[Resensi] Happily Ever After - Winna Efendi

 



Judul: Happily Ever After

Penulis: Winna Efendi

Editor: Jia Effendi

Penerbit: GagasMedia

Terbit: 2016, cetakan kelima

Tebal: x + 358 hlm.

ISBN: 9787807702

Novel ini menceritakan tentang kehidupan Lulu yang didera masalah keluarga dan persahabatan di usia SMA-nya. Kehidupan bahagia Lulu berubah ketika sahabat dekatnya, Karin, menjadi pacar Ezra, yang pada saat itu berstatus pacar. Otomatis hubungan Lulu dan Ezra berakhir. Sejak itu Lulu kehilangan sahabat dan pacar. Selain itu Lulu dibuat kaget sekaligus sedih ketika ayahnya didiagnosa mengidap kanker stadium akhir. Hari-harinya yang diisi dengan dongeng-dongeng, seketika berubah menjadi kesedihan, ketakutan, kekesalan, bahkan kebingungan. Dan Lulu mulai mengerti jika dalam kehidupan ada kalanya menemukan akhir yang tidak bahagia.

Secara garis besar novel ini menggali perasaan anak yang menghadapi orang tua yang mengidap penyakit serius, yaitu kanker. Penulis berhasil menggambarkan perubahan keseharian keluarga Lulu yang awalnya begitu harmonis, penuh canda tawa dan petualangan, secara tiba-tiba dilingkupi ketakutan kehilangan dan kesedihan yang luar biasa. Dan menariknya penyakit kanker yang dibahas di novel ini bukan sekadar tempelan semata untuk membuat kisahnya tragis. Penulis justru mengenalkan kanker ini lebih banyak, termasuk pendiagnosaan, proses pengobatan, dan bahkan efek-efek yang dialami oleh pengidapnya.

Penyakit kanker sebenarnya salah satu penyakit serius yang kerap dipakai penulis di beberapa cerita roman, tetapi keunggulan novel ini justru memperlihatkan bagaimana perubahan dalam keluarga jika ada salah satu anggota yang mengidap penyakit ini. Sehingga pembaca dibuat hanyut oleh perubahan situasi di dalam keluarga yang mau tidak mau harus menyesuaikan dengan prioritas yang berubah. Misalnya Lulu harus menemani ayahnya berkunjung ke rumah sakit sementara ibunya mengganti posisi ayah mengurus usaha. Kolaborasi yang harus dijalankan mereka karena bisa dikatakan salah satu kaki dalam keluarga sedang rusak, sementara keluarga harus tetap prima.

Membaca tuntas novel ini membuat saya ingat dengan novel Winna Efendi lainnya yang pernah saya baca, Refrain. Pada kedua novel ini terlihat jika penulis mempunyai gaya bercerita yang detail dan romantis. Namun kalau harus jujur, saya sedikit terganggu dengan gaya bercerita yang terlalu detail karena di novel ini disebut banyak hal, banyak keadaan, banyak penekanan yang terkesan diulang-ulang. Misalnya penggambaran kedekatan Lulu dan Karin yang disebut di banyak halaman, padahal pembaca sudah sangat paham kedekatan persahabatan mereka sebelum akhirnya berseteru. Atau ketika penulis mengulang-ulang kedekatan Lulu dan ayahnya terhadap kebiasaan membaca buku cerita atau dongeng. Yang akhirnya membuat saya harus men-skip beberapa paragraf yang sudah diindikasi merupakan pengulangan.

Ada yang membuat saya kurang greget ketika membaca novel ini yaitu ketika saya sudah mengikuti perjalanan Lulu menemani ayahnya berjuang melawan penyakitnya yang terasa melelahkan, harus ditutup dengan kepergian yang tidak dramatis sama sekali. Proses Lulu menghadapi kepergian ayahnya tidak menimbulkan simpati saya sebab pada bagian ini terasa dibuat sangat singkat. Cerita secara terburu-buru bergulir pindah pada urusan Lulu dan Elliot. Wait! Siapa Eli?

Menurut saya inti cerita novel ini adalah bagaimana menghadapi kehilangan orang yang kita sayangi, terlebih adalah orang tua. Namun proses move on-nya dieksekusi penulis dengan mudah saja. Padahal saya membayangkan kesedihannya sama dengan ketika menonton video klip dari lagu Bidadari Surga yang dibawakan Siti Nurhaliza. Persamaannya adalah sama-sama ditinggal pergi seorang ayah.

Kalau ngomongin tokoh-tokoh di novel ini, saya tidak bisa memilih mana yang jadi favorit. Baik Lulu atau pun Eli, keduanya tidak meninggalkan kesan. Tidak juga dengan Karin atau Ezra. Alasannya, tidak ada ada tokoh yang menginspirasi, mungkin karena karakter yang dipakaikan ke tokoh-tokohnya terlalu biasa. Lulu: gadis SMA yang tidak populer dan sampai cerita berakhir tetap tidak berkembang, melankolis dan introvert. Elliot: Penyuka fotografi. Bahkan saya tidak tahu seramah dan semenarik apa Eli yang membuat dia tampak akrab dengan banyak orang di rumah sakit. Karin: tokoh protagonis yang dibentuk oleh keadaan. Ezra: mantan pacar Lulu yang punya style musisi tapi tidak cukup banyak penggambaran sosoknya bergelut di musik.

Kalau membaca ulasan tokoh di atas, saya tampaknya tidak puas dengan karakter yang dipakaikan penulis untuk tokohnya. Saya selalu mengukur 'tokoh yang menarik itu yang membuka mindset baru' daripada jalan pikiran orang pada umumnya. Jadi, di atas itu merupakan penilaian personal saya, jika berbeda, itu hal biasa.

Lalu, hikmah yang bisa diambil dari cerita Happily Ever After ini adalah untuk menghargai waktu dan kesempatan. Selagi sehat, pergunakan sehatnya untuk hal-hal baik dan menyenangkan. Sebab waktu yang sudah berlalu, nggak bisa diminta balik.

Terakhir dari ulasan saya, jaga kesehatan dan terus membaca buku!



4 comments:

  1. Waah, sepertinya buku ini kurang menarik kalau dibandingkan dengan buku Winna Efendi yang lainnya ya. Padahal aku dulu suka banget ngikutin buku-buku karangan beliau nih.
    Btw, makasih buat resensinya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah ini yang bikin saya bingung, soalnya pas liat di goodreads komennya bagus-bagus. Selera juga yang menentukan bagus atau nggaknya sebuah buku. Bisa saja novel ini menyenangkan buat kamu.

      Sama-sama, hehe

      Delete
  2. Bsgus jeleknya sebuah buku itu relatif ya, Mas Hapudin. Salam kenal, Mas.

    ReplyDelete
  3. Romance di kalangan remaja SMA memang sangat menarik pembaca kaula muda. Kisahnya pasti penuh drama

    ReplyDelete