Boleh Sedih Pas Patah Hati, Tapi Jangan Lama-Lama


Film: Elsewhere / Aktor-is: Aden Young, Parker Posey / Sutradara: Hernan Jimenez / Produksi: Evoke / Rilis: 24 Januari 2020

Saya termasuk orang yang pengen banyak menonton film, tetapi kebanyakan selalu berhenti di tengah jalan. Apalagi kalau filmnya bergenre drama. Rasanya susah melanjutkan menonton kalau konfliknya kurang wah. Pengecualian untuk film Elsewhere ini.

Alasan kuat yang bikin saya bisa selesai menonton film ini karena di awal saya berharap menemukan cerita perjalanan ke alam. Begitu menonton filmnya, keinginan saya tadi itu hanya terpenuhi 20% saja. Sisanya memang murni drama roman.

Film Elsewhere memberikan pertanyaan kepada penonton yang bucin dengan pertanyaan, “Berapa lama kamu bersedih kehilangan orang terkasih? Dan apa yang sudah kamu dapatkan selama waktu itu?” Jawaban dari dua pertanyaan ini diharapkan mampu mengembalikan semangat penonton yang tengah patah hati.

Diceritakan pria bernama Bruno (Aden Young) tengah bersedih setelah istrinya meninggal karena sakit, dua tahun silam. Kehidupannya kacau dan sepanjang waktu dihabiskan untuk meratapi kehilangannya itu. Lalu satu hari ayah mertuanya datang dan mengatakan akan mengambil rumah yang pernah jadi tempat tinggal Bruno dan Lydia (Kathleen Munroe) karena rumah itu memang properti miliknya.

Bruno merasa berasa berat untuk melepaskan rumah itu. Walaupun dia sudah pindah ke pondok di rumah orang tuanya, Bruno masih sering ke rumah lawasnya untuk membersihkan. Namun pada minggu ketiga, dia mendapati penghuni baru, seorang perempuan bernama Marie (Parker Posey).

Apakah Marie bisa menyembuhkan luka Bruno?

Ada yang saya suka dari film ini. Pertama, momen ketika Bruno mengobrol dengan ayahnya secara intim. Sang ayah memberikan nasihat bijaknya mengenai pentingnya untuk move-on. Dia menegaskan, waktu dua tahun sudah sangat cukup untuk bersedih. Dan ayahnya mengingatkan kesedihan yang dialami Bruno jangan sebagai tipuan cara dia mengatakan jika hubungan dia dan Lydia sangat harmonis. Kenyataannya hubungan mereka berdua bermasalah.

Kedua, pesan yang disampaikan film ini begitu kuat mengenai ruginya berlama-lama meratapi kehilangan. Dari tokoh Bruno, kita bisa belajar jika menghabiskan waktu terlalu lama untuk bersedih bakal ada banyak momen yang hilang dilewatkan. Misalnya pertemanan, keharmonisan keluarga, kinerja pekerjaan, bahkan hal-hal remeh ikutan luput dari pandangan.

Ketiga, visual alamnya begitu memesona terutama ketika kamera menangkap pemandangan hutan yang begitu alami. Ini ada hubungannya dengan profesi Marie yang seorang penulis, yang tengah menggarap proyek buku keduanya yang berkaitan dengan lumut.


Film Elsewhere ini bukan drama yang punya klimaks menghentak. Justru terbilang datar. Kalau pun hampir klimaks, pembuat film menarik riak itu kembali tenang. Misalnya ketika rumah yang punya banyak kenangan itu kembali kepemilikannya kepada Bruno, dan mau tidak mau Marie harus meninggalkan rumah itu, pertengkaran mereka malam sebelumnya dengan mudah dinetralkan dengan kebijaksanan Marie yang menganggap hubungan mereka ya segitu saja. Tidak ada saling gas, tidak ada saling mengumpat, tidak ada saling memaki. Begitu mudah selesai, begitu tenang.

Untuk karakter Marie, jujur saja saya kurang suka. Ini efek karena saya pernah melihat peran Parker Posey di serial Lost in Space dan berperan antagonis. Jadi meski dia menangis karena perpisahan dengan Bruno, aktingnya tidak membuat saya terharu.

Secara keseluruhan, film Elsewhere ini membuat saya merenung jika menyimpan sedih itu sah-sah saja, asal jangan kelamaan. Bukan apa-apa, yang mengkhawatirkan kita itu ada orang tua, ada saudara, dan ada teman-teman. Jadi, film ini saya rekomendasikan untuk ditonton.

-

#NontonFilm2020

4 comments:

  1. Aku malah akhir2 ini jarang banget din mengikuti film dengan klimaks yang menghentak, sekarang cenderung menikmati yang macam gini, alurnya diceritakan kalem aja, aluuus gitu tau2 banyak pesan2 moral yang tersembunyi, malah klo yang alurnya ga meledak2...justru sering ninggalin kesan mendalam atau efek psikologis tertentu abis menontonnya

    Btw yang ini kisah cinta selanjutnya dg marie akhirnya putus juga ya....

    E aku blum mudeng bagian pas bapaknya ngambil rumah bruno lidya, trus abis itu maksudnya disewain ke mariw apa gimana ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya justru cenderung senang menonton film yang banyak adegan aksinya. Lebih memacu adrenalin pas menontonnya. Saya berhasil menonton film ini semacam prestasi mengingat plotnya yang lebih banyak adem ayem.

      Endingnya gantung. Tiba-tiba Bruno naik taksi kuning sambil diiringi bapak ibunya.

      Iya, bapak mertuanya itu mengambil rumah Bruno-Lidya dan dia jual melalui agen. Nah, si Marie ini membeli. Tapi sayang, begitu Bruno dapat hak penuh atas rumahnya, jual-beli yang dilakukan Marie dianggap tidak sah.

      Delete
  2. Pesan filmnya menurut saya sangat dalam sih, dan jadi bikin saya berpikir juga: iya juga ya, semakin lama bersedih, semakin banyak hal yang dilewatkan. Okay.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, pesannya sangat dalam. Dan bikin saya menyadari juga, ada lho waktu yang kita habiskan hanya untuk meratap dan melamun, sedangkan bumi tetep aja berputar dan masalah terus berjalan

      Delete