan dia harus dipisahkan dari anaknya. Karena beratnya beban kesedihan, dia kerap ingin bunuh diri. Tetapi bayangan wajah anaknya mampu mencegah niat itu. Ketika dia bertemu laki-laki yang baik, dia menolaknya dengan alasan sebuah cerita kesedihan yang ia tanggung selama ini. Begitu selesai mendengar ceritanya, benar saja, si laki-laki tadi hanya menangis tersedu.

Kenanga. Menceritakan kekesalan kakak laki-laki menghadapi adik perempuannya yang suka menyepelekan sesuatu. Termasuk uang seratus ribuan yang dikeluarkan Kenanga untuk mentraktir dia dan teman-temannya padahal kehidupan Kenanga sudah sangat prihatin. Peristiwa besar terjadi saat adiknya membawa temannya menginap hingga beberapa hari di kontrakannya. Ratna hamil. Dan kejadian ini membuyarkan niat baik si kakak untuk meminang gadis baik seperti Kenanga.

"Kita harus mensyukuri pencapaian-pencapaian kecil dalam hidup ini, untuk menekan hasrat yang tidak ada habisnya, sekaligus agar tidak merasa lelah." (hal. 19).

Bunga dari Ibu. Pasangan Ibu dan anak memutuskan untuk berkabar dengan bunga yang mereka tanam di depan jendela. Jika bunga layu berarti ada yang tidak beres. Jika bunga kelihatan segar berarti ada kabar membahagiakan. Namun saat si anak menggugurkan kandungannya karena laki-laki itu tidak mau tanggung jawab, dia merahasiakan dari ibunya. Si Ibu menjadi tidak percaya dengan pertanda bunga lagi. Dan si anak kaget saat pulang ke rumah ibunya, tanaman yang ditanamnya juga sudah tidak ada. Ketika dia pulang ke rumahnya, dia pun mencabut tanaman yang ditanam ibunya.

"Apakah ibu mengajarimu memberi uang hanya dengan recehan?" (hal. 29)

Benalu di Tubuh Mirah. Mengangkat tema nepotisme yang praktiknya sudah mencapai level jabatan pemerintah paling bawah. Bukan hanya di lingkungan pekerjaan si ibu, tetapi anaknya yang SD pun ditimpa. Si anak gagal memimpin lomba pramuka gara-gara digantikan secara sepihak oleh anak baru yang merupakan anak camat.

Membaca cerita ini mengingatkan saya pada novel Kim Ji- Yeong Tahun 1982 karena menyinggung peran laki-laki yang lebih mendominasi.

... tidak pantas dalam hidup ini untuk mendapatkan sesuatu yang bukan dari hasil kerjanya. (hal. 36)

Sesuatu Telah Pecah di Senja Itu. Gara-gara panggilan tugas membela negara, seorang suami meninggalkan istrinya. Keadaan genting saat itu membuat kabar suaminya tidak jelas. Hingga datang sahabat suaminya yang mengabarkan kalau suaminya tidak selamat dan si suami berpesan agar si istri menikah lagi.

Butuh waktu lama bagi si istri untuk menikah dengan pilihan sahabatnya itu. Dan butuh waktu lama lagi baginya untuk menerima dan mencintai suaminya yang baru. Hingga pada suatu senja setelah beberapa tahun, sahabat suaminya bertamu dengan pesan yang tidak keluar dari mulutnya. Saat itulah si istri tahu kalau suaminya yang diangka meninggal ternyata masih hidup.

"... kadang kala banyak jalan hidup yang tidak bisa kita pahami. Hidup ini bukanlah sesuatu yang bisa kita pilih. Ini bukanlah masalah senang atau tidak senang. Tapi putuskanlah. Sebab hidup ini adalah sebuah keputusan..." (hal. 53)

"Percaya saja hukuman itu akan datang, entah kapan dan datang dari mana. Tapi kalau kamu tidak mencoba berdamai dengan masa lalumu, kamu akan rugi..." (hal. 55)

Drama Itu Berkisah Terlalu Jauh. Seorang anak perempuan yang terlibat hubungan dengan anak laki-laki tetangga dekatnya hingga dia hamil. Karena keadaan negara yang sedang genting, si laki-laki menghilang. Beruntungnya ada laki-laki baik yang mau menikahi dengan membawa cerita kebohongan. Namun penyesalan itu selalu datang ketika si perempuan tidak bisa berterus terang kepada ibu si laki-laki yang kerap melamun karena kesedihan, kalau dia sudah menjadi nenek bagi anaknya.

Dalam Pusaran Kampung Kenangan. Rasa miris seorang pemuda yang mendapati kampungnya berubah karena zaman. Meski dulu penduduknya suka mabuk dan judi, hampir tidak ada kejahatan saat itu. Berbeda dengan saat ini yang rasanya selalu ada kematian di kampung itu. Terutama orang-orang yang sudah tua, yang dikabarkan kematian mereka karena menanggung sedih dengan kejadian buruk yang menimpa.

Gayung Plastik. Mbah Supri dan Mas Joyo bisa dikatakan orang gila. Tapi dalam beberapa kejadian, kedua orang ini sangat membantu warga. Keisengan dua anak dari warga baru yang berasal dari kota membuat ayah mereka memukuli Mbah Supri dan Mas Joyo. Bahkan sampai tega menghancurkan gayung yang merupakan satu-satunya barang berharga bagi keduanya. Sejak itu Mbah Supri dan Mas Joyo selalu tinggal di pos ronda sampai mereka meninggal. Itulah hari paling menyedihakn untuk warga sekampung.

Rasa Simalakama. Menceritakan dua pasang kekasih yang berat melanjutkan hubungan mereka karena beda agama. Si pria merasa tidak punya daya menentang perkataan ayahnya yang meminta dia menikahi perempuan soleha. Begitu juga si perempuan yang sulit menolak pesan ibunya untuk menikahi pria yang sekeyakinan.

"Tidak ada barang gratis dari langit, semua harus dengan pengorbanan, prihatin, dan kerja keras." (hal. 108)

Doa Berkabut. Cerita yang memaparkan kesedihan adik perempuan yang ditinggal mati kakak laki-lakinya karena dibunuh.

Rasa angkuh selalu muncul dari orang yang merasa dirinya lebih unggul dibanding manusia lain. (hal. 124)

Semakin banyak uang yang dimiliki oleh seseorang, semakin banyak kekuasaan yang digenggamnya. (hal. 125)

Di atas seluruh kesempurnaan hanya ada kesederhanaan. (hal. 126)

Ibu Pergi ke Laut. Menyedihkan membaca kisah kerinduan seorang anak kepada ibunya yang menjadi korban tsunami di Aceh. Dia sampai menulis surat yang dihanyutkan di sungai supaya sampai kepada ibunya yang ada di laut. Yang paling nyesek adalah reaksi ayahnya. ketika ditanya soal ibunya, sang ayah selalu menangis.

Bocah-Bocah Berseragam Biru Laut. Menarasikan banyak kesedihan dari sudut pandang anak-anak yang mati. Ada yang ikut dibakar saat ibunya putus asa kepada kehidupan. Ada yang meninggal di jalan ketika rumah sakit menolak pengobatan. Bahkan ada yang bunuh diri karena malu belum bayaran sekolah.

Kupu-Kupu Bersayap Gelap. Hanya cerpen terakhir ini yang saya tidak paham kisahnya mengerucut kemana. Tetapi saya sedikit memahami jalan cerita mengenai pria yang kerap dihinggapi mimpi aneh. Dan dia sering kumat mengalaminya. Semacam terkena syndrom. Hanya saja si pria ini menyangkut-pautkan dengan kupu-kupu bersayap gelap.

Membaca 13 cerita yang ada membuat saya merenungkan banyak nilai-nilai kehidupan. Karena temanya yang mengangkat sisi kemanusiaan, siapa pun yang membaca buku kumcer ini pasti akan setuju jika buku ini bagus. Banyak pesan juga yang disampaikan penulis dalam ceritanya. sehingga kita bisa belajar lebih banyak kebaikan dari buku ini.

Kelebihan cerita pendek, untuk menyelesaikannya tidak membutuhkan waktu yang lama. Dan pesan yang tersurat di dalamnya biasanya langsung bisa dipahami. Akhirnya saya memberikan buku ini nilai 4 dari 5.

To Be Read (TBR) 2020


Mengingat ini masih di bulan pertama di tahun 2020, saya merasa perlu membuat artikel master untuk semua daftar buku yang masuk ke To Be Read (TRB) 2020.

Tujuannya adalah untuk melihat progres membabat timbunan bacaan.



[Foto buku akan dilengkapi secara berkala karena proses memfoto dan editing-nya lumayan kejar-kejaran.]


DAFTAR TBR:


1. Adventure Lovers : 69 Wisata Pacu Adrenalin di Pulau Jawa - Gagas Ulung


2. Verge on Voyage Lombok & Flores - Ruben Kristianto


3. Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto - Mitch Albom


4. Tuhan Itu 'Maha Santai', Maka Selowlah... - Edi AH Iyubenu


5. Wisdom Traveler - Imam Arkananto


6. Kupu-Kupu Bersayap Gelap - Puthut EA


7. Manjali - Ayu Utami


8. Voice - Ghyna Amanda


9. Happiness Is You - Clara Cancerina


10. Kala Mata - Ni Made Purnama Sari


11. Lara Miya - Erlin Natawiria


12. Asa Ayuni - Dyah Rinni


13. Jemput Terbawa - Pinto Anugrah


14. Amalan Pembuka Rezeki - Haris Priyatna & Lisdy Rahayu


15. Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat - Mark Manson


16. Dua Tangisan Pada Satu Malam - Puthut EA


17. Hati Tak Bertangga - Adi Prayuda & Ikhwan Marzuqi

18. Cerita Cinta Enrico - Ayu Utami


19. Para Bajingan yang Menyenangkan - Puthut EA


20. Romeo & Juliet - William Shakespeare


21. Jogja Jelang Senja - Desi Puspitasari


22. Frankfurt to Jakarta - Leyla Hana & Annisah Rasbell

23. Cum on Feel The Noize: Tetap Hair Metal di Tengah Cicilan KPR, Perut Berlemak, dan Rambut Beruban - Nuran Wibisono


24. Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang - Guntur Alam


25. The Seven Good Years - Etgar Keret


26. Di Kaki Bukit Cibalak - Ahmad Tohari


27. Spy in Love - Dwitasari


28. Arterio - SJ. Munkian


29. Anatomi Rasa - Ayu Utami

30. The Travel Crates - @rudycrates

31. Goodbye, Thing - Fumio Sasaki

32. Keep Calm and Be Fabulous - Amal Azwar, dkk.

33. Megatruh Nagari Kaler - Pungkit Wijaya

34. The Wrong Side of Right - Jenn Marie Thorne

35. Waktu untuk Tidak Menikah - Amanatia Junda


36. Elegi Rinaldo - Bernard Batubara

37. Love Catcher - Riawani Elyta

38. Samaran - Dadang Ari Murtono

39. Lambe Akrobat - Agus Mulyadi

40. Y - Billy Boen

41. Let's Break Up - Anjani Fitriana

42. Bilangan Fu - Ayu Utami


43. Man's Search for Meaning - Viktor E. Frankl (ebook)

44. Big Magic - Elizabeth Gilbert (ebook)

45. Steal Like An Artist - Austin Kleon (ebook)

46. Hilang - Dannie Faizal (ebook)

47. Mata yang Enak Dipandang - Ahmad Tohari (ebook)

48. Kubah - Ahmad Tohari (ebook)

49. Senyum Karyamin - Ahmad Tohari (ebook)

50. Orang - Orang Proyek - Ahmad Tohari (ebook)

51. Animal Farm - George Orwell (ebook)

52. Turtles All The Way Down - John Green (ebook)

53. The Midnight Star - Marie Liu (ebook)

54. Cannery Row - John Steinbeck (ebook)

55. A Game of Thrones - George R. R. Martin (ebook)

56. Nyawa - Vinca Callista (ebook)

57. Dering Kematian - Lamia Putri Damayanti (ebook)

58. Mimpi Padma - Ayu Dipta Kirana (ebook)

59. Salon Tua - Christina Juzwar (ebook)

60. Coupl(ov)e - Rhein Fathia (ebook)

61. Langit Merbabu - Rons Imawan


62. Hector and The Secrets of Love - Francois Lelord


63. Patah Hati di Tanah Surga - Tasaro GK


64. Sudut Mati - Tsugaeda


65. Spammer - Ronny Mailindra


66. Raksasa Dari Jogja - Dwitasari


67. Tiba Sebelum Berangkat - Fasial Oddang



[ Aturan mainnya: 1) Setiap judul buku yang sudah dibaca, silakan dicoret dan diberi link ke resensinya. 2) Jika dalam waktu yang berjalan ada tambahan buku TBR, silakan lanjutkan daftarnya. 3) Atau jika ada buku yang dikeluarkan dari koleksi, silakan dicoret.]

[Buku] Sekaca Cempaka karya Nailiya Nikmah JKF


Judul: Sekaca Cempaka
Penulis: Nailiya Nikmah JKF
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Cetakan: I, Juli 2014
Tebal: viii + 248 hlm.
ISBN: 9786020243962

Sinopsis Novel
Sebuah surat tak bernama yang diterima oleh Badri dan Rara tentang sekaca cempaka yang dimiliki oleh pasangan mereka, membuka semua asal mula sekaca cempaka itu, beserta masa lalu yang selama ini tidak mereka tahu.

Terbukanya masa lalu tersebut justru melimbungkan pernikahan mereka. Dugaan-dugaan dan pertanyaan silih bertindihan menuntut penjelasan dan jawaban.

Mampukan mereka bertahan dengan kisah masa lalu yang tampaknya belum juga berujung?

Resensi Novel
Novel Sekaca Cempaka ini merupakan novel islami yang berada di bawah lini Quanta. Yang paling khas dari lini ini adalah ukuran novelnya yang lebih kecil dibandingkan ukuran novel pada umumnya. Dan tentu saja cerita di dalamnya memiliki muatan nilai-nilai islam.

Benarkah setiap orang harus punya rahasia, termasuk menyembunyikannya dari pasangan hidup?

Saya pernah mendengar kalau suami atau istri boleh memiliki rahasia, yang tidak harus diketahui pasangannya. Pernyataan ini benar karena tujuannya menjaga perasaan pasangan. Kalau gara-gara rahasia ini bisa membubarkan pernikahan, saya kira wajar kalau rahasia tetap jadi rahasia. Hal krusialnya adalah rahasia seperti apa yang diperbolehkan.

Konflik dalam novel ini disebabkan oleh rahasia yang tidak disampaikan kepada pasangan. Nurul yang menyimpan salah satu sekaca cempaka tidak memberitahukan sejarah benda itu kepada suaminya, padahal benda itu merupakan bukti masa lalunya yang belum tuntas.

Begitu juga dengan Syaiful yang menyimpan pasangan lain sekaca cempaka, tidak menjelaskan kisah yang menyertai benda itu kepada istrinya padahal momennya ada. Dia justru menutupi kisah masa lalunya itu.

Alhasil ketika pasangan mereka mencium masa lalu yang ternyata dipertemukan lagi, membuat pernikahan mereka diuji. Apalagi ternyata ada pihak lain yang memperkeruh dan menimbulkan fitnah, perjalanan kedua pasangan untuk memperbaiki masa lalu terasa lebih menyakitkan.

Kearifan lokal yang digali membuat adem ayem

Latar tempat novel ini ada di Banjarmasin. Penulis yang lahir di kota itu mencoba menggali banyak kebudayaan yang ada di sana. Bukan saja mengenai bunga-bunga yang dikarang oleh pengarang bunga, melainkan penulis banyak membubuhkan istilah-istilah kebudayaan dalam bahasa daerah sana. Dan disinggung juga beberapa nama penyair lokal di Banjarmasin semisal Hijaz Yamani dan Ajjamudin Tifani.

Selain itu, penulis menggunakan sudut pandang dari tokoh Ibu Si Pengarang Bunga, Nurul dan Rahma. Penulis mencoba melihat masalah dari sudut pandang sebagai perempuan. Dan cara ini tentu saja berhasil menunjukkan bagaimana nelangsanya menjadi perempuan yang dikuntit masa lalu.

Sepanjang membaca kisah Nurul dan Syaiful ini, saya merasakan adem ayem yang bikin membaca kisah mereka nagih. Terlebih lagi, masing-masing karakter memegang teguh ajaran islam. Rasanya saya ikut terserap ke dalam kisah mereka dan begitu kisahnya berakhir, semacam ada perpisahan yang enggan dirayakan.

Jangan main-main dengan masa lalu yang belum tuntas

Pembaca seperti diingatkan kalau kita tidak boleh menyepelekan masa lalu yang belum tuntas. Sebab suatu saat masa lalu itu akan menuntut untuk diselesaikan sampai paripurna. Dan bukan tidak mungkin saat hal itu terjadi akan banyak hati yang merasa disakiti.

Salah satunya adalah tidak ada alasan untuk menyimpan benda yang asalnya dari masa lalu. Kita pasti tahu alasan menyimpan barang kenangan yang benar. Jangan sampai karena pengaruh ingin mempertahankan masa lalu atau ingin bernostalgia, justru melahirkan bom waktu yang bisa meledak di kemudian hari.

Terakhir dan Rating
Saya sangat terkesan membaca novel Sekaca Cempaka ini lantaran dinarasikan dengan begitu apik dan tenang. Perpaduan budaya, kehidupan pernikahan dan bunga-bunga membuat novel ini menguarkan aroma yang bikin adem. Sehingga saya memberikan novel ini nilai 4 dari 5.

*****

[Buku] Senandika Prisma karya Aditia Yudis


Judul: Senandika Prisma
Penulis: Aditia Yudis
Penyunting: Jia Effendie
Penerbit: PT Falcon
Cetakan: I, Desember 2016
Tebal: 212 hlm.
ISBN: 9786026051424

Sinopsis Novel
Sebulan menjelang pernikahan Ian dan Prisma, anak Iyan yang bernama Rory hilang ketika dia diajak belanja sepatu ke sebuah butik di mal bersama Prisma. Keberadaannya tidak diketahui dan susah dilacak, sampai kejadian ini mengubah semua rencana yang sudah dirancang oleh Ian dan Prisma. Salah duanya, rencana menikah dan rencana tinggal bersama di salah satu rumah yang ada di perumahan Blue Valley.

Kejadian ini juga membawa pertemuan Prisma dengan Niko, kakaknya Ian. Hubungan Ian dan Niko tidak harmonis setelah kebangkrutan bisnis ayah mereka yang berujung ayah mereka meninggal. Ada bara api yang nggak mudah dipadamkan di antara mereka.

Bagaimana nasib Rory selama dia menghilang?

Apakah hubungan Ian dan Niko akan kembali harmonis?

Resensi Novel

"Senandika atau solilokui adalah wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut, atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar." (sumber Wikipedia)

Novel Senandika Prisma ini merupakan buku kedua dari Blue Valley Series yang saya baca. Series ini tentu saja berlatar di perumahan Blue Valley dan pada buku ini pun karakter utamanya bersinggungan dengan karakter lain yang ada di buku lainnya. Pada buku ini Prisma bersinggungan dengan keluarga Gamal dan Nina yang kisahnya ada di buku Melankiloa Ninna. Dan juga ada tokoh Ayuni yang di buku ini hanya disinggung sesaat saja.

Upaya Pura-Pura Mengatakan Semua Baik-Baik Saja

Mungkin saya harus mengatakan di awal, jika tidak ada karakter di novel ini yang saya suka. Semua karakternya tidak membuat saya peduli padahal mereka menghadapi masalah yang pelik, yaitu hilangnya Rory. Alasannya karena karakter-karakter utama di novel ini tergolong orang-orang yang berusaha pura-pura kalau semua baik-baik saja padahal mereka itu sedang ketar-ketir.

Prisma masih menaruh harapan besar untuk pernikahannya padahal dia yang teledor membiarkan Rory bisa hilang. Bias pikirannya antara menyesal kehilangan Rory dengan gagalnya pernikahan membuat saya sebagai pembaca bingung harus bersimpati pada kesedihan dia yang mana. Walaupun saya paham kalau Rory bukan anaknya.

Ian pun demikian, dilema melanjutkan hidup tapi sedang kehilangan anak, atau terus fokus sama kasus anaknya sedangkan banyak dimensi hidupnya yang terabaikan. Seperti hubungan dia dengan Prisma, rencana pernikahan, dan bahkan urusan bisnis peninggalan ayahnya.

Yang paling mengganggu adalah Ian kelamaan memutuskan antara melanjutkan hubungan dengan Prisma atau fokus mencari anaknya. Soalnya dengan mengulur waktu begitu, Prisma dibuat galau antara Ian memang memaafkan kesalahannya dan mau menerima semuanya seperti semula, atau justru sebenarnya Ian kecewa. Ian di sini berpura-pura semua akan berjalan kembali adanya namun ujung-ujungnya dia memutuskan hal paling menyakitkan.

Niko pun berusaha baik-baik saja menghadapi Ian padahal ketika keluarganya jatuh, dia memilih kabur. Ibunya Ian dan Niko pun berusaha ikhlas selama ini kehilangan Niko, padahal dia merasa rindu kepada anaknya itu.

Menurut kalian karakter mana yang bisa menyenangkan pembaca?

Konflik yang berjarak dengan pembaca

Coba saja kalau Rory beneran ditemukan setelah menjadi mayat, mungkin kisah Ian dan Prisma lebih terhubung dengan pembaca. Setidaknya pembaca akan memaki kebiadaban si penculik. Dan rupanya penulis memilih dengan membuat pelaku sebagai orang terdekat. Ini jelas membuat pembaca mempertanyakan hubungan Ian dan Prisma dengan si pelaku. Sebab si pelaku pun sempat menemui mereka. 

Motif si pelaku terkesan dipaksakan. Saya kayaknya tidak pernah mendengar ada kasus penculikan dengan motif ini di kenyataan. Mengingat si pelaku juga pernah merasa kehilangan, masa dia tega membuat orang lain kehilangan juga.

Dan saya bingung, kenapa si pelaku yang menculik dan memperlakukan Rory dengan baik, sama sekali tidak terdeteksi padahal yang mencari Rory banyak sekali. Di tambah tidak ada keterangan Rory dibawa ke luar kota atau ke luar negeri. Saya justru mencak-mencak dengan ide cerita pada bagian ini sebab kenapa gajah di depan tidak kelihatan. Gajahnya bukan gajak agen rahasia pula. Aneh pokoknya.

Bingung menemukan pesan besar dari kisahnya

Ketika saya ingin menemukan pesan dari novel ini, saya kesulitan menemukan yang pas. Hubungan anak dan orang tua? Tidak ada yang bikin mengharu biru dan bisa dijadikan teladan. Hubungan Ian dan Prisma? Ujung-ujungnya tidak manis padahal keduanya sempat berjuang bareng. Hubungan Niko dengan keluarganya? Dia tetap menyebalkan sebagai bajingan.

Tapi dari pembahasan saya di awal, mungkin pesan moral yang paling jelas adalah untuk bisa mengungkapkan atau mengekspresikan apa yang kita rasa dan apa yang kita pikirkan. Sebab berpura-pura segalanya baik-baik saja, tidak akan menyelesaikan masalah yang sebenarnya. Justru dengan bersikap demikian, kita seperti sedang menyalakan bom waktu yang bisa meledak kapan saja.

Kalau kalian sudah membaca novel ini dan ada pesan manis lainnya yang bisa dibagikan, tolong kasih tau saya. Siapa tau saya kurang peka menerima kisah Ian dan Prisma di novel ini.

Akhirnya dan Rating
Saya pikir akan menemukan cerita drama yang sama bikin hati hangat seperti yang ada di buku Melankolia Ninna. Tetapi ternyata tidak ada. Saya pun hanya memberikan novel ini nilai 2 dari 5.

*****

[Buku] Wonderful Life karya Kiki Raihan


Judul: Wonderful Life: The Novel
Penulis: Kiki Raihan
Berdasarkan skenario film: Jenny Jusuf
Penyunting: Anida Nurrahmi
Penataletak & Perancang sampul: Teguh Tri Erdyan
Ilustrasi: Aqillurachman A. H. Prabowo
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Cetakan: I, Oktober 2016
Tebal: iv + 147 hlm.
ISBN: 9786024241964

Sinopsis Novel
Prestasi Aqil di sekolah tidak membanggakan. Padahal Amalia sebagai Uminya berharap dia sama berprestasinya seperti kala dia dan ayah Aqil sekolah dulu. Namun sampai Aqil berusia delapan tahun, dia masih kesulitan menulis dan membaca.

Tekanan bertambah ketika ayah Amalia ikut campur dengan keadaan Aqil. Hubungan mereka yang sudah runcing sejak lama bertambah memprihatinkan.

Apa yang salah dengan Aqil? Dan bagaimana kelanjutan hubungan Amalia dengan ayahnya?

Resensi Novel
Saya sudah tahu kalau novel ini tuh banyak dikomentari positif oleh beberapa blogger buku. Selain kisahnya yang sederhana, novel ini mempunyai kisah yang mengharukan. Namun baru kesampaian saat ini saya bisa membaca setelah mendapatkan novel ini kala ada bazar buku murah di Gramedia Cipto Cirebon.

Bakal sedih ketika di antara keluarga ada konflik. Bakal bahagia ketika keluarga menjadi harmonis. 

Tema yang paling sering bikin saya berkaca-kaca adalah tema keluarga. Ketika membaca buku dengan tema keluarga, mendadak suka merasa terharu, merasa kehangatan, bahkan merasa rindu. Begitu juga dengan novel Wonderful Life ini, mampu membuat saya hampir menangis, karena di dalamnya mengusung kisah hubungan orang tua dan anak.

Hubungan Amalia dengan ayahnya, hubungan Amallia dengan Aqil. Hubungan Amalia dan ayahnya terjalin begitu kaku. Asal mulanya karena ayahnya kerap menuntut anak-anaknya untuk berprestasi. Kebahagian beliau seolah hanya diukur dari seberapa hebat anak-anaknya dalam nilai akademis, dalam level karir, bahkan dalam memilih kualitas pasangan.

Pola asuh yang dilakukan ayahnya Amalia membentuk Amalia menjadi serupa. Dia pun secara tidak sengaja menuntut Aqil untuk sama berprestasinya seperti saat dirinya kecil dulu. Makanya, begitu Aqil didiagnosa mengidap disleksia, Amalia merasa ketiban musibah besar.

Daripada malu, Amalia berupaya mencari pengobatan alternatif ketika pengobatan dokter dan psikolog tidak membuat perubahan pada Aqil. Dia rela cuti selama semingguan untuk menempuh perjalanan dari Jakarta ke daerah jawa.

Dalam kehidupan nyata pasti ada jenis orang tua yang menuntut anaknya berprestasi gemilang. Obsesinya itu tentu saja merampas hak anak untuk bermain dan merasa bebas karena si anak disibukkan dengan berbagai les dan dibebankan waktu belajar yang lebih banyak. Sebenarnya menjadikan anak berprestasi, apalagi dengan alasan agar masa depannya cerah, bukan kesalahan juga. Menurut saya, yang salah itu ketika harapan tadi menjadi obsesi. Kemudian anak dijadikan robot untuk mencetak banyak prestasi dan kemudian memproduksi kebahagiaan bagi orang tuanya.

Hubungan Amalia dan ayahnya yang kaku secara langsung menohok perasaan saya karena begitulah hubungan saya dengan orang tua. Tetapi alasannya bukan karena obsesi berprestasi. Saya dan saudara saya lahir di desa. Pada saat kami kecil, orang tua sibuk mencari uang dengan menggarap ladang. Dari pagi buta hingga menjelang senja. Begitu mereka sampai rumah, keadaan sudah kelelahan. Akhirnya jarang sekali mereka bertanya kepada kami apa yang kami lalui seharian, apa yang terjadi di sekolah atau pertanyaan apa lainnya.

Setiap hari kehidupan diisi oleh peran masing-masing dan dunia masing-masing. Kecuali jika ada kebutuhan saja, kami akhirnya saling berbicara. Sampai kami dewasa, jarang sekali menemukan momen dimana kami sebagai anak berbicara dari hati dengan orang tua. Sehingga begitu membaca novel ini, perasaan saya seperti dicubit. Ada rasa perih dan ada rasa rindu.

Ibu adalah pahlawan super hebat yang diciptakan Tuhan untuk anak-anaknya. 

Semua ibu akan mengorbankan apa pun demi kebahagian anak-anaknya. Karena bagi mereka, anak adalah harta paling berharga yang tidak punya nilai saking bernilainya. Begitu juga Aqil bagi Amalia.

Begitu Aqil diketahui mengidap disleksia, Amalia memang sedih luar biasa. Tetapi ketika ayahnya mengatakan Aqil sakit, Amalia justru menolak kenyataan itu dan mengatakan Aqil baik-baik saja dan dia anak yang sempurna.

“Setiap anak terlahir ke dunia apa adanya. Sesempurna apa adanya. Tugas kita hanya merawat dan mencintai mereka juga apa adanya. Kita bantu dia menemukan kekuatan dirinya.” (hal.18)

Amalia pun mencari cara untuk menyembuhkannya. Dia mendatangi beberapa psikolog dengan hasil yang nyaris sama. Disleksia tidak bisa disembuhkan dan psikolog menyarankan agar anak yang mengidapnya jangan dianggap sebagai pasien melainkan harus dijadikan sahabat.

Belum puas dengan saran psikolog, Amalia mencari pengobatan alternatif ke daerah jawa. Perjalanan seminggu yang dilakukan dia dan Aqil menjadi perjalanan yang membuka pikiran untuk melihat Aqil sebagaimana adanya. Perjalanan mereka begitu seru karena mengalami banyak masalah walau akhirnya menghasilkan makna kehidupan yang baru dan lebih baik.

Sebenarnya apa yang dialami Amalia, dialami juga oleh kakak perempuan pertama saya. Dia memiliki anak kedua, seorang anak perempuan, yang didiagnosa ada syaraf yang tidak benar. Sakit ini menyebabkan si anak mengalami perkembangan berpikir yang lambat dan tangan kirinya tidak bisa lurus. Tetapi saya mendengar langsung dari mulut ibunya jika dia ikhlas menerima kondisi anaknya dan dia akan berjuang sebaik mungkin untuk mengurus anaknya itu sampai dia tidak sanggup. Kakak saya sadar dari awal kalau anaknya akan mengalami banyak kesulitan seiring bertambah usianya. Sehingga sejak awal pula dia meniatkan diri.

“..., karena anak semua terlahir sempurna. Pandangan kita yang membuat mereka seolah cacat dan tak sempurna.” (Hal.50)

Metamorfosis manusia terjadi saat hal tidak menyenangkan menimpa.

Saya menyoroti betul karakter Amalia dari awal buku dan saya tidak suka dengan karakternya. Amalia digambarkan sebagai perempuan kota yang menginginkan kesempurnaan dalam banyak kehidupannya. Terutama soal pekerjaan dan kondisi anaknya. Dan begitu hal buruk menimpa, dia bertambah buas dan judes. Ini semata-mata akibat dia stres dengan kondisi buruk yang tidak bisa dikendalikan olehnya. Dia sebenarnya sudah kalah oleh keadaan buruk tadi tapi dia ngotot untuk memenangkannya sehingga yang terjadi dia berubah jadi seperti monster, tidak mampu mengendalikan diri.

Sepanjang perjalanan pun menempa Amalia dengan banyak keadaan apes. Sinyal internet tidak ada padahal dia butuh membuka email dan menghubungi kantor demi proyek raksasa yang sedang dia garap. Listrik mati ketika Amalia sedang mengerjakan laporan di sebuah warnet. Mobil ban kempes dalam perjalanan di antah berantah sedangkan jalan sudah sangat sepi yang akhirnya memaksa dia dan Aqil naik mobil bak terbuka yang ada kambingnya. Bahkan dompetnya sempat hilang yang akhirnya membuat Amalia dan Aqil kabur dari warung makan karena tidak bisa membayar.

Namun kita semua sepakat, dalam banyak kesusahan pasti ada nilai-nilai yang bisa dipetik. Hikmah inilah yang membuat kita sebagai manusia banyak mengalami perubahan. Ibaratnya ulat yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah.

Menikmati hidup dengan menikmati apa yang disediakan Tuhan tanpa menuntut lebih.

Dari Aqil yang tidak lancar menulis dan membaca, kita bisa belajar menikmati hidup yang sesungguhnya. Kepolosan Aqil membuat dia begitu mudah antusias dan girang ketika menemukan banyak hal baru. Dia berubah menjadi sosok yang ringan dan lepas.

Kita pun bisa belajar hal yang sama untuk mendapatkan kebahagian hidup. Mulailah untuk tidak memasang ekspektasi terhadap banyak hal dan tidak membuat banyak aturan untuk banyak hal. Ketika kita menjalani hari dengan kondisi minim ekspektasi dan aturan, kita akan menjadi pribadi yang ringan dan secara otomatis memunculkan sosok polos anak-anak.

Misalnya ketika kita mengerjakan proyek kerjaan, jangan memasang ekspektasi sempurna, karena hal ini justru membuat fokus kita hanya menyorot kepada ekspektasi. Bukan kepada banyak perbaikan dan inovasi dari proyek kerjaan tadi. Atau ketika kita memilih liburan, jangan membuat aturan nanti begini – harus begitu – nggak mau ini – nggak akan begitu, tetapi pasang diri saja dan menikmati proses perjalanan. Tersesat, biasa. Kelelahan, biasa. Kulit iteman, biasa. Dengan menanggap banyak kejadian menjadi hal biasa, pikiran kita akan lebih fokus menikmati perjalanan tanpa diganggu gusar oleh hal-hal tidak terduga.

Akhirnya dan Rating 
Novel Wonderful Life memiliki nilai keluarga yang sangat bagus. Siapa pun yang membaca novel ini semoga sama tercerahkannya seperti yang saya alami. Bisa melihat keluarga dengan sudut pandang yang jauh lebih baik. Bisa merubah kita semua menjadi orang-orang dengan kepribadian yang lebih santun. Akhirnya saya memberikan novel ini nilai 4 dari 5.

*****

Disleksia/Dyslexia
(sumber: www.alodokter.com)

Disleksia adalah gangguan dalam proses belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Penderita disleksia akan kesulitan dalam mengidentifikasi kata-kata yang diucapkan, dan mengubahnya menjadi huruf atau kalimat.

Disleksia tergolong gangguan saraf pada bagian otak yang memroses bahasa, dan dapat dijumpai pada anak-anak atau orang dewasa. Meskipun individu dengan disleksia kesulitan dalam belajar, penyakit ini tidak memengaruhi tingkat kecerdasan seseorang.


Nggak Mudah Jadi Anak Laki-Laki Pertama


Begitu kawan kuliah sekaligus anggota komunitas nonton film, menawarkan saya untuk ikutan nobar film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI), ya nggak saya tolak dong. Jadi tanggal 2 Januari 2019, pukul 09.45, saya sudah masuk ke ruang bioskop XXI di CSB Mall Cirebon.

Dua jam lebih durasi film NKCTHI dan selama itu juga saya merasa naik-turun kesan yang saya dapatkan dari kehidupan keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu, Mas Angkasa (Rio Dewanto), Aurora (Sheila Dara), dan Awan (Rachel Amanda). Film ini mengobrak-abrik peran dari masing-masing kita di keluarga. Di sini saya nggak akan bahas bagaimana jalan cerita filmnya, silakan kalian baca saja resensinya di blog lain atau tonton review-nya di youtube.

Tentu saja yang paling nempel buat saya adalah peran Mas Angkasa yang di keluarga ini menjadi kakak pertama, laki-laki pula. BERAT, satu kata ini cukup untuk mewakili gimana rasanya memiliki peran ini di dalam keluarga.

Tuntutan jadi anak laki-laki pertama adalah menggantikan peran ayah. Bertanggung jawab terhadap keluarga besar yang selalu punya masalah masing-masing. Saya merasakan betul gimana terujinya emosi ketika harus memikul tanggung jawab ini.

Saya pernah sampai mengalami kesehatan ngedrop gara-gara harus mengurus keponakan yang mesti operasi usus buntu. Ada bapak dan ibunya tapi dalam kondisi begitu saya mesti turun tangan soal berkas-berkas rumah sakit, soal makan mereka, soal Ibu dan Bapak saya yang harus tinggal di rumah sakit untuk gantian jaga, dan lebih banyak saya dipanggil untuk ditanya ini bagaimana-itu bagaimana. Yang melelahkan itu karena dari pagi sampai sore saya kerja, dilanjut kuliah sore sampai malam dan saat itu sedang UTS, lanjut ke rumah sakit untuk menanyakan kabar kesehatan keponakan.

Seminggu itu saya diuji emosi untuk tetap santai padahal pengen banget teriak, "Balikin ritme hidup saya yang nyaman!!!" Tapi semua kelelahan itu terbayar lunas ketika keponakan akhirnya pulang dengan kesehatan yang sangat baik. Tidak ada keluhan yang gimana-gimana selama proses pemulihan.

Cerita lainnya ketika adik laki-laki saya mau menikah. Dia kerja dan tinggal di Bekasi, sedangkan keluarga di Cirebon. Berapa bulan sejak tunangan, saya harus selalu kontek dia untuk membantu persiapannya. Mulai dari mengurus sewa bis, nyari parcel dan hal-hal yang umum dibawa ketika nikahan dengan orang Bekasi, bahkan mendata siapa saja yang dapat jatah kursi ikut ke Bekasi, mengingat keluarga kanan-kiri bapak dan ibu itu banyak.

Bapak saya yang menitipkan supaya saya ambil posisi di dua contoh kejadian di atas. Apa saya boleh menolak? Tidak. Sebab kalau saya menolak nggak ada penggantinya. Mau tidak mau saya harus menerima tanggung jawab itu dan menekan banyak ketidaknyamanan bahkan rasa lelah yang akhirnya membuat saya jatuh sakit.

Ketika sakit itu datang, barulah saya bisa menangis dan mengeluh kepada Allah. Karena ketika saya sakit, saya harus berjuang sendiri. Enggak ada keluarga yang perlu tahu gimana keadaan saya sebab saya paham mereka akan mengatakan, "Minum obat atuh!" atau "Ke dokter atuh.". Padahal yang saya butuhkan saat itu adalah dibelikan obat atau dibelikan makan. Saya ngekos dan dalam kondisi meriang harus keluar untuk sekedar membeli bubur. Terhuyung sambil meringis kesakitan.

Tapi ini namanya hidup. Kita punya peran masing-masing di keluarga. Dan film NKCTHI menjelaskan kalau ada kalanya peran yang sedang kita ambil membuat kita kelelahan, membuat kita pengen ngeluh, membuat kita ingin teriak, dan membuat kita pengen nangis.


Selamat Tahun 2020


"Petualangan! Dimulai!"

Tahun 2019 sudah berlalu. Sekarang bukan lagi saatnya menyesali apa yang sudah lewat kemarin. Tapi waktunya kembali menyiapkan diri menghadapi tantangan baru. Pilihannya ada 2: Menjadi seperti setahun kemarin atau melakukan banyak hal baru.

Banyak orang yang bikin resolusi untuk tahun ini. Harapan dan impian yang akan diperjuangkan supaya terwujud. Saya pun rencananya demikian. Ingin membuat resolusi di tahun 2020 ini. Saya juga manusia biasa yang setiap awal tahun selalu punya nasihat ke diri sendiri, harus begini, harus begitu.

Tetapi resolusinya bakal saya catat di buku notebook pribadi. Enggak akan saya publikasi di blog ini apa saja daftarnya. Resolusinya semacam rahasia pribadi yang akan selalu saya buka setiap pagi. Dan kemungkinannya bakal terus saya tambahkan.

Tahun 2020 ini akan saya isi dengan banyak petualangan yang baru. Saya sadar betul kemarin-kemarin lebih nyaman ngedekem di kosan atau di rumah. Jarang melakukan hal nekat yang bikin adrenalin melonjak. Dan sebelum saya meninggal, saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik, lebih banyak berpetualang, dan lebih banyak bermanfaat.

"Petualangan! Dimulai!", kalimat ini bakal saya ucapkan setiap pagi, setiap kali saya menyerah, setiap kali saya merasa lelah. Supaya energi saya kembali bangkit. Dan supaya saya ingat terus kalau tahun ini banyak yang harus dilakukan.

Nah, apa yang berubah di tahun 2020 ini bagi kalian? Dan apa jargonnya buat setahun ke depan?